Kebalikan Sifat Ma’nawiyah
Kebalikan Sifat-sifat ma’nawiyah sudah jelas dari kebalikan sifat-sifat ma’ani ini.
Maksudnya, sungguh ketika Anda telah mengetahui bahwa kebalikan qudrah yang menyeluruh adalah lemah dari melakukan hal mumkin, apapun itu, maka pasti kebalikan sifat ma’nawiyah yang menetapi sifat ‘ qudrah, yaitu kaunuhu qadiran (keberadaan Allah sebagai Zat Yang Maha Kuasa atas segala hal mumkin), adalah kaunuhu ‘ajizan (keberadaan Allah lemah) dari hal mumkin, apapun itu. Begitu pula seterusnya bagi setiap sifat ma’nawi, sifat yang menetapi kebalikannya adalah sifat ma’nawiyah yang menetapinya.
Setelah Kitab Asal selesai menyebutkan sifat wajib dan mustahil bagi Allah Ta’ala, di sini Kitab Asal menyebutkan bagian ketiga, yaitu sifat jai’z bagi Allah Ta’ala.
Lalu Kitab Asal menyebutkan bahwa sifat ja’iz bagi Allah Ta’ala adalah melakukan segala hal mumkin atau meninggalkannya. Bila demikian maka pahala, siksa, mengutus para nabia-Alaihimush shalatu was salamm termasuk di dalamnya.
Melakukan kebaikan dan yang paling baik (ash-shalah wa aliashlah) sekecil apapun bagi makhluk, tidak wajib bagi Allah Ta’ala. Sebab andaikan wajib bagiNya melakukan ash-shalahma alashlah seperti pendapat Mu’tazilah, niscaya tidak akan , terjadi siksaan di dunia dan akhirat, tidak akan ada taklif dengan perintah dan larangan Allah, dan hal itu gugur dengan keyataan yang ada: dan Allah tidak akan menakdirkan kemaslahatan besertaan dengan siksaan dan taklif sebab Allah Ta’ala Maha Kuasa memberi kemaslahatan tanpa disertai kesulitan dan ujian taklif dan juga kemaslahatan itu tidak menyeluruh bagi semua orang yang diberi ujian dan takli’f sebab ujian dan takli’f bagi orang yang dipastikan kufur—semoga Allah Ta’ala melindungi kita darinya adalah petaka yang sangat dahsyat dan jalan menuju kebinasaan abadi diakhirat.
Kami memohon kepada Allah Ta’ala atas keselamatan bagi agama dan dunia kami, khusnul khatimah tanpa ujian dan kesulitan.
Barohin
Burhan Wujud Allah
Burhan wujudnya Allah Ta’ala adalah kehudutsan alam. Sebab andaikan alam tidak ada yang menciptakan, namun ada dengan sendirinya, maka pasti ada salah satu dari dua hal yang sama, yang menyamai selainnya, dan yang mengunggulinya tanpa sebab, dan hal itu muhal. Dalil kehudutsan alam adalah selalu mencetapi sifat baru seperti bergerak, diam, dan selainnya. Padahal sesuatu yang selalu menetapi sifat baru adalah baru. Adapun dalil kehudutsan sifat baru adalah perubahan yang terlihat kasat mata, dari tidak ada menjadi ada, dan dari ada menjadi tidak ada.
Tidak samar lagi, bahwa alam yaitu langit, bumi, apa yang ada di dalam keduanya, dan apa yang ada di antara keduanya, merupakan jirm yang selalu menetapi sifat baru yang ada padanya, yaitu bergerak, diam, dan selainnya.
Sebaiknya kita batasi pada gerakan dan diam saja, sebab mengetahui kepastian jirm pada keduanya merupakan kebenaran yang pasti diakui oleh semua orang berakal. Lalu kita katakan:
“Tidak diragukan lagi wajibnya sifat huduts bagi masing-masing dari bergerak dan diam. Sebab andaikan salah satunya gadim, niscaya sama sekali ia tidak dapat tiada selamanya, sebab sesuatu yang telah diterapkan qidamnnya, maka mustahil keriadaannya.“
“Tidak samar lagi bahwa masing-masing dari bergerak dan diam pasti bisa tiada, sebab telah disaksikan ketiadaan masing-masing dari keduanya dengan wujud lawannya dalam berbagai jirm, sehingga hal itu memastikan kesamaan berbagai jirm dalam hal wujudnya salah satu dari bergerak dan diam dengan wujud lawannya.
Bila demikian, tetaplah kehudutsan keduanya dan mustahil wujud keduanya pada azali secara pasti, karena kemustahilan terlepasnya jirm dari keduanya.”
Kesimpulannya, kehudustan salah satu dari dua hal yang saling melazimi, secara pasti menetapkan kehudustan yang lainnya.
Ketika dengan penjelasan ini kehudustan alam telah jelas, maka pastilah kebutuhan alam terhadap zat yang menciptakannya. Sebab andaikan tidak ada penciptanya, namun tercipta dengan sendirinya, niscaya akan berkumpul dua hal yang saling menafikan, yaitu kesamaan dan keunggulan tanpa faktor yang mengunggulkan. Sebab (pada hakikatnya) wujud masing-masing alam itu sama dengan ketiadaannya, zaman wujudnya sama dengan zaman selainnya, ukuran yang terkhusus baginya sama dengan ukuran selainnya, tempat yang terkhusus baginya sama dengan tempat selainnya, arah yang terkhusus baginya sama dengan arah selainnya, dan sifat yang terkhusus baginya sama dengan sifat selainnya.
Inilah berbagai macam-macam hal yang di dalam masing-masing sifatnya terdapat dua hal yang sama. Andaikan salah satunya ada tanpa pencipta, niscaya ia telah mengungguli yang lainnya padahal ia menyamainya. Sebab penerimaan setiap jirm pada keduanya adalah sama. Kemudian sungguh menjadi tetap bahwa andaikan ada sesuatu dari alam yang wujud dengan sendirinya tanpa pencipta, maka pasti terjadi berkumpulnya kesamaan dengan keunggulan yang saling menafikan. Padahal hal tersebut muhal.
Bila demikian, andaikan Tidak ada Allah Ta’ala yang menentukan ketentuan- ketentuan khusus bagi masing-masing alam, niscaya tidak akan wujud alam sedikit pun. Maha suci Allah Zat yang kewajiban wujud-Nya ditunjukkan oleh kewajiban butuhnya semua kepadaNya-Tabaraka wa Ta’ala.
Maka maksud ucapanku: “Maka pasti ada salah satu dari dua hal yang sama” adalah wujud dan ketiadaan, ukuran tertentu dan selainnya, dan semisalnya dari beberapa hal yang telah aku : sebutkan barusan. Pembahasan selanjutnya sudah jelas. Wabillait taufiq.









One Comment