Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Syarah Ummul Barahin

Jahl, Maut Shamam, Ama, dan Bukm

Begitu pula mustahil bagi Allah (9) sifat jahl (bodoh) dan sifat yang semakna dengannya pada pengetahuan, apapun itu, 40) maut (mati), (11) shamam (tuli), (12) ama (buta) dan (13) bukm (bisu).

Maksud Kirab Asal dengan ungkapan”: “Dan sifat yang semakna dengan bodoh” adalah zhann (dugaan), syakk (keraguan) wahm (salah sangka), nisyan (lupa), naurm (tidur), keberadaan ilmu bersifat nazhari (penalaran), dan semisalnya. Kesimpulannya, yang dimaksud dengan jahl adalah segala hal yang sama dengan kebodohan dalam perlawanannya terhadap sifat ilmu. Semua hal ini termasuk dalam kategori jahl karena menafikan sifat ilmu sebagaimana penafian jahl.

Maksud shamarm (tuli) dan ‘ama (buta) di sini adalah sama sekali tidak adanya sifat mendengar dan melihat dengan adanya sifat yang menafikan keduanya: atau dengan tidak wujudnya suatu hal yang wujud dari sifat mendengar dan melihat, karena penjelasan yang telah lewat, yaitu wajibnya keterhubungan keduanya dengan segala hal yang wujud.

Sementara maksud bukm (bisu) adalah sama sekali tidak adanya sifat bicara karena adanya penyakit yang mencegah wujudnya bicara. Berbicara dengan huruf dan suara termasuk dalam kategori bukm. Sebab, bicara yang dengan ‘perantara huruf dan Suara Meskipun mencapai puncak balaghah dan kefasihan, dan sempurna bila dinisbatkan kepada makhluk yang penuh kekurangan, bila—dinisbatkan pada magam lahiyyah yang tinggi merupakan kekurangan yang sangat besar, sebab mempunyai dua kehinaan:

  1. Hina ketiadaan, yang pasti ada pada huruf dan suara, yaitu ketiadaan sebelum dan setelah wujudnya: dan yang menetapkan hudutsnya zat yang bersifat dengannya. Lalu, kekurangan apa yang lebih besar daripada kekurangan sifat huduts yang pasti membutuhkan pada selainnya selamanya?
  • Hina kebisuan, yang pasti ada pada huruf dan suara. Sebab, ketika dua huruf mustahil berkumpul dalam satu waktu, apalagi dua kata dan dua kalimat, maka zat yang berbicara dengan huruf dan suara pasti bisu, dan tercegah untuk menunjukkan beberapa -: pengetahuan dalam satu waktu dengan pembicaraan yang tersusun dari huruf dan suara. Andaikan kalam atau firman Allah Ta’ala berperantara huruf dan suara, maka kebersifatan Allah dengan tercegah berbicara-yang merupakan asal kebisuan dari menunjukkan berbagai pengetahuan yang tidak terbatas dengan sifat kalam memastikan bertambahnya kehinaan atas kehinaan sifat huduts, bahkan menetapkan ketercegahan menunjukan dua pengetahuan atau lebih dalam satu waktu dengan sifat kalam bagi-Nya.

Dengan ini maka jelas bagi Anda, bahwa kalam yang berperantara huruf dan suara, dan yang semakna dengannya yaitu kalam nafsi, menetapi makna bisu, maka Allah Jalla wa “Azza—mustahil bersifat dengan sifat yang semisal dengan keduanya: dan orang yang menyifati Allah-Jalla wa “Azza dengan sifat tersebut, dengan dasar bahwa yang semacam itu merupakan kesempurnaan bagi manusia yang menafikan kehinaan bisu dari kita, sungguh telah menyifati Allah Ta’ala dengan kekurangan yang sangat besar. Maha Luhur Allah darinya dengan keluhuran yang besar.

Analoginya dalam hal itu adalah orang yang mengetahui bahwa ringkikan keledai dan suaranya merupakan kesempurnaan baginya. Begitu pula gonggongan anjing merupakan kesempurnaan baginya. Lalu ia ditanya tentang ucapan salah seorang raja yang belum pernah didengarkannya sama sekali, kemudian menjawab: “Ucapannya seperti ringkikan keledai dan gonggongan anjing dengan meyakini bahwa suara dari keledai dan anjing tersebut ketika menjadi kesempurnaan yang mencegah keduanya dari kehinaan bersifat bisu, maka memastikan bahwa kebersifatan seorang raja dengan sifat seperti ini juga merupakan kesempurnaan baginya yang dapat menafikan kehinaan bisu darinya.

Dan dimaklumi secara pasti, bahwa orang yang menyifati raja dengan sifat seperti ini sungguh telah merendahkannya dengan serendah-rendahnya dan telah menyifatinya dengan macam kebisuan yang paling hina bagi kemanusiawiannya, meskipun tidak termasuk kebisuan bagi keledai dan anjing.

Tidak diragukan, bahwa ucapan kita meskipun mencapai puncak sastra dan keindahan, bila dinisbatkan kepada Allah pasti lebih rendah sampai tidak terhingga daripada ringkikan keledai dan gonggongan Anjing bila dinisbatkan pada ucapan yang terfasih dan terindah. Sebab di antara sesama makhluk tidak ada keutamaan karena zatnya, bahkan sifat kekurangan atau kesempurnaan yang ada pada salah satunya sah berada pada makhluk selainnya.

Adapun Allah—Subhanah—adalah Zat Yang Maha Berbuat dengan pilihan-Nya. Dia yang membeda-bedakan makhluk, menentukan sebagian makhluk yang dikehendakiNya dengan sifat kekurangan atau kesempurnaan yang dikehendaki-Nya.

Jika kesempurnaan sebagian makhluk bisa menjadi kekurangan yang sangat besar bagi selainnya yang dapat menerima sifatnya dan sama-sama hudutsnya, maka bagaimana dengan orang yang menyifati Allah Yang Maha Agung yang tidak ada permisalan bagiNya dan tidak menyekutui apapun selain-Nya dari sisi jenis dan macam, dengan sifat yang menyamai sifat-sifat makhluk yang penuh kekurangan yang menjadi kesempurnaan yang pantas dengan kekurangannya, sementara sifat- sifat itu merupakan sifat yang paling kurang dan paling rendah bila dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Menguasai, Maha Mulia Maha Agung, dan Maha Luhur?

Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi Musa-‘Alaihish shalatu was salam—bahwa beliau menutup kedua telinganya setelah kembali dari bermunajat dan mendengar kalam Allah sampai waktu yang cukup lama, agar tidak mendengar ucapan manusia sehingga mati karena keburukan dan kehinaannya secara hakiki bila dinisbatkan pada kalam Allah yang tiada banding. Beliau tidak mampu mendengar ucapan manusia sampai waktu yang lama dan Allah lupakan kenikmatan mendengar kalam-Nya yang pernah dicicipinya.

Ibn ‘Athaillah ra. telah mengutip kisah dari Makinuddin al-Asmar, seorang wali abdal bahwa ia pernah mimpi melihat bidadari yang kemudian berbicara kepadanya. Lalu sekitar dua atau tiga bulan berikutnya ia tidak mampu mendengar ucapan manusia kecuali muntah-muntah (karena keburukan dan kehinaannya)

Lihatlah kasus ini, bagaimana ucapan manusia bila dinisbatkan pada ucapan bidadari yang masih sejenis dengan ucapannya, lebih rendah dan lebih hina daripada suara keledai dan gonggongan anjing bila dinisbatkan pada ucapan manusia, sebab kita tidak menemukan orang yang muntah-muntah karena mendengar suara keledai dan gonggongan anjing, meskipun ia mendengarnya setelah mendengar ucapan terfasih dan terindah dari manusia. Bila demikian, bagaimana dengan penisbatan ucapan makhluk pada kalam Allah yang tidak ada padanannya dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya-Tabaraka wa Ta’ala— Penjelasan berikutnya sudah jelas.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker