Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

Mukhalafatuhu Ta’ala li al-Hawadits (berbeda dengan semua makhluk)

Maksudnya tidak ada satupun makhluk yang menyamai Allah Ta’ala secara mutlak, tidak sama dalam zat, sifat, maupun perbuatannya.

Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Bagian awal ayat ini merupakan tanzih (penyucian Allah dari menyerupai mahluk), dan bagian akhirnya menetapkan (sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat bagi Allah). Maka bagian awalnya menolak kaum /Mujassimah dan berbagai variannya, dan bagian akhirnya menolak kaum Mu’ahthilah yang menafikan seluruh sifat-sifat Allah. Hikmah mendahulukan tanzih pada ayat tersebut meskipun termasuk mendahulukan penafian daripada penetapan, meskipun yang lebih utama dalam beberapa tempat adalah sebaliknya adalah andaikan al-Qur’an memulai dengan menyebutkan sifat mendengar dan melihat, niscaya akan mengesankan keserupaan Allah terhadap makhluk. Sebab yang segera dipahami dalam sifat mendengar adalah mendengar dengan telinga, dan dalam sifat melihat adalah melihat dengan bola mata, sementara masing-masing dari keduanya dalam hal yang dapat disaksikan hanya berhubungan dengan sebagian makhluk dan tidak berhubungan dengan yang lainnya: dan hanya pada sifat tertentu seperti tidak adanya jarak yang jauh sekali dan semisalnya.

Maka dalam al-Quran memulai dengan penyebutan tanzih agar darinya dipahami penafian keserupaan Allah Ta’ala dengan makhluk secara mutlak, sampai pada sifat mendengar dan melihat yang disebutkan setelahnya. Sebab mendengar dan melihatnya Allah tidak seperti mendengar dan melihatnya makhluk, karena mendengar dan melihatnya Allah Ta’ala merupakan sifat yang ada pada Zat-Nya Yang Maha Luhur yang mustahil ada unsur fisik, anggota tubuh, dan berbagai kelazimannya, yang wajib (pasti) qidam dan baga, yang berhubungan dengan setiap wujud yang bersifat gadim maupun hadits, yang berupa zat maupun sifat: dan lahir maupun batin.

Qiyamuhu bi Nafsih (kemandirian Allah dengan Zatnya)

  • Maksudnya Ia tidak membutuhkan mahaliI (zat lain yang menjadi tempat Zat-Nya) dan mukhashshish (zat lain yang mewujudkan-Nya).

Maksudnya, di antara sifat yang wajib bagi Allah Ta’ala adalah Allah mandiri dengan diri-Nya, maksudnya Zat-Nya. Maksud mandirinya Allah Ta’ala dengan Zat-Nya adalah menafikan butuhnya Allah pada sesuatu apapun. Maka Allah Ta’ala tidak membutuhkan pada muhall, yaitu zat selain-Nya dimana Allah wujud di dalamnya, sebagaimana sifat yang wujud pada hal yang disifatinya. Sebab kebutuhan semacam itu hanya untuk sifat, sementara Allah Ta’ala adalah Zat yang disifati dengan suatu sifat. Allah —jalla wa Azza—bukan suatu sifat sebagaimana anggapan orang-orang Nasrani dan sekte Bathiniyah yang sepaham dengan mereka semoga Allah Ta’ala membinasakan mereka Dalilnya akan disebutkan pada penjelasanku tentang berbagai dalil, insyaallah Ta’ala.

Begitu pula Allah Ta’ala tidak butuh kepada mukhashshish, yaitu pelaku yang mewujudkannya, tidak butuh dalam zat, dan satu sifat pun dari sifat-sifat-Nya, karena wajibnya qidam dan Baqa’ bagi Zat Allah Ta’ala dan semua sifat-Nya. Yang butuh kepada mukhashshish adalah zat yang menerima ketiadaan (mungkin menjadi tidak ada), sedangkan Allah Jalla wa Azza—tidak mungkin menerimanya. Bila demikian, maka secara umum mustahil bagi Allah—jalla wa Azza Membutuhkan zat lain.

Dengan penjelasan ini Anda ketahui, sungguh maksudku dengan kata mahall dalam Kitab Asal, yakni al-‘Aqidah, adalah zat: sedangkan maksudku dengan kata mukhashshish adalah fa’il (pelaku yang mewujudkannya). Maka dengan ketidakbutuhan Allah Ta’ala pada mahall, maksudnya zat lain, tetaplah bahwa Allah— Jalla wa Azza—bukan sifat: dan dengan ketidakbutuhan Allah Ta’ala pada mukhashshish, maksudnya fail (pelaku yang mewujudkannya), tetaplah bahwa Zat Allah—Jalla wa Azza-tidak seperti zat lain yang juga tidak membutuhkan pada mahall seperti berbagai jirm upamanya, meskipun berbagai jirim ini tidak membutuhkan nahah, maksudnya dari zat yang menjadi tempat eksistensinya, sebagaimana eksistensi sifat pada sesuatu yang disifatinya, namun untuk permulaan dan keberlangsungannya secara pasti membutuhkan pada mukhashshish, yakni fa’il, yaitu Allah—Jalla wa Azza Bila demikian, maka giyam bi annafs merupakan ungkapan dari kemandirian secara mutlak, yang tidak mungkin kecuali bagi Allah Jalla wa Azza

Allah Yang Maha Agung berkata: “Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” Allah berkata pula: ‘Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.”

Dengan firman-Nya: , Allah menetapkan butuhnya selain Allah kepada-Nya— Jalla wa Azza—. Sebab makna adalah Zat yang dituju dalam berbagai kebutuhan, maksudnya yang menjadi rujukan berbagai kebutuhan, dan dari-Nya berbagai kebutuhan diminta. Tidak diraguan, sungguh setiap selain Allah Ta’ala adalah zat yang butuh kepada-Nya, maksudnya mulai dari awal dan pada keberlanjutannya membutuhkan kepada Allah dengan kondisinya, ucapannya, atau dengan keduanya secara bersamaan.

Dengan firman-Nya: Allah menetapkan wajibnya ketidakbutuhan Allah—Jalla wa Azza—pada muatstsir dan atsar. Maka tidak ada kebutuhan bagi Allah Ta’ala kepada mu atsar, dan tidak ada ‘illat bagi wujud-Nya Jalla wa Azza—Pada pemahaman itu isyarat firman Allah Ta’ala: maksudnya wujud-Nya tidak terlahirkan dari sesuatu pun. Artinya tidak ada sebab bagi wujud-Nya, karena wajibnya qidam dan Baqa’ bagi-Nya.

Begitu pula tidak ada kebutuhan bagi Allah Ta’ala pada atsar, yaitu makhluk yang diwujudkan-Nya: tidak ada tujuan bagi-Nya—Jalla wa Azza—dalam suatu makhluk pun Maha Luhur Allah dari berbagai tujuan dan harta benda-, dan tidak ada penolong bagi-Nya dalam suatu makhluk pun, justru Allah Jalla wa ‘Azza—adalah Zat yang menciptakannya, dengan murni pilihan-Nya tanpa perantara, aktivitas (bergerak dan diam), maupun alasan. Pada pemahaman seperti itu isyarat firman Allah Ta’ala: maksudnya tidak ada sesuatupun yang terlahir dari ZatNya Yang Maha Luhur, yaitu menjadi bagian dari-Nya, muncul dari-Nya tanpa sengaja, muncul dari-Nya dengan pertolongan orang yang menikahi-Nya untuk mewujudkannya, atau di situ ada tujuan yang mengarahkan-Nya untuk mewujudkannya, sebagaimana kondisi suami istri dan semisalnya dalam penisbatannya terhadap anak, dan semisalnya dalam hal yang telah disebutkan.

Sebab, andaikan Allah Ta’ala demikian adanya, maka pasti menyamai makhluk. Bagaimana hal itu benar, sementara Allah Tabaraka-tiada satu makhlukpun yang sepadan dengan-Nya. Bila demikan maka tidak ada orang tua, teman, anak baginya, dan tidak ada kesamaan antara Allah dan makhluk dari satu sisi pun tabarokallohu rabbul ‘alamin-.

Wahdaniyyah (keesaan Allah dengan Zat-Nya)

  • Maksudnya tidak ada duanya zat, sifat dan perbuatan Allah.

Maksudnya, sungguh wahdaniyyah bagi Allah Ta’ala mencakup tiga sisi: pertama, menafikan jumlah banyak bagi Zat Allah Ta’ala, yang disebut al-kamm al-muttashil kedua, menafikan zat lain yang sepadan bagi-Nya—Jalla wa Azza dalam zat atau salah satu sifat-sifat-Nya, yang disebut al-kamm al-munfashik dan ketiga, kesendirian Allah Ta’ala dalam mewujudkan, dan menciptakan alam secara sempurna dan menyeluruh, tanpa perantara, dan tanpa aktifitas (bergerak dan diam). Maka tidak ada mu’atsrtsir (yang memberi efek) apapun selain Allah Ta’ala pada efek apa saja secara menyeluruh.

Allah Yang Maha Agung berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” Allah Ta’ala berfirman: “ (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu tidak ada Tuhan selain Dia pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia” Allah -Jalla wa ‘Azza- berfirman : “kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah” Allah -Tabaraka Wa Ta’ala- berfirman pula :” Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker