Tidak disyaratkan mengetahui pemikiran sesuai metode mutakallimin, yaitu meneliti dan membenarkan dalil-dalil, menolak syubhat yang datang padanya, dan mengungkapkan dalil ijmali yang ada di hati yang menghasilkan penerimaan.
Tidak diragukan, bahwa pemikiran sederhana semacam ini tidak sulit diperoleh bagi mayoritas atau semua umat al-ijabah ini sebelum akhir zaman yang pada waktu itu ilmu nafi’ akan diangkat: banyaknya kebodohan yang membahayakan: tidak ada taqlid yang benar, apalagi makrifat, pada orang-orang yang disangka mempunyai ilmu, apalagi pada orang-orang awam. Mungkin tanpa diragukan, kita menjumpai zaman ini. Allah Zat Yang Maha diminta Pertolongan. La haula wala quwwata ia billahil ‘aliyyil azhirmn.
Diriwayatkan dalam suatu hadits dari Abu Umamah ia berkata: “Rasulullah bersabda: “Akan ada fitnah di akhir zaman, di pagi hari orang berstatus mukmin dan sorenya sudah menjadi kafir, kecuali orang yang dijaga oleh Allah dengan ilmu.
Kesimpulannya, hati-hati dalam segala permasalahan merupakan langkah terbaik yang ditempuh orang berakal, apalagi terkait keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun. Bagaimana orang berfirman rela
menempuh jalan taqlid yang masih diperselisihkan dan memperkeruh akidahnya, meninggalkan makrifat dan belajar melakukan pemikiran yang benar yang dapat menghindarkannya dari segala kekhawatiran, kemudian dengannya mencapai derajat ulama yang masuk dalam makna firman Allah Ta’ala: “Allah menjelaskan, sungguh tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Menegakkan Keadilan, Malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan pun mengakuinya …
Tidaklah mencukupkan diri jauh dari derajat yang aman dan suci ini kecuali orang yang berjiwa rendah dan berhimmah hina. Namun demikian, pertama kali wajib bagi orang berakal untuk mempertimbangkan orang yang mengajarinya secara benar ilmu akidah keimanan ini, dan memilihnya untuk dijadikan guru, dari para imam yang oleh Allah dikokohkan dengan cahaya hati, yang zuhud dengan hatinya dari dunia yang ada ini, yang penuh belas kasihan kepada orang-orang miskin ilmu, dan orang-orang mukmin yang lemah pemahamannya.
Orang yang menemukan guru semacam itu pada zaman yang sedikit sekali kebaikannya ini, hendaklah selalu mengikutinya. Ketahuilah, sungguh ia tidak akan menemukannya lagi-wallahu alam-untuk kedua kalinya pada masanya. Sebab, orang yang mempunyai sifat seperti itu atau yang mendekatinya (yang secara terang- terangan mengajarkan ilmu ini), di akhir zaman tidak ada kecuali seorang saja, dan orang yang mendekatinya, sesuai penjelasan ulama.
Pada umumnya di zaman ini, orang yang seperti itu samar (sulit ditemukan), sekira tidak ditunjukkan kepadanya kecuali sedikit orang saja. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah sepanjang malam dan siang yang telah memperlihatkannya atas kesuksesan besar ini. Sebab Allah Yang Maha Pemurah Jallah wa ‘Azz dengan kemurnian anugerah-Nya telah memberinya kesuksesan mendapat kekayaan surga yang sangat besar (guru dengan sifat-sifat yang telah disebutkan) yang dapat menjadi sumber belajar dan dengan cara bagaimanapun yang dikehendakinya ia belajar kepadanya. Sedikit sekali orang yang dapat belajar kepada guru semacam ini pada masa sekarang ini kecuali orang beruntung yang langkah
Adapun orang yang membacakan ilmu akidah ini kepada orang yang meminta kepadanya sementara ia tidak mempunyai sifat-sifat yang telah aku disebutkan, maka mafsadah menjadi muridnya di dunia dan akhirat lebih banyak daripada kemaslahatannya. Sangat banyak orang-orang seperti itu di zaman kita di setiap tempat. Aku memohon keselamatan kepada Allah Ta’ala dengan derajat Sayyidina Muhammad – dari keburukan diriku dan keburukan setiap orang yang mempunyai keburukan.
Hendaklah pelajar pemula menghindarkan kemampuannya untuk belajar ushu/ ad- dinnya dari kitab-kitab yang dipenuhi pendapat-pendapat kaum filosuf, para penulisnya menggantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar yang mayoritas hanya merupakan nama tanpa subtansi, seperti kitab-kitab karya al-Imam al-Fakr ar-Razi tentang kalam, kitab Thawali’ karya al-Baidhawi, dan orang-orang yang menempuh metode mereka dalam ilmu kalam
Jarang sekali beruntung orang yang menggantungkan diri dengan menekuni kafan para filosof, atau mendapatkan cahaya keimanan di hati atau lisannya. Bagaimana beruntung orang yang mengasihi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, membakar haibah Allah yang laksana ijab, membuang syariat di belakang punggungnya, dan berkata bagi Allah—jalla wa Azza—dan para Rasul-Nyaa ala’himus shalatu was salam dengan perkataan yang dihiaskan oleh dirinya yang bodoh dan diajak oleh persangkaannya yang rusak.
Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga Anda lihat ia memuliakan kalam kaum filosof terlaknat, memuliakan kitab-kitab yang ditulis untuk mengutip berbagai kebodohan mereka karena cinta pangkat dan keunikan mengungguli orang lain dengan berbagai ungkapan dan istilah yang samar bagi kebanyakan orang, yang mengesankan bagi mereka bahwa di bawahnya terdapat ilmu-ilmu yang mendalam dan bagus, padahal kenyataannya hanya pencampuradukan, kegilaan, dan kekufuran yang orang berakal tidak sudi mengucapkannya.
Terkadang sebagian orang bodoh memprioritaskan memelajari kegilaan kaum filosuf daripada menyibukkan diri dengan memelajari ushul dan furu’ ad-din sesuai metode kaum as-Salaf ash-Shalih dan mengamalkannya, yang bermanfaat baginya. Karena terhapusnya mata hati dan terlemparnya dari pintu anugerah Allah Ta’ala ke pintu murka-Nya. Orang bodoh yang keji ini menganggap orang-orang yang fokus memelajari agama Allah Ta’ala yang besar manfaatnya di dunia dan akhirat, sebagai orang-orang berwatak bodoh dan kurang cerdas.
Sungguh bodoh, sungguh keji dan sungguh buta hatinya, sampai ia melihat kegelapan sebagai cahaya dan melihat cahaya sebagai kegelapan. Orang yang Allah menghendaki kesesatan nya, maka sekali-kali kamu (Muhammad ) tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dariNya. Mereka adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hatinya. Bagi mereka kehinaan di dunia dan akhirat. Bagi mereka siksaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta haram …
Aku memohon kepada Allah SWT agar la menjagaku dan orang-orang yang mencintaiku sampai mati dengan kemurnian anugerahnya, dan agar mengasihi semua mukminin, dan menjaga mereka di zaman yang penuh kesulitan ini dari datangnya berbagai fitnah, dengan kemurahan dan kedermawanan-Nya, dengan lantaran derajat manusia termulia, Sayyidina wa Maulana Muhammad -.









One Comment