Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sabilul Iddikar Karya Habib Abdullah Bin Alawi

Para ulama lainnya telah membagi umur sama seperti yang beliau bagi atau hampir sama.

Setelah seseorang mencapai akal yang sempurna dan umur yang cukup hanya tinggal menunggu datangnya kebijaksanaan dan pengetahuan dari Allah, juga timbulnya rasa pasrah yang lebih kepada Allah bagi seorang hamba yang diberi taufik dan yang selalu mendapat perhatian khusus dari Allah, Allah swt berfirman :

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al Qashash : 14)

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai.” (Qs. Al-Ahqaf : 15)

Ketika Rasulullah saw baru berumur empat puluh tahun Allah menurunkan wahyu kepadanya dan mengutusnya kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pembawa peringatan.

Hampir bisa disimpulkan dalam usia dewasa ini tanda tanda jalan hidup seseorang, baik dan buruknya, saleh dan rusaknya dengan tanda-tanda yang dominan padanya, bahkan kami mendengar bahwa seseorang jika telah mencapai usia empat puluh tahun tetapi kebaikannya tidak dapat melebihi keburukannya, maka setan akan mengusap wajahnya dan berkata : “Aku bersumpah demi bapakku, wajah ini tidak akan beruntung.”

Juga dikatakan : “Barangsiapa yang telah mencapai usia empat puluh tahun tetapi kebaikannya tidak melebihi kejelekannya hendaknya ia bersiap-siap menuju neraka.”

Usia empat puluh tahun adalah umur yang Allah beritakan tentangnya : “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathiir : 37)

Hal ini menurut salah satu pendapat ulama tetapi ada pendapat lain yang menyatakan yaitu enam puluh tahun, tetapi pendapat di atas lebih diunggulkan.

Syeikh Al Arif Abdul Wahab bin Ahmad Asy Sya’rani menyebutkan dalam kitab Bahrul Maurud : “Kami diikat perjanjian ketika kami berumur empat puluh tahun untuk melipat kasur tidur (mengurangi tidur) kecuali hanya sekejap, kami tidak lupa dalam setiap nafas bahwa kami adalah para musafir menuju akhirat sehingga tiada tempat untuk berpijak bagi kami sedikitpun di dunia ini, dan agar kami meyakini bahwa sesaat dari umur kami setelah usia empat puluh tahun adalah menyamai seratus tahun sebelumnya, begitu juga agar kami setelah berusia empat puluh tahun tidak bersantai-santai, tidak tersibukkan oleh pekerjaan dan tidak gembira sedikitpun akan materi duniawi, ini semua dikarenakan setelah empat puluh tahun umur semakin pendek dan tidak pantas bagi orang yang akan menghadapi dahsyatnya kematian untuk lalai, bersantai dan bermain-main.”

Imam Malik berkata : “Kami mendapati segolongan orang mereka mempelajari fiqih sampai umur empat puluh tahun, setelah mencapai umur empat puluh tahun mereka sibuk mengamalkan ilmu mereka sehingga tiada waktu kosong untuk menoleh sedikitpun pada materi duniawi.”

Ketika Imam Syafiii berusia empat puluh tahun beliau berjalan menggunakan tongkat, kalau ada yang bertanya kepadanya mengenaia hal ini beliau berkata : “Agar aku teringat bahwa aku seorang musafir.” Beliau juga berkata : “Demi Allah, sekarang ini aku merasa diriku bagaikan seekor burung yang terkurung dalam sangkar, burung-burung yang lain telah keluar darinya terbang di udara hingga tinggal dia sendiri dalam keadaan pincang dalam sangkar, begitu juga keadaanku sekarang, tiada yang tersisa dari keinginanku untuk tinggal di dunia ini, tak ada seorangpun temanku yang kuperkenankan memberiku sedekah atau menyebut sedikipun mengenai dunia di hadapanku kecuali yang memang diharuskan oleh syariat atasku, yang menjadi saksi antara aku dan dia adalah Allah bila ia berani menyebut sedikit tentang dunia selain yang diwajibkan atasku, akan aku katakan : “Cukuplah Allah sebagai penolongku dan semoga Allah menjadikan seluruh saudara-saudaraku juga demikian amin.”

Wahab bin Munabih ra berkata : “Aku pernah membaca sebuah kitab yang isinya mengatakan : “Bahwa setiap pagi ada malaikat yang berseru dari langit keempat : “Wahai orang-orang yang berumur empat puluh tahun kalian adalah tanaman yang sudah mendekati masa panennya, wahai orang orang yang berumur lima puluh apa yang telah kalian lakukan? Dan apa yang kalian tinggalkan? Wahai yang berumur enam puluh tidak ada udzur lagi bagi kalian, andaikan seluruh makhluk tidak pernah diciptakan, andaikan mereka diciptakan dan mereka mengetahui untuk apa mereka diciptakan, telah tiba saatnya, berhati-hatilah kalian.”

Yang berusia dewasa akan berpindah ke masa tua yaitu dari usia lima puluh ke tujuh puluh seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi. Allah swt berfirman : “Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu, (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (Qs. Ghafir / Mukmin : 67)

Dalam usia ini mulai nampak pada manusia tanda kelemahannya dan kekuatannya semakin berkurang dan mundur hingga kekuatan berubah menjadi lemah, saat inilah yang disebutkan oleh Nabi saw sebagai persiapan kematian yaitu antara enam puluh sampai tujuh puluh.

Nabi saw bersabda : “Panen usia umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker