Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Washiatul Mustofa Imam Sya’rani

Hikayah I

Umar bin Al-Khaththab pada suatu hari masuk ke rumah Rasulullah saw. sambil menangis, kemudian Rasulullah saw. bersabda: Wahai, Umar, apa yang menyebabkan kamu menangis? Umar menjawab: Wahai, Rasulullah, di pintu ada seorang pemuda yang membakar hatiku sambil menangis. Rasulullah saw. bersabda: Wahai, Umar, suruhlah dia masuk ke sini. Pemuda itu masuk sambil menangis, Rasulullah lantas bertanya kepadanya: Wahai, anak muda, apakah kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu? Ia menjawab, tidak. Beliau bertanya: Apakah kamu membunuh seseorang tanpa hak? la menjawab, tidak. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosamu, meskipun (dosa itu) seperti tujuh langit. Ia berkata: Dosaku lebih besar daripada tujuh langit, tujuh bumi, dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Rasulullah saw, bertanya: Lebih besar mana dosamu dengan kursi? Ia menjawab, dosa saya lebih besar. Beliau bertanya: Lebih besar mana dosamu dengan Arasy? Ia menjawab, dosa saya lebih besar. Beliau bertanya: Lebih besar muna dosamu dengan ampunan Allah? Ia menjawab: Ampunan-Nya lebih besar dan lebih agung. Beliau bersabda: Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa yang besar, kecuali Allah Yang Maha Besar. Beliau bersabda lagi: Beritahukanlah kepadaku tentang dosamu itu. Ia berkata: Wahai, Rasulullah, sesungguhnya saya adalah penggali kubur (di mana pekerjaan itu telah aku tekuni) selama tujuh tahun, hingga ada seorang gadis dari golongan Anshar yang meninggal dunia, lalu saya gali kuburnya dan saya keluarkan dari kain kafannya. Tidak lama kemudian setan menggoda hati saya, lalu saya menyetubuhinya. Tidak lama kemudian, gadis itu bangkit dan berkata: Wahai, anak muda, celakalah kamu. Apakah kamu tidak merasa malu kepada Tuhan di hari pembalasan yang akan

menggelar kursi-Nya untuk pengadilan dan mengumpulkan (pahala) dari orang yang menganiaya untuk orang yang dianiaya? Kamu tinggalkan aku dalam keadaan telanjang di barisan orang-orang mati dan kamu biarkan aku dalam keadaan junub di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Rasulullah saw. bersabda: Wahai, orang Jasik, tempatmu memang sepantasnya di neraka. Pergilah dari sini. Pemuda itu pun keluar dan bertobat kepada Allah Ta’ala selama 40 malam. Setelah menyempurnakan 40 malam, ia menengadahkan kepala ke atas seraya berdoa: Wahai, Tuhan Muhammad, Adam dan Hawa, jika Engkau menerima tobatku, maka beritahulah Muhammad saw. dan sahabat-sahabatnya, dan jika tobatku tidak diterima, maka turunkanlah api dari langit, lantas bakarlah aku dengan api itu, dan selamatkan aku dari siksaan akhirat. Maka Jibril datang kepada Nabi saw., lalu berkata, kesejahteraan buatmu, wahai, Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam untukmu. Nabi saw., lantas bersabda: Dia adalah Dzat Yang Maha Sejahtera, dari-Nya kesejahteraan dan kepada-Nya kesejahteraan itu kembali. Jibril berkata: Engkaukah yang menciptakan aku dan mereka. Engkaulah yang memberi rezeki kepada mereka? Beliau bersabda: Bukan, Allah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadaku. Jibril berkata: Engkaulah yang menerima tobat mereka? Beliau berkata: Bukan, Allah yang menerima tobatku dan tobat mereka. Jibril berkata: Terimalah tobat hamba-Ku karena sesungguhnya Aku telah menerima tobatnya. Nabi saw. lantas memanggil pemuda dan menyampaikan berita gembira, bahwa Allah Ta’ala telah menerima tobatnya.

Hikayah II

Al-Faqih berkata: Ayah saya bercerita, bahwa di kalangan Bani Israel ada seorang perempuan pelacur yang sangat cantik. Pintu rumahnya selalu terbuka dan setiap orang yang lewat bisa melihat dia sedang duduk di sofa yang berada persis di depan pintu rumahnya. Setiap orang yang melihat, pasti tertarik kepadanya dan seseorang baru diperbolehkan masuk, jika ia menyerahkan uang sepuluh dinar. Pada suatu hari ada seorang yang sangat taat beribadah lewat di depan pintu rumahnya. Ketika ia menoleh, ia melihat perempuan yang cantik itu sedang duduk di sofa, dan ia tertarik. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan ketertarikannya, tetapi ia tidak mampu, sehingga akhirnya ia menjual pakaiannya dan mengumpulkan uang yang diperlukan untuk bisa masuk ke rumah perempuan itu. Setelah terkumpul uang yang diperlukan, ia datang ke pintu rumah itu untuk menyerahkan uang yang dimaksud. Perempuan itu menerimanya dan memberikannya kepada orang yang mengurusinya seraya menjanjikan waktu yang ditentukan. Pada waktu yang telah ditentukan, ia datang ke situ, dan perempuan itu sudah berhias serta duduk di sofa. Ia masuk dan duduk bersama perempuan itu. Ketika ia

mengulurkan tangan dan hendak merangkulnya, tiba-tiba atas rahmat Allah dan berkah ibadahnya, hatinya sadar. la merasa bahwa saat itu Allah dari atas Arsy-Nya sedang melihat perbuatannya. Ia benar-benar sadar, bahwa ia berada dalam suasana haram, yang bisa jadi akan menghapus semua amal baik. Hatinya bergetar dan wajahnya pucat. Melihat perubahan muka yang begitu mendadak, perempuan itu bertanya kepadanya: Apa yang menimpamu? Ia menjawab: Aku takut kepada Tuhanku. Maka izinkanlah aku keluar. Perempuan itu berkata: Bodoh kamu, banyak orang yang ingin memperoleh kesempatan seperti ini. Apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu? la menjawab: Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Uang yang telah aku berikan kepadamu halal bagimu, izinkanlah aku keluar. Perempuan itu berkata kepadanya: Tampaknya kamu belum pernah melakukan hal seperti ini. Ia menjawab: Benar, aku belum pernah melakukannya. Perempuan itu bertanya: Dari mana kamu? Dan siapa namamu? Ia pun memberitahukan kepada perempuan itu, bahwa ia berasal dari desa ini dan namanya ini. Kemudian perempuan itu mengizinkannya keluar. Ia pun keluar dari rumah perempuan itu seraya menangis dan menaburkan debu di atas kepala sebagai tanda penyesalan yang mendalam. Melihat sikapnya tersebut, hati perempuan itu sangat terkesan dan berkata di dalam hatinya: Orang itu baru akan melakukan  untuk yang pertama kalinya, tapi sudah demikian mendalam perasaan takutnya, lantas bagaimana dengan diriku yang telah melakukan dosa bertahun-tahun lamanya? Tuhan  yang  ia  takuti  juga sama dengan  Tuhanku,  .maka seharusnya aku lebih takut daripada dia. Kemudian ia bertobat kepada Allah Ta’ala. Ia menutup rapat-rapat pintu rumahnya dan mengenakan pakaian yang sangat tertutup serta tekun beribadah. Di dalam hatinya ia berkata: Bagaimana seandainya aku mencari laki-laki itu dan mudah-mudahan ia mau mengawini ku, sehingga aku selalu dekat dengannya dan bisa belajar banyak masalah agama darinya serta membantu dalam masalah ibadah kepada Allah Ta’ala.

Perempuan itu bergegas untuk mencarinya dan membawa serta harta yang cukup banyak dan pelayan-pelayannya. Perempuan itu tiba di desa yang disebutkan laki-laki itu dan menanyakan laki-laki yang dimaksud. Laki-laki itu diberi tahu, bahwa ada seorang perempuan yang mencarinya, maka ia pun keluar untuk menemuinya. Saat itu perempuan tadi membuka cadar yang menutupi wajahnya dengan maksud agar laki-laki itu mengenalinya. Ketika melihat perempuan itu, ia teringat peristiwa yang pernah terjadi dengannya, ia lalu menjerit dan meninggal dunia.

Perempuan itu gelisah dan berkata: Saya datang ke tempat ini karena ia, tetapi ia meninggal. Apakah ada orang di sekitar ini yang memerlukan istri. Orang-orang menjawab: Sesungguhnya

ia memiliki seorang saudara yang saleh, tetapi ia miskin. Perempuan itu menjawab: Tidak apa- apa, saya orang yang berkecukupan. Akhirnya, ia kawin dengannya dan dikaruniai tujuh anak yang baik-baik dan menjadi panutan di kalangan Bani Israel.

Hai, Ali, seorang alim yang tidak bertakwa kepada Allah swt. itu kesan nasihat dan mau’izhahnya di hati orang-orang, bagaikan tetesan air hujan ke telur burung unta dan batu yang halus (tidak dapat meresap ke dalam).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker