Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

‘Adam, Huduts, dan Thuruw al-‘adam (Datangnya ‘Adam)

20 sifat mustahil bagi Allah tersebut adalah (1) ‘adam (tidak wujud sama sekali), (2) huduts (wujud dengan permulaan), dan (3) thuruw al-‘adam (tiada setelah wujud).

Ketahuilah, sungguh urutan 20 sifat mustahil ini sesuai dengan urutan 20 sifat wajib. Sebab itu ‘ disebutkan sifat mustahil yang menafikan sifat wajib yang pertama, kemudian yang : menafikan sifat wajib yang kedua, dan seterusnya sesuai urutannya sampai akhir.

‘Adam lawan sifat wajib yang pertama, yaitu wujud huduts ‘ lawan sifat wajib kedua, yaitu qidam, dan thuruw al-‘adam yang disebut fana’ lawan sifat wajib ketiga, yaitu baga.

Kemustahilan ‘adam bagi Allah Ta’ala menetapkan kemustahilan dua sifat selainnya bagi-Nya—Jalla wa Azza-, yaitu huduts dan thuruw al-adam. Sebab, sungguh bila adam mustahil bagi Allah Ta’ala, maka “adam tidak tertashawwurkan pernah dan akan terjadi pada-Nya. Dari hal ini diketahui, bahwa wajibnya sifat wujud bagi Allah—Jalla wa “Azza-menetapkan wajibnya sifat qidam dan Baqa’ bagi-Nya—Tabaraka wa Ta’ala-.

Sebab itu, peng’athafan qidam dan baqa’ pada wujud dalam penjelasan sifat wajib merupakan ‘athfa al-khash ‘ala al-‘amm atau al-lazim ‘ala al-malzum, seperti halnya peng’athafan huduts dan thuruw al-‘adam pada ‘adam dalam penjelasan sifat mustahil.

Dalam kedua penjelasan itu tidak dicukupkan penyebab sifat yang pertama saja, karena maksudnya menyebutkan sifat wajib dan mustahil secara rinci. Sebab, andaikan dalam hal penjelasan tersebut didukung kan penyebab lafal ‘amm dari lafal khash, dan malzum dari lazim-nya, niscaya mengantarkan pada ketidaktahuan pada sifat allah yang banyak karena kamarnya sifat lazim dan sulitnya masuk sifat-sifat juz’iyyah pada sifat-sifat kulliyah-nya. padahal resiko ketidaktahuan atau sifat-sifat Allah ini sangat besar.

Karena itu sebaiknya keseriusan dalam hal tersebut harus disertai penjelasan extra sesuai kemampuan dan kehati-hatian yang dalam, agar hati ter hiasi dengan intan- intan keimanan. Allah sang penunjuk orang yang dikehendaki nya menuju jalan lurus dengan kemurnian anugrah nya.

Mumatsalah Ii al-Hawadits

Mumatsalah Ii al-hawadits (menyamai sesuatu yang hadits baru tercipta-), berupa jirm, maksudnya Zat Allah Yang Maha Tinggi mengambil suatu ruang kosong, berupa sifat yang ada pada jirm, berupa sifat yang ada pada arah tertentu bagi jirm, mempunyai arah, terbatasi dengan tempat atau waktu, bersifat dengan sifat hadits, bersifat kecil atau besar, atau bersifat punya tujuan (yang menguntungkan-Nya) dalam berbagai perbuatan atau hukum Nya.

Mitslani adalah dua hal yang sama dalam seluruh sifat nafsinya, yaitu sifat yang hakikat suatu zat tidak dapat eksis tanpanya. Karena itu, dua hal yang sama dalam sebagian sifat nafsinya saja atau sama dalam sifat “aradhnya, yaitu sifat di luar hakikat suatu zat, maka bukan mitslani.

Zaid umpamanya, ia hanya semisal dengan zat yang menyamainya dalam seluruh sifat nafsinya, yaitu sebagai hewan yang mempunyai potensi berfikir. Adapun zat yang menyamainya dalam sebagian sifat nafsinya, seperti kuda yang hanya menyamainya dalam sifat kehewanan, maka tidak semisal dengannya.

Begitu pula zat yang menyamainya dalam sifat ‘aradhnya, seperti putih yang menyamainya dalam sifat huduts, bisa dilihat, dan semisalnya, maka juga tidak semisal dengannya.

Setelah Anda mengetahui hakikat mitslain, ketahuilah, sungguh seluruh alam hanya berupa jirm dan aradh, yaitu sifat yang ada pada jirm. Tidak diragukan lagi, bahwa di antara sifat nafsih suatu jirm adalah tahayyuz, yakni mengambil tempat kosong di mana ia bisa diam di situ atau bergerak darinya.

Di antara sifat nafsi suatu jirm adalah menerima aradh, maksudnya sifat yang hadits seperti bergerak, diam, berkumpul, bersamaan, warna, tujuan (yang menguntungkan), dan semisalnya. Begitu pula berada . pada sebagian arah dan tempat.

Semua sifat tersebut mustahil bagi Allah—Jalla wa ‘Azza-maka tetaplah bahwa Allah Ta’ala bukan jirm.

Adapun di antara sifat ‘aradh adalah ada pada jirm. Begitu pula wajib ketiadaannya pada zaman kedua bagi wujudnya, sekira aradh tersebut tidak tersisa sama sekali.

Semua ini mustahil bagi Allah Jalla wa ‘Azza-, sehingga bila demikian Allah bukan ‘aradh. Sebab Allah Ta’ala wajib bersifat qiyamuhu binafsihi sesuai pemahaman yang penjelasannya telah Anda ketahui pada pembahasan yang telah lewat.

Kesimpulannya, segala sesuatu selain Allah-Jalla wa Azza—pasti bersifat huduts dan butuh pada pencipta, sedangkan Allah-Jalla wa Azza-pasti wujud dan mandiri secara mutlak. Bila demikian maka pasti bahwa Allah-Tabaraka wa ta’ala-merupakan zat yang berbeda dengan segala sesuatu selain-Nya, apapun itu, baik berupa jirm, ‘aradh, atau selainnya bila ada alam selain jirm dan ‘aradh.

Sebab, berdasarkan pengandaian adanya bagian alam yang terakhir ini, maka bagian tersebut bersifat hadist berdasarkan ijma, sebagaimana dua bagian yang pertama adalah hadits berdasarkan dalil ‘aqli. Kehudutsan jirm dan ‘aradh dapat menjadi pengantar yang mengantarkan pada marifat terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-rasul- Nya—alaihimush shalatu was salam sehingga sah bagi kita untuk berdalil dengan dalil naqli dari mereka atas kehudutsan bagian alam yang diandaikan tadi, sebab secara qath’ ia tidak pantas menyandang sifat ketuhanan dengan Burhan atas keesaan Allah dan ijma’ atas kehudutsan segala hal selain Allah Yang Maha Haq -Tabaraka wa Ta’ala

Jelaslah bagi Anda, sungguh sama sekali tidak ada misal bagi Allah Jalla wa Azza-, sebab perbedaan dalam hal yang jazim adalah dalil bagi perbedan dalam makumahnya. Wa billahi ta’alat Taufiq.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker