Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

Pasal 2 Tauhidul Asma (Tentang ke-Esa-an Nama Allah Swt)

Kaifiyat (cara-cara) memusyahadahkan tentang ke-Esa-an nama-nama Allah SWT. adalah sebagai berikut : . “anda pandang dengan mata kepala dan anda syuhud (pandang/ tanggapi) dengan matahati, bahwa segala nama apa punjuga pada hakikatnya kembali kepada sumbernya/ asalnya ialah nama Allah SWT.”

Alasannya ialah, bahwa nama apa pun juga yang ada di dalam alam ini tentu ada yang diberi nama (ujud musamma). Dalam arti hakiki sudah jelas bahwa “tidak ada yang maujud/ diadakan ini, kecuali Allah”. :

Segala yang maujud (yang diadakan) pada hakikatnya hanyalah khayal (kosong) atau waham (sangka-sangka) belaka, bila dinisbahkan (dibandingkan) dengan Ujud Allah.

Catatan :

Misalnya, kita melihat seseorang yang bernama si A, maka nama “A” ini adalah suatu nama dari seseorang. Seseorang ini disebutkan Ujud Musamma. Si Ujud Musamma tadi andai kata-kita bandingkan dengan Ujud Allah tentu tidak akan sebanding. Atau dengan perkataan lain si Ujud Musamma tadi, sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan Ujud Allah. Allah Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Pintar, Maha Hebat dan sebagainya, tetapi seseorang atau sesuatu itu, amat lemah, amat tidak berdaya, penuh dengan serba kekurangan dan lain-lain.

Oleh sebab itulah maka kita katakan dan kita musyahadah kan bahwa pada hakikatnya segala nama – apa pun juga kembali kepada nama-nama Allah sebagai sumbernya. ,

Ujud Allah itu “qo – im” (berdiri) pada segala nama sesuatu. Dhahir (nyatanya) nama sesuatu ini pada hakikatnya adalah satu. Maksudnya ialah bahwa sesuatu ini sebagai pembuktian/kenyataan dari Ujud Allah yang Maha Esa.

Pengertian ini bukan berarti Ittihad dan bukan pula dalam arti Hulul. Maha Sucilah Allah dari pengertian-pengertian itu. “

Catatan :

  1. Qo’im (berdiri) pada segala nama sesuatu:

Maksudnya ini bukan seperti berdirinya pohon pada akar atau seperti berdirinyajasad karena adanya roh, yang satu saat bisa berkumpul dan berpisah. Pengertian ini tidak dapat diterima.

Akan tetapi, bilamana kita melihat sesuatu (yang tentu ada namanya) dengan penuh perhatian/ konsentrasi, sebenarnya yang terlihat’ itu adalah “adanya” bukan “sesuatunya”, namun Si-sesuatu dengan adanya itu sukar untuk diceraikan dan dipisahkan. Si sesuatu berbentuk dan berupa, tetapi si “adanya” itu tidak berbentuk dan pula bukan berupa.

“Adanya” sesuatu adalah maujud (yang diadakan) sedang Allah SWT. adalah Ujud (ada yang kekal abadi, sedia tanpa permulaan) :

Allah SWT. bernama Adh-Dhohir (Maha Nyata) lebih nyata dari segala yang nyata bahkan lebih nyata daripada diri sendiri.

  1. ittihad dan hulul

Ittihad artinya “terpadu”. Hulul artinya “bersatu”, Kata-kata ini tidak tepat kalau ditujukan kepada Allah SWT. seakan-akan terpadu /bersatu alam dan Allah. Memang ada Di antara Ahli Sufi yang melahirkan kata-kata demikian, namun bilamana kita pelajari hanya sekedar contoh-contoh atau misal-misal yang ingin memberikan pengertian yang mantap.

Akhirnya mereka pun berkata dengan kerendahan hati “ma yakhruju baina syafataini illa isyaratan wa’tibar” (apa saja yang keluar dari ‘dua bibir hanyalah sekedar isyarat dan ‘itibar). “Al Bathin huwa mutaharrikun lil ajsam, wamutaharrikul bathin fa huwal-Bathin”, (Bathin adalah penggerak jisim. Penggerak bathin adalah Bathin).

Batin pada pengertian ini ada. dua dan saling berbeda. Batin “yang digerakkan” dan Batin “yang menggerakkan ialah Allah yang bernama Al-Bathin (Maha tersembunyi). :

Contoh lain dapat kita kemukakan, misalnya selembar kaca polos, diwarnai dengan bermacam-macam warna, merah, kuning, hijau dan sebagainya. Kemudian kita letakkan di bawah cahaya matahari, tentu akan terlihat bermacam-macam warna pada bumi sebagaimana warna yang tercantum pada kaca tadi.

Di situ dapat terlihat jelas bahwa cahaya matahari tidak terpisah cerai dengan zat mataharinya sendiri dan tidak pula berpindah cahaya matahari itu kepada kaca tadi.

Adanya bermacam warna pada bumi menunjukkan tentang ke-Esa-an matahari.

Maha Sucilah Allah daripada contoh dan misal, maka pahamilah oleh anda dengan kata-kata yang baik dan sempurna, semoga anda dapat memahaminya dengan kasih sayang Allah SWT. dan dapat sesuai dengan maksud yang sebenarnya (muwafagat — sesuai).

Wahai saudara-saudaraku yang ‘Arif! andai kata anda telah berhasil pada magom (tingkatan) ini lalu kemudian Tajalli Hak Ta’ala (tampak nyata kebenaran Allah Ta’ala) bagi anda dari celah-celah dinding madhhar (kenyataan) jni dengan dua macam nama (isim) maka semua yang berupa madhhar tersebut lenyap sirna di dalam ke-Esaan (ahadiyat) Allah SWT.

Syekhuna Al’allamah An-Narul muhrigah Maulana Syekh Abdullahibnu Hijazi As-Syargowi -Al-Mishrie rahimahullah berkata dalam Syarah Wirid Sahur:

“Apabila Tajalli Allah Ta’ala (tampaknyata) dengan asma-Nya/nama-nama-Nya Dhohirun terhadap hambaNya, niscaya si hamba itu akan dapat melihat. bahwa segala akwan (kejadian) semua ini adalah Kebenaran Allah, sepanjang pengertian bahwa dhohir akwan itu adalah dengan dhohirnya Allah. Berdirinya akwan itu dengan nyatanya goyyumiyah-Nya (sifat giyamuhu ta’ala binafsihi – berdiri Allah dengan sendiri-Nya) dan Kekalnya Allah SWT. Karena tidak akan mungkin bagi akwan ini ada dengan sendirinya. Dan pula tidak mampu si hamba membedakan satu per satu segala akwan ini. Jelasnya hanya pada suatu pengertian bahwa makhluk ini hanya sekedar mazhar/sandaran semata-mata. Si hamba dapat memandang (musyahadah) bahwa Allah adalah hakikat segala sesuatu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah di dalam Al-Our’an :

Artinya :

“Ke mana pun kamu berhadap, di sana lah Wujud Allah, Maksudnya, ke mana pun dan di mana pun  akal, hati dan roh inj dihadapkan di sanalah adanya Allah SWT.”.

Karena itulah kadang-kadang tergelincir lidah, keluar kata-kata Syathathah (Syathiyat) suatu kata-kata “kejutan” yang tidak dibenarkan oleh syara (hukum) hal mana merupakan suatu bahaya musyahadah. Tidak terlihat lagi baginya segala akwan ini, karena sepenuhnya memandang Ujudullah yang Muthlak.

Menurut perkataan Syekh Abdul Karim Al-Jilli q.s. seorang hamba yang seakan-akan: tidak terlihat lagi baginya segala makhluk ini karena memandang terhadap

Hak Ta’ala (Kebenaran Tertinggi) sehingga “si hamba | tersebut berkata: ‘ | “tidak ada yang maujud ini kecuali Ujud Allah”. Adalah karena mabuknya dan ghoib seperti yang telah terjadi terhadap Al-hallaj.

Maka perkataan orang yang mabuk demikian tidak bisa dijadikan pegangan.

Catatan :

Yang dimaksudkan “tidak bisa dijadikan pegangan” adalah semau-maunya berkata seperti perkataan AlHallaj, atau perkataan Al-Hallaj dijadikan suatu dalil untuk memperkuat hujjah (alasan). (D.N. yang di-ind. “) Sulthonul Auliya Maulana Syekh Abdul Oodir Jaelani q.s. berkata: “andai kata peristiwa Al-Hallaj itu terjadi di zaman/ dimasaku ini, pasti aku larang orang membunuhnya.

Tentang Isim jami’ dan Isim Mani’

Untuk musyahadah ini ada dua cara, yang kedua-duanya bertujuan satu.

Pertama : Jami’ (menghimpun/pemusatan)

Pandangan batin(syuhud/musyahadah) diawali ‘ segala kenyataan ini kemudian: terhimpun/ terpusat pandangan kepada Yang Satu (Allah SWT.) inilah yang dimaksudkan dengan istilah Syuhudul Katsrah Fil Wahidah.

Artinya :

“(Pandangan yang banyak pada yang satu).

Kedua : Mani’ (Pencegahan/yang menggagalkan)

Yang dicegah dan yang menggagalkan : pandangan itu adalah, bilamana dianggap/ dipandang bahwa segala kenyataan makhluk ini adalah dari makhluk jua. Seharusnya adalah sesuai dengan istilah :

Artinya :

“Pandang yang satu pada yang banyak”. Maksudnya : ialah, daripada Allah jua nyatanya segala isi alam ini.

Allah berfirman :

Artinya :

“Kepunyaan Allah segala urusan dan kepada-Nya jua kamu (segala urusan itu) dikembalikan. |

Bilamana anda melihat seseorang yang bersikap, berwatak Pemurah, hendaklah anda tanggapi bahwa sifat pemurah itu adalah kepunyaan Allah. Yang terlihat pada hamba itu hanyalah mazhar daripada Nama Tuhan Al-Kariem (Maha Pemurah).

Demikian pula seterusnya, bila anda melihat seseorang yang berwatak sabar maka dia itu sebenarnya adalah mazhar daripada Nama Tuhan As-Shobur (Maha Penyabar).

Al-Kariem dan As-Shobur adalah nama-nama Tuhan, maka hendaklah anda luruskan pandangan itu sampai kepada nama-nama/ Asma Allah SWT. sesuai dengan kenyataan pada si hamba/makhluk ini. . Masalahsifat-sifat Allah yang sehubungan dengan asma,

Ada sementara orang yang ‘Arif Billah menyatakan pendapatnya tentang sifat-sifat Allah. Menurut mereka Allah itu tidak mempunyai sifat. yang ada bagi Allah hanya asma/nama-nama saja.

Mereka mengemukakan dengan dua dalil (keterangan) yaitu dalil nagli dan dalil ‘agli. :

Dalil nagli ialah apa yang tercantum dalam Al-Our’an dan Hadist, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah :

Artinya :

“Allah mempunyai beberapa nama, maka berdoalah anda dengan nama-nama tersebut.

Hadits Rasulullah Saw. :

“Sesungguhnya yang kamu seru itu adalah yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha berkata-kata, dan Dia (Allah) beserta kamu di mana pun  kamu berada.”

Dalil ‘agliialah dalil akal, atau keterangan yang didapat sepanjang pertimbangan akal.

Menurut. akal (logika) sifat adalah sesuatu yang “melekat” pada zat atau dapat pula dikatakan bahwa sifat adalah sesuatu tambahan pada zat.

Jika seandainya Allah itu mempunyai sifat, berarti Allah adalah “majhul” (tidak dapat dikenal) kalau tidak melekat sifat-sifat itu.

Catatan :

Maksudnya,seakan-akan Allah/zat Allah tidak berarti apa-apa kalau tidak dilengkapi sifat. (DN yang di-ind. “) : Kalau demikian, Maha Sucilah Allah dari segala sifat karena Zat Allah tidak memerlukan (berhajat) kepada sifat. Zat Allah adalah Maha Mengerti dari segala yang mengerti, sama sekalibukanlahdiamajhul . (tidak dikenal).

Catatan :

Pendapat yang dikemukakan ini, adalah hanya pendapat dari segolongan kecil, atau dalam istilah disebut gaul / gila merupakan pendapat yang lemah. Secara dalil agli, hal inipun dapat ditolak dengan alasan sederhana ‘mungkinkah ada sesuatu nama yang sehubungan dengan Sifat, kalau dia tidak mempunyai sifat?”. Misalnya Nama Allah Oodirun (Maha Kuasa) mungkinkah ada nama demikian kalau Dia tidak memiliki suatusifat yang disebut Oudrat (Kuasa) tentu tidak mungkin.

Syekh Muhammad Nafis (Pengarang kitab ini) tidak berpendapat demikian. (D.N. yang di-ind ”)

Sampai disinilah dahulu penjelasan tentang Tauhidul Asma yang merupakan magam/ tingkat kedua di kalangan Arif-Billah, setelah memahami dan matang dalam tingkat yang pertama yaitu Tauhidul Af’al. Kematangan tersebut adalah anugerah Allah kepada mereka yang tekun sebagai salik (penuntut) maupun anugerah-Nya secara majdzub.

Magom yangkedua ini adalah hasil dan buah daripada magom yang pertama.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker