Hikayah I
Diriwayatkan dari Syekh Abu Yazid Al-Busthomi, bahwa dirinya telah beribadah kepada Allah swt. bertahun-tahun, tetapi dia tidak dapat merasakan nikmat dan kelezatan ibadah. Dia lalu menjumpai ibunya dan berkata: Wahai, Ibuku, saya belum pernah dapat merasakan nikmat dan kelezatan ibadah sama sekali. Tolonglah, renungkanlah, apakah Ibu pernah memakan barang haram, sewaktu Ibu mengandungku atau sewaktu menyusuiku. Sang ibu berpikir lama sekali, lalu berkata kepada putranya. Hai, anakku, ibu ingat, yaitu ketika ibu mengandungmu, Ibu pernah naik ke rumah bagian atas, lalu ibu melihat ada adonan makanan milik tetangga dijemur, ibu ingin memakan itu, lalu ibu mengambilnya sedikit, yaitu sebesar ujung jari dan ibu makan tanpa minta izin kepada pemiliknya. Abu Yazid berkata: Inilah penyebab yang membuat aku tidak dapat merasakan kelezatan ibadah. Lalu dia berkata: Tolonglah, Bu, temui pemilik barang tersebut dan mintalah kehalalannya. Sang ibu lalu melaksanakannya dan berhasil mendapatkan ridha dan kehalalan dari pemiliknya. Selang sesa’.t, Abu merasakan kelezatan ibadahnya yang amat luar biasa
Hikayah II
Diriwayatkan dari Syekh Ibrahin bin Adham r.a., sesungguhnya dirinya pernah di Makkah membeli kurma dari seseorang, lalu ada dua biji kurma jatuh di tanah di dekat kakinya. Dia menyangka, bahwa dua kurma itu termasuk yang ia belinya, tanpa pikir dia lalu memakannya. Dia kemudian pergi ke mesjid Al-Aqsho di kota Baitul Maqdis, lalu masuk ke Qubbatus Shahroh dan menyepi di sana. Sedangkan di tempat itu ada peraturan, siapa saja yang ada di
tempat ini harus keluar mulai malam menjelang tiba, karena malaikat akan masuk dan beribadah sepanjang malam. Penjaga tempat ini, sesudah Ashar, berusaha menghalau setiap orang yang di dalamnya, agar keluar. Tetapi Ibrahim bin Adham bersembunyi. Lalu pintu Qubbatus Shahroh ditutup. Para malaikat mulai berdatangan dan masuk. Ketika masuk mereka berkata, di sini ada manusia, malaikat lain menyahut, ya, ada, yaitu Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah dari Khurosan. Yang lain pun menjawab, ya, benar. Malaikat lain menyahut, oh, darinya ada amal naik ke langit dan diterima tiap hari itu, lalu ada suara menyahut, ya, hanya saja ibadahnya itu berhenti sejak satu tahun ini dan selama ini doanya tidak dikabulkan, gara-gara dua biji buah kurma. Semalam suntuk para malaikat tersebut beribadah kepada Allah swt. hingga fajar.
Penjaga tempat suci ini lalu datang dan membuka pintunya. Ceritanya Ibrahim bin Adham lalu keluar dan pergi menuju kota Makkah langsung menuju toko tempat ia membeli kurma beberapa tahun lalu. Dia mendapati seorang pemuda di toko itu, dan berkata kepadanya, tahun lalu di tempat ini ada orang tua menjual kurma. Pemuda itu menjawab, ya, ia adalah ayah saya dan sudah meninggal. Lalu Ibrahim bercerita tentang pengalamannya yang berkaitan dengan dua biji buah kurma. Pemuda itu berkata: Saya menghalalkan bagianku. Tapi selain aku, ahli waris ayah itu masih ada, yaitu satu saudaraku perempuan dan ibu, Ibrahim berusaha menjumpai mereka dan minta kehalalan bagian mereka dalam dua kurma tersebut.
Keduanya menghalalkannya juga.
Syekh Ibrahim bin Adham lalu berangkat ke kota Baitul Magdis dan masuk ke Qubbah itu seperti biasanya, menjelang malam hari. Mereka berkata kepada yang lain, ini Ibrahim bin Adham, amal-amalnya ditangguhkan dan doanya tidak dikabulkan sejak setahun. Tetapi setelah ia membereskan urusan dua biji buah kurma yang dimakannya tanpa sengaja itu, maka amal-amalnya diterima, doa-doanya dikabulkan dan Allah swt. mengembalikannya pada derajatnya semula. Ibrahim bin Adham mendengar ucapan itu menangis karena gembira. Ia kemudian tidak makan, kecuali sekali dalam seminggu dengan makanan yang halal. (An- Nawadir: 36-37).









One Comment