IX. WASIAT RASUL TENTANG RASA MALU
Hai, Ali, pengamalan agama itu semuanya terpusat pada sifat malu. Malu adalah menjaga kepala dan apa saja yang ada padanya, serta menjaga perut dan apa yang ada padanya.
Keterangan:
Malu itu adalah suatu sifat yang ada pada hati yang mendorong dirinya meninggalkan perbuatan yang tidak baik dan mencegahnya teledor memenuhi hak orang yang mempunyainya. Malu itu termasuk perangai yang mulia dan agung. Sifat malu Itu pada dasarnya merupakan sifat bawaan wanita yang asli. Oleh sebab itu, apabila kaum wanita itu sudah sedikit atau berkurang memiliki sifat malu, maka itu pertanda hari kiamat telah dekat. (Nuzhatul Muttaqin: 1/484-486),
Al-Faqih menuturkan dari Al-Hakim Abul Hasan, dari Ishag, dari Bakar bin Munir, dari Muhammad bin Al-Haitsam, dari Abu Usman, dari Hisyam, dari Sufyan, dari Aban bin Ishaq, dari Ash-Shabbah bin Muhammad, dari Murrah, dari Abdullah bin Mas’ud r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Malulah kamu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya. Para sahabat berkata: Alhamdulillah kami sudah malu kepada Allah. Beliau bersabda: Bukan begitu, akan tetapi barangsiapa malu kepada Allah dengan malu sebenarnya, maka hendaklah ia menjaga kepala dan anggota tubuh yang berada di kepala (yaitu mata, hidung, telingd dan mulut), perut dan yang berada di rongga dada, dan hendaklah ia ingat mati dan kerusakan. Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia harus meninggalkan kesenangan kehidupan dunia. Maka, barangsiapa yang telah mengerjakan yang demikian itu, niscaya ia telah benarbenar malu kepada Allah.”
Dari Al-Hasan, dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Malu itu termasuk iman, dan iman itu berada di dalam surga. Sikap kasar itu termasuk kerendahan budi, dan kerendahan budi itu berada dalam neraka.”









One Comment