Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

BAB 3 KHOTIMAH (penutup)

KETERANGAN TENTANG TINGKAT-TINGKAT TAJALLI ZAT

Pada bagian penutup ini akan diterangkan tentang “tingkat Tajjali Zat, hendaklah anda ketahui, bahwa Tajalli Zatituatastujuhmartabat (tingkat) “Tanazzul” (turun) dari Hidratus-Sarij yaitu Hidlrat Zat sematamata yang dalam pengertiannya tidak menyangkut sifat dan asma atau dalam pengertian lain, lepas dari pada : isyarat.

‘Arif Billah Sayyid ‘Abdullah bin Ibrahim AlMirghani q.s. dalam Kitab beliau tuhfatul Mursalah menyebutkan : “Kunhi Zat Allah Swt. tidak dapat digambarkan oleh akal dan indera (hissi) yang lima, tidak terbatas (had) dengan ukuran akal dan panca indera maka usaha yang demikian termasuk usaha yang mustahil. Hal itu hanya mungkin dicapai dengan jalar kasyaf.

Martabat Tanazzul ini dapat dikelaskan sebagai berikut :

1 Martabat Ahadiyat :

Martabat (tingkat) ini dinamakan pula dengan “martabat Kunhi Zat” yaitu keadaan Zat sematamata, dari sini nyata apa yang dinamakan sifat dan asma. Tidak ada martabat lain yang lebih atas dari pada ini. Semua martabat yang berikut ini, bersumber dari martabat ini.

2) Martabat Wahdah :

Tingkat ini adalah tingkatsifat secara keseluruhan . (ijmal) dengan segala nama, disinilah hakikat Nabi kita Muhammad Saw. yaitu sebagai asal jadi dari segala yangjadi, hawiyatul-alam atau hakikatalam. Segala apa pun adalah dari pada Nur Nabi kita Muhammad Saw. sebagai sabda beliau :

Artinya :

“Mula-mula yang Allah jadikan adalah Nur Ibrahim Ya Jabir. Dan Allah jadikan dari pada Nur itu , segala sesuatu ini. Dan engkau Hai Jabir termasuk pada sesuatu : itu. ”

Pada Hadits yang lain Nabi bersabda :

Artinya : “Aku adalah dari pada Allah, dan orang-orang Mukmin adalah dari padaku.” :

Sabda Nabi Saw. :

Artinya :

“Sesungguhnya Allah ciptakan Roh Nabi Muhammad dari pada Zat-Nya, lalu Allah ciptakan alam dengan rahasiaNya dari pada Nur Muhammad Saw.”

Selain itu ada juga riwayat dari Abdurrazag r.a yang diterimanya dari pada Jabir r.a. Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. “Ya Rasulullah “beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula “ sekali Allah jadikan?” Rasulullah menjawab :

Artinya :

“Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah Nur Nabimu dari pada NurNya.”

Dari hadits-hadits ini jelaslah bahwa kejadian Nur Muhammad Saw. adalah dari pada Nur ZatNya. Allah berikan nama dengan NurNya sebagai tercantum di dalam Al-Our’an yang mulia :

Artinya :

“Sungguh telah Allah datangkan untuk kamu Nur dari “pada Allah. Yaitu Nur Muhammd Saw.”

Sebagaimana kita ketahui bahwa Nur adalah salah satu nama Allah SWT. Diambil nama itu untuk Nabi kita karena tidak lain dari padaNya jua dalam arti hakiki.

“Untuk memudahkan pengertian baiklah kita misalkan “matahari” dengan “cahaya matahari”. Cahaya matahari menunjukkan tentang adanya si matahari, tetapi cahayanya itu sendiri sebenarnya bukanlah : matahari pada rupa/bentuknya (surah) namun cahaya matahari itu dapat kita sebutkan matahari sepanjang gambaran arti saja. (itibar makna). Karena bilamana cahayanya tidak ada, kita akan mengatakan tidak ada ynatahari padahal matahari itu bukanlah cahaya.

Berhubung hal ini adalah suatu “kebenaran (hag)” ‘ maka Allahpun memberi pula sebuah nama yang lain kepada beliau dengan nama Al-Hag yang nama ini adalah juga salah satu dari nama-nama Allah SWT. sebagaimana firmanNya :

Artinya :

“Wahai manusia, telah datang Al-Hag dari pada Tuhanmu, yaitu Nabi kita Muhammad Saw.”

3) Martabat Wahidiyah : 

Pada martabatininyata pula sifat dan asma itu dalam arti’”munfashil” (terurai). Pada martabat wahdahnyata – sifat dan asma dalam arti ijma maka pada martabat ini adalah dalam arti munfashil. Dari sini pula lahirnya Kalam Oodim (ucapan Allah Yang Maha Sedia) yaitu “annahu Anallahu” artinya, sesungguhnya Aku-lah Allah. Adanya tuturan kata (khithob) dengan kalam godim” itu berarti ada yang “dituturi” (sasaran pembicaraan) yaitu alam sifat dan asma. :

Ketiga-tiga martabat yang tersebutitu adalah godim. Adapun terjadinya susunan pada tingkat-tingkat itu hanya sekedar suatu gambaran semata-mata (amrun ‘itibary) janganlah hendaknya diartikan seolah-olah terdapat tingkat menurut ukuran masa dan ruang atau tempat.

Maka nyata dengan jelas pada alam asma dan alam ‘ sifat-sifat roh Nabi kita Muhammad Saw. menyeluruh pada hidlrat wahdah dan terurai pada hidlrat wahidiyah. Pada alam syahadah/alam nyata ini, diartikan awal dari segala yang jadi, awal dari segala mumkinat yang datang dari hidlrat Mahabbah sebagai yang tersebut dalam Hadits Rasulullah Saw., suatu hadits Qudsi (firman Allah SWT.) yang berbunyi :.

Artinya :

“Aku (Allah) adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku berkeinginan agar dikenal maka Kujadikan makhluk (Muhammad s.a.w) agar dia kenal atau makrifat kepada-Ku.”

Lalu kemudian lahirlah Nabi kita Muhammad Saw. dialam syahadah atau alam nyata ini, yang dari padanya jua jadi segala isi alam ini.

Rasulullahpun bersabda :

Artinya :

“Akulah bapak atau sumber dari segala roh, dan Adam bapak atau sumber segala tubuh (basyariyat).”

Kata Syekh Abdul Gani .An-Nablus g.s di dalam :Syarah Fushush “Roh segala jasad itu adalah satu “sedang yang berbilang ini hanyalah nafas. Maka nafas itulah yang mengalami mati, namun roh tidak akan mati karena berdirinya roh itu adalah dengan Hag Ta’ala pada semua keadaan.” Nabi kita Muhammad Saw. sebagaimana uraian yang terdahulu adalah jelas sebagai bapak/sumber dari segala sesuatu ini, serta sumber dari segala hayat kehidupan.

Berarti dengan itu jelas pulalah bahwa “mesralah . Nur Muhammad pada segala sesuatu ini, laksana mesranya air pada tumbuh-tumbuhan. Fafham fainnahu muhimmun (fahamilah, sungguh halini amat . penting) Syekh Muhammad ibnu ‘Abdul Karim As-Saman — r.a. berkata dalam susunan sholawat pada .kitab ‘Minhatul Muhammadiyah :

Artinya :

“Alif Zat, adalah mesra rahasianya pada segala zarrah dan Ha’ adalah Hayatul “Alam (kehidupan alam semesta) dari situlah permulaannya dan menetapnya.” Alif dan Ha yang dimaksud ini di ‘itibar dari huruf-. huruf yang tertera pada nama nabi kita Muhammad Saw. dengan nama yang lebih dikenal di langit yaitu Ahmad.

Selanjutnya ikutilah uraian tentang martabat tanazzul ada tingkat-tingkat berikut ini:

  1. Alam Arwah

Pada tingkat inilah terhimpun dan terhampar luas segala roh yang tidak bersusun-susun.

  1. Alam Mitsal – :

Ada rupa, tetapi tidak bisa dibagi-bagi karena amat halusnya. (catatan : istilah ilmiyahnya atom, atidak, dibagi-bagi)

  1. . Alam Ajsad

Berupa dan berbentuk dan bisa dibagi-bagi atau terbagi-bagi.

  1. Alam Insan

Terhimpun menurut pengertiannya (amrun ‘itibary) . dari yang ke 1 sampai dengan 6 

Martabat yang ke-7 iniadalah martabat yang terakhir, kesemuanya ini dinamakan pula umumnya dengan nama Martabat Tujuh.

Seorang yang zahir pada alam Insan (alam manusia) kemudian sempurna makrifatnya sampai kepada martabat yang pertama, maka orang tersebut dapat diberi gelar dengan Insan Kamil (manusia seutuhnya/sempurna)

Insan Kamil atau Manusia Sempurna yang” dimaksudkan ini, di mana terhimpun sifat Jalal (kemuliaan) dan Sifat Jamal (keindahan) yang nyata ‘ sekali pada diri nabi kita Muhammad Saw. sehingga . tepat kalau beliau dikatakan atau dinyatakan sebagai Penutup para Nabi.

Kesimpulan penutup .

Setelah anda mempelajari apa yang tertera dalam Kitab ini, tidaklah salah kiranya bila disini kita cantumkari ringkasan-ringkasan meskipun sudah cukup jelas pada pasal dan bagiannya masing-masing.

a). Segala perbuatan adalah perbuatan Allah. Si Hamba . sama sekali tidak memiliki perbuatan.

b). Segala asma pada hakikatnya adalah Asma Allah.

  1. c) ‘ Segala sifat pada hakikatnya adalah’sifat Tuhan, yang ‘ ada pada hamba adalah mazhar WujudNya

d). Muhammad Saw. adalah dari pada Nur Zat Allah Ta’ala.

Sekalian makhluk dan segala sesuatu ini dijadikan dari padanya.

Bagi mereka yang ingin mendapatkan perbendaharaan Ulu-hiyah dan khazanah rabbaniyah seharusnya lah mereka secara terus-menerus dengan zikirullah dan sholawat atas Nabi Saw. agar memudahkan terbukanya khazanah hati. untuk menampung. “makrifatullah” dalam waktu yang Singkat.

Dalam rangka terus menerus zikir dan mentauhidkan Allah SWT. adalah cara-cara :

1) Anda lihat segala gerak dan diam, ucapan atau bukan ucapan, semua itu adalah dari pada Allah SWT. Apakah hal itu dari dirimu sendiri atau bukan. Maka . dengan kesungguhan dan ketekunan sehingga tahkik (mantap) hal itu bagi anda dengan penuh perasaan dan. Dinamakan cara ini dengan nama Tauhidul Af’al.

  1. b) Dengan isyarat guru, berpindah anda pada cara berikutnya Tauhidul Asma dan Tauhidul-Sifat engkau lihat dan pandang dengan penuh perasaan dan jiwa serta keyakinan yang mantap atau dengan perkataan-lain, dengan “cara syuhudi”, “kasyfi” dan “zauqi” takada yang kuasa, tak ada yang berkehendak, tak ada yang tahu, tak ada yang hidup, melihat, mendengar dan berkata-kata, kecuali Allah Zat Wajibul Wujud.
  1. c) Selanjutnya anda berpindah tingkat Tauhiduz-Zat dengan suatu kepastian bahwa tidak ada yang maujud ini kecuali Allah, fanakan segala akwan ini serta dirimu sendiri.
  1. d) Anda tenggelamkan dirimu dalam kefanaan, selanjutnya anda fanakan pula kefanaan itu dari anda, yang dimaksud-nya “bukan anda yang memfanakan tetapi memfanakan itu adalah Allah SWT. Hal inilah yang disebut “fana-ul-fana”. Apabila semua itu sudah mencapai hasil, Allah akan letak-kan anda pada suatu tingkatan Bago Billah, yang dengan itu Allah karuniai anda dengan karomah (kemuliaan) dan kegembiraan yang tiada tara dari Hidirat Yang Suci, begitu pula berarti anda telah diangkat Allah dari lembah kehinaan dan dibebaskan olehNya dari perhambaan dan belenggu hawa nafsu, lalu merdekalah anda dalam arti yang sebenarnya sebagai hamba Allah SWT.

Semua cara-cara yang dikemukakan ini adalah cara-cara musyahadah, hal mana merupakan pula jalan yang paling dekat menuju Tuhan serta merupakan ibadat yang paling utama (afdhal). .

Hadits Rasulullah Saw.

Artinya :

“Berfikir sesa’at dengan musyahadah, lebih baik dari pada ibadah sunnat 70 tahun tanpa musyahadah.”

Dalam suasana Makrifatitu selalu “hudlur” (tetap) hati sehingga jangan anda merasa rendah diri karena kurangnya ‘amal-amal anda yang zahir. Untuk ini Syekh Ibnu ‘Athoilah dalam Kitab Hikam ada menyebutkan :

Artinya :

“Apabila sudah terbuka bagi anda meskipun satu segi saja dari pada ilmu makrifat, maka tidak mengapa bagi anda meskipun sedikit saja amal anda yang sunnat. Apakah tidak anda ketahui bahwa Ilmu Makrifat itu adalah pemberian Allah terhadap anda, sedang amal-amal anda hanyalah sekedar persembahan anda, kepada-Nya. Manakah yang lebih bernilai antara amal-amal anda yang anda persembahkan kepadaMu dibandingkan dengan anugerah (pemberianNya) yang langsung buat anda?” .

Perlu pula anda ketahui dan yakini Makrifat itu sebenarnya adalah anugerah Allah kepada hambaNya sekali-kali bukanlah usaha ikhtiar si hamba.

Dalam suatu sabda Nabi Saw.

Artinya : |

“Aku ma’rifat kepada Tuhanku adalah dengan anugerah Tuhanku jua.”

Tentang apa yang kami kemukakan di atas agar anda terus “menerus sholawat untuk Nabi Saw. adalah untuk. memudahkan terbukanya khazanah hati sehingga dapat menampung ma’rifatullah dalam waktu singkat, maka caracara yang dapat kami kemukakan di sini adalah sebagai berikut : ‘

  1. A) Berwudlulah anda dan duduklah menghadap giblat sambil mengharapkan bantuan dan berkat Nabi kita Muhammad Saw.
  1. b) Pada saat anda membaca Allahumma Sholli (Ya Allah sejahterakanlah)… hadirlah Allah pada perasaan anda , sebagai kawan bicara anda.
  1. c) Pada kata “Shollaita… (Engkau sejahterakan). hendaklah anda ingat bahwa yang mengucapkan ‘ sholawatitu sebenarnya adalah “rahasia Nurnya” yang mesra pada anda dan pada segala sesuatu sebagaimana yang dijelaskan pada beberapa hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

Lakukanlah ini secara rutin setiap hari dengan dasar perasaan yang penuh cinta kasih kepada beliau, niscaya Allah akan membukakan buat anda keindahan hakikat Nabi kita dan kemudian Allah akan meningkatkan anda dalam musyahadah terhadap “wujudullah” Yang Mutlak dalam kandungan Nabi kita Muhammad Saw. Sebagaimana anda tahubahwa Rasulullah itu tidak ada bayang-bayang tubuhnya yang dengan itu . menunjukkan bahwa benar Nur Muhammad itu adalah dari padaNur Zat Allah SWT. ‘

Selain bermacam keindahan yang akan anda dapati seperti tersebut di atas, maka andapun termasuk orang yang benar-benar mewarisi Nabi Saw. yang akan menjadi Imam (ikutan) dari banyak orang, begitulah pendapat yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim g-s. dalam risalah beliau yang bernama “Ighastatul lihfan wa mu annisatul-lihwan”.

Syekh Shiddig bin Amirkhan rahimahullahu ta’ala menyatakan dalam syarah Ooshidah ‘Ainiyah :. “Patut sekiranya anda ketahui bahwa guru kami Syekh Abdul Karim Muhammad bin Abdul Karim As-Saman q.s. adalah salah seorang ulama yang tetap mengamalkan ajaran agama yang lurus (gowim) ini dan telah pula menerima warid (karunia batin) dengan “kalam godim” yang mana beliau tetap mengamalkan perintah Allah yang berbunyi :

Artinya :

“Wahai orang yang beriman, tagwalah kamu kepada Allah dan seyogyanya kamu berwasilah kepadanya (Muhammad).”

Tidak ada wasilah (perantara) yang paling baik dan mulia hanyalah Muhammad Saw. Dan beliau juga sebagai wasilah (pengantar) bagi hamba yang ingin mengenal Allah.

Ketahuilah oleh anda bahwa siapa pun juga yang memasuki alam makrifat dengan melalui pintu (baab). Kenabian ini menuju Hidlrat Zat Allah, menurut pendapat Ahlul-MuHaqqigir (ahli hakikat) adalahjauh lebih sempurna dari pada melewati pintu Tauhidul. Asma dan Sifat, malah lebih sempurna pula dibandingkan dengan mereka yang mendapatkannya dengan cara jizbah.

Mereka yang melalui lewat pintu Kenabian ini adalah mereka yang tetap melaksanakan syariat agama dan tetap pula menunjukkan sifat-sifat kehambaannya.

Para Nabi dan Para Awliya yang sempurna makrifatnya kepada Zat Allah SWT. dengan memusyahadahkan Nur Muhammad, mereka ini yang disebut “Nabi-Nabi dan Awliya yang berada di bawah gidam Nabi Muhammad Saw.

Demikianlah apa yang di ijazahkan oleh guru kami (Syekh Al-Arif Billah, Shiddig bin Amirkhan q.s.) kepada faqir, (Muhammad Nafis bin Idris bin Husein Al Banjari) dengan kata-kata beliau : Musyahadahkan olehmu akan Nur Muhammad Saw. itu mesra ia pada sekalian rahim dan batang tubuhmu dan pada sekalian ka’inat seperti mesranya air dengan tumbuh-tumbuhan insya Allah Ta’ala lagi akan membukakan allah ta’ala akan dikau kepada melihat akan keelokan zatnya yang wajibul wujud lagi yang suci, karena allah ta’ala itu tiada akan dapat dikenal akan dia melainkan dengan nurnya yang mesra ia pada kita dengan washithoh Nur Muhammad Saw. adapun dengan batang tubuh kita yang kasar dan zhulmah ini sekali-kali tiada akan dapat mengenal Allah Jalla Jalaluhu (Wallahu’alam)

Catatan :

Kata-kata aslinya menurut kitab D.N. saya cantumkan karena masalah ini merupakan kunci pembicaraan mengenai Nur Muhammad Wasithoh = pengatur, Zhulmah = gelap

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker