Sifat Ma’nawiyah
Kemudian tujuh Sifat yang dinamakan sifat ma’nawiyah, yaitu kelaziman tujuh sifat (ma’ani yang telah disebutkan) yang pertama.
Sifat-sifat ini disebut sifat ma’nawiyah karena bersifat dengannya merupakan cabang (pada ranah penalarannya) dari bersifat dengan tujuh sifat ma’ani yang pertama. Sebab, sungguh bersifatnya suatu zat dari berbagai zat dengan sifat alim (yang tahu) atau qadir (yang mampu) umpamanya, tidak sah kecuali bila padanya ada ilmu dan qudrah (kemampuan). Qiyaskanlah (sifat yang lain) pada hal ini.
Maka, tujuh sifat yang telah disebutkan pertama kali, yaitu sifat-sifat ma’ani merupakan ‘illat bagi ketujuh sifat ma’nawiyah ini, maksudnya yang dilazimkan. Karena hal ini, sifat-sifat ma’nawiyah ini dinisbatkan padanya, lalu dikatakan padanya: “Sifat ma’nawiyah.”
Karenanya, sifat ini berjumlah tujuh seperti sifat yang disebut pertama. Maka, huruf ya’ pada kata merupakan ya’ nisbat yang dinisbatkan pada kata dan huruf wauwu padanya merupakan ganti dari huruf yang ada pada kata
Qadiran, Muridan, ‘Aliman, Hayyan, Sami’an, Bashiran, dan Mutakalliman
Sifat ma’nawiyah tersebut adalah (14) qadiran, keberadaan Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa, (15) Muridan, Yang Maha Berkehendak, (16) ” Aliman, Yang Maha Mengetahui, (17) Hayyan, Yang Maha Hidup, (18) Samian, Yang Maha Mendengar,
(19) Bashiran, Yang Maha Melihat, dan (20) Mutakalliman, Yang Maha Berbicara.
Ketika sifat-sifat ma’nawiyah ini merupakan sifat yang melazimi (menetapi) sifat-sifat ma’ani, maka Kitab Asal mengurutkannya sesuai urutan sifat-sifat ma’ani. Maka keberadaan Allah Ta’ala Yang Maha Mampu menetapi sifat pertama dari sifat-sifat ma’ani, yaitu qudrah yang ada pada Zat Allah Ta’ala: dan keberadaan Allah—Jalla wa Azza-Yang Maha Berkehendak menetapi sifat , iradah yang ada pada Zat Allah Ta’ala: begitu seterusnya sampai akhir. Ketahuilah, sungguh pendapat ulama yang memasukkan tujuh sifat ini pada sifat-sifat Allah ada pada konteks hakikatnya, jika kita berpendapat dengan pendapat yang menetapkan sifat-sifat ahwal, yaitu sifat-sifat yang tetap, yang tidak wujud (dalam kenyataan), dan bukan ketiadaan yang ada pada hal yang wujud. Maka sifat-sifat ma’nawiyah ini merupakan sifat-sifat yang menetap dan ada pada Zat Allah Ta’ala.
Adapun bila kita berpendapat dengan pendapat yang menafikan ahwal, dan yang menyatakan sungguh tidak ada tengah-tengah antara wujud dan ketiadaan seperti madzhab Imam al-Asy’ari, maka sifat-sifat yang tetap yang ada pada Zat Allah hanyalah tujuh sifat yang pertama (ma’ani). Adapun tujuh sifat ma’nawiyah ini (hanya) merupakan ungkapan dari adanya sifat-sifat ma’ani terseput pada Zat Allah, tidak berarti bahwa sifat-sifat ma’nawiyah ini ada secara nyata.









One Comment