Pengertian Kata “Cermin Tuhan”
Pada umumnya kita menyebutkan kata-kata “cermin” hanyalah dalam arti kata pinjaman. Untuk mengena keadaan tubuh.kita, sudah rapi atau belum, apa dan bagaimana rupa dan bentuk mata, sipit ataukah tidak, kita ingin tahulidah atau gigi hal mana tidak dapat dilihat langsung oleh mata, umumnya semua .itu kita mempergunakan cermin.
Tetapi mata yang terlihat dalam cermin, gigi dan lidah “hanyalah sekedar bayangan, bukan keadaan yang sebenarnya.
Tiap-tiap yang bernama “bayangan” tidak mungkin dapat dipegang. Kalau kita pegang kita hanya menemukan suatu permukaan yang rata dari kaca cermin. Alam Adalah Cermin Tuhan, karena “diri” atau Kunhi Zat (keadaan Diri) Allah SWT. tidak bisa dilihat oleh mata kepala ini. Yang dapat dilihat dengan mata kepala hanyalah Alam dan segala peristiwa yang terjadi di dalam Alam. Alam ini dapat dimisalkan Cermin Tuhan untuk . setidak-tidaknya dapat melihat “bayangan Tuhan di dalam cermin” namun apa yang terpampang di dalam cermin – bukanlah dia Tuhan yang kita cari.
Maha sucilah Allah daripada mempunyai bayangan. Menurut ungkapan di kalangan sufi, alam ini adalah dua macam. Pertama Alam Kabir dan kedua: Alam Shoghir. Alam Kabir atau Alam Besar ialah alam semesta ini, sedang Alam Shoghir atau Alam Kecil “adalah diri manusia ini sendiri.
Kalangan Ahli Filsafat menyebutkan Mikro Kosmos (kecil) dan Makro Kosmos (besar).
Alam Kecil adalah. sebagai “bayangan Alam Besar” “karena hampir seluruh macam dan jenis Alam Besar tergambar dan terbayang pada diri manusia:
Tanah, Air, Api dan Udara merupakan unsur-unsur yang ada pada Alam Besar yang semuanya terbayang pada diri manusia Tumbuh-tumbuhan dan binatang, langit dan – bumi juga ada bayangannya dan gambarannya pada diri manusia kita ini.
Tetapi yang jelas, diri manusia bukanlah alam semesta dan alam semesta bukanlah diri manusia. Ungkapan akal ini boleh dan dapat diterima menurut pendapat akal sehat.
Diri manusia dikatakan oleh Allah Swt. adalah KHALIFAHNYA di muka burni, yang menurut arti bahasa adalah “gantian-Nya” di muka bumi. Tapi haruslah diingat bahwa manusia bukanlah Tuhan di muka bumi.
Artinya :
“Siapa yang mengenal dirinya, pasti dia dapat mengenal Tuhannya”.
Kalimat ini cukup masyhur di kalangan Sufi.
Hadis Rasulullah ini sebagai patokan dasar masalah makrifat kepada Allah SWT.
Dari ungkapan ini kita dapat merumuskan dengan suatu rangkaian Insan — Alam — Tuhan.
Insan adalah bayangan dan cermin Alam, Alam ‘ juga merupakan bayangan dan cermin Tuhan, Tetapi Insan dan Alam adalah “maujud” (diadakan) sedang Allah adalah Zat Wajibul Wujud. .
Insan dan Alam yang kita lihat bukanlah rupa dan bentuknya, tetapi kita melihat “adanya”. Adanya Insan dan Alam adalah “fana” di dalam lautan Wujudullah. Adanya Insan dan Alam hanyalah sekedar “majaz” semata. .
Wujud yang Hak adalah Wujud Allah.
Akhirnya kita dapat menerima ungkapan kata Alam Adalah Cermin Tuhan. Pengertian kata “ainul Haqqi” (kenyataan Tuhan).
Insan ‘ainul Haqqi atau alam ‘ainul Haqqi, kata-kata inilah yang dihebohkan, sehingga timbullah tuduhan buruk kepada mereka. Sepanjang yang kita kaji, tidak ada yang berkata misalnya “al-insan huwallah” atau “al’alam huwallah” (manusia atau alam, itulah Allah) atau kata-kata “insan atau alam sama dengan Allah”. Tidak ada kata-kata demikian yang lahir dari mulut para Sufi yang benar.
Kalimat atau kata-kata yang nyata dari mereka ialah “insan/alam ‘ainul Hakki”.
Kalau Ibnu ‘Araby berkata :
“Al ‘Abdu Rabbun, Warrabbu ‘Abdun.
Ya Laita Syi’ri, Manil Mukallaf?
Ya Laita Syi’ri, Manil Mukallaf? .
In Qulta — ‘Abdun Fadzaka Rabbun
Aw Qulta Rabbun — Anna Yukallaf? – Artinya : | “Hamba adalah Tuhan, Tuhan adalah Hamba, betapa syu urku, siapakah yang dibebani? Kalau anda berkata hamba, maka itulah Tuhan, Atau anda Tuhan, betapakah ia dibebani?
Maka rangkuman kata dari Ibnu ‘Araby ini berupa sajak/puisi. Puisi adalah suatu untaian kata menggambarkan cetusan perasaan seseorang pengarang. Diterima atau tidak oleh orang lain bukanlah soal yang penting, namun ia merasa puas dengan apa yang ia ungkapkan dalam bentuk puisi ini, yang menggambarkan kebingungannya sendiri (tahayyur).
Oleh Sajaknya itu terlihatjelas tentangrasabingungnya, apa dan bagaimana. Biarkanlah dia tenggelam dalam kebingungan demikian, itu adalah urusannya sendiri.
ibnu ‘Araby r.a. sebagai seorang Sufi besar pada zamannya, tercatat sebagai seorang yang taat melaksanakan perintah agama, apakah kita harus menuduhnya sebagai seorang yang kafir? Sedang rangkuman sajaknya adalah perasaannya, getaran hatinya sendiri, bukankah dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam cetusan perasaannyaitu?
Kalau Ibnu ‘Araby r.a. berada di zaman ini mungkin kita acan berkata kepadanya.
“silahkan tuan dengan serba bingung,
luan puas dengan merenung,
aku diam seribu bahasa,
kelu lidahku tiada kata,
engkau adalah engkau,
aku adalah aku,
aku dan engkau datang dari satu rumpun,
kesanalah kita kembali
Kesimpulannya adalah, kata-kata “alam ‘ainul Haqqi” atau “alam madhhar wujudullah” adalah dua kalimat yang sama maksud dan tujuannya.
Allah Bertahwil (Berubah Keadaan) Dalam Segala Rupa
Salah seorang guru saya membuka masalah ini dengan kata-kata .”tidak mustahil bagi Allah mewujudkan sifat-Nya dalam rupa makhluk, tetapi mustahil adanya makhluk sama dengan Allah”. –
Zat danSifat Allah tidak pernah dan tidak akan berubahTubah. Namun bertahwilnya Allah SWT. adalah urusan Allah sendiri dan kehendak-Nya sendiri.
Artinya :
“Apa saja yang Allah kehendaki jadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki -Allah tidak akan jadi”.
Mungkin kata “tahwil” ini yang diartikan oleh Buya Hamka dengan kata “jelma” dalam tulisan beliau yang menyangkut faham Ibnu ‘Araby, halaman 146 Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya.
Andaikata Allah itu bertahwil pada segala rupa dan keadaansebagaimana akan terjadi di Hari Kiamat kemudian kita tidak mengakuinya sebagai Tuhan. dengan ucapan “A’udzubillahi Minka” (Aku berlindung kepada Allah daripadaengkau) maka hal tersebut tidaklah dipersalahkan. Yang tidak diterima itu adalah “rupa dan bentuknya” bukan ‘ain wujudnya.
Dunia sebagai sesuatu “sedikit dari yang sedikit, orang yang mengasyikinya adalah hina dari segala yang hina. Yang paling ramai dibicarakan golongan Sufi adalah . masalah dunia dan sikap hidup terhadapnya. Hampir semua mufakat mereka untuk menolak dunia dan keduniaan ini dengan bermacam cara dan laku, dengan bermacamriyadloh dan latihan, ‘uzlah dan zuhud, berhaus berlapar perut, bertongkat mata diwaktu malam.
Apabila kita bertanya kepada mereka “kenapa anda berbuat demikian, berpayah-payah berlemas badan, cekung mata karena bergadang, kapan lagi anda ‘ berjuang?. Mereka menjawab dengan pandangan mata lurus ke depan “inilah namanya perjuangan payah kami ini, namun segar nyaman pasti mendatang, ‘inna ma’a) ‘usri yusran dibalik kepayahan mengiringi kesenangan, lapar kami hari ini,besok kami akan kenyang, cekung mata hari ini, besok ia bertambah terang dan cemerlang, biarlah kami….biarlah kami….
Menurutadat dan kebiasaan, dipandang dari segi lahir dan kenyataan, bagaimana nanti nasib umat jika mereka terus-menerus demikian. Mana lagi orang yang berzakat, mana lagi kegiatan membangun Masjid, mana lagi perjuangan, dan bermacam tanya yang diajukan.
Ada yang mencela sikap mereka, dianggap hanya mengurus dirinya sendiri tidak lagi menghiraukan perjuangan dan kepentingan masyarakat banyak.
Namun mereka tetap begitu dan terus begitu. . Tapi ada yang ganjil dan istimewanya.
Sepatah kata yang keluar dari mulut mereka untuk membangunjiwa ummat, ternyata lebih berharga dariseribu ucapan dan pidato seribu pejabat negeri.
Terdengar kabar dan berita, raja dan menteri datang bersujud sungkern kepada mereka memohon restu dan doa, apa katanya takut dilanggar, apa nasehatnya disimak dan didengar.
Ini suatu kenyataan dan sering terjadi.
Betapa pengaruhnya ucapan dan kata panggilan Yang Mulia Tuan Guru H. Anang “Ilmi Martapura terhadap gerombolan Ibnu Hajar, sewaktu beliau hidup, tanyakanlah kepada bekas pengikut Ibnu Hajar yang masih ada sekarang
Cukup menggoncangkan posisi gerombolan itu dalam tubuh kesatuannya sendiri, padahal sebelumnya mereka bertekad mati atau berhasil.
Sebelum ada panggilan Tuan Guru, beribu kata dan himbawan, ratusan mortirdan ribuan peluru yang “ dilepaskan, mereka masih mampu bertahan. Si Tuan ‘ Guru yang sederhana itu, berdoa dengan khusuk kepada Ciri-ciri khas hidup keduniaan :
- Sibuk mencari dan mengeluarkan biaya hidup.
- Mementingkandan mengutamakan kepentinganperut pakaian, perumahan.
- Sibuk dengan kepentingan jasmani.
- Sibuk dengan urusan rumah tangga atau masyarakat yang semata-mata duniawi.
- Lebih mementingkan diri pribadi.
- Berusaha sekuatnya mempertahankan hidup.
- Memerlukan waktu mengasuh, istirahat dan tidur.
- Sering menunjukkan permusuhan.
- Dan lain-lain yang bersifat jasmaniah serupa hayawaniah.
Sementara kalangan filsafat menyatakan pendapatnya, bahwa manusia ini adalah “hayawanun-nathig” (Binatang yang mampu berbicara dan berakal).
Manusia menghimpun dua unsur yang berlawanan, yaitu unsur malakiyah (kemalaikatan) dan hayawaniyah (kebinatangan) ataujuga disebut unsur samawi (langit) dan unsur ardli (bumi).
Kedua unsurini pada diri manusia saling tarik menarik siapa yang menang dalam pergulatan itu, maka di sanalah manusia ini akhirnya. Apabila dia tertarik oleh unsur malakiyah atau samawi maka beruntunglah manusia itu.
Tetapi sebaliknya bila tarikan unsur hayawani atau ardli lebih kuat, maka rugilah manusia itu. .
Maka untuk menjawab pertariyaan di atas, ambillah contoh Nabi Sulaeman a.s. yang kaya raya tapi tidak tersangkut hati dengan kekayaan, hatinya benar-benar rumah Allah, selalu dzikir dan puji kepada Allah, kekayaan dan harta bukan tempatnya di hati.
Ambillah pula contoh Nabi Yusuf a.s., berpangkat ‘ danrebutan wanita. Tanda pangkat hanya sekeping perak atau tembaga atau hanya sekedar emas sepuhan, bukan letaknya di hati tetapi terletak di bahu kanan atau kiri, bisa dilepas bisa dipasang, tidak pula beliau tersangkut hati pada wanita, dan tidak meletakkan wanita dalam hatinya, – karena hati ini mutlak sepenuhnya tempat dzikir kepada Allah.
Inilah jawaban atas pertanyaan di atas, suatu cata yang mudah. Hati dan roh adalah unsur langit, janganlah dia dijatuhkan ke bumi menjadi makanan binatang, cara ini adalah cara yang selamat. Ikutilah ajaran Allah dan Rasul dan ikutilah jejak Arif Billah, sediakan hati sepenuhnya untuk Allah, karena Allah dengan Allah dan daripada Allah.









One Comment