Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Washiatul Mustofa Imam Sya’rani

11. Anjuran Bersedekah untuk Orang-Orang Mati

Hai, Ali, bersedekahlah kamu untuk keluargamu yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Allah swt. telah menugaskan malaikat-malaikat yang membawa sedekah orang-orang yang masih hidup kepada mereka yarg telah meninggal. Mereka semua senang dengan (pahala) sedekah itu, lebih dari senang mereka di dunia. Mereka lalu berkata:

” Ya, Allah, ampunilah orang yang telah menerangi kubur kita dan berilah dia kabar gembira dengan surga, sebagaimana kita senang dengan sedekah-sedekah itu.

Keterangan:

Tiadalah mayat dalam kuburnya, kecuali ibarat orang tenggelam yang minta tolong dan selalu menanti doa dari anak, saudara atau temannya. Bilamana doa tersebut sampai padanya, maka hal itu lebih ia senangi daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang mati, adalah doa dan istighfar. (H.R. Ad-Dailami)

Hikayah I

Ada sebuah kisah, yaitu: Ali bin Abi Tholib karromallahu wajhah pada suatu hari masuk pekuburan Madinah dan berseru: Hai, sekalian penghuni kubur: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi. Kamu semua mau memberitahu aku tentang keadaan kalian semua, atau aku memberi tahu keadaan kalian semua. Lalu Ali mendengar suara: Alaikas salam warahmatullahi

wabarakatuh. Ceritakanlah kepadaku keadaan keluargaku sepeninggalku. Lalu Ali berkata: Istri-istrimu telah menikah kembali, harta kekayaanmu telah dibagi-bagi, anak-anakmu telah menjadi yatim dan rumah-rumah yang kamu bangun dulu, telah jatuh ke sainganmu. Inilah berita yang dapat aku sampaikan. Nah, bagaimana keadaan kamu sekalian sekarang ini. Seorang mayat bersuara: Kain kafanku telah koyak, robek dan compang-camping, rambutku rontok, kulitku mengelupas, mataku keluar dan hidungku mencucurkan darah dan nanah Apa saja yang dulu aku berikan, sekarang kami dapati kembali dan apa saja yang aku simpan dan aku tinggalkan, merugikan kami. Kami semua digantungkan oleh amal-amal kami. (Tanwirul Qulub: 457).

Kita harus membantu orang-orang yang telah meninggal dengan cara berdoa dan bersedekah untuk mereka.

Hikayah II

Ada sebuah kisah, dari seorang ulama, bahwa pernah ada seorang laki-laki bernama Sholeh Al- Marsy r.a. bercerita: Pada malam Jumat saya keluar rumah menuju mesjid untuk melakukan salat fajar di mesjid jami’. Saya melewati sebuah kuburan dan terbersit di benak saya untuk berhenti di tempat ini sampai fajar terbit. Saya lalu salat dua rakaat, kemudian sava terserang kantuk, hingga tertidur sejenak. Dalam tidur yang sebentar itu melihat seolah-olah semua orang di kuburan itu bangkit dari kuburnya. Sebagian mereka memakai pakaian berwarna putih dan duduk-duduk sambil berbincang-bincang dan di situ ada seorang pemuda berpakaian kotor sedang duduk sendirian termenung sedih. Tidak lama kemudian, mereka disuguhi talam-talam yang ditutup kain. Setiap mereka mengambil talam, lalu masuk ke kuburnya, kecuali pemuda berbaju kotor itu. Ia tidak mendapatkan apa-apa, dan masuk ke kuburnya dalam keadaan sedih. Ketika itu saya bertanya kepadanya: Hai, hamba Allah, mengapa engkau tampak sedih? Apa yang tampak olehku ini? Ia berkata: Hai, Sholeh, apakah engkau melihat talam-talam? Saya jawab, ya, dan apa semua itu? Ia menjawab: Talam-talam itu adalah kiriman orang yang hidup untuk keluarganya yang telah meninggal dunia. Setiap kali mereka berdoa dan mengulurkan sedekah untuk mereka yang telah mati dikumpulkan dan hari Jumat dibagikan seperti yang kamu lihat. Sedangkan saya adalah orang asing dari India hendak ke Basrah (Irak) bersama ibuku untuk pergi haji ke Makkah. Tapi saya meninggal dunia di sini dan ibu saya kawin lagi, ia asyik dengan suaminya yang baru, hingga tidak lagi ingat kepada saya dengan doa-doa atau sedekah, sepertinya ia itu tidak memiliki anak. Ia benar-benar telah silau dengan harta dan kemewahan hidup, karena itu saya sedih. Karena tidak ada lagi orang yang mengingat saya.

Saya bertanya kepadanya: Di manakah tempat tinggal ibumu? Ia lalu menerangkan. Ketika pagi tiba, saya salat, kemudian saya berusaha mencarinya. Akhirnya, saya dapat menemukannya, dan langsung saya ketuk pintunya, lalu saya ditanya, siapakah ini? Saya jawab: Saya adalah Sholeh Al-Marsy. Saya dipersilakan masuk dan saya berkata: Allah memberi rahmat kepadamu. Apakah engkau memiliki anak, ia menjawab tidak. Apakah engkau punya anak meninggal dunia? Ia menjawab, ya, ja meninggal dunia ketika masih muda. Saya lalu  menceritakan  kepadanya keadaan  anak  itu  seperti  yang  saya lihat  dalam  mimpi.  Ia menangis dan sedih, kemudian menyerahkan uang 1000 dinar kepada saya, sebagai sedekah untuk anaknya. Uang itu saya bagi-bagikan hingga habis. Wanita itu berkata pula: Hari ini aku tidak akan melupakan anakku dengan berdoa dan sedekah untuknya. Jumat berikutnya saya pergi ke mesjid jami’ dan singgah di kuburan untuk duduk sebentar, ketika itu saya terserang kantuk hingga tidur dan bermimpi lagi seperti semula, dan melihat pemuda berpakaian bersih, gembira dan menebarkan senyuman lalu berkata: Hai, Sholeh, hadiahnya telah sampai, semoga Allah membalasmu. (An-Nawadir: 102-103).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker