La Yakun Qa’iman bi Nafsih
Begitu pula mustahil bagi Allah Ta’ala (5) tidak qiyamuhu bi nafsih (mandiri dengan Zat-Nya), ‘ yaitu dengan berupa sifat yang ada pada suatu objek, atau membutuhkan pencipta.
Dalam penjelasan yang telah lewat Anda mengetahui makna qiyamuhu binafsih, yaitu ungkapan dari kemandirian Allah Ta’ala dari mahall dan mukhashhish. Maksudnya Allah bukan sesuatu yang bukan zat, sehingga membutuhkan mahal! alias zat yang menjadi tempat eksistensiNya.
Allah Jalla wa Azza juga tidak mungkin tiada, sehingga membutuhkan mukhashhish, yakni zat yang menentukan segala sesuatu yang jai’z dengan sebagian kondisi yang boleh terjadi padanya. Justru Allah-Jalla wa Azza—adalah Zat yang wajib bersifat qidam, baga, dan Zat-Nya Yang Maha Tinggi dan Sifat-Nya Yang Maha Luhur sama sekali tidak menerima ketiadaan. Sehingga Allah adalah satu-satunya Zat yang mandiri secara mutlak—Tabaraka wa Ta’ala
La Yakun Wahidan
Begitu pula mustahil bagi Allah Ta’ ala (6) tidak esa, yakni Zat-Nya tersusun, ada hal lain yang sama dengan Zat atau sifat-sifat-Nya, atau wujud muatstsir dalam Suatu perbuatan bersama-Nya.
Sungguh Anda telah mengetahui, bahwa dimensi Wahdaniyyah ada tiga, yaitu: Wahdaniyyah az-Zat, Wahdaniyyah ash-Shifat, dan Wahdaniyyah al-Af’al.
Semuanya wajib bagi Allah-Jalla wa ‘Azza—saja. Wahdaniyyah azZat menafikan ketersusunan Zat Allah Ta’ala, dan wujudnya zat lain yang menyamai Zat-Nya Yang Maha Tinggi.
Kesimpulannya, Wahdaniyyah azZat menafikan keterbilangan bagi hakikat Zat-Nya, baik yang muttashil maupun yang munfashil. Wahdaniyyah ash-Shifat menafikan keterbilangan bagi hakikat masing-masing sifat Allah, baik keterbilangan yang Muttashil maupun yang munfashil. Dengan demikian tidak ada yang menyamai ilmu Allah-Jalla wa ‘Azza—, baik yang muttashil, maksudnya yang ada pada ZatNya Yang Maha Tinggi, maupun yang munfashil, maksudnya yang ada pada zat selainnya. Justru Allah Ta’ala mengetahui berbagai pengetahuan yang tidak terbatas dengan ilmu yang satu, tidak lebih, tidak ada duanya sama sekali. Qiyaskanlah seluruh sifat Allah—Jalla wa ‘Azza—lainnya pada sifat ini.
Adapun Wahdaniyyah Al-Af’al menafikan adanya kemampuan menciptakan bagi selain Allah Jalla wa Azza—dalam salah satu perbuatan-Nya. Justru semua makhluk yang ada bersifat huduts, yang mempunyai sifat lemah yang pasti dan abadi untuk mewujudkan ciptaan apapun. Justru Allah alfa wa Azza—, Dialah satu-satunya Zat yang menciptakan makhluk sendiri tanpa perantara. Adapun sesuatu yang dinisbatkan pada selain Allah—Jalla wa Azza—dengan pola yang mengesankan penciptaan, maka dita’wil wa billahi subhanahu wa ta’alat taufiq.
Ajz’an Mumkin
Begitu pula mustahil bagi Allah Ta’ ala (7) Sifat lemah dari menciptakan sesuatu yang mumkin, apapun itu.
Sungguh Anda telah mengetahui, bahwa qudrah Allah-Tabaraka wa Ta’ala-adalah satu dan menyeluruh berhubungan dengan seluruh mumkinat. Sebab andaikan hanya berhubungan dengan sebagian mumkinat, niscaya qudrah Allah butuh pada mukhashshish, sehingga bersifat huduts dan itu mustahil bagi Allah-Tabaraka wa Ta’ala-Andaikan Allah Ta’ala bersifat lemah dari menciptakan sesuatu yang mumkin, apapun itu, niscaya ternafikanlah kemenyeluruhan yang wajib bagi sifat qudrah. Bahkan pasti menetapkan ternafikannya sifat qudrah secara total, karena kemustahilan berkumpulnya dhiddain,








One Comment