9, Ilmu Hakikat (tasauf) adalah suatu Ilmu Laduni, . siapa mengingkarinya mendapat siksa, siapa yang tidak mengetahuinya kemungkinan mati sesat.
Menurut syarah Kitab Al-Hikam, Ibnu Ruslan mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksudkan dengan Ilmu Hakikatitu adalahsuatu Ilmu Laduni yang bersifat “nurani”. Ilmu tersebut itulah yang telah diajarkan kepada semua rohroh (dialam roh) sewaktu Tuhan berbicara kepada roh-rohitu “Alastu Birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) Maka segala rohpun menjawab: Balaa Ya Rabbi (Benar ya Tuhanku). Itulah pula yang pernah diajarkan lagi kepada Nabi Adam a.s. sebagaimana firmanNya ‘Wa ‘Allama Aadamal Asma’a Kullaha (Allah telah ajarkan . kepada Adam semua nama-nama). Akan tetapi pengetahuan tersebut tersembunyi karena manusia pada umumnya .
Bilamana semua tutupan kegelapan itu telah hilang sirna kemudian menyatalah hakikat itu dengan terang dan jelas. Inilah juga yang dimaksudkan oleh Hadis Rasulullah “Siapa yang mengamalkan ilmunya, Allah wariskan kepadanya ilmu yang belum pernah diketahuinya/ dipelajarinya sebelum itu. Allah berikan taufig kepadanya, dihormati oleh segala makhluk dan disediakan baginya surga di akhirat.
Ada tuduhan sementara fisik bahwa Para Sufi menyembunyikan ilmunya, adalah tidak benar. Mereka menyatakan bahwa Para Nabi dan Rasul tidak pernah menyembunyikan apa yang disampaikan Allah SWT. Dengan adanya Hadis-Hadis Rasulullah yang telah dikemukakan di atas jelas sekali bahwa Para Arif Billah bukanlah hendak menyembunyikan
“ilmunya (Ilmu Hakikat) namun penyampaian ilmu itu hendaklah dengan hati-hati, sambil melihat tingkat kecerdasan, keghairahannya, ketekunan . mereka dalam beragama.
Imam Hujjatul Islam Imam Ghazali r.a. dalam Kitab “Ihya” menegaskan, siapa pun yang tidak memperoleh ilmu ini (ilmu batin) maka -: dikhawatirkan mereka mati dalam kekafiran.
Orang-orang yang tetap kasih kepada dunia dan tetap pula dalam kungkungan hawa nafsunya, tidak akan menemukan rasa “tahkik” / kemantapan ilmu ini, meskipun dalam ilmu-ilmu lain dia berhasil. Setidaktidaknya dia tidak akan diberikan perasaan kemanisan ilmu.
| Orang yang mengingkari ilmu ini, bagaimana pun juga tidak pula akan bisa merasakan keindahan ilmu “” ini, dan tidak mungkin mereka bisa mendapatkan “‘mukasyafah” (terbuka hijab/ dinding) sebagaimana . yang dialami oleh Para Shiddigien dan AhlulMugarrabien.
Mukasyafah adalah suatu gambaran tentang kebersihan hati, sehingga memancarcahaya kebenaran – hidup yang diiringi pula dengan “karomah” dan “‘magom wilayah” (kewalian).
Untuk itulah hendaknya perlu adanya ketekunan, mujahadah (kesungguhan). riyadloh (latihan), murogobah (intipan) dan musyahadah serta jangan sekali-kali mengingkari atau memusuhi Para AhlulKarimah, malah sebaiknya perlu mengambil pelajaran dari mereka itu.
- Pintu kewalian dan karomah tidak tertutup Sabda Nabi kita Muhammad Saw.:
Artinya :
“Siapa yang menuntut sesuatu dengan kesungguhan, dia pasti mendapat.”
Jangan hendaknya kita terpengaruh dengan pendapat yang mengatakan bahwa pada masa sekarang initidakadalagi yang dapat memperoleh “magom kewalian” karena sudah mendekati akhir zaman. Pendapat itu adalah “mardud” (tertolak).
Pendapat itu pula menunjukkan adanya rasa “dengki (hasud) dan rasa ingkar (‘inad). Bila dalam iktikad mereka tumbuh anggapan bahwa Allah tidak kuasa lagi mendatangkan karomah dan wilayah kepada hambaNya, maka iktikad yang demikian adalah kufur. Sebenarnya bagi Allah tidak ada kesulitan sedikitpun untuk menganugerahkan-kewalian kepada hambaNya, kapan saja Dia mau, kini maupun masa yang akan – datang, sebagaimana juga tidak sulit bagi Allah menganugerahkan kewalian itu kepada mereka yang terdahulu.
Memperoleh tingkat kewalian,berhubungan dengan ketekunannya, kesungguhannya, latihanlatihan tertentu. Sehingga mempercepat datangnya. Menurut kata Syekh Yusuf Al-Mishri rahimahullahu Ta’ala sewaktu beliau mengajar di Masjidil-Haram “Pendapat dikalangan Ahli Sufi yang menyatakan bahwa magom kewalian itu bisa didapat dengan usaha seperti tersebut di atas adalah suatu pendapat yang mu tamad” (dapat dipertanggungjawabkan).
Mereka yang telah mendapat pangkat kewalian itu adalah mereka yang benar-benar tekun melakukan ibadat dan melawan hawa nafsu sendiri. Tentang kemungkinan dianugerahkan pangkat kewalian tanpa usaha demikian adalah yang jarang terjadi (nadir).
Menurut perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Karim g-s. dalamrisalah beliau yang bernama “Unwanul Jalwati fi Sya’nilkhalwati” bahwa seseorang akan mendapat pangkat wali dan abdal (wali-pengganti) pada “umumnya dengan melaksanakan segala rukunyukunnya.
Rukun-rukunnya itu adalah:
- Khalwat artinya bersunyi diri
- Tahan lapar, berpuasa
- Tidak banyak bicara
- Berjaga malam, tidak banyak-banyak tidur.
Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Mahyuddin Ibnul-‘Araby q.s.:
Artinya :
“Wahai orang-orang yang menginginkan pangkat abdal, tapi tiada maksud untuk beramal, “tidak mungkin anda dapat merasakannya, dan anda bukanlah ahlinya, bila anda tidak melaksanakan segala ahwalnya. Istana kewalian itu terbagi atas rukun-rukun tertentu, sepanjang pendapat penghulu-penghulu kita, yang diantaranya terdapat wali abdal, yaitu, tidak banyak kata dan mengasing diri menahan lapar dan berjaga, memuji dan tasbih kepada Allah yang Maha Tinggi.”









One Comment