Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

Ilmu

  • Dan sifat ilmu yang berhubungan dengan seluruh perkara wajib Jaiz dan mustahil.

Ilmu adalah sifat yang dengannya terbuka selebar-lebarnya tanpa peluang sedikitpun bagi pelawannya apa yang berhubungan dengannya.

Makna ucapanku. sampai akhir, adalah sungguh seluruh hal ini terbuka bagi ilmu Allah ta’ala, jelas bagi-Nya pada azali dan selamanya tanpa perlu pemikiran dan penggalian nalar, dengan kejelasan yang tidak mungkin dalam kenyataannya bertentangan dengan apa yang diketahuinya -Jalla wa ‘Azza-.

Hayat

  • Dan hayat, yang tidak berhubungan dengan apapun

Hayat adalah sifat yang tidak membenarkan zat yang mempunyai bersifat dengan idrak.

Makna hayat tidak berhubungan dengan suatu apapun adalah ia tidak menuntut kelaziman pada perkara lain selain berada pada posisinya. adapun sifat yang mempunyai hubungan adalah sifat yang menentukan kelaziman lain. Ingatlah bahwa sifat ilmu setelah berada pada posisinya (dalam ranah penalaran bukan kenyataan) menurut perkara lain yang diketahui dengannya. Begitu pula sifat qudrah iradah dan semisalnya.

Kesimpulannya, seluruh sifat ma’ani selain sifat hayat, merupakan sifat yang berhubungan dengan hal lain, maksudnya menurut hal lain selain berada pada posisinya. hubungan ini bagi sifat-sifat tersebut berstatus nafsi sebagaimana keberadaannya pada zat juga berstatus nafsi pula.

Sama’ dan Bashar

Sama’ dan Bashar (Maha mendengar dan maha melihat) yang berhubungan dengan seluruh perkara yang wujud.

Sama’ dan Bashar adalah dua sifat yang dengannya suatu objek menjadi terbuka dan menjadi jelas sebagaimana sifat ilmu, namun terbukanya dengan keduanya melebihi terbukanya dengan sifat ilmu, maksudnya bukan merupakan keterbukaan dengan ilmu. perbedaan keterbukaan dengan keduanya dan dengan ilmu secara pasti sudah maklum dalam keterbukaan pada makhluk yang terlihat.

Yang berhubungan dengan keduanya lebih khusus dari yang berhubungan dengan sifat ilmu. Segala hal yang berhubungan dengan sama’ dan bashar berhubungan dengan ilmu dan tidak sebaliknya kecuali bersifat partikular.

Dengan redaksi: “berhubungan dengan seluruh perkara yang wujud” kitab asal mengingatkan bahwa hubungan sifat sama dan bashar Allah ta’ala berbeda dengan hubungan sifat sama dan Bashar kita (manusia).

Sebab sama’ kita secara adat hanya berhubungan dengan sebagian hal yang wujud, yaitu hal yang dapat didengar pada arah dan dengan cara tertentu, yaitu tidak adanya jarak yang sangat jauh dan suara yang sangat kecil dan bashar kita secara adat hanya berhubungan dengan sebagian hal yang wujud, yaitu jism (bentuk fisik), warna dan kondisi bergerak, diam, terkumpul, dan terpisah pada arah dan dengan sifat yang tertentu. Adapun sama’ Allah -Jalla wa ‘Azza- dan bashar-Nya, maka berhubungan dengan segala hal yang wujud, baik yang bersifat kodim maupun hadits. Sebab itu, pada azali Allah -Jalla wa ‘Azza- mendengar dan melihat zatnya yang Maha luhur dan semua sifatnya yang bersifat wujud dan pada selain azali Allah tabaroka wa ta’ala mendengar dan melihat semua zat yang wujud dan semua sifat yang bersifat wujud baik dari golongan suara ataupun lainnya, baik berupa jism, kondisi, warna, atau selainnya.

Kalam

Kalam (Maha Bicara) yang tanpa huruf dan suara, an yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan sifat ilmu.

Kalam Allah Ta’ala yang ada pada Zat-Nya adalah sifat azaliyah tanpa huruf, tanpa suara, dan tidak dapat tiada dan yang semakna dengannya yaitu diam, tidak terbagi- bagi, didahulukan atau diakhirkan.

Kemudian sifat kalam Allah bersertaan ketunggalannya berhubungan, maksudnya pada azali dan selamanya, menunjukkan pada seluruh yang diketahui yang tiada batas. Itulah yang diungkapkan dengan istilah annazm al-mu’jiz runtutan kalam Allah yang melemahkan orang yang mau menandinginya yang juga dinamakan kalamullah Ta’ala dalam hakikat bahasa, karena wujudnya kalam Allah Azza wa Jalla padanya dengan melihat dilalahnya, bukan bertempatnya.

Keduanya juga dinamakan Al-Qur’an.

Hakikat sifat ini dan seluruh sifat Allah Ta’ala lainnya tertutup bagi akal, seperti Zat- Nya-Jalla wa ‘Azza-. Sebab itu, siapapun tidak boleh membahas hakikatnya setelah mengetahui hal yang wajib bagi Zat Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya.

Dari pengumpamaan kalam Allah dengan al-kalam an-nafsi (perkataan hati manusia) yang ditemukan dalam kitab-kitab ulama Ahli Kalam saat mereka menolak Mu’tazilah yang berpendapat terbatasinya kalam Allah dalam huruf dan suara, tidak bisa dipahami adanya penyamaan hakikat kalam Allah-Jalla wa ‘Azza-dengan perkataan hati manusia. Maha Luhur dan Maha Agung Allah dari adanya sekutu bagi-Nya dalam Zat, sifat-sifat, ataupun perbuatan-perbuatanNya.

Bagaimana disalah sangka bahwa kalam Allah Ta’ala sama dengan perkataan hati kita, sementara perkataan hati kita merupakan sifat yang baru yang didalamnya terdapat pendahuluan, pengakhiran, adanya sebagian setelah tiadanya sebagian yang lain yang mendahuluinya, berurutan, dan menjadi tidak ada, dengan melihat wujudnya semua hal itu dalam ucapan verbal.

Barangsiapa salah sangka terhadap hal ini bagi kalam Allah Ta’ala, maka tidak ada beda antara dirinya dan kaum Hasyawiyah dan semisalnya dari golongan ahli bid’ah yang berpendapat bahwa kalam Allah Ta’ala berupa huruf dan suara.

Maksud ulama menyebut perkataan hati yang ada pada manusia adalah mencounter Muktazilah yang membatasi kalam Allah pada huruf dan suara. Lalu dikatakan kepada mereka: “Pembatasan kalian seperti itu gugur dengan perkataan hati kita (manusia). Sebab, sungguh perkataan hati kita juga kalam yang hakiki, dan tidak dengan huruf maupun suara.”

Bila hal itu benar, maka kalam Allah juga tidak berupa huruf dan suara. Sebab itu, di antara kalam Allah dan perkataan hati manusia tidak terjadi kesamaan kecuali dalam sifat penafian ini, yaitu sungguh kalam Allah-Jalla wa ‘Azza-tidak berupa huruf dan suara sebagaimana perkataan hati kita yang tidak berupa huruf dan suara: adapun hakikat keduanya maka sangat berbeda. Ketahuilah hal ini, sungguh banyak orang yang tidak dikuatkan dengan cahaya dari Allah Yang Maha Merajai dan Maha Mengetahui, yang ia salah memahaminya. Di sini berakhirlah penjelasan sifat-sifat yang dikategorikan sifat-sifat ma’ani. Kesimpulannya, sifat ma’ani terbagi pada empat bagian:

  1. bagian yang tidak berhubungan dengan apapun, yaitu sifat hayat (Maha Hidup),
  • bagian yang hanya berhubungan dengan mumkinat, yaitu ada dua: qudrah dan iradah,
  • bagian yang berhubungan dengan seluruh hal yang wujud, yaitu ada dua sifat sama’ dan bashar,
  • bagian yang berhubungan dengan seluruh bagian hukum ‘aqli, yaitu sifat ilmu dan kalam.

Sifat-sifat yang berhubungan yang paling umum hubungannya adalah sifat ilmu dan kalam. Diantara hal yang berhubungan dengan sifat qudrah dan iradah dan hal yang berhubungan dengan sifat sama’ dan bashar terdapat keumuman dan kekhususan dari suatu sisi. Sifat qudrah dan iradah dengan hubungannya pada perkara yang tidak ada melebihi sifat sama’ dan bashar: dan sifat sam’ dan bashar dengan hubungannya pada perkara yang wajib wujud seperti Zat Allah-Jalla wa ‘Azza—dan sifat-sifat-Nya. Sifat qudrah dan iradah, dan sifat sama’ dan bashar samasama berhubungan dengan hal-hal mumkin.

Dalam Kitab al-‘Aqidah hanya dicukupkan (sifat ma’ani) dengan tujuh sifat ini dan tidak menyebut sifat ma’ani yang ke delapan bersamanya, yaitu idrak (kemampuan menemukan) Allah Ta’ala pada rasa, aroma, dan kaifiyah semisalnya yang pada manusia secara adatnya menuntut pertemuan-pertemuan berbagai hal, karena

pertentangan pendapat terkait sifat ini, apakah bagi Allah ia di luar sifat ilmu-Nya, sehingga idrak Allah Ta’ala pada berbagai hal tersebut terjadi dengan idrak yang di luar sifat ilmu-Nya, tanpa pertemuan dengannya? Dan Zat Allah Yang Maha Luhur tidak diandaikan kebagaimanaan-Nya dengan apa yang terjadi pada zat kita manusia ketika menemukan kenikmatan, rasa sakit, dan semisalnya. Menurut pendapat ini, idrak bagi Allah Ta’ala berhubungan dengan setiap hal yang wujud, seperti sifat sam’- Nya-Jalla wa “Azza—. Pendapat yang dipilih sebagian ulama Muhaqqiqin terkait sifat idrak ini adalah memauqufkan (tidak membahasnya), karena tidak adanya dalil wahyu (hadits) yang menjelaskannya.

Karena pertentangan pendapat yang terjadi ini, aku tidak menyebutnya dalam sifat- sifat ma’ani, dan aku cukupkan pada sifat ma’ani yang disepakati. Wabillahi ta’alat taufiq.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker