Penilaian kita adalah :
- Ucapan Firaun adalah penuh kesombongan dalam . kedudukan seorang Raja di Raja, seorang penentang Nabi Musa “a.s. seorang yang ingin disujuti dan disembah.
- Firaun dapat kita katakan “tokoh duniawi” terbesar dalam sejarah manusia, dibalik keadikaraannyasebagai . Maha raja diraja terselip “jiwa penakut” hingga memerlukan ribuan ahli sihir, ribuan bodygards (pelindung keselamatan dirinya). Hampir sama dengan cerita Napoleon seorang Diktator terkenal tapi paling takut dengan tikus.
3 Firaun dalam sejarahnya tidak pernah merasakan kelemahan-kelemahan dirinya, kekurangan-kekurangannya, apa yang ia ucapkan adalah hukum mutlak yang sama sekali tidak boleh dibantah.
Dan banyak lagi bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa sifat dan perwatakan Fir’aun sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran hidup. Lebih.tepat kalau kita katakan seekor singa raja hutan yang sama sekali tidak mengerti terhadap dirinya sendiri, akhirnya dia mati kelaparan dalam gua yang gelap karena tua dan lumpuh. Pendek kata Fir’aun pantas untuk mendapat laknat Allah SWT.
Dengan ciri-ciri khas kepribadian Fir’aun itu terlihat jelasperbedaannya denganpara Arif Billahradliallahu ‘anhum yang dapat dilihat nyata :
- Para Arif Billah berbudi halus, kehalusan perasaannya . terpancar pada puisi dan sya’irnya yang indah, kerendahan hati terpancar pada sikap hidupnya.
- Ibadat buat mereka bukan lagi sesuatu yang dirasakan ‘ terpaksa, tetapi sesuatu keindahan dalam hidupnya.
- Nafsu duniawi yang berlebih-lebihan, tidak ada pada kamus mereka.
- Tidak pernah mereka takut dan gentar dalam menghadapi dunia dan keduniaan, penuh keyakinan bahwa kehidupan mereka di akhirat kelak jauh lebih bernilai.
Dan banyak lagi ciri-ciri khas kepribadian mereka yang benar-benar menghayati kebenaran hidup,seperti . Al-Hallaj, Mahyuddin Ibnu ‘Araby, Abu Yazid Busthomi r. ‘anhum dan lain-lain.
Begitu pula dengan Hamzah Fansuri, Syekh Siti Jenar, H.Abdul Hamid Habulung (Datuk Habulung), nama-nama yang kita sebutkanitu bukanlah orang-orang yang hidupnya dengan keadikaraan dan kekayaan yang berlimpah ruah, tetapi hidup dengan kesederhanaan.
Kita tidak memasukkan dalam golongan Arif Billah pada pembahasan ini, mereka yang nyata-nyata memfatwakan agar melepaskan syariat.
Dan yang kita bahas di sini adalah ingin untuk menarik garis yang jelas dan terang antara ucapan Fir’aun dengan ucapan Arif Billah tentang ke-Aku-an Tuhan.
Garis pertama yangsudah kita tarikadakah perbedaan yang jauh dan berlawanan antara keduanya (Fir’aun dan Arif Billah) dari segi kepribadian. Dengan adanya perbedaan itu pasti berbeda pula kesan yang-terkandung dalam kata-kata, meskipun keduanya melontarkan susunan kata yang sama dalam nadanya.
Kesan-kesan itu adalah:
- Firaun mengucapkan kata-kata itu adalah dengan keutuhan dirinya sendiri “ditujukan” kepada orang lain dengan maksud tertentu, agar orang yang mendengarkan kata-katanya mengakui dia sebagai Tuhan.
- Arif Billah “mengucapkan kata-kata itu adalah suatu pelampiasan “suara halus danabadi” setelah menerima “kalam gadim” yang tercetusnya kata-kata itu dalam situasi kejutan (syatathoh) hilang akal dan hilang rasa.
- Arif Billah terlanjur mengeluarkan kata-kata itu bukan ditujukan kepada siapa pun juga Di antara manusia lain, hanyalah seakan-akan orang latah yang meniru-niru kalam atau ucapan yang datang pada dasarnya hatinya sendiri.
Hakikatnya kata-kata itu sama dengan wahyu yang diterima oleh Para Rasul dan para Nabi. Perbedaannya adalah, kalau wahyu terhadap Para Rasul dan Nabiadalah mempunyai nilai-nilai dan unsur-unsur pendidikan dan pelajaran (paedagogis) perlu disampaikan kepada orang jain, sedang kalam gadim yang mereka terima hanya : untuk mereka sendiri. Tentang Nur Muhammad Saw.
Cukup banyak Ulama-ulama yang menolakajaran Nur Muhammad dan banyak pula yang menerima, dan meyakininya. Penyusun Kitab Durrun Napis (Syekh Muhammad Napis) adalah salah seorang yang meyakini ajaran ini, yang beliau terima atau mendapat jjazah dari guru beliau Syekh Shiddig bin Amirkhan q.s.
Penyusun sendiri (H. Haderanie HN) juga telah menerima ijazah ini dari salah seorang guru, H. Habran Negara yang beliau terima ijazah itu dari yang Mulia
Tuan Guru H. Anang llmy Martapura rahmatullah ‘alaihi.
Letak permasalahannya hanyalah pada satu titik perbedaan, yaitu lemah (dlo’if) atau kuat (shohih) hadits-hadits yang berkenaan dengan ajaran Nur Muhammad. Karena hal ini adalah suatu “ikhtilaf” (perbedaan pendapat) tentang masalah hadits-hadits maka tergartung setiap penuntut untuk dapat menerima atau tidak.
Untuk jelasnya baiklah kita cantumkan disini hasil selidik buya Hamka tentang ajaran Al Hallaj dan Ibnu ‘Araby mengenai Nur Muhammad pada buku beliau yang bernama Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya halaman 97/98. Tentang Nur Muhammad. Beliaulah (Al-Hallaj) yang mula-mula menyatakan bahwasanya kejadian alam ini pada mulanyaialah dari pada Hakikatul Muhammadiyah, atau Nur Muhammad.
“Nur Muhammad itulah asal segala kejadian. Hampir sama-lah perjalanan persamaannya itu dengan renungan ahli Filsafat yang menyatakan bahwa mula terjadi ialah “Agal Pertama”. Menurut katanya, Nabi Muhammad itu terjadi dua rupa. Rupa yang gadim dan Azali. Dia telah terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada. Dari padanya disauk seluruh ilmu dan ‘irfan. Kedua ialah rupanya sebagai manusia, sebagai Seorang Rasul dan Nabi yang diutus Tuhan. rupa yang sebagaimana manusia itu menempuh maut. Tetapirupa yang gadim tetap ada meliputi alam. Maka dari Nur rupanya yang gadim itulah diambil segala Nur buat menciptakan segala Nabi-Nabi dan Rasul. Rasul dan Awliya.
“Cahaya segala keNabian dari pada Nur-Nyalah menyata. Dan cahaya mereka dari pada cahayanyalah mengambil. Tidaklah ada suatu cahaya yang bercahaya dan lebih nyata yang lebih gadim dari pada cahaya : yang Oadim itu, yang mendahului cahaya beliau yang mulia. KehendakNya mendahului segala kehendak, ujudNya mendahului segala yang ‘adam, namanya mendahului akan Oalam pun sendiri, karena ia terjadi sebelum apa pun terjadi.
“Segala yang diketahui hanyalah satu tetes saja dari pada lautan ilmunya. Di atasnya mega mengguruh, di . bawahnya kilat menyinar dan memancar, menurunkan hujan dan memberi subur. Segalailmu adaiah setetes dari air lautannya. Segala hikmat hanyalah satu piala dari sungainya. Satu zaman hanyalah satupiala dari sungainya. Satu zaman hanyalah satu saat kecil dari masanya yang jauh”.
“Dalam hal kejadian dialah yang awal, dalam hal kenabian dialah yang akhir. Al-Hag adalah dengan dia, dan dengan dialah hakikat. Dia pertama dalam hubungan, dia yang akhir dalam kenabian, dan dialah yang batin dalam hakikat dan dialah yang lahir dalam marrifat”.
“Pendeknya Nur Muhammad itulah pusat Kesatuan alam, dan pusat Kesatuan Nubuwat segala Nabi, dan NabiNabi itu Nubuwatnya. Segala macam ilmu hikmat, dan Nubuwatadalah pancaran dari sinarnya. Halaman 146/147. Al-hagigatul Muhammadiyah (Ibnu ‘Araby)
Tuhan Allah adalah suatu dan satu. Dialah Wujud Yang Mutlak, Maka Nur Allah itu sebagian dari pada dirinya, itulah dia Hakikat Muhammadiyah. Itulah kenyataan pertama dalam uluhiyah.
Daripadanyalah terjadi segala alam dalam setiap ttngkatnya. Seumpama Alam Jabarut, Alam Malakut, . Alam Mitsal, Alam Ajsam dan Alam Arwah. Dia segenap . kesempurnaan ilmu dan amal yang ternyata pada Nabi sejak Adam sampai Muhammad. Dan sampai kepada Wali-wali dan segalatubuh “Insan Kamil”.
Nur Muhammad itu atau hakikat Muhammadiyah itu Oadim, sebab dia sebagian dari pada Ahadiyat. Sebagian dari Suatu dan Satu. dia tetap ada, hakikat Muhammadiyah itulah yang memenuhi tubuh Adam dan tubuh Muhammad. Dan apabila Muhammad telah mati sebagai tubuh, namun Nur Muhammad atau hakikat Muhammadiyah itu tetaplah ada. Jadi Allah, Adam, dan Muhammad adalah satu. Dan Insan Kamil adalah dia jua pada hakikatnya.
Demikianlah kumpulan faham ini kalau hendak kita populerkan tetapi bila kita hendak selidiki ke dalam kitabkitab Ibnu Araby sendiri, bila kita.hendak “menangkap” kesimpulan itu kita bertemu dengan berbagai-bagai “jalan. keluar” yang telah disediakan, yaitu kata-kata rumus dan isyarat.
Demikian sebagian yang kita kutip dari buku susunan Buya Hamka.









One Comment