Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

Burhan Sifat Qudrah, Iradah, ‘Ilmu dan Hayat

Burhan wajib nya Allah bersifat qudrah, iradah dah ilmu dan hayat adalah andaikan salah satunya ternak ikan niscaya tidak ada makhluk apapun yang wujud.

Telah Anda ketahui, sungguh arsar qudrah azaliyyah Allah Ta’ala tergantung pada iradah-Nya atas arsar tersebut: iradah Allah Ta’ala pada atsar itu tergantung pada ilmu Allah terhadapnya: kebersifatan Allah dengan qudrah, iradah, dan ilmu tergantung pada kebersifatannya dengan hayat, karena hayat merupakan syarat bagi sifat-sifat tersebut, dan wujudnya masyruth tanpa adanya syarat adalah mustahil.

Bila demikian, maka wujudnya sesuatu yang hadits, apapun itu, tergantung pada kebersifatan penciptanya dengan keempat sifat ini. Andaikan salah satunya tidak ada, niscaya tidak akan wujud makhluk apapun, karena kepastian lemahnya pencipta tersebut dalam kondisi seperti ini.

Dengan ini jelaslah wajibnya wujud kebersifatan Allah dengan sifat-sifat tersebut pada azal Sebab andaikan sifat-sifat tersebut bersifat hadits niscaya penciptaannya tergantung pada kebersifatan Allah Ta’ala dengan sifat-sifat yang semisal dengannya sebelum sifat-sifat itu.

Kemudian pembahasan akan pindah pada sifat-sifat yang semisal dengannya itu, dan pasti terjadi tasalsul, padahal mustahil. Sehingga wujudnya sifat-sifat tersebut berdasarkan pengadaian ini adalah mustahil. Pengandaian itu juga mengarah pada konsekuensi yang telah disebutkan, yaitu tidak ada satu makhluk pun yang wujud.

Dengan gugurnya frase terakhir ini Anda juga mengetahui wajibnya kemenyeluruhan ta’alluq sifat-sifat tersebut pada muta’aliqnya, seperti ‘ilmu, qudrah, dan iradah. Sebab, andaikan sifat tersebut hanya bertaa’lluq pada sebagian muta’alignya, niscaya Allah butuh pada mukhasshis, sehingga sifat tersebut berstatus hadits, dan tidak mungkin penciptanya tidak bersifat dengannya, karena alasan yang telah Anda ketahui, yaitu wajibnya wahdaniyyah bagi Allah Ta’ala, dan kesendiriannya dalam menciptakan.

Penciptaan Allah Ta’ala pada sifat tersebut merupakan cabang kebersifatan Allah dengan sifatsifat lain yang semisal dengannya sebelum sifat-sifat itu, dan akan terjadi tasalsul sebagaimana tadi.

Dengan ini maka jelas bagi Anda, sungguh ada tiga hal yang disimpulkan dari burhan yang aku sebutkan dalam Kitab Asal al-Aqidah, yaitu: wujudnya sifat qudrah, iradah, Yimu, dan hayat ini, wajibnya qidamn dan Baqa’ baginya: ‘ dan wajibnya kemenyeluruhan ta’aluqnya pada muta’alliqnya.

Penulis telah memberi isyarat dalam Kitab Asal al-Aqidah, bahwa burhan yang disebutkannya adalah untuk menghasilkan tiga | kesimpulan ini.

Adapun wujud dan wajibnya sifat’ sifat tersebut, penulis memberi isyarat dengan ucapannya: “wajibnya Allah bersifat qudrah, iradah”, sebab wajibnya sifat-sifat ini memastikan wujudnya.

Penulis memberi Isyarat pada kesimpulan ketiga, yaitu kemenyeluruhan ta’alluqnya pada muta’allignya dengan yang dimasukkannya pada sifat qudrah’ dan sifat-sifat setelahnya. Sebab tersebut berfungsi menentukan, dan yang ditentukannya adalah sifat-sifat yang tra allugnya telah dijelaskan pada keterangan yang telah lewat. Wa billahi Taufiq.

Burhan sifat sama’, Bashar dan kalam

Burhan wajib nya sifat sama’, bashar, dan kalam bagi Allah Ta’ala adalah al-qur’an, as-Sunnah, dan ijma’. juga adek dan emboh tidak bersifat dengannya, pasti bersifat dengan kebalikannya, yakni sifat-sifat kekurangan padahal kekurangan bagi Allah ta’ala itu mustahil.

Ketika penunjukan mujizat atas kebenaran para Rasul-‘alaihimush shalatu was salam- tidak tergantung pada pengetahuan atas ketiga sifat ini maka pengetahuan atas wajibnya kebersifatan Allah dengan ketiganya menjadi sah disandarkan pada sabda Rasulullah-‘alaihish shalatu was salam-.

Dalil syar’i bagi ketiga sifat ini lebih kuat daripada dalil ‘aqli. Karenanya, dalam Kitab Asal al’Aqidah, aku memulai dengannya.

Ucapanku dalam Kitab Asal al-Aqidah pada dalil kedua yang bersifat aqli “Padahal kekurangan bagi Allah Ta’ala itu mustahil ‘, dalam kondisi seperti itu Allah pasti membutuhkan zat lain yang menyempurnakannya, yakni menghilangkan kekurangan dari-Nya dan menciptakan kesempurnaan bagiNya. Hal ini menetapkan huduts dan butuhnya Allah kepada tuhan lain. Bagaimana hal itu benar, padahal wajibnya sifat wahdaniyyah bagi Allah Ta’ala sudah ditetapkan dengan dalil.

Juga andaikan Allah Ta’ala bersifat dengan sifat-sifat kekurangan tersebut, maka pasti sebagian makhluk-Nya ada yang lebih sempurna dari-Nya-Maha Luhur Allah — darinya-karena — banyak makhluk yang terhindar darinya, padahal mustahil makhluk lebih mulia daripada Penciptanya.

Meskipun dalil ‘aqli ini tidak terhindar dari penentangan, penyebutan nya yang dilakukan dalam rangka mendukung dan menguatkan dalil syar’i yang sebenarnya sudah kuat dengan sendirinya dan tidak ada satu dalil naqli pun yang menyebutkannya, adalah hal baik. Dalam kitab asal al-‘Aqidah hal itu telah aku isyarat kan dengan melahirkan penyebutan nya. Wabillahit taufik.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker