Untuk itu kita dapat melihat dari susunan kata pada ayat yang tertera di atas, bahwa para Malaikat dapat membantu apa saja yang:diingini oleh mereka yang sudah mencapai tingkat istigomah, apakah urusan dunia ataupun urusan akhirat. Maka jelas sekali bahwa “bantuan Malaikat” itu bisa kita katakan sebagai berlakunya hukum sebab akibat. Hanya saja caranya MaIalaikat membantu,jelas tidak seperti’”biasanya” terjadi dikalangan alam nyata.ini. Maka untuk ini dapat kita impulkan sebagai berikut :
1.Peristiwa yang “luar biasa” bagi para Waliullah yang disebutkan dengan “karomah” bisa saja terjadi.
- Disebutkan denganhal yang “luar biasa” atau Kharigun liYadat,artinya bahwa hal itu tidak berlaku menurut hukum kebiasaan yang terjadi di dalam alam nyata ini, tetapi tidak berarti bertentangan dengan hukum sebab akibat.
- Tidak pula bertentangan dengan akal sehat, karena akal dapat menerima dan meyakini bahwa Allah dapat . berbuat sekehendakNya.
- Kenyataan banyak menunjukkan bahwa hal-hal yang luar biasa itu sering saja terjadi di kalangan manusia ini.
Jenis-jenis karomah, dan sikap hati terhadap hal itu . Jenis-jenis karomah ada tercantum dalam Kitab D.N. pada bagian terakhir sebanyak 40 macam, 20 untuk akhirat dan 20 untuk dunia, Untuk setiap orang yang diberi karomah oleh Allah SWT. belum tentu ke empat puluhnya dia miliki. | Nafsu dan keinginan kita yang menuntut ilmu makrifat, jalan pengenalan kepada Allah, harus lepas dari jenis-jenis karomah yang demikian. Kalau karomah dijadikan tujuan dalam mempelajari ilmu makrifat, maka tujuan yang sebenarnya ialah Allah yang Maha Ada, tidak akan bisa didapat. Mungkin saja orang itu dapat menemukan hal-hal yang ganjil, namun itu adalah sebagai hijab antara dia dengan Allah SWT.
Banyak memang yang mempelajari ilmu makrifat, hanya didorong oleh keinginan untuk mendapatkan hal: hal yang ganjil-ganjil atau hal-hal yangluar biasa. Apabila mereka tidak menemukannya, timbul kebosanan untuk menuntut pelajaran lebih lanjut.
Kalau gurunya menganjurkan jangan sampai terpengaruh dengan hal-hal demikian, maka si guru dianggap sebagai guru yang tidak bonafid, padahal si guru benar-benar ingin membawa muridnya sesuai dengan jalan yang semestinya.
Syekh Muhammad As-Saman Al Madany, Syekh Abu Yazid Busthomi, tidak terkecuali Ibnu “Athoillah, bahkan banyak lagi para ‘Arif Billah berpesan agarjangan tersangkut hati dengan masalah karomah. Yang .terpentingadalah “istigomah” (pendirian yang tidak akan goyah) tetap dalam perpaduan syariat dan hakikat. Syekh Abu Yazid Busthoni r.a mengingatkan “lihatlah hukum syariat yang dilaksanakannya, jangan tersangkut hati dengan keajaiban/keganjilan yang ditunjukkan”. Kalau dia bisa terbang, burungpun bisa. Kalau dalam sekejap dia bisa sampai ke suatu tempat yang jauh, maka syetanpun bisa.
Kata-kata ini jelas sekali menghendaki kehati-hatian kita dalam menanggapi karomah.
- Keharusan melalui seorang guru adalah kebiasaan saja. Tarikan Tuhan adalah lebih bernilai.
Al ‘Arif Billah Maulana Syekh Muhammad bin Ahmad AlJauhary rahmatullah ‘alaihi mengatakan “Perpegangan yang teguh kepada Allah adalah suatu keharusan untuk tetap mengikut dan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Bukanlah suatu keharusan, bahwa untuk sampai kepada Allah harus dengan wasithoh/ perantaraan guru (syekh) sebagai umumnya disangkaoleh sementara kalangan Shufi.
Tentang wasithoh guru itu hanyalah sekedar kebiasaan saja. Allah sampaikan seseorang hambanya kepadaNya, atas kehendakNya sendiri, dengan beberapa macam tarikan (jadzabaat)”.
Sebagian dari cara-cara tarikan Tuhan untuk menyampaikan seseorang hamba kepadaNya antara lan adalah dengan cara “membaca shclawat” sedapat-dapatnya 10.000 kali tiap malam dengan lafazh (ucapan) sholawat sebagai berikut :
Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan terhadap Nabi Muhammad yang ummiy, dan terhadap keluarga serta sahabat beliau.”
Demikian pendapat Syekh Malawy rahmatullah ‘alam Selanjutnya Syekh Jauhary mengemukakan : “Siapa yang mengamalkan apa-apa yang tercantum dalam risalah ini, insya Allah akan mendapat “jizbah” dengan segera” dari TuhanNya. Nilaijizbahitujauh : lebih tinggi dari amalanjin dan manusia sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad Saw. :
Artinya :
“Satu-tarikan dari beberapa tarikan Tuhan, tidak akan dapat disamakan dengan amal-amal jin dan manusia.”
Catatan, dari kami D.N. yang di-indonesiakan tentang berguru Memang benar bahwa keharusan melalui seorang guru dalam hal menuntut ilmu Tasawuf adalah kebiasaan. Tetapi dalam banyak hal, ungkapan ungkapan dan rumus serta isyarat di dalam ilmu itu banyak sekali yang harus dimengerti. Apabila . dipelajari sendiri melalui kitab-kitab tasawuf, pasti akan bertemu dengan rumuz dan isyarat. Tanpa guru banyak kemungkinan salah pengertian yang . akibatnya malah akan menyesatkan. Guru bukanlah seseorang yang pasti mengantar muridnya untuk sampai kepada Allah. Sama sekali tidak. Guru hanyalah sekedar menunjukkan jalan, memberi pengertian. dan pemahaman. Namun semua itu tergantung seluruhnya pada kehendak Allah sendiri. Apalagi bila sampai kepada pengertian hakiki tentang makrifat ialah “Allah sendiri yang memperkenalkan dirinya”.
- Ilmu tanpa amal sama sekali tidak ada gunanya
Seyogyanyalah anda mengamalkan segala ilmu yang anda ketahui agar anda mendapat kemenangan dunia dan akhirat, seperti yang telah kami sebutkan dalamrisalah ini, karena Rasulullah bersabda :
Artinya :
“Sesungguhnya manusia yang mendapatazab yang paling hebat di hari Kiamat ialah seorang yang berilmu tetapi tidak memanfaatkan ilmunya.”
Syekh Ruslan r.a. dalam syairnya berkata :
Artinya :
“Seorang yang berpengetahuan tidak mengamalkan ilmunya, diazab lebih dahulu dari pada penyembah berhala.”
Begitu pula suatu amal yang tidak didasarkan. ilmu maka amal yang demikian sama sekali tidak ada nilai dan harganya, bahkan mungkin membawa kesesatan.
Sebagaimana bunyi syair :
Artinya:
“Ilmu tanpa amal dosa besar, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan yang nyata.”
Ilmu dan amal memungkinkan seseorang mendapatkan ilmuladuni sebagaimana tersebut dalam firman Allah :
Artinya :
“Takwalah kepada Allah, Allah akan ajarkan ilmu langsung kepadamu.”
Hadis Rasulullah Saw.
Artinya :
“Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya. Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak pernah diketahuinya.” :
Ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu yang langsung dari pada Allah SWT. tanpa lebih dahulu dipelajari, suatu ilmu yang juga akan membawa dia ke tingkat makrifatullah.
Seseorang tidak akan mencapai tingkatmakrifatullah tanpa ilmu laduni. Pengertian makrifatullah itu sebenarnya adalah “Allah yang memperkenalkan dirinya”.
- Mengenal diri dapat mengenal Tuhan, setelah mengenal Tuhan dia tidak mengerti lagi terhadap dirinya.
Makrifat itu ta’allug (berhubungan) dengan pengenalan terhadap diri. Pengenalan diri berhubungan pula kepada pengenalan terhadap Allah. Selanjutnya bila seseorang itu sudah makrifat kepada Allah, barulah dia menyadari bahwa dia sendiri sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.
Hadis Rasulullah Saw. :
Artinya :
“Orang yang benar-benar makrifat kepada Allah, adalah yang lebih mengerti/kenal terhadap dirinya.”
Makrifat adalah “kasyaf” yang maksudnya, terbuka baginya hakikat segala sesuatu ini, fana dirinya, kemudian fanalah fana itu sendiri, artinya bukan dirinya sendiri yang memfanakan Allah-lah yang memfanakannya,
Dari tingkat ini langsung mencapai tingkat Bago Billah, yang maksudnya, Allah meliputi segalagalanya.
Akan terasa kemanisan dan keindahannya, lebih .manis dari pada gula, lebih indah dari pada yang indah.
Tentang fana ini dapat kita bagi kepada tiga tingkatan:
1, Fana Ilmu
Fana segala sesuatu ini pada hakikatnya, dilihat dari segi ilmu dan pengetahuan anda.
- Fana “Ain
Fananya segala sesuatu ini, sepanjang pandangan mata hati anda.
- Fana Hag
Fana dalam arti sebenarnya, fana dirinya dan fana yang dilihatnya menurut pengertian hakiki.
- Kelemahan pendapat untuk menemukan Tuhan, berarti adalah suatu penemuan
Kata Syekh Junaid r.a. “Bagaimana juga untuk sampai kepada Tuhan,.bukanlah karena “sebab” dan “nazhor” (pengamatanpikiran)halitu hanyalah sematamata karunia Tuhan yang Lathief, dalam isyarat yakin – dan tahkik imam (kemantapan irnan).
Kata Shiddig Al-Akbar r.a. :.
Artinya :
“Kelemahan menemukan pendapat, maka itulah sebenarnya yang merupakan penemuan.”
Sayyidul ‘Arifin, Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib r.a. .karamallahu wajhahu berkata :
Artinya :
“Semua yang terlintas dan tergambar pada khayalmu, – Semuanya adalah musnah, maka Allah berbeda jauh dengan semua itu.” Syekh Abu Ja’far bin Abdullah Suhrawardi r.a. berkata: “Ketahuilah oleh anda, bahwa sampai atau kertemunya hamba dengan Tuhan itu ada beberapa maratib (tingkatan)”.
Demikian pendapat para guru.
Seseorang yang sampai pada “hening yakin” adalah salah satu tingkatan sampai.
Tentang pengertian sampai ini, terdapat pula perbedaan tingkatan. Ada yang sampai pada titik perhentian Af’al pada tajali af’almaka fanalah fi’ilnya (perbuatannya) sendiri, atau perbuatan selain dirinya pada perhentiannya serta Af’al Allah, yang dengan demikian berarti dia telah keluar dari batas “tadbir” (pengaturan) dan “ikhtiar” (usaha).
Ada pula diantaranya sampai pada titik perhentian Sifat. Batas perhentiannya pada magom haibah (rasa kagum yang mendalam) sehingga ia dapat menyaksikan sifat Jalal dan sifat Jamal Allah SWT.
Selain itu ada pula antaranya sampai pada tingkat Zat karena terhias hatinya dengan nurul yakin dan musyahadah. Mereka inilah orang khawwas (istimewa) dan orang yang mugarrabin.
Demikianlah apa yang kita maksudkan dengan “perbedaan tingkat sampai” seseorang kepada Aliah — SWT.









One Comment