Nabi saw selalu memperbanyak memohon perlindungan dari siksa kubur dan beliau saw menganjurkannya dibaca dalam doa setelah bacaan tasyahud setiap shalat dan pada bacaan pagi dan petang karena adzab kubur dan kenikmatannya merupakan perkara yang nyata.
Kenikmatan dalam kubur diperuntukkan bagi orang orang beriman dan taat sedangkan siksa kubur diperuntukkan bagi orang kafir, munafik dan suka berbuat maksiat, masing masing dari kedua golongan ini berbeda-beda dalam mendapat kenikmatan dan siksaan sesuai tingkatan amal perbuatan mereka di dunia baik itu perbuatan yang membuahkan pahala dan kenikmatan atau yang membuahkan hukuman dan siksaan.
Lain daripada itu kenikmatan kubur atau siksa-annnya lebih banyak dirasakan oleh ruh daripada dirasakan oleh tubuh, padahal keduanya yaitu ruh dan jasad sama-sama merasakan kenikmatan kubur atau siksanya.
Dalam hal ini terdapat permasalahan dan perbedaan pendapat tetapi pendapat yang benar adalah yang kami sebutkan bahwa ruh dan jasad sama-sama merasakan nikmat kubur atau siksanya insya Allah.
Di antara perkara yang Allah jadikan manfaat dan menjadi perisai bagi seorang mayit dalam kubur adalah berdoa untuknya, memohon ampun dan bersedekah atasnya, hal ini telah dituturkan oleh banyak riwayat begitu juga mimpi mimpi yang baik dari orang-orang saleh.
Disebutkan dalam hadits bahwa Sa’ad bin Ubadah ra bertanya kepada Rasulullah saw : “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, andaikan ia masih hidup ia pasti bersedekah, apa kiranya berguna baginya bila aku bersedekah atasnya?” Beliau saw menjawab : “Ya.” Lalu saat menggali sebuah sumur dan ia berkata : “Ini sedekah atas ibuku.”
Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kedua orang tuaku telah meninggal dunia, apakah masih ada yang bisa aku lakukan untuk berbakti pada keduanya?” Beliau saw menjawab : “Ada empat perkara : memohonkan ampunan untuk keduanya, menepati janji keduanya, berbuat baik kepada sahabat kedua-nya dan menyambung tali kerabat yang tidak terhubung kecuali melalui keduanya.”
Diriwayatkan dari Nabi saw : “Kalau bukan karena orang-orang yang masih hidup, pasti celakalah orang-orang yang telah mati.”
Karena orang-orang yang telah meninggal dunia mendapat kiriman doa, istighfar dan permohonan rahmat untuk mereka dari orang yang masih hidup.
Nabi saw bersabda : “Umatku adalah umat yang dirahmati, memasuki liang kubur dengan membawa dosa sebesar gunung dan keluar dari kubur sedangkan mereka telah diampuni berkat permohonan ampun dari mereka yang masih hidup untuk mereka yang sudah mati.”
Diriwayatkan bahwa hadiah-hadiah berupa sedekah, bacaan doa dan bacaan Al Qur’an dari yang masih hidup untuk yang sudah mati akan dibawa oleh para malaikat kepada mereka dalam wadah dari cahaya yang tertutup oleh kain-kain sutera, para malaikat berkata kepada salah seorang dari mereka : “Inilah hadiah yang dikirim oleh si Fulan kepadamu,” hingga si mayit senang dan bergembira atas kiriman ini.”
Kami pernah mendengar bahwa ada seseorang bermimpi melihat salah seorang yang telah meninggal dunia, ia ditanya tentang keadaannya lalu ia menjawab : “Aku disambut oleh malaikat dengan kobaran api neraka untuk membakar wajahku, lalu si Fulan yang masih hidup berkata : “Semoga Allah merahmati si Fulan,” hingga api itupun padam.”
Hadiah yang paling besar berkah dan manfaatnya untuk orang mati adalah bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan pahalanya kepada mereka.
Hal semacam ini telah dilakukan oleh umat Islam selama berabad-abad dan di berbagai tempat, para ulama dan orang-orang saleh dari kalangan salaf dan khalaf telah menganjurkannya dan ada beberapa hadits yang menyebutkannya hanya saja hadits-hadits itu dhoif, sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafidz Suyuti ra bahwa hadits-hadits dhoif boleh diamalkan untuk fadilah amalan dan hal ini termasuk dari sekian fadilah itu.
Di antara kiriman hadiah bacaan Al Qur’an yang paling bermanfaat untuk orang-orang yang telah mati (dan memang seluruh surat dari Al Qur’an bermanfaat penuh dengan keberkahan), bacaan itu adalah membaca surat Al Ikhlas sebelas kali, hal ini telah dibuktikan melalui mimpi-mimpi yang penuh keberkahan dari para salihin.
Oleh karena itu, hendaknya seseorang membaca surat ini sesuai jumlah di atas baik setiap malam atau setiap hari atau dalam jumlah yang lebih banyak atau kurang darinya meskipun pada setiap malam jum’at dan menghadiahkan pahalanya untuk kedua orang tua, guru-gurunya dan orang orang yang berhak atasnya.
Jangan sampai ia lupa mendoakan, membacakan istighfar dan bersedekah untuk orang yang telah meninggal hingga kelak setelah ia mati ia akan dilupakan oleh orang-orang setelahnya dan menjadi seperti orang-orang yang sebelumnya, karena orang yang mengingat ia akan diingat, dan yang melupakan akan dilupakan, perbuatan baik bagaikan hutang dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.
Ketahuilah bahwa berziarah kubur merupakan perkara yang dianjurkan dan Rasulullah saw telah mengizinkannya setelah sebelumnya beliau saw melarang hal ini, ziarah kubur orang memiliki banyak manfaat bagi peziarah yang hidup dan mati yang diziarahi.
Nabi saw bersabda : “Ziarahilah kaubur karena ia dapat mengingatkan akan kematian.”
Nabi saw bersabda : “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziaralah karena sesungguhnya ia dapat menimbulkan rasa zuhud di dunia dan mengingatkan kalian pada akhirat.”
Nabi saw bersabda : “Tak seorangpun yang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di dekatnya melainkan ia akan merasa senang kepadanya dan ruhnya dikembalikan kepadanya sampai orang itu bangun dari tempat itu.”
Nabi saw bersabda : “Yang paling menyenangkan seorang mayit dalam kuburnya adalah bila ia dikunjungi oleh orang yang ia cintai semasa di dunia.”
Bagi peziarah bila memasuki pemakaman atau melewatinya hendaknya ia mengucapkan : “Salam sejahtera bagi kalian tempat orang-orang beriman, kelak akan ditepati janji kalian dan kami insya Allah akan mengikuti kalian, kalian pendahulu kami dan kami pengikut kalian, aku memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian, ya Allah ampunilah kami dan mereka.”
Disunnahkan berziarah malam jum’at dan hari jum’atnya, begitu juga malam sabtu sampai batas waktu terbitnya matahari sabtu pagi, begitu juga hari senin karena dikatakan : “Bahwa ruh-ruh orang yang telah meninggal dunia kembali ke kubur mereka di waktu-waktu ini.” Dan hal ini telah disebutkan oleh berbagai riwayat.









One Comment