Bab I Pendahuluan
Menjelaskan tentang hal-hal yang bisa merusakkan dan menggagalkan seseorang untuk sampai kepada Allah swt.
Hendaklah anda ketahui, bahwa yang terpenting, anda harus memelihara diri anda agar jangan sampai jatuh ke lembah maksiat, maupun maksiat lahir ataupun maksiat batin.
Begitu juga hendaknya anda dapat melepaskan diri – anda dari hal-hal yang dapat merusakkan perjalanan cita-cita menuju keridlaan Allah, atau yang dapat menggagalkan maksud anda ke arah yang dimaksud.
Hal-hal yang dapat “merusakkan” perjalanan menuju Allah SWT. itu banyak sekali, di antaranya :
- a) Kasal
(Malas), untuk mengerjakan ibadat kepada Allah SWT. padahal sebenarnya anda dapat dan sanggup untuk melakukan ibadat tersebut.
- b). Futur
(Bimbang/lemah pendirian), tidak memiliki tekad yang kuat karena terpengaruholeh kehidupan duniawi.
- c) Malal
(Pembosanan), cepat merasa jemu dan bosan untuk melaksanakan ibadat karena merasa terlalu sering dilakukan, padahal tujuan belum juga tercapai.
Timbulnya hal-hal tersebut di atas adalah disebabkan: kurang kuatnyarasa keimanan, kurang mantapnya keyakinan, dan banyak terpengaruh oleh hawa nafsunya sendiri.
Selanjutnya hal-hal yang mengakibatkan “gagalnya” untuk mencapai tujuan, antara lain adanya penyakit Syirik Khofi (syirik tersembunyi) atau dengan lain perkataan, timbulnya suatu tanggapan di dalam hatinya, bahwa segala amal ibadat yang dilakukannya adalah sepenuhnya dari kemampuannya sendiri, tidak dirasakannya dan ‘ diyakininya, bahwa apa yang dilakukannya itu semua, pada hakikatnya dari pada Allah SWT.
“Segala sesuatu yang Allah ciptakan ini (makhluk) pada dasarnya/hakikatnya adalah seakan-akan alat belaka dari Allah, namun maha sucilah Allah daripada memerlukan alat.”
Hal-hal yang tergolong dalam syirik-khofi antara lain adalah sebagai berikut :
- Ria’ (Pamer)
Sengaja mempertotonkan, menampak-nampakkan ibadat atau amalnya kepada orang lain atau ada suatu maksud tertentu “yang lain daripada Allah”, misalnya beramal semata-mata mengharapkan surga.
- Sum’ah (Memperdengar-dengarkan)
Sengaja mencerita-ceritakan tentang amal ibadatnya kepada orang lain bahwa dia beramal dengan ikhlas karena Allah dengan suatu maksud agar orang lain memberikan pujian.dan sanjungan kepadanya.
- 3.” Ujub (Membanggakan diri)
Rasa hebat sendiri yang timbul dari dalam hatinya karena banyak amal ibadatnya, tidak dia rasakan bahwa semua itu adalah semata-mata karena karunia dan rahmat Allah SWT.
Gugur permulaannya karena terhenti pada ‘ibadatnya semata-mata.
- Hajbun (Hijab/Dinding)
Dinding yang dimaksud adalah karena terlena dan kagum atas keindahan amalnya, sehingga tertahan pandangan hatinya (syuhudnya) kepada kekaguman itu semata-mata atau dengan kata lain, terpengaruh kepada keindahan amal ibadatnya sendiri tidak dirasakannya bahwa semua itu adalah karunia Allah SWT.
Oleh sebab itu, agar anda dapat terlepas dari hal-hal/ penyakit tersebut hal mana dapat membahayakan perjalanan anda maka tidak ada lain jalan, kecuali memantapkan pandangan batin (musyahadah) dengan penuh keyakinan bahwa “segala apa pun yang terjadi pada hakikatnya/ dasarnya adalah daripada Allah SWT.” sebagaimana yang akan diuraikan pada bagian berikut ini.
Artinya :
“Andai kata -terlintas kilas dalam khatarku getaran hati di dalam dada, suatu kehendak yang lain dari pada Mu Ya Tuhan, disadari ataupun tidak, wahai celakanya diri ini, remuk hancur dilumpur murtad.
Dengan pandangan, tanggapan dan anggapan yang keliru itu, menyebabkan anda tidak termasuk dalam golongan Mukmin yang sempurna.
Tetapi bilamana musyahadah anda benar :
“Tidak Ada yang Berbuat Pada Hakikatnya Melainkan Allah Tidak Ada yang Hidup Pada Hakikatnya Melainkan Allah dan Tidak Ada yang Maujud Pada Hakikatnya Melainkan Allah” maka dengan demikian, termasuklah anda dalam golongan Ahli Tauhid yang Benar, suatu golongan yang dijanjikan Allah dengan dua surga, surga yang pertama adalah surga Makrifatullah di dunia, dan surga kedua adalah surga akhirat yang sudah dikenal berdasarkan dalil dan nas.
Syeikhuna ‘Alimul ‘Allamah Al-Bahrul ‘arieg Abdullah ibnu Hijazi As-Syargowi Al-Mishrie rahimahullahu ta’ala telah berkata : “Siapa yang memasuki surga makrifatullah di dunia, niscaya tidak berhasratia kepada surga akhirat yang berupa bidadari, istana, pakaian, makanan dan lain-lain. Hasrat-nya hanya ingin sedekat-dekatnya pada Hidrat Allah dengan Rukyatullah (melihat Allah dengan nyata) di akhirat kelak”.
Nikmat yang paling tinggi di akhirat adalah Rukyatullah. Jauh sekali beda nilai antara nikmat, itu dibandingkan dengan nikmat surga dalam pengertian bidadari, istana, pakaian dan lain-lain sebagai yang sering dikemukakan.
Begitu pula tentang kenyataan melihat Tuhan, dalam arti Makrifatullah di dunia ini yang telah terbuka pada hati orang-orang yang ‘Arifbillah, hanya sebagian kecil saja dibandingkan dengan rukyatullah di akhirat kelak Namun mereka akan mendapatkannya karena mereka telah memuliakannya.
Hubaya-hubaya, wahai saudara-saudara janganlah anda lupa bermusyahadah Wihdatul Af’al yang memungkinkan anda untuk dapat memandang keindahan
Dzat Wajibal Ujud.
Penjelasan penting :
Berkata Abdul Wahab Sya’rani qaddasallahu sirahu dalam Kitab Jawahiru wad-Durar beliau memetik ucapan Syekh Mahyuddin Ibnu ‘Araby r.a. :
“Segala keadaan ini adalah dinding yang dapat mendindingi pandangan pada Hak Ta’ala, padahal pada hakikatnya Ia juga yang berlaku dibalik semua keadaan (akwan) ini laksana bayang-bayang kayu di dalam air sungai, tidak akan mungkin dapat menahan lewatnya perahu yang didayung. Adapun perahu yang tidak – berani melewatinya, karena menyangka benar-benar kayu penghalang (dinding). Hal tersebut tidak lain karena sangkaan belaka bagi mereka yang belum terbuka hijab, sehingga tidak mampu memandang Fa’il yang Hakiki (pelaku yang sebenar-nya) yaitu Allah SWT.”
Tentang pengertian Af’al Hamba menurut pendapat beberapa mazhab.
Pertama : Mazhab Mu’tazilah Mazhab ini berpendapat bahkan merupakan iktikad mereka bahwa segala apa pun yang terjadi adalah pada hakikatnya terjadi karena adanya kodrat (daya mampu) makhluk itu sendiri. Kodrat hamba yang hawadits (yang . baru) itu, menurut mereka adalah memberi bekas/ menentukan.
Mereka tidak mau tahu tentang apa yang kita sebutkan “pada hakikatnya dari pada Allah”. Oleh sebab itu golongan ini termasuk golongan “bid’ah ” bahkan “fasig”.
Catatan :
Mu ‘tazilah menurut arti bahasa ialah “orang yang terasing/terpisah”. Pembangun mazhab ini ialah Washil bin ‘Atha.
Menurut sejarah, Washil pernah berguru/ belajar . dengan Imam Hasan Bashri r.a. Pembangun golongan Ahlussunnah wal-Jama’ah.
Pernah terjadi. suatu debat yang sengit antara Imam Hasan Bashri dengan murid beliau ini (Washil) tentang masalah: apakah seorang Mukmin yang maksiat.bisa masuk surga atau tetap di dalam neraka.
Imam Hasan Bashrie menyatakan bahwa orang tersebut dinamakan Mukmin ‘Ashie (Mukmin maksiat).
Apabila dia tidak mendapat ampunan Tuhan, maka orang tersebut dimasukkan ke dalam neraka, kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam surga karena adanya Iman..
Tentang pendapat ini Washil tidak dapatmenerimanya meskipun si guru sudah memberikan keterangan dan dalil-dalil yang kuat.
Dengan adanya pertentangan ini, Imam . Hasan Bashrie berkata “itazala ‘anna Washil” (telah berpisah “dari kita si Washil). “
Dari kata ‘itazala inilah kemudian lahirlah Mazhab Mu ‘tazilah.
Pendapat golongan Mu’tazilah mengenai “perbuatan hamba” yang mereka yakini, jelas bertentangan dengan ajaran Al-Our’an dalam Surah As Syu’ara ayat 78 s/d 82 yang artinya :
Allah yang menciptakan aku dan memberi petunjuk kepadaku, dia pula yang memberi makan dan minum kepadaku, bila aku sakit dia pula yang menyembuhkan aku. Dia yang mematikan aku dan kemudian menghidupkan aku, dia pula yang kuharap memberi ampunan kepadaku hingga hari pembalasan
Kedua : Mazhab Jabariyah
Mazhab ini beriktikad bahwa segala macam perbuatan adalah “perbuatan Allah sendiri” dan mereka tegas pada pendirian demikian.
“… Mereka tidak memandang adanya “kenyataan” perbuatan Tuhan pada hamba sebagai sandaran. Dengan pendirian demikian maka mereka tidak dapat mencapai “darjat kamal” (tingkat kesempurnaan) dan nyata-nyata bertentangan dengan jalan syariat.
Catatan :
Jabariyah menurut arti bahasa ialah “paksaan”. Maksudnya ialah bahwa manusia ini dipaksa oleh Tuhan untuk berbuat. Mengenai pengertian “perbuatan Allah sendiri” misalnya, makan, artinya Allah makan, kalau si hamba minum, artinya Allah minum. Demikian seterusnya. Apabila mengerjakan maksiat, tidak perlu meminta ampun, karena itu adalah kehendak Allah dan perbuatan Allah sendiri. Maka jelaslah bahwa iktikad demikian adalah Kufur Zindik. “
Pelopor/pendiri paham ini ialahJaham bin Sofwan oleh sebab itu paham ini dinamakan juga dengan nama Jahmiah. Penganjurnya yang terkenal ialah Ju’di bin Sam’an yang dipelajarinya dari seorang Yahudi bernama Thalud bin ‘Asham.
Jaham bin Sofwan adalah seorang yang berasal dariParisi di Khurasan yang dahulunya adalah seorang Yahudi. Karena kalah dalam suatu peperangan, dia ditawan oleh pasukan Tentara Islam kemudian dia .masuk Agama Islam. Beberapa lama kemudian dia diangkat menjadi sekretaris dari Suraih bin Haris. Pada waktu itulah ia berkesempatan mengedarkan pahamnya. Karena kesesatanajarannya ini, dia dibunuh oleh Muslim bin Ahwaz Almazani pada akhir pemerintahan Bani Marwan.
Ibnu ‘Abbas r.a. pada waktu menghadapi golongan ini di Syam, beliau berkata: “Wahai orang-orang munafik di zaman lampau dan pengunjung masjid yang fasik, kenapa kamu melemparkan kejahatan kepada Tuhan? sedang kamu nyata-nyata berbuat jahat. Rasulullah Saw, pernah bersabda : Akan Datang Suatu Masa Nanti Suatu Kaum yang Melakukan Maksiat, Kemudian Mereka Berkata Allah yang Menakdirkan Demikian (maksudnya mereka lepas dari tanggung jawab dan Allah sendirilah yang harus menanggung akibatnya) Maka Siapa yang Menantang Kaum Ini, Sama Artinya Mereka Mencabut Pedang Dalam Suatu Perang Sabilillah. (DN yang di-Ind. “)
Ketiga : Mazhab Asy’ariyah
Golongan ini berpendapat dan berkeyakinan bahwa segala macam perbuatan (kejadian dan peristiwa) pada hakikatnya, adalah perbuatan Allah.









One Comment