Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

SIFAT-SIFAT WAJIB BAGI ALLAH

Diantara yang wajib dimiliki Allah-Jalla wa ‘Azza adalah 20 sifat

Kitab Asal berisyarat dengan huruf tab’idiyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah-Jalla wa ‘Azza—tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil ‘aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat anugerah Allah Ta’ala.

Wujud

Yaitu (1) wujud.

Maknanya jelas, namun dalam menghitung wujud sebagai suatu sifat berdasarkan madzhab as-Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari merupakan tasamnuh (majaz). Sebab menurutnya, wujud merupakan Zat Allah itu sendiri, bukan selainnya, dan Zat Allah bukanlah suatu sifat. Namun ketika dalam pelafalan wujud dijadikan sifat bagi Zat Allah, dan dikatakan: zat Allah—Jalla wa Azza—itu maujud” maka secara umum wujud sah dihitung sebagai suatu sifat.

Adapun menurut madzhab ulama yang menjadikan wujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah, sebagaimana Imam ar-Razi, maka menghitungnya sebagai bagian dari sifat-sifat Allah adalah benar dan tidak ada tasamnuh di dalamnya.

Sebagian ulama ada yang menjadikan umujud sebagai sesuatu yang bukan Zat Allah pada masa hadits, bukan masa gadim. Ini madzhab kaum filosuf.

Qidam

Pendapat al-Ashah menyatakan, bahwa qidam adalah sifat salbiyah. Maksudnya tidak ada makna yang maujud padanya, seperti sifat ilmu misalnya. Qidam hanya merupakan . ungkapan untuk menafikan sifat adam (tiada) yang mendahului wujud. Bila mau Anda dapat mengatakan: “Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya permulaan bagi wujud Allah.” Bisa pula Anda katakan: “Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya pembukaan wujud.” Ketiga ungkapan tersebut satu makna.

Inilah makna qidam bagi Allah Ta’ala dengan memertimbangkan Zat-Nya Yang Maha Tinggi dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung dan Maha Luhur. Adapun maknanya ketika diucapkan untuk sesuatu yang hadits, sebagaimana saat Anda berkata misalnya: ini adalah bangunan yang gadim, dan tandan yang gadim’, maka gadim merupakan ungkapan dari lamanya waktu wujudnya dalam kondisi bila sesuatu itu bersifat hadits dan didahului oleh ketiadaan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Sungguh Kamu niscaya dalam kesesatranmu yang lama” dan firman Allah SWT: “Seperti tandan yang tua.”

Qidam dengan makna semacam ini mustahil bagi Allah Ta’ala, sebab wujud-Nya— jalla wa Azza—tidak terbatasi dengan zaman dan tempat karena sifat huduts keduanya. Sebab itu, tidak terbatasi dengan keduanya kecuali sesuatu yang hadist yang sama dengannya.

Apakah boleh melafalkan kata gadim bagi Allah Ta’ala, sehingga dikatakan Allah jalla wa Azza Adalah Zat Yang Qidam, karena maknanya adalah wajib bagi-Nya Jalla wa “Azza secara akal dan naqlih, atau tidak boleh melafalkannya?

Yang boleh diucapkan hanya: wajib bagi Allah Ta’ala sifat : qidam”, atau ungkapan semisalnya: dan tidak boleh diucapkan bagi-Nya nama al-Qadim sebab Asama’ Allah Jalla wa Azza bersifat tauqifi.

Ini termasuk permasalahan yang diperselisihkan oleh sebagian para Masyayikh. Namun dalam Syarh Ushul as-Subki, al-‘Iraqi mengatakan: “Al-Halimi menyebut al- Gadim dalam Asma’ Allah, dan ia berkata: “Al-Gadim tidak ada nashnya dalam al- Quran, hanya ada dalam as-Sunnah.” Imam al-raqi mengatakan: “Dengan ungkapan itu al-Halimi memberi isyarat pada hadits riwayat Ibn Majah dalam Sunannya dari hadits Abu Hurairah Ra., yang di dalamnya terdapat penyebutan nama alGadim dari 99 Asma Allah.”

Baqa’ (abadi)

Yaitu merupakan ungkapan dari menafikan ketiadaan yang terjadi setelah wujud. Bila mau Anda dapat mengatakan: “Baqa’ merupakan ungkapan dari tidak adanya batas akhir bagi wujud Allah.” Kedua ungkapan ini satu makna.

Sebagian Imam mengatakan, bahwa makna Baqa’ bagi Allah Ta’ala adalah terus- menerusnya wujud Allah pada masa mendatang tanpa batas, sebagaimana makna qidam bagi Allah Ta’ala adalah terus-menerus nya wujud Allah pada masa lalu tanpa batas awal.

Seolah-olah ungkapan ini mengesankan pengucapnya beranggapan, bahwa qidam dan Baqa’ merupakan sifat nafsiyah. Sebab menurutnya keduanya merupakan wujud yang terus-menerus di masa lalu dan masa mendatang, dan wujud adalah sifat nafsiyah karena tanpanya zat tidak akan nyata. Pendapat ini lemah, sebab bila keduanya merupakan sifat nafsiyah, maka memastikan bahwa tidak dapat diterima akal wujudnya Zat tanpa keduanya. Hal tersebut bathil dengan argumen, bahwa wujud zat (tanpa keduanya) bisa diterima akal, kemudian baru dicari bukti atas wajibnya qidam dan Baqa’nya.

Ada sekelompok orang yang menyimpang. Mereka berpendapat, bahwa qidam dan Baqa’ merupakan sifat yang wujud yang ada pada Zat Allah, seperti ilmu

dan qudrah. Tidak samar lagi kelemahan pendapat ini, sebab memastikan bahwa keduanya juga bersifat gadim karena sifat qidam lain yang wujud (sebagaimana ilmu dan qudrah), dan bersifat juga Baqa’ karena sifat Baqa’ lain yang wujud (sebagaimana ilmu dan qudrah, kemudian pembahasannya beralih pada: ini adalah qidam dan Baqa’ lain, maka dalam keduanya terdapat kelaziman yang ada qidam dan Baqa’ yang pertama dan menetapkan tasalsul.

Yang lebih lemah dari pendapat Ini adalah pendapat orang yang membedakan antara qidam dan baga. la menyatakan bahwa qidam adalah sifat sabiyah dan Baqa’adalah sifat wujudiyah.

Pemahaman yang benar yang dipedomani ulama muhaqqiqun adalah keduanya merupakan sifat salbiyah. Maksudnya masing-masing dari keduanya merupakan ungkapan dari menafikan makna yang tidak pantas bagi Allah Ta’ala, dan keduanya tidak mempunyai makna yang maujud dalam kenyataan (dapat dilihat secara kasat mata) dari hati.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker