Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Washiatul Mustofa Imam Sya’rani

8. Suka dan Duka dalam Agama

Hai, Ali, janganlah kamu berlebihan dalam suka cita, karena Allah swt. tidak menyukai orang- orang yang bersuka ria. Hendaklah kamu banyak sedih dan prihatin, karena sesungguhnya Allah swt. menyukai setiap orang sedih dan prihatin.

Keterangan:

Ja’far bin Auf meriwayatkan dari Mas’ud, dari Auf bin Abdullah, ia berkata: Nabi saw. tidak pernah menoleh, kecuali dengan seluruh wajahnya. Dari hadis ini bisa diambil kesimpulan, bahwa tersenyum itu boleh, sedangkan tertawa tidak boleh.

Orang yang berakal sehat seyogyanya tidak tertawa, karena orang yang sedikit saja tertawa di dunia, maka nanti di akhirat akan banyak menangis. Lalu, bagaimana nanti keadaan orang yang banyak tertawa ketika di hari kiamat nanti? Allah Ta’ala berfirman:

“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Q.S. At-Taubat: 82).

Hasan Al-Bashri berkata: Sungguh mengherankan, seseorang dapat tertawa, padahal di belakangnya ada api neraka dan Sungguh mengherankan ada orang yang bersuka ria, padahal di belakangnya ada kematian.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Barangsiapa tertawa ketika melakukan perbuatan dosa, maka nanti akan masuk neraka dalam keadaan menangis.

Ada orang mengatakan, bahwa orang yang banyak tertawa di dunia, maka nanti akan banyak menangis di akhirat. dan orang yang banyak menangis di dunia, maka nanti akan banyak tertawa di akhirat.

Yahya bin  Mu’adz Ar-Razi  berkata:  Ada empat  macam  perbuatan yang  tidak  akan  bisa menjadikan orang mukmin selalu tertawa dan gembira, yaitu: Memikirkan akhirat, sibuk mencari keperluan hidup, merasa sedih atas dosa-dosanya, dan memikirkan musibah yang memungkinkan akan menimpa dirinya. Oleh karena itu, seyogianya setiap muslim menyibukkan diri dengan keempat hal tersebut, agar terhindar dari banyak tertawa, karena banyak tertawa itu bukan perilaku orang yang beriman.

Setiap manusia seharusnya merasa sedih dengan lima hal, yaitu:

1. Merasa sedih atas dosa-dosa yang lampau, karena ia telah melakukan perbuatan-perbuatan dosa, tetapi tidak tahu apakah ia mendapat ampunan Allah atau tidak. Oleh karenanya, ia harus berusaha untuk mendapatkan ampunan itu.

2. Ia telah melakukan kebaikan-kebaikan, namun ia tidak tahu apakah kebaikan-kebaikan itu diterima oleh Allah atau tidak.

3. Ia mengetahui perjalanan hidup yang telah dilaluinya, namun ia tidak tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang.

4. Ia mengetahui, bahwa Allah mempunyai dua tempat, yakni surga dan neraka, namun ia tidak mengetahui ke tempat mana ia akan masuk.

5. Ia tidak mengetahui, apakah Allah ridha atau murka kepadanya.

Barangsiapa tidak menghiraukan kelima hal itu, niscaya nanti di akhirat ia akan menghadapi lima kesusahan, yaitu:

1. Menyesal atas harta yang dikumpulkan, baik yang diperoleh dengan cara yang halal maupun haram, yang ia tinggalkan kepada ahli waris yang memusuhinya.

2. Menyesal, karena menunda-nunda amal kebaikan, sehingga catatan amal baiknya hanya sedikit, kemudian ia mohon izin untuk kembali ke dunia, agar bisa mengerjakan amal baik, namun tidak akan mungkin diizinkan.

3. Menyesal atas dosa-dosa yang ia lihat dalam buku catatan, ternyata banyak sekali, sehingga kemudian ia mohon izin untuk kembali ke dunia, agar ia bisa bertobat, namun tidak akan diizinkan.

4. Melihat begitu banyak orang yang menuntutnya, namun ia tidak bisa membayar, kecuali dengan amal-amal kebaikannya.

5. Allah murka kepadanya dan tidak ada jalan untuk memperoleh keridhaan-Nya. Abu Dzarr Al-Ghiffari r.a. meriwayatkan dari Rasulullah saw., beliau bersabda:

“Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu sedikit tertawa dan banyak

menangis.”

Hai, Ali, setiap hari berganti pasti berkata, hai, anak keturunan Adam, saya adalah hari yang baru dan menjadi saksi amal perbuatanmu. Oleh sebab itu renungkanlah apa yang kamu kerjakan.

Keterangan:

Setiap muslim harus selalu memanfaatkan waktu, jangan sampai terlewatkan begitu saja dengan sia-sia tanpa dimanfaatkan untuk berbuat baik. Sebab waktu-waktu yang kita lalui selama hidup ini, itulah yang disebut umur dan kita besok di hari kiamat akan ditanya tentang umur yang diberikan oleh Allah kepada kita. Rasulullah saw. telah bersabda:

“Di hari kiamat nanti kedua telapak kaki setiap hamba tidak dapat beranjak dari tempatnya, sampai ia ditanyd tentang tiga perkara. Tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? Tentang ilmunya, untuk apa ilmunya diamalkan, dar tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan dibelanjakan untuk apa.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker