Di usia itu pula Nabi saw dicabut nyawanya, beliau saw meninggal dunia dalam usia enam puluh tiga tahun menurut riwayat yang benar begitu juga Abu Bakar, Umar dan Ali ra.
Adapun Usman ra hidup sampai berumur delapan puluh tahun lebih.
Allah berfirman : “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur mu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pem beri peringatan?” (Qs. Fathiir : 37)
Ada yang berpendapat umur di atas ada enam puluh tahun seperti yang telah kami sebutkan tadi.
Pembawa peringatan adalah Al Qur’an atau rasul atau uban, disebutkan dalam hadits : “Allah tidak memberi udzur sedikitpun kepada seseorang yang telah Allah mundurkan ajalnya hingga mencapai enam puluh tahun.”
Sesungguhnya umat ini termasuk umat yang paling pendek umurnya, sedangkan umat-umat terdahulu ada yang berumur seribu tahun atau yang hampir mendekatinya bahkan ada yang lebih dari itu.
Seorang ulama berkata : “Pada umat terdahulu seseorang tidak akan mencapai usia baligh melainkan kalau usianya telah melampaui delapan puluh tahun.”
Bahkan diriwayatkan ada salah seorang yang meninggal dunia dalam usia dua ratus tahun sedangkan banyak orang orang di sekitarnya merasa kasihan terhadapnya karena umurnya yang pendek.
Juga diriwayatkan bahwa Ibrahim as menjalankan khitan pada usia delapan puluh tahun, ketika Allah menyuruhnya untuk berkhitan.
Diriwayatkan ketika Rasulullah saw merasa betapa pendeknya umur umatnya bila dibanding umat-umat terdahulu, beliau saw memohon kepada Allah untuk mereka karena bila usia mereka pendek berarti tidak akan panjang hari-hari mereka untuk taat kepada Allah dan beramal untuk akhirat mereka dengan demikian bagian mereka mencapai pahala Allah dan derajat yang tinggi akan sedikit sekali, lalu Allah memberinya malam lailatul qadar yang mana malam itu lebih baik dari seribu bulan sebagai ganti untuk memperpanjang umur mereka dan melipat gandakan pahala mereka hingga andaikan seorang dari mereka berbuat taat kepada Allah di malam itu seakan-akan ia telah beribadah seribu bulan dan hal itu lebih dari delapan puluh tahun.
Barangsiapa yang beribadah di malam lailatul qadar selama dua belas tahun seakan-akan ia telah hidup dalam keadaan beribadah kepada Allah selama seribu tahun atau lebih, coba renungkanlah jumlahnya, sudah pasti hal ini Allah anugerahkan kepada umat ini berkat rasul-Nya, besarnya kemuliaan beliau saw di sisi-Nya, besarnya perhatian beliau saw terhadap umatnya dan besarnya keinginan beliau saw agar umatnya mendapat kebaikan.
Di usia ini yaitu usia lanjut biasanya seseorang lebih banyak berharap kepada Allah, lebih memperhatikan bekal akhiratnya, hidup zuhud lebih tekun beribadah terutama bagi orang yang telah diberi taufik oleh Allah, di usia ini adalah waktu memperbanyak khusyu’, meninggalkan perbuatan yang sia-sia dan permainan yang tidak berguna.
Oleh karena itu, orang lanjut usia yang melakukan kebalikan dari perbuatan di atas dianggap orang yang buruk keadaannya dan jelek kepribadiannya.
Disebutkan dalam hadits shahih : “Ada tiga golongan kelak di hari kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak memandang mereka, tidak membersihkan mereka dan mereka mendapat siksa yang pedih, di antara yang disebutkan oleh Beliau saw adalah seorang tua yang berzina.”
Memang perbuatan ini sangatlah keji bagi siapapun tetapi lebih buruk dan lebih bejat lagi bila dilakukan orang yang lanjut usia, karena biasanya orang yang berada di usia ini lebih bertambah takut kepada Allah dan lebih malu kepada-Nya.
Di usia ini semakin banyak uban yang bermunculan, itulah cahaya seorang muslim seperti yang disebutkan dalam hadits : “Barangsiapa yang berambut uban dalam keadaan Islam, rambut itu akan menjadi cahaya baginya.”
Kami telah mendengar bahwa yang pertama kali beruban adalah Nabi Ibrahim as, ketika beliau melihat uban beliau bertanya : “Wahai Tuhan, apakah ini?” Tuhannya menjawab : “Itu adalah merupakan tanda kewibawaan,” Ia berkata : “Wahai Tuhan, tambahkanlah untukku.”
Rambut putih merupakan pengingat seseorang akan dekatnya ajal, pelipat hamparan angan-angan, penyeru dekatnya waktu keberangkatan dan cepatnya perpindahan, dikatakan : “Rambut putih adalah pertanda dekatnya ajal dan penolak angan-angan.”
Juga dikatakan : “Betapa buruknya melakukan kemaksiatan bila rambut telah beruban.”
Ibnu Nabata berkata : “Ketahuilah bahwa uban adalah celah kehidupan yang tidak dapat ditambal dan tidak dapat dibenahi kerusakannya oleh zaman, dialah cahaya yang muncul di atas rambut yang akan mengantar orang-orang ke tempat tumpukan tulang belulang, maka janganlah kalian membakar cahaya uban kalian dengan api dosa kalian.”
Nabi saw bersabda : “Allah ta’ala berkata : “Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, kesepakatan antara Aku dengan makhluk-Ku bahwa Aku malu kalau Aku menyiksa hamba-Ku laki-laki dan perempuan yang telah berusia lanjut dalam keadaan Islam.” Kemudian beliau saw menangis lalu ditanya : “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” Beliau saw menjawab : “Aku menangisi seseorang yang mana Allah malu kepadanya sedangkan ia tidak malu kepada Allah.”
Termasuk perkara yang dianjurkan adalah menghormati seorang muslim yang telah lanjut usia , Nabi saw bersabda : “Termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang lanjut usia, pengemban Al Qur’an yang tidak berbangga-bangga juga tidak menjauhinya dan imam yang adil.”
Nabi saw bersabda : “Tidak termasuk golongan kami seseorang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih kecil, menyuruh pada perbuatan yang ma’ruf dan melarang kemunkaran.”
Nabi saw bersabda : “Tidaklah seorang pemuda menghormati seorang yang sudah tua melainkan kelak setelah ia berada di usia tua Allah akan menjadikan dirinya dihormati orang.”
Imam Ghazali ra berkata : “Berdasarkan hadits ini tersirat kabar gembira bahwa umurnya akan dipanjangkan disertai dengan imbalannya.”









One Comment