XVI. WASIAT RASUL TENTANG TATA CARA MENEMPATKAN DIRI DI MASYARAKAT
Bab terakhir ini membicarakan berbagai masalah (Funun Syatta), yang terjemahan ini kami beri judul: Tata Cara Menempatkan Diri di Tengah Masyarakat.
Apabila setiap orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat dapat menempatkan diri dan mengerti apa yang sebaiknya dikerjakan, maka akan terciptalah kerukunan dan perdamaian. Untuk mewujudkan hal ini, marilah kita renungkan wasiat Rasul di bawah ini:
1. Memasyaratkan Salam
Hai, Ali, ucapkanlah salam terlebih dahulu kepada setiap orang Islam yang berpapasan denganmu, maka Allah akan mencatat dua puluh kebaikan untukmu. Jawablah salam orang yang memberikan salam, maka Allah akan mencatat empat puluh kebaikan kepada orang yang menjawab salam.
Keterangan:
Hukum memberi salam kepada sesama muslim itu Sunah. Sedangkan menjawab salam itu hukumnya Fardu Kifayah. Salam atau penghormatan di dalam Islam itu berupa kalimat:
Jawaban penghormatan atau salam itu seyogianya lebih baik dan lebih sempurna. Kalau ada seseorang memberi ucapan salam dengan kalimat di atas, maka kita harus menjawab dengan
kalimat: atau Ada sebuah riwayat, bahwa salah seorang keluarga Ali bin Tholib diberi ucapan salam oleh seorang hamba sahayanya, lalu beliau menjawab: (engkau bebas). Lalu ada salah
seorang bertanya: Engkau diberi salam, lalu engkau menjawab dengan memerdekakan budakmu itu. Beliau menjawab: Jawaban yang paling baik untuk budak adalah merdeka. Saya menguatkan firman Allah swt.:
” Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (Q.S. An-Nisa’:
86),
2. Menahan Emosi
Hai, Ali, hindarilah marah atau emosional, sebab marah itu berasal dari setan, dan setan itu lebih gampang menguasai dirimu di saat dalam keadaan marah.
3. Mewaspadai Doa Orang yang Tertindas
Hai, Ali, berhati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, takutlah kepada doanya, sebab doa orang teraniaya itu pasti dikabulkan oleh Allah swt., sekalipun ia kafir. Persoalan kekafiran adalah urusannya sendiri.
4. Menghindari Sumpah Palsu
Hai, Ali, hindarilah bersumpah dengan sumpah palsu, karena sumpah palsu itu menghabiskan dagangan, menghilangkan rezeki dan memperpendek usia.
5. Amar Makruf dan Nahi Munkar
Hai, Ali, barangsiapa yang menganjurkan orang lain untuk berbuat baik dan mencegah mereka untuk tidak berbuat jahat, maka Allah akan menumpas musuhnya. Barangsiapa yang jujur dalam setiap urusan, maka Allah akan marah, karena kemarahan orang tersebut.
6. Anjuran Menghibur Anak Yatim
Hai, Ali, apabila ada anak yatim menangis, maka Arasy berguncang. Kemudian dikatakan kepada Malaikat Jibril: Hai, Jibril, lebarkanlah neraka untuk orang yang membuat nangis anak yatim itu, dan luaskanlah surga kepada orang-orang yang menghiburnya.
Keterangan:
Ada salah seorang di zaman dahulu bercerita: Dulu aku ini adalah pemabuk dan selalu berbuat maksiat. Pada suatu hari aku melihat anak yatim, aku sangat sayang kepadanya, dan aku memuliakannya, sebagaimana layaknya anak yang dimuliakan dan disayang. Kemudian pada suatu malam, ketika tidur, aku bermimpi melihat Malaikat Zabaniyyah menangkap saya dan akan mencampakkan saya ke neraka Jahanam, tiba-tiba anak yatim tersebut menghalangi dan berkata: Hai, Malaikat Zabaniyyah, tinggalkan dia, aku menghadap langsung kepadanya dan membicarakan orang ini, Malaikat Zabaniyyah tidak menggubrisnya, lalu ada seruan: Bebaskan dia, Kami membebaskan dia, karena kebaikannya kepada si yatim itu. Lalu aku terbangun dan sejak itu aku berusaha keras memuliakan anakanak yatim.
Ada sebuah kisah, bahwa ada seorang memiliki anak-anak perempuan dari seorang istri keturunan Ali bin Abi Tholib meninggal dunia. Wanita ini hidup dalam keadaan miskin, hingga memaksanya harus pergi dari tempat itu. Dalam perjalanan hijrahnya, ia mampir ke sebuah mesjid, tinggal beberapa saat di sana. Lalu wanita mulia itu diam-diam keluar : dan anak- anaknya ditinggal di mesjid untuk mencari makanan, ja bertemu dengan pemuka desa yang beragama Islam dan bercerita tentang keadaannya beserta anak-anaknya, tetapi si pemuka desa itu tidak mempercayainya dan berkata kepadanya: Untuk membuktikan ucapanmu itu, kamu harus mendatangkan saksi. Wanita itu menjawab: Aku orang asing, tidak kenal siapa pun di sini. Pemuka desa itu tidak mempedulikannya.
Wanita mulia itu lalu berjumpa dengan seorang yang beragama Majusi, dan menceritakan keadaannya bersama anakanaknya yang kecil-kecil. Orang Majusi itu percaya dan langsung menyuruh salah satu anak perempuannya untuk menjemput mereka dan mengajaknya ke rumah. Laki-laki Majusi ini berusaha semaksimal mungkin untuk memuliakannya.
Adapun pembesar desa yang muslim itu pada malam hari bermimpi, sepertinya kiamat terjadi dan ia melihat Rasulullah saw. membawa Liwa’ul Hamdi di depan sebuah istana yang megah. Aku bertanya: Hai, Rasulullah, untuk siapakah istana ini? Beliau menjawab: Untuk seorang muslim. Ia berkata: Akulah satu-satunya muslim di sini. Rasulullah saw. menjawab: Datangkan saksi atas pengakuanmu sebagai muslim. Lalu ia bingung. Rasulullah saw. lalu membicarakan tentang wanita mulia tersebut. Laki-laki itu lalu terbangun dan sedih, karena ia telah menolak wanita mulia yang pernah meminta bantuan untuk anak-anaknya yang yatim itu. Oleh sebab itu dia berusaha mencari dan menemukannya di rumah orang Majusi. Ia memintanya, tetapi si Majusi menolaknya dan berkata: Aku telah memperoleh berkah dari mereka. Laki-laki muslim
itu berkata: Serahkanlah wanita dan anak-anaknya itu kepadaku dan aku akan memberimu seribu dinar, tetapi laki-laki Majusi tetap menolaknya. Laki-laki muslim itu tetap memaksanya, si Majusi berkata: Saya lebih berhak merawat mereka, dan istana yang aku lihat dalam mimpi itu adalah milikku. Majusi berkata: Kami bangga dengan Islammu! Demi Allah, saya dan keluarga saya telah masuk Islam karena wanita ini. Sebelum tidur dan ketika tidur, saya melihat istana, seperti yang kamu lihat dalam mimpimu, dan Rasulullah saw. bersabda kepada saya: Apakah wanita dan anak-anaknya itu telah berada di rumahmu? Saya jawab iya. Beliau bersabda: Istana ini untukmu dan untuk seluruh keluargamu. Laki-laki pembesar yang muslim itu lalu kembali dalam keadaan sedih. (Mukhsyafatul Qulub: 214-221)









One Comment