Burhan Sifat Ja’iz
Burhan bahwa melakukan berbagai hal mumkin atau meninggalkannya adalah ja’iz bagi Allah Ta’ala adalah, sungguh andaikan ada sesuatu darinya yang wajib atau mustahil bagi Allah menurut akal, maka hal mumkin akan berbalik menjadi wajib atau mustahil, dan itu tidak diterima akal.
Tidak diragukan lagi, sungguh term mumkin dalam Istilah Mutakallimin, merupakan sinonim dari term ja’iz, sehingga maknanya adalah sesuatu yang wujud dan tidak wujudnya dibenarkan oleh akal.
Bila demikian, andaikan wujudnya hal mumkin itu wajib atau mustahil menurut akal, maka pasti berbagai kenyataan akan terbolak-balik, dan hal ini tidak diterima akal. Selain itu, kaum Mu’tazilah hanya mewajibkan berbuat baik dan yang terbaik bagi Allah terhadap makhluk, dari berbagai hal mumkin, padahal kenyataan serta syara’ memastikan kesalahan pendapat mereka itu sebagaimana aku isyaratkan pada penjelasan atas ucapanku yang ada di Kitab Asal al-‘Aqidah yang telah lewat.
Adapun sifat ja’iz bagi Allah Ta’ala, andaikan berbuat baik dan yang terbaik itu wajib bagi Allah Ta’ala sebagaimana pendapat Mu’tazilah, pasti Allah I telah menunjukkan mereka pada kebenaran dalam akidahnya, dan tidak membiarkan mereka bingung dalam kebuataannya Kegilaan mereka dalam pembahasan ini sangat jelas bagi orang berakal maka aku tidak menjelaskannya secara panjang lebar. Wa billahit taufiq.
Sifat Para Rasul
Para Rasul- “alaihimush shalatu was salam-wajib bersifat shiddq, amanah, tabligh (menyampaikan) ajaran yang diperintahkan untuk disampaikan kepada makhluk.
Mereka – ‘alaihimush shalatu was salam-, mustahil bersifat dengan kebalikannya, yaitu kidzb, khiyanah dengan melakukan apa yang mereka larang dengan larangan keharaman atau kemakruhan, dan menyembunyikan ajaran yang diperintahkan untuk disampaikan kepada makhluk.
Mereka boleh bersifat dengan sifat-sifat manusia yang tidak mengantarkan pada kekurangan bagi derajat luhurnya, sebagaimana sakit dan semisalnya.
Ketahuilah, sungguh Rasul adalah manusia yang Allah Ta’ala utus untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada makhluk, dan Rasul merupakan istilah khusus bagi orang yang mempunyai kitab, syariat, atau naskh (menyalin) sebagian hukum syariat sebelumnya.
Menurut Ahlussunnah pengutusan rasul merupakan bagian dari hal-hal yang jai’z dilakukan Allah, sedangkan Mu’tazilah mewajibkannya berdasarkan prinsipnya yang rusak tentang kewajiban menjaga ash-shalah wa al-ashlah, dan Brahmanisme (Hindu) yang menganggapnya mustahil juga karena prinsip tersebut. Tidak samar lagi kegilaan dan kekufuran mereka.
Dalil Ahlussunnah yang menunjukkan bahwa pengutusan para rasul adalah ja’iz, tidak wajib, adalah sungguh pengutusan para rasul merupakan salah satu perbuatan Allah, dan Anda tahu bahwa tidak ada perbuatan apapun yang wajib bagi Allah Jalla wa ‘Azza-, meskipun ashshalah wa al-ashlah, dan Allah tidak harus meninggalkannya.
Ungkapan ku dalam kitab asal al-‘Aqida sudah jelas tidak perlu penjelasan lebih lanjut.
Burhan sifat Shiddiq
Burhan wejibnya sifat shiddig (jujur) bagi para Rasul – ‘alaihimush shalatu was salam- adalah, — karena andaikan mereka tidak jujur, pasti kabar dari Allah Ta ala tentang pembenaran-Nya terhadap mereka dengan mukjizat yang turun seperti (menempati posisi) firman Allah Ta’ ala: “Hambaku jujur dalam setiap hal yang Ia Sampaikan dari- Ku” , merupakan kebohongan.
Ini burhan wajib punya sifat shiddiq bagi para rasul-‘alaihimush shalatu was salam- bagi pengakuan mereka atas risalah (kerasulan) dan bagi hal-hal yang disampaikannya kepada makhluk setelah diutus.
Kesimpulan Burhan ini adalah, sungguh mukjizat yang Allah ta’ala ciptakan pada diri para rasul yang merupakan amr khaliq al-‘adah (hal yang keluar dari adat kebiasaan) yang dibarengi dengan tahaddi dan tanpa mampu ditentang turun dari Allah Jalla wa Azza menempati posisi firman-Nya: “hambaku jujur dalam setiap hal yang ia sampaikan dari-Ku”
Andaikan para Rasul boleh berbohong, maka Allah Ta’ala juga boleh. Sebab membenarkan orang bohong merupakan kebohongan. Padahal kebohongan mustahil bagi Allah. Sebab kabar Allah Ta’ala pasti sesuai dengan ilmu-Nya dan kabar yang sesuai dengan Ilmu pasti jujur, maka tidak ada kabar Allah Ta’ala melainkan suatu kejujuran (kebenaran). ‘
Ungkapanku dalam mendefinisikan mukjizat: lebih baik daripada ungkapan sebagian ulama: “ ” sebab kata mencakup perbuatan seperti keluarnya air dari antara jari-jari, dan tidak adanya perbuatan, seperti tidak membakarnya api bagi Nabi Ibrahim As.
Batasan “Dibarengi pengakuan (tahaddi)” mengecualikan karamah para wali: irhash yang mendahului terutusnya para nabi sebagai dasar untuk kerasulannya: dan mengecualikan klaim pembohong atas mukjizat nabi terdahulu sebagi hujah baginya.
Batasan “Tanpa mampu ditentang” mengecualikan sihir dan sulap. Makna tahaddi adalah pengakuan khariq li al-“adah pada suatu dalil atas pengakuannya: ada kalanya
. dengan lisan al-hal dan ada kalanya dengan ucapan.
Sungguh ulama telah membuat perumpamaan pengakuan seorang rasul atas kerasulannya dan permintaan mukjizatnya kepada Allah Ta’ala sebagai dalil atas kejujurannya, agar dengan perumpamaan itu penunjukan mukjizat atas kejujuran para Rasul-alaihimush shalatu was salam-menjadi sah, dan agar hal itu diketahui secara pasti. Mereka berkata:
“Perumpamaannya adalah, bila seseorang berdiri di majelis seorang Raja, di tempat yang terlihat dan terdengar olehnya, di hadapan orang banyak, dan ia mengaku bahwa dirinya adalah utusan Raja tersebut kepada mereka, Lalu orang-orang
menuntut hujah kepadanya. Kemudian orang tersebut berkata: “Hujahnya adalah bila Sang Raja keluar dari adat kebiasaannya, berdiri dan duduk dari singgasananya tiga kali, umpamanya, lalu Sang Raja melakukannya, maka tidak diragukan lagi bahwa perbuatan Raja meluluskan permintaan orang tersebut merupakan pembenaran untuknya: berfaidah memberi pengetahuan pasti atas kejujurannya tanpa keraguan, dan menempati posisi ucapan Sang Raja: “Orang ini jujur (benar) dalam setiap hal yang disampaikannya dariku.”
Hasilnya pengetahuan pasti atas kejujuran utusan tersebut berlaku sama (tidak beda) bagi orang yang melihat perbuatan raja tersebut dan orang yang tidak melihatnya namun ja menerima beritanya secara mutawatir.
Maka tidak diragukan lagi kecocokan perumpamaan ini dengan kondisi para Rasul- alaihimush shalatu was salam. Sehingga tidak ragu atas kejujuran (kebenaran) mereka kecuali orang yang Allah kunci hatinya. Wal ‘iyadz billahi ta’ala.
Kami memohon kepada Allah Yang Maha Suci atas tetapnya keimanan dan terpenuhi kesempurnaan kondisinya secara maksimal tanpa siksa dunia dan akhirat.









One Comment