Kesimpulan sifat Nafsiyah dan Salbiyah
Inilah enam sifat Allah, yang pertama adalah sifat nafsiyah, yaitu wujud; dan 5 sifat setelahnya adalah sifat salbiyah.
Hakikat sifat nafsiyah adalah haliyah (kondisi) yang wajib bagi suatu zat selama zat tersebut tidak di ‘illati dengan suatu ‘illat, seperti tahayyuz (mengambil tempat atau ruang secukupnya) bagi jirm umpamanya. Sebab bagi jirm, tahayyuz bagi jirm tidak di ‘illati dengan ‘illat apapun, Dengan ucapan kitab asal mengecualikan al ahwal al ma’aninya seperti keberadaan zat Allah yang Maha Mengetahui Maha Kuasa dan Maha Berkehendak umpamanya sebab ter’illati dengan adanya ilmu, kekuasaan, dan kehendak yang ada pada zat Allah dan juga mengecualikan sifat ma’ani.
Adapun sifat ilmu dan qudrah maka tidak termasuk sifat nafsiyah maupun sifat ma’nawiyah. Sebab sifat nafsiyah dan sifat maknawiyah merupakan kondisi, sementara kondisi itu tidak wujud dan tidak tiada dengan sendirinya sedangkan ilmu dan qudrah adalah sifat yang wujud dengan mempertimbangkan dirinya (mungkin dilihat) yang ada pada sesuatu yang maujud.
Bila anda mengetahui ini maka ketahuilah bahwa wujud hanya sah menjadi sifat nafsiyah bagi ulama yang menjadikannya sebagai suatu selain zat. adapun bagi orang yang menjadikannya sebagai zat itu sendiri maka wujud sama sekali bukan merupakan sifat. Telah lewat keterangan terkait wujud tidak bisa dianggap sebagai sifat, dan dengan keterangan seperti itu pula di sini wujud tidak bisa dianggap sebagai sifat nafsiyah, maksudnya maknanya wujud itu kembali pada zat, baik kita katakan bahwa wujud merupakan zat itu sendiri ataupun selain hakikatnya. Sebab, sungguh zat tidak wujud secara nyata dari hati kecuali diwujudkan.
Ungkapan Matan. Maksudnya adalah, sungguh masing-masing madlulnya adalah tidak. Artinya tidak pantas bagi Allah -Jalla wa ‘Azza- dan tidak berupa sifat yang maujud dengan mempertimbangkan dirinya sendiri sebagaimana ilmu, qudroh dan sifat-sifat ma’ani dan semisalnya yang akan dijelaskan.
Maka makna qidam adalah salb, yaitu menafikan mendahuluinya ketiadaan daripada wujudnya bila mau dapat anda katakan: “Qidam adalah menafikan permulaan bagi wujud Allah.” Sementara maknanya sama.
Makna baqa’ adalah munafikan menyusulnya ketiadaan bagi wujud. Bila mau dapat anda katakan: “Baqa’ adalah menafikan berakhirnya wujud Allah”.
Makna mukhalafah li al-Hawadits adalah menafikan kesamaan Allah pada makhluk dalam zat, sifat, dan perbuatan.
Makna Qiyama bi an-nafs adalah menafikan butuhnya Allah kepada mahall, yaitu zat lain yang menjadikan kelaziman bagi wujudnya, sebagaimana kelaziman sifat pada mausuf dan menafikan butuhnya Allah ta’ala kepada mukhashshish, maksudnya zat yang menciptakan.
Adapun makna wahdaniyyah adalah tidak ada duanya Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Bila mau dapat anda katakan: “Wahdaniyyah adalah menafikan al- kammiyah al-muttashilah dan al-kammiyah al-munfashilah, dan menafikan sekutu bagi perbuatan-perbuatan Allah secara menyeluruh” adapun maknanya sama. Wabillahit Taufik.








One Comment