Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

Burhan Sifat Wahdaniyyah

Burhan wajibnya sifat Wahdaniyyah bagi Allah ta’ala adalah, andaikan Allah tidak esa, pasti alam apapun tidak akan terwujud, karena dalam kondisi demikian oleh pasti lemah.

Maksudnya, andaikan ada sesuatu yang menyamai Allah Ta’ala dalam ketuhanan- Nya, niscaya tidak ada makhluk apapun yang tercipta. Frase yang terakhir ini jelas- jelas gugur secara pasti.

Penjelasan kepastian itu adalah, sungguh telah tetap wajibnya kemenyeluruhan qudrah dan iradah Allah Ta’ala pada seluruh hal yang mumkin dengan burhan yang bersifat qath’i. Jadi, andaikan ada suatu hal yang wujud yang mempunyai qudrah (kemampuan) menciptakan hal yang mumkin, apapun itu, sebagaimana qudrah Allah—Jalla wa Azza—ketika terjadi keterhubungan dua sifat qudrah tersebut dengan penciptaan hal mumkin, pasti hal mumkin itu tidak akan terwujud dengan keduanya “secara bersamaan, karena mustahil terjadinya satu arsar di antara dua mu’atstsir, sebab pasti satu atsar akan kembali pada dua atsar, dan hal ini tidak diterima akal, sebab salah satunya pasti lemah. Hal ini memastikan kelemahan mu’atstsir yang lain yang menyamainya dalam kemampuan menciptakan.

Ketika kelemahan keduanya untuk menciptakan hal mumkin tersebut secara bersamaan telah pasti, maka pasti pula kelemahan mereka untuk menciptakan hal mumkin lain, karena tidak ada perbedaan di antara keduanya. Hal ini juga memastikan kemustahilan terciptanya semua makhluk, padahal fakta menggugurnya secara pasti. Bila kepastian lemahnya kedua mu’atstsir menciptakan satu hal mumkin secara bersaman telah jelas, apalagi kepastian lemahnya keduanya pada objek penciptaan yang berbeda yang bertentangan, maka pastilah wajibnya sifat wahdaniyyah Allah— Jalla wa Azza-dalam Zat, sifat, dan perbuatanNya.

Dengan penjelasan ini Anda tahu, sungguh tidak ada atsar (pengaruh) bagi kemampuan kita pada perbuatan ikhtiari kita, apapun itu, seperti gerakan, diam, berdiri, duduk, jalan kita, dan semisalnya. Bahkan seluruhnya merupakan makhluk Allah—Jalla wa Azza-tanpa perantara, dan juga kemampuan kita seperti itu merupakan sifat yang diciptakan Allah—Jalla wa Azza- yang bersamaan dengan perbuatan iktiari dan berhubungan dengannya tanpa berpengaruh sedikitpun padanya. Niscaya Allah Ta’ala hanya menjalankan adat menciptakan suatu perbuatan yang dikehendakiNya ketika ada kemampuan tersebut, tidak menciptakan dengannya: dan Allah-Subhanah-menjadikan wujudnya kemampuan tersebut berbarengan dengan perbuatan manusia sebagai syarat bagi wajibnya taklif

Kebersamaan dan keterhubungan kemampuan manusia yang bersifat hadits ini dengan perbuatannya tanpa pengaruh apapun padanya, inilah yang dalam istilah ilmu kalam dan syariat disebut dengan term kasab dan iktisab.

Berdasarkan istilah ini perbuatan manusia disandarkan padanya, sebagaimana firman Allah: “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” adapun menciptakan sesuatu, maka merupakan kekhususan Allah -Jalla wa Azza- tidak ada apapun selain nya yang menyekutuinya pada penciptaan itu.

Saat Allah Ta’ala menciptakan kemampuan yang bersamaan dengan perbuatan pada seorang hamba, maka hamba itu disebut sebagai mukhtar (orang yang merdeka atas pilihannya melakukan perbuatan), dan saat Allah Ta’ala menciptakan perbuatan padanya tanpa bersamaan dengan kemampuan yang bersifat padirs maka ia disebut sebagai majbur dan muththar (orang yang terpaksa atas perbuatannya), seperti orang gemetar misalnya.

Tanda kebersamaan kemampuan yang bersifat hadits pada perbuatan yang tercipta pada tempat kemampuan tersebut adalah kemudahannya secara adat dalam melakukan atau meninggalkan perbuatan. Sedangkan tanda keterpaksaan dan tidak adanya kemampuan adalah tidak adanya kemudahan melakukan atau meninggalkan perbuatan.

Setiap orang berakal sehat pasti bisa menemukan perbedaan di antara kedua kondisi ini, sebagaimana syara” telah menetapkan keduanya, dan kondisi yang kedua diperinci (dibedakan) dengan pengguQuran taklif yaitu kondisi terpaksa, bukan kondisi yang pertama. Allah Ta’ala berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya’”, maksudnya kecuali apa yang pada adatnya dalam batas kemampuannya. Adapun pada ranah pemikiran dan faktanya, tidaklah manusia mampu melakukan sesuatu, apapun itu.

Dengan penjelasan ini Anda mengetahui gugurnya madzhab Jabriyyah yang berpendapat atas samanya seluruh perbuatan dan tidak ada qudrah Allah yang menyeluruh yang membarengi perbuatan manusia satupun. Tidak diragukan lagi sungguh mereka karena pendapatnya ini adalah ahli bid’ah yang bodoh dan kebohongannya ditunjukkan oleh syara.

Dengan penjelasan tersebut Anda juga mengetahui gugurnya madzhab Iadariyyah, kaum Majuzi umat Islam ini, yang berpendapat atas berpengaruhnya kemampuan manusia yang bersifat hadits pada perbuatan-perbuatannya sesuai kehendaknya. Tidak diragukan lagi, mereka ahli bidah yang telah menyekutukan Allah pada selainNya.

Maka benarlah madzhab Ahlussunnah di antara dua madzhab rusak tadi. Madzhab Ahlussunnah ibarat susu yang menyegarkan bagi para peminum yang keluar dari antara kotoran dan darah: di antara kaum yang lalai, yaitu Jabriyyah, dan kaum yang melampaui batas, yaitu Qadariyyah.

Sebagaimana kemampuan manusia yang bersifat hadits tidak mempunyai pengaruh apapun pada perbuatannya, begitu pula tidak ada pengaruh apapun bagi api pada terbakar, termasak, dan terpanasinya sesuatu, atau selainnya. Tidak berpengaruh dengan wataknya atau kekuatan yang ditempatkan padanya. Justru Allah Ta’ala yang memberlakukan adat secara merdeka dari-Nya, dengan menciptakan hal-hal tersebut ketika ada (bersamaan dengan) kemampuan manusia yang bersifat hadits, bukan dengannya.

Samakanlah pada hal ini, terputusnya sesuatu saat ada pisau memotong: sakit saat lapar: . kenyang saat makan: segar dan tumbuh saat ada air: sinar saat ada matahari, lampu, dan semisalnya: bayangan saat ada tembok, pohon, dan semisalnya, dinginnya air panas ketika air dingin dituangkan padanya, dan sebaliknya, serta berbagai hal lain yang semisal dengannya yang tidak terbatas.

Pastikan bahwa semuanya itu adalah makhluk Allah Ta’ala tanpa perantara sama sekali, dan sungguh tidak ada pengaruh apapun padanya bagi semua hal yang menurut adat wujud bersamaan dengannya.

Kesimpulannya, ketahuilah sungguh mustahil ada kemampuan menciptakan pengaruh apapun dari semua makhluk. Justru semuanya merupakan makhluk Allah— Jalla wa Azza-yang sangat butuh kepada-Nya, pada permulaan dan keberlangsungan wujudnya tanpa perantara.

Kebenaran inilah yang disaksikan oleh burhan dan ditunjukkan oleh al-Qur’an, as- Sunnah, dan ijma’ as-salaf as-shalih, sebelum keluarnya berbagai bid’ah. Jangan dengarkan dengan kedua telinga Anda, apa yang dinukil segelintir orang yang terkagum-kagum dengan nukilan yang buruk dan yang baik dari pendapat sebagian Ahlussunnah, yang bertentangan dengan keterangan yang aku sampaikan kepada anda.

Konsistensi Anda pada penjelasan yang aku sampaikan, itulah : kebenaran tanpa keraguan, dan yang selainnya tidak benar. Putuslah keinginan Anda untuk mendengar pendapat yang salah, maka Anda akan hidup penuh keuntungan dan insyaallah mati dengan baik dan mendapat petunjuk. Allahul musta’an.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker