Burhan Sifat Qidam
Burhan wajibnya sifat qidam bagi Allah Ta’ ala adalah, andaikan Allah tidak gadim pasti ia zat yang hadits, maka membutuhkan pencipta, dan hal ini pasti menyebabkan daur atau tasalsul.”
Maksudnya, ketika wujudnya Allah Ta’ala telah tetap (diakui) dengan Burhan yang telah lewat, yaitu butuhnya seluruh makhluk kepada-Nya, maka sungguh wajib bagi- Nya sifat qidam.
Burhannya adalah, andaikan Allah tidak gadim niscaya la hadits karena pasti terbatasinya setiap hal yang wujud pada qidam dan huduts. Maka ketika wujud salah satunya ternafikan, pasti wujud yang lainnya.
Sifat huduts mustahil bagi Allah-Jalla wa Azza, sebab hal ini memastikan adanya pencipta baginya, karena alasan yang telah Anda ketahui pada kerudursan alam. Kemudian pencipta Allah (andaikan ada) pasti menyamainya, sehingga bersifat hadits. Lalu ia juga mempunyai pencipta, dan pasti pencipta terakhir ini juga membutuhkan pencipta lain sebagaimana pencipta sebelumnya, dan seterusnya begitu (tanpa berujung siapa pencipta awalnya)
Bila jumlah pencipta yang dibutuhkan terbatas maka pasti terjadi daur, karena pencipta pertama pasti merupakan salah satu dari zat yang tercipta setelahnya, yaitu zat yang diciptakannya, atau zat yang diciptakan oleh zat lain yang wujudnya disandarkan kepada pencipta pertama secara langsung atau dengan perantara.
Kemustahilan daur sangat jelas, sebab pasti masing-masing pencipta mendahului atau tertinggal dari yang lain. Hal ini merupakan jam’ baina mutanafiyain (berkumpulnya dua hal yang saling menafikan), bahkan juga pasti masing-masing mendahului dan tertinggal dari dirinya dengan dua urutan atau lebih, dan ini adalah kesalahan yang tidak dapat dibenarkan akal sehat.
Bila jumlah pencipta yang dibutuhkan tidak terbatas dan sebelum setiap pencipta ada pencipta lain yang ada sebelumnya, maka pasti terjadi rasalsul. Hal ini juga mustahil, sebab akan mengantarkan pada jumlah yang tidak berujung, dan hal ini juga tidak dapat diterima akal sehat.
Bila sifat huduts mustahil bagi Allah—Subhanah—maka pasti la bersifat qidam, dan inilah kesimpulan yang dicari.
Burhan Sifat Baqa’
Burhan wajibnya sifat Baqa’bagi Allah Ta’ala adalah, andaikan bila Allah dapat tiada, niscaya Ia tidak bersifat qidam, sebab bila demikian maka hukum wujudnya Allah adalah ja’iz, tidak wajib, di mana tidak ada wujudnya hal ja’iz kecuali bersifat hadits. Bagaimana hal itu benar, sementara wajibnya sifat qidam Allah Ta’ala baru saja ditetapkan.
Tidak diragukan lagi bahwa wajibnya sifat qidam menetapkan sifat Baqa’ bagi Allah. Maka ketika telah ada burhan yang memastikan wajibnya sifat qidam bagi Allah, maka hal itu pasti menetapkan sifat baga-Nya Tabaraka wa Ta’ala-. Sebab andaikan Allah boleh menjadi tiada-Maha Luhur Allah darinya dengan seluhur-luhurnya-, maka hukum wujud-Nya adalah ja’iz tidak wajib, sebab bila begitu cocoklah hakikat ja’iz bagi Zat Allah I. Sebab jaiz adalah suatu hal yang sah wujud dan tidaknya.
Pengandaian yang salah ini menetapkan keabsahan wujud dan adam bagi Zat Allah Yang Maha Luhur-Tabaraka wa Ta’ala, sehingga wujud Allah ja’iz Hal ini memastikan kehudutsan-Nya Maha Luhur dan Maha Suci Allah darinya karena alasan yang telah Anda ketahui, yaitu kemustahilan unggulnya wujudnya suatu hal yang ‘ ja’iz atas ketiadaan yang . menyamainya dalam hal bisa diterima, tanpa faktor atau zat yang . mengunggulkannya.
Bagaimana pemahaman seperti itu bisa dibenarkan, padahal baru saja ‘ terbuktikan dengan burhan yang memastikan wajibnya sifat qidam Allah—Jalla wa Azza—. Bila demikian wajiblah sifat Baqa’ Allah sebagaimana wajibnya sifat qidam-Nya.









One Comment