Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Washiatul Mustofa Imam Sya’rani

5. Nilai Berdiam

Hai, Ali, pangkal ibadah adalah diam, kecuali Zikir kepada Allah swt. Keterangan:

Seorang cendekiawan mengatakan, bahwa diam itu mengandung 7.000 kebaikan dan semuanya itu dirangkum dalam tujuh kalimat, yang masing-masing kalimat mengandung seribu kebaikan. Ketujuh kalimat itu adalah:

1. Diam itu merupakan ibadah tanpa susah payah.

2. Diam itu merupakan perhiasan tanpa emas permata.

3. Diam itu merupakan kewibawaan tanpa kekuasaan.

4. Diam itu merupakan benteng tanpa pagar.

5. Diam itu merupakan kekayaan tanpa merendahkan orang lain.

6. Diam itu merupakan istirahat bagi malaikat pencatat amal. Diam itu merupakan penutup aib.

Ada yang mengatakan, bahwa diam itu merupakan hiasan bagi orang pandai dan tirai bagi orang yang bodoh.

Diriwayatkan dari Nabi Isa bin Maryam a.s., beliau bersabda:

”Setiap perkataan yang bukan zikir kepada Allah itu tidak ada gunanya. Setiap diam yang bukan untuk berpikir adalah kelalaian. Setiap pandangan yang bukan untuk mengambil pelajaran adalah sia-sia. Maka, beruntunglah orang yang perkataannya adalah zikir kepada Allah, diamnya adalah berpikir, dan pandangannya untuk mengambil pelajaran.”

6. Penyebab Kematian Hati

Hai, Ali, banyak tidur itu menyebabkan hati menjadi mati dan dapat menghilangkan cahaya muka. Sedangkan banyak dosa itu juga menyebabkan hati mati dan menimbulkan penyesalan yang tiada henti.

7. Syukur dan Sabar

Hai, Ali, barangsiapa yang dikaruniai nikmat oleh Allah, lalu bersyukur, diuji oleh Allah lalu sabar, dan berbuat dosa lalu memohon maaf, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia suka.

Keterangan:

Syukur itu berhubungan dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Adapun syukur dengan hati adalah berniat baik dan menyembunyikannya dari seluruh makhluk. Syukur dengan lisan adalah melahirkan syukur kepada Allah swt. dengan mengucapkan Alhamdulillah. Sedangkan syukur dengan anggota tubuh adalah menggunakan nikmat-nikmat itu untuk bakti dan taat kepada Allah swt. serta tidak menggunakan sedikit pun untuk maksiat kepada-Nya.

Diriwayatkan dari salah seorang tabiin, bahwa ia berkata: ”Barangsiapa merasa mendapat

nikmat, maka hendaklah ia banyak-banyak mengucapkan Alhamdulillah.”

Al-Faqih menerangkan, bahwa memuji dan bersyukur kepada Allah adalah ibadah orang-orang terdahulu dan kemudian, ibadah para malaikat, ibadah para nabi, ibadah penghuni bumi, dan ibadah penghuni surga. Mengenai ibadah para nabi, Nabi Adam a.s. ketika bersin mengucapkan Alhamdulillah. Ketika Nabi Nuh a.s. diselamatkan oleh Allah bersama orang-orang yang beriman dari bahaya banjir, Allah memerintahkannya untuk mengucapkan Alhamdulillah, sebagaimana disebutkan dalam Alqur-an

“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Mukminun: 28).

Nabi Ibrahim a.s. mengucapkan:

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishag. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Q.S. Ibrahim: 39).

Nabi Dawud a.s. mengucapkan:

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang

beriman.” (Q.S. An-Nami: 15).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker