Para salaf saleh rahimahullah sangat takut terhadap su’ul khatimah (akhir yang buruk), cerita mereka mengenai hal ini banyak sekali dan akan panjang bila disebutkan, sesungguhnya ada riwayat yang membuat mereka takut seperti sabda Nabi saw : “Demi Dzat yang tiada Tuhan selain-Nya sesungguhnya seorang dari kalian berbuat seperti amalan penduduk surga hingga tiada jarak antara dia dengan surga kecuali sejengkal saja tetapi ia didahului ketentuan (kitab), kemudian ia berbuat amalan penduduk neraka hingga iapun dimasukkan ke dalam neraka, sesungguhnya seorang dari kalian berbuat seperti amalan penduduk neraka hingga tiada jarak antara dia dan neraka kecuali sejengkal, tetapi ia didahului ketentuan (kitab) lalu ia berbuat amalan penduduk surga hingga iapun dimasukkan ke dalam surga.”
Nabi saw bersabda : “Ada kalanya seseorang melakukan amal perbuatan penduduk surga yang nampak dalam pandangan masyarakat, sedangkan ia termasuk penduduk neraka, dan ada kalanya seseorang melakukan amal perbuatan penduduk neraka yang nampak dalam pandangan masyarakat, sedangkan ia termasuk penduduk surga.”
Riwayat semacam ini banyak sekali.
Para ulama berkata : “Yang paling banyak dikhawatirkan (naudzu billah) mengalami su’ul khatimah adalah orang-orang yang meremehkan shalat, selalu minum-minuman keras, pendurhaka kedua orang tua, orang yang suka mengganggu kaum muslimin juga yang terus menerus melakukan dosa besar tanpa bertaubat kepada Allah, hal ini diterangkan oleh firman Allah : “Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.” (Qs. Ar Ruum : 10)
Sebaiknya seorang muslim selalu mengharap karunia Allah agar Ia tidak mencabut kenikmatan Islam yang telah la berikan kepadanya terlebih dahulu tanpa permintaan darinya, di samping itu ia khawatir berubah karena ia kurang mensyukuri kenikmatan ini yang merupakan nikmat terbesar.
Salah seorang salaf pernah bersumpah dengan nama Allah bahwa tak seorangpun yang merasa aman dari tercabutnya islam dari dirinya kecuali ia pasti tercabut.
Hendaknya ia selalu memohon kepada Allah dengan penuh kesungguhan agar la berkenan memberinya khusnul khatimah.
Diriwayatkan bahwa iblis terla’nat berkata : “Telah memotong punggungku seseorang yang meminta kepada Allah khusnul khatimah, aku katakan : “Kapan ia akan merasa takjub terhadap amalannya, aku khawatir ia telah cerdas menyikapinya.”
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu demi cahaya wajah-Mu, demi kemuliaan-Mu atas diri-Mu, khusnul khatimah saat kematian bagi kami, orang-orang yang kami kasihi dan seluruh kaum muslimin wahai Dzat Yang Maha Penyayang.
Tuhan kami janganlah engkau belokkan hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk, berilah kami rahmat dari sisi-Mu sesungguhnya Engkau Maha Pemberi, Tuhan kami berilah kami kesabaran dan matikanlah kami dalam keadaan Islam.
Disunnahkan membaringkan orang yang sedang sekarat di sebelah kanannya sambil menghadap kiblat, jika ia telah meninggal hendaknya kedua matanya dipejamkan karena kala itu pandangannya tertuju ke atas, disebutkan dalam hadits : “Sesungguhnya pandangan mata mengikuti ruh.”
Dan di saat itu sebaiknya orang-orang yang ada di sekitarnya memperbanyak istighfar untuknya, memintakan rahmat untuknya dan banyak berdoa karena para malaikat mengamini doa mereka. Adapun menangis diperbolehkan tetapi bersabar lebih baik dan lebih utama.
Adapun menjerit, menyebut-nyebut sifat si mayit, menaburkan tanah di atas kepala, menampari wajah dan merobek pakaian, semuanya diharamkan secara keras berdasarkan larangan dan ancaman dari riwayat-riwayat hadits yang shahih.
Dimakruhkan seseorang menginginkan kematian atau berdoa memohon kematian hanya karena bencana yang menimpanya seperti penyakit atau kemiskinan atau bencana lainnya, kalau ia memang takut terjadi fitnah dalam agamanya ia boleh mendambakan kematian dan terkadang hal ini disunnahkan, Nabi saw bersabda : “Jangan sampai seorang dari kalian mendambakan kematian karena bencana yang menimpanya, kalau memang harus demikian hendaknya ia berdoa : “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku dan matikanlah aku bila kematian lebih baik bagiku.”
Nabi saw bersabda : “Janganlah seorang dari kalian mendambakan kalian, kalau ia orang yang baik semoga kebaikannya ditambah, kalau ia orang yang jahat semoga ia bertaubat.”
Sesungguhnya kematian merupakan ketetapan bagi seluruh manusia baik kalangan khusus maupun umum, dalam hal ini Allah menyama ratakan antara yang kuat dan yang lemah, yang hina dan yang mulia, dengannya la menghancurkan orang-orang yang kejam, dengannya la membinasakan para kaisar dan raja. Ia menjadikannya anugerah yang paling berharga dan kedekatan bagi orang beriman dan bertakwa, sedangkan bagi orang-orang kafir dan munafik dijadikan sebagai penyesalan dan hukuman yang berat.
Maha Suci Dzat Yang Maha Berkuasa lagi Maha Perkasa, Maha Esa, selalu dalam keesaan-Nya dan kekekalan-Nya, terlepas dari kematian dan kehancuran, Dialah Maha Awal tanpa permulaan dan Maha Akhir tanpa batas, Allah berfirman : “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Qs. Ar Rahman : 26-27)
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-NYalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qhashash : 88)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sesungguhnya ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)









One Comment