Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Washiatul Mustofa Imam Sya’rani

6. Harta Haram Penghalang Meningkatnya Iman

Hai, Ali, orang mukmin itu senantiasa bertambah meningkat agama (amal baik)nya, selama dia tidak memakan makanan haram. Barangsiapa yang menjauhi ulama, maka hatinya mati dan tidak tahu menjalankan taat kepada Allah swt.

Keterangan:

Dalam hadis Nabi saw. yang lain disebutkan:

“Barangsiapa makan barang halal selama empat hari, maka Allah akan menerangi hatinya dan mengalirkan sumber-sumber hikmah dari hatinya.”

Kedudukan Ulama

Ada sebuah riwayat dari Ka’ab bin Al-Ahbar r.a., ia berkata: Sesungguhnya Allah di hari kemudian nanti akan menghisab semua amal hamba. Apabila kejelekannya lebih berat dari amal baiknya, maka diperintahkan ke neraka. Ketika mereka, para hamba, itu berjalan menuju neraka, Allah berkata kepada Malaikat Jibril: Hai, Jibril, temuilah hamba-Ku ….. dan tanyakanlah kepadanya, apakah dia saat hidup di dunia pernah mendatangi majelis seorang ulama, agar Aku dapat mengampuninya, dengan syafaat si ulama tersebut? Malaikat Jibril melaksanakan perintah itu dan si hamba tersebut menjawab: Tidak pernah mendatangi majelis (pengajian) ulama. Malaikat Jibril lalu kembali menghadap kepada Allah dan berkata: Ya, Robbi, Engkau Maha Mengetahui tentang keadaan hamba-Mu, dia menjawab tidak pernah mendatangi majelis (pengajian) ulama. Allah swt. memerintahkan kepada Malaikat Jibril, bertanyalah kepada hamba itu: Apakah dia pernah mencintai seorang ulama? Malaikat Jibril pergi melaksanakan perintah itu, tetapi hamba itu menjawab tidak pernah mencintai seorang ulama. Malaikat kembali kepada Allah. Allah berfirman kepada Jibril: Tanyakanlah kepada hamba-Ku itu: Apakah dia pernah duduk makan yang dihadiri oleh seorang ulama. Malaikat Jibril pergi melaksanakan tugas tersebut. Tetapi si hamba itu menjawab tidak. Allah kemudian memerintah Jibril agar bertanya kembali kepada hamba tersebut: Apakah dia pernah tinggal di sebuah perkampungan yang di situ terdapat seorang ulama’ Malaikat Jibril melaksanakan perintah itu. Setelah ditanya tentang ini ternyata si hamba itu menjawab tidak. Allah kemudian berkata kepada Jibril, tanyakanlah kepadanya, apakah namanya sama dengan nama seorang ulama. Malaikat pergi dan menanyakan hal itu kepadanya. Tetapi si hamba itu menjawab tidak. Malaikat Jibril menghadap kepada Allah. Kemudian Allah memerintah Malaikat Jibril, agar bertanya lagi kepada hamba tersebut, apakah dia mencintai orang yang mencintai seorang ulama. Malaikat Jibril menjumpai hamba itu dan menanyakan kepadanya, apakah dia mencintai orang yang mencintai seorang ulama? Hamba itu menjawab: Ya, saya pernah menyukai orang yang mencintai ulama. Allah swt. berfirman kepada Malaikat Jibril: Tariklah tangan hamba itu dan tuntunlah ke surga. Sesungguhnya Aku telah mengampuninya, karena dia mencintai orang yang mencintai ulama. (An-Nawadir: 41).

7. Pembaca Alqur-an yang Mengabaikan Halal dan Haram

Hai, Ali, barangsiapa yang membaca Alqur-an tetapi enggan menghalalkan (mengamalkan)

apa yang dihalalkan di dalamnya dan tidak mengharamkan (menjauhi) apa yang diharamkan

di dalamnya, maka dia termasuk golongan orang-orang yang melemparkan kitab Allah ke belakang punggung mereka.

Keterangan:

Dalam hadis Nabi Muhammad saw. dijelaskan:

Demi Dzat Yang Menguasai diri Muhammad, sesungguhnya Malaikat Zabaniyyah itu lebih mendahulukan menyambar orang-orang yang hafal Alqur-an daripada para penyembah patung. Para penghafal Alqur-an itu dicampakkan ke dalam neraka bersama para penyembah patung. Mereka, orang-orang yang hafal Alqur-an, protes kepada Allah seraya berkata: Hai, Tuhan kami, mengapa Engkau mencampurkan kami semua ke dalam neraka bersama orangorang yang telah memakan rezeki-Mu, tetapi menyembah selain Kamu? Padahal kami ketika hidup membaca kitabMu. Allah swt. berfirman: Benar hamba-hamba-Ku yang jelek. Kamu semua memang membaca kitab-Ku (Alqur-an), tetapi kamu semua tidak menghalalkan apa yang dihalalkan, tidak mengharamkan apa yang Aku haramkan, tidak mau merenungkan keajaiban- keajaibannya, dan tidak pula mengamalkan hukum-hukumnya. Orang yang alim itu tidaklah sama dengan orang bodoh, maka rasakanlah siksaan ini, sebab apa yang telah kamu perbuat sendiri. (Al-Washoya: 153).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker