B. Salat Fardu dan Sunah
1. Salat Tepat Waktu
Hai, Ali, laksanakanlah salat tepat pada waktunya. Sesungguhnya salat tepat pada waktunya itu merupakan induk segala kebaikan dan cahaya setiap ibadah (ibadah yang paling menonjol).
Keterangan:
Salat fardu itu harus dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan sama sekali dan harus dikerjakan tepat pada waktunya. Karena, meninggalkan salat adalah perbuatan dosa dan berat siksanya, begitu pula mengerjakan salat tidak tepat pada waktunya.
Hikayah I
Ada sebuah riwayat: Dulu, pada zaman Nabi Musa a.s. ada seorang wanita Bani Israel menghadap kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: Hai, Nabi Allah, aku telah melakukan zina hingga hamil dan melahirkan anak. Anak itu lalu aku bunuh. Nabi Musa marah dan mengusir wanita tersebut seraya berkata: Hai, wanita lacur, keluar dari tempat ini, agar tidak turun api dari langit yang dapat membakar kita semua, akibat perbuatan itu. Wanita itu keluar dengan hati yang sedih. Kemudian turunlah Malaikat Jibril dan berkata: Hai, Musa, Tuhan berkata kepadamu, mengapa engkau menolak orang yang bertobat. Tidakkah engkau mengetahui orang yang lebih jelek dari dia. Musa berkata: Hai, Jibril, siapa orang yang lebih jelek daripada wanita yang berzina, hamil, melahirkan anak, lalu membunuh anaknya itu? Malaikat Jibril menjawab: Yaitu orang yang meninggalkan salat dengan sengaja. Renungkanlah …… (Irsyadul ‘Ibad: 13).
Hikayah II
Ada sebuah riwayat dari seorang ulama salaf, bahwa pada suatu hari ia ikut mengubur saudara perempuannya yang telah meninggal dunia, lalu dompetnya yang berisi uang jatuh ke kuburannya, tetapi ia tidak merasa, hingga ia pulang. Sesampainya di rumah ia teringat dompetnya dan ia yakin, bahwa dompetnya jatuh ke kuburan adiknya. Lalu ia kembali ke kuburan dan menggali kuburan adiknya tersebut. Tetapi kemudian, ia melihat api menyala- nyala dari dalam kubur adiknya itu. Ia takut dan berhenti, tidak meneruskan usahanya menggali kuburan untuk mendapatkan dompetnya. Ia segera pulang dengan menangis dan sedih atas apa yang menimpah adiknya di kuburnya itu. Ia lalu berkata kepada ibunya: Hai, Ibu, ceritakanlah kepadaku tentang adikku dan perbuatannya di masa ia masih hidup. Sang ibu berkata, untuk apa engkau berkata seperti itu. Ia berkata: Hai, Ibuku, kuburan adikku itu menyala nyala apinya, Mendengar cerita ini ibunya menangis, lalu berkata: Hai, anakku, adik perempuanmu itu ketika hidup meremehkan salat dan suka mengakhirkannya.
Inilah azab orang yang suka mengakhirkan salat, maka bagaimana dengan halnya siksa orang yang tidak salat sama sekali. (Irsyadul ‘Ibad: 4),
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Barangsiapa yang memelihara salat fardu dengan baik, maka akan dimuliakan oleh Allah dengan lima perkara, yaitu: 1. Dihilangkan kesulitan dalam bidang ekonominya, 2. Dibebaskan dari siksa kubur, 3. Menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya: 4. Berjalan di atas As-Shirot dengan amat cepat bagaikan kilat, 5. Masuk surga tanpa hisab.
Barangsiapa meremehkan salat fardu, maka akan disiksa oleh Allah dengan lima belas macam siksaan, lima siksaan di dunia, tiga siksaan ketika menghadapi maut, tiga siksaan ketika di kubur, tiga siksaan ketika bangkit dari kubur.
Lima siksaan di dunia itu berupa: 1. Umurnya tidak diberkati oleh Allah: 2. Wajahnya tampak tanda-tanda jelek: 3. Tiap amal perbuatannya tidak diberi pahala oleh Allah: 4. Doanya tidak dapat dinaikkan ke langit, dan 5. Tidak mendapat bagian dos orang-orang baik.
Adapun tiga siksaan ketika menghadapi maut adalah: 1. Mati dalam keadaan hina: 2. Merasakan kehausan yang mencekik, dan 3. Merasakan kelaparan yang luar biasa.
Sedangkan tiga siksaan ketika di kubur adalah: 1. Dihimpi’ oleh tanah: 2. Dibakar dengan api, siang dan malam: dan 3. Dililif ular dan digigitnya.
Adapun tiga macam siksaan ketika bangkit dari kuburnya adalah: 1. Kesulitan ketika dihisab,
2. Dimurkai oleh Allah: dan 3. Dimasukkan ke dalam neraka. (Irsyadul ‘Ibad: 12-13).
2. Amalan yang Menyebabkan Jibril Ingin Menjadi Manusia
Hai, Ali, Malaikat Jibril ingin menjadi manusia, karena tujuh amal, yaitu: Salat fardu lima kali sehari-semalam bersama imam (berjamaah), berkumpul dengan para ulama, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memberi minum orang-orang yang haus, mendamaikan dua orang yang berselisih, memuliakan tetangga dan yatim. Oleh sebab itu, berusahalah mengamalkan amalan-amalan tersebut.
3. Salat Malam (Tahajud)
Hai, Ali, laksanakanlah salat (sunah Tahajud) di malam hari, walaupun (sebentar) seperti lama memerah susu, sebab orang: yang mengerjakari salat Malam hari itu paling bagus wajahnya.
4. Adab Salat
Hai, Ali, apabila kamu bertakbir untuk salat, maka renggangkanlah jari-jarimu dan angkatlah kedua tanganmu setinggi dua pundakmu. Apabila kamu telah bertakbir, maka letakkanlah tangan kananmu di atas tangan kiri di bawah pusar. Apabila engkau rukuk, maka letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu, dan renggangkanlah jari-jarimu.
Hai, Ali, kerjakanlah salat Subuh sedikit agak siang dan kerjakanlah salat Maghrib sesudah matahari terbenam lewat sepanjang memerah susu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah termasuk perbuatan para nabi a.s.
Keterangan:
Dalam hadis Nabi saw. disebutkan: Sesungguhnya Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki salat yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Beliau lalu bersabda: Apabila orang itu
mati dalam keadaan seperti itu terus, maka dia mati dalam keadaan tidak mengikuti agama
Muhammad. (H.R. Imam Thabrani dan Ibnu Hibban).
Dalam hadis yang lain diriwayatkan Ath-Thabrani dijelaskan: Barangsiapa salat di luar waktunya, tidak menyempurnakan wudhunya, tidak khusyuk dan tidak sempurna rukuk dan sujudnya, maka amalan salat itu keluar dalam keadaan berwarna hitam dan gelap seraya berkata: Mudah-mudahan Allah menyianyiakan kamu, seperti kamu menyia-nyiakan saya, dan Allah benar-benar melipat-lipatnya, seperti baju kumal dilipat lalu dilemparkan pada wajah orang tersebut.
5. Keutamaan Salat Jamaah
Hai, Ali, kerjakanlah salat dengan berjamaah, sesungguhnya pergi salat berjamaah menurut Allah itu seperti bepergian melakukan haji dan umroh. Orang yang senang melakukan salat berjamaah hanyalah orang mukmin yang dicintai oleh Allah, dan orang yang tidak suka berjamaah hanyalah orang munafik yang dibenci Allah.
6. Hamba yang Paling Dicintai Allah
Hai, Ali, hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah hamba yang bersujud kepada-Nya dengan membaca:
Hai, Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya pada diriku sendiri, maka ampunilah dosaku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau.
7. Anjuran Melakukan Salat Dhuha dan Keutamaannya
Hai, Ali, kerjakanlah salat Dhuha, baik ketika dalam bepergian maupun di rumah, sebab pada hari kiamat nanti terdapat seruan dari atas surga: Di manakah orang-orang yang senantiasa mengerjakan salat Dhuha? Masuklah kalian semua ke surga dari pintu Adh-Dhuha dengan selamat, lagi aman sentosa. Allah tidak mengutus seorang nabi, kecuali beliau diperintahkan mengerjakan salat Dhuha.
8. Salat Jamaah adalah Kemuliaan Orang Mukmin
Hai, Ali, di antara kemuliaan orang mukmin adalah istri yang ideal, salat berjamaah dan tetangga yang menyukainya.









One Comment