Allah swt berfirman : “Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi.” (Qs. Qaaf : 21)
Hendaknya seorang ayah atau pengasuhnya meng ingatkan kembali anaknya saat menginjak dewasa tentang ilmu keimanan, perintah dan larangan bila sebelumnya mereka telah mengajari anaknya tentang perkara ini sebelum ia baligh karena saat ini ia telah berada di fase yang lain juga keadaan yang berbeda.
Meskipun ia telah dewasa dan telah menjadi seorang yang dikenai taklif perintah Allah swt, ia masih membutuhkan tambahan motivasi dan nasehat mengenai perkara di atas dari kedua orang tuanya juga kewajiban lainnya seperti shalat, puasa, meninggalkan perkara haram seperti zina, homo seksual, meminum minuman keras, merampas harta orang lain dengan cara yang batil seperti riba’, mencuri, berkhianat dan lain sebagainya.
Hal-hal ini meskipun termasuk perkara yang harus diketahui oleh seorang yang telah menginjak akil baligh, tetapi bila sebelum baligh ia tidak pernah mengenalnya, maka kewajiban orang tua menganjurkannya untuk mempelajarinya dan mengamalkannya melalui nasehat entah dengan cara mewajibkannya atau menganjurkannya dengan sangat, cara semacam ini berbeda-beda sesuai keadaan orang tua dan anak-anaknya.
Bila seorang anak telah menginjak akil baligh berarti ia telah memasuki permulaan masa remaja yang mana ia penuh semangat dan kuat, sudah sepantasnya di usia ini ia lebih banyak melakukan amal kebajikan dan menghindari kemaksiatan karena ia masih memiliki semangat yang tinggi dan kekuatan fisik yang masih sempurna juga usia yang masih muda, di samping itu usia ini merupakan masa yang membahayakan dan menghawatirkan karena kebanyakan pemuda di usia ini mereka lebih condong kepada kesenangan duniawi yang fana dan bermalas-malasan melakukan amal saleh.
Jarang sekali dijumpai remaja yang tumbuh dalam keadaan istiqomah dan taat, yang antusias beramal saleh dan meninggalkan kesenangan duniawi yang fana.
Oleh karena itu diriwayatkan dalam hadits : “Tuhanmu takjub terhadap seorang pemuda yang tidak ada dosanya.”
Bahkan Rasulullah saw menggolongkan pemuda yang tumbuh dalam lingkup ibadah kepada Allah termasuk salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya di hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.
Diriwayatkan bahwa Allah swt berkata : “Wahai yang meninggalkan kesenangannya demi Aku, engkau bagi-Ku seperti salah seorang malaikat-Ku.”
Jadi, sudah menjadi kewajiban seorang pemuda untuk benar-benar memelihara masa mudanya dari perbuatan yang dapat menjerumuskannya dalam murka Allah dan dari siksa-Nya yang pedih, hendaknya ia juga menjadikan masa mudanya sebagai tangga untuk menggapai ridha Allah swt dan pahalanya yang besar.
Hendaknya ia mengikuti wasiat Rasulullah saw karena beliau saw adalah orang yang paling menyayangi diri kita melebihi diri kita sendiri, bapak dan ibu kita, beliau saw bersabda : “Pergunakanlah lima perkara sebelum (datangnya lima perkara) : “Masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum masa sakitmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, kekayaanmu sebelum kefakiranmu, dan hidupmu sebelum matimu.” Nabi saw bersabda : “Tidaklah melangkah kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ia ditanyai tentang lima perkara : Tentang umurnya kemana ia habiskan? Masa muda-nya untuk apa ia pergunakan? Dan hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana ia belanjakan?”
Masa muda adalah masa untuk memperoleh berbagai macam keutamaan, ilmu-ilmu dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam agama dan lain sebagainya, salah seorang penyair menyinggung masalah ini :
Bila seorang pemuda telah mencapai usia dua puluh tahun Sedangkan ia belum mendapat prestasi yang membanggakan, maka tiada kebanggaan baginya.
Penyair lain berkata :
Bila engkau tidak dapat menjadi mulia di masa mudamu,
Maka selama hidupmu engkau tidak akan mendapat kemuliaan,
Bukankah masa gemilang dalam umurmu hanyalah di usia mudamu,
Ambillah darinya prestasi dan janganlah engkau menyia – nyiakannya.
Para salaf saleh yang berumur panjang dalam keadaan ibadah dan taat kepada Allah, mereka menganjurkan para pemuda untuk memanfaatkan masa muda mereka : “Pergunakanlah masa muda kalian sebelum kalian menjadi seperti kami saat ini.” Maksud mereka di usia yang tua renta nan lemah tidak dapat melakukan banyak amal saleh padahal di usia mereka yang demikian mereka telah mendahului para pemuda dalam berlomba-lomba menuju jalan Allah dan bersungguh-sungguh dalam mentaati-Nya.
Kemudian seorang pemuda akan berpindah dari masa muda ke masa dewasa, di masa inilah usia seseorang akan matang dan telah mencapai kesadaran yang sempurna.
Ibnu Al Jauzi telah membagi umur menjadi lima bagian :
- Masa kecil sampai ia menginjak umur lima belas tahun.
- Masa remaja (umur lima belas tahun) sampai ia menginjak umur tiga puluh lima tahun.
- Masa dewasa (umur tiga puluh lima tahun) sampai ia menginjak umur lima puluh tahun.
- Masa lanjut usia (umur lima puluh tahun) sampai ia menginjak umur tujuh puluh tahun.
- Masa tua renta (umur tujuh puluh tahun) sampai akhir umurnya.









One Comment