Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Sabilul Iddikar Karya Habib Abdullah Bin Alawi

Jika seseorang jatuh sakit hendaknya ia segera bertaubat, lebih banyak beristighfar dan berdzikir kepada Allah juga memohon ampun kepada-Nya atas dosa-dosanya di masa lalu, karena ia tidak tahu bisa jadi ia akan meninggal di waktu sakit ini, bisa jadi ajal telah mendekatinya agar ia mengakhiri amal perbuatan dan menutup usia dengan berbagai kebaikan karena amal perbuatan tergantung pada akhirnya.

Penyakit merupakan pengingat akan akhirat dan pengingat ia akan kembali kepada Allah, sebab itu ia harus memberi wasiat apa yang perlu ia wasiatkan yang berkenaan tentang kepentingan urusan dunia akhiratnya terutama yang berkaitan dengan hak-hak orang lain karena perkara ini sangatlah berat dan sulit untuk terlepas darinya.

Dikala ia sakit sebaiknya ia benar-benar berprasangka baik kepada Allah, Nabi saw bersabda : “Jangan sampai seorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia berprasangka baik kepada Allah.”

Hendaknya perasaan inilah lebih banyak menguasai hatinya, karena Allah berkata : “Aku tergantung prasangka hamba-Ku terhadap Ku dan Aku menyertainya saat ia menyebut-Ku.”

Suatu kali Rasulullah saw pernah mengunjungi seorang pemuda yang jatuh sakit, beliau saw bertanya : “Bagaimana engkau dapati keadaanmu? Ia menjawab : “Aku mengharap (rahmat) Tuhanku dan aku takut akan dosa-dosaku,” lalu beliau saw bersabda : “Tidaklah kedua perasaan ini berkumpul dalam hati seorang muslim di saat semacam ini melainkan Allah akan memenuhi harapannya dan mengamankannya dari apapun yang ia takuti.”

Meski demikian hendaknya seorang yang sakit lebih besar pengharapannya terutama jika mulai nampak tanda-tanda kematian dan dekatnya ajal agar ia meninggal dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah dan berharap penuh pada keluasan karunia-Nya dan senang bertemu dengan-Nya.

Disebutkan dalam hadits : “Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya dan barangsiapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak suka bertemu dengannya.”

Juga ada riwayat yang semakna : “Sesungguhnya seorang hamba muslim bila ajal datang menjemputnya ia akan diberi kabar gembira akan rahmat Allah dan karunia-Nya hingga ia senang bertemu dengan Allah dan Allah pun senang bertemu dengannya, dan sesungguhnya seorang munafik bila ajal datang menjemput ia diberi kabar akan siksa Allah hingga ia benci bertemu dengan Allah dan Allahpun benci bertemu dengannya.”

Orang-orang mukmin yang bertakwa akan diberi kabar gembira tentang rahmat Allah ketika mereka hendak meninggal dunia hingga hampir saja ruh-ruh mereka melayang dari jasad mereka karena rindu kepada Tuhan mereka dan senang bertemu dengan-Nya ketika malaikat memberi salam kepada mereka dan mengabarkan bahwa mereka akan masuk surga juga mereka tidak akan mengalami ketakutan ataupun kesedihan.

Allah berfirman : “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) : “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. An Nahl : 32)

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami ialah Allah.” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepaa mereka (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.

Sampai pada firman-Nya : Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Fushshilat : 30-32)

Bagi orang yang sakit hendaknya ia berhati-hati jangan sampai tubuhnya atau bajunya terkena najis yang dapat menghalanginya menunaikan shalat, jangan sampai ia meninggalkan shalat dan hendaknya ia menunaikannya sesuai keadaannya, dalam keadaan duduk atau berbaring semampunya karena jangan sampai amal perbuatannya ditutup dengan menghilangkan tiang agama yaitu shalat.

Sedangkan bagi keluarga dan sahabatnya yang berada di sekitarnya hendaknya menganjurkan dan membantunya menunaikan shalat.

Ia perlu mengetahui bahwa kewajiban shalat tidak akan gugur darinya selama ia masih sadar dan hendak-nya ia banyak membaca : Telah diriwayatkan : “Barangsiapa yang membacanya sebanyak empat puluh kali lalu ia meninggal dunia karena sakit itu ia meninggal dalam keadaan syahid.”

Selain itu hendaknya ia banyak membaca surat Al Ikhlas.

Termasuk bacaan yang disebutkan oleh Rasulullah saw bahwa barangsiapa yang membacanya ketika ia sakit, kemudian ia meninggal karena sakit itu ia tidak akan disentuh oleh api neraka, bacaan itu adalah : Bila orang yang sakit semakin parah penyakitnya dan sudah nampak tanda-tanda ajal mendekat, yang harus dilakukan oleh keluarga maupun kerabat yang hadir di sekitarnya melihatnya bila mereka menjumpai tanda-tanda ketakutan padanya hendaknya mereka mengingatkannya akan amal baiknya, keluasan rahmat Allah, besarnya ampuan Allah bagi orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang kurang beramal saleh, dahulu para salaf saleh menganjurkan hal ini kepada orang-orang yang hadir di hadapan orang orang yang sekarat bahkan di antara salaf yang dalam keadaan sekarat meminta para hadirin untuk melakukan hal ini.

Termasuk perkara yang dianjurkan adalah mereka mentalqininya ucapan laa ilaaha illallah karena Nabi saw bersabda : “Talqinilah orang yang akan mati di antara kalian bacaan laa ilaaha illallah, karena barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallah ia akan masuk surga.”

Bila ia telah membacanya tidak perlu diingatkan kembali kecuali bila ia berbicara yang lainnya.

Hendaknya juga dibacakan surat Yasin yang penuh berkah karena Nabi saw bersabda : “Bacakanlah surat Yasin bagi orang yang akan mati di antara kalian.”

Dikatakan : “Hal ini dapat memudahkan keluarnya ruh karena kematian sangatlah dahsyat dan terkadang dimudahkan bagi sebagian orang yang beriman.”

Mengenai riwayat bahwa malaikat maut berkata : “Sesungguhnya aku sangat berlemah lembut terhadap setiap mukmin.” Terkadang orang yang sekarat saat nyawa mereka dicabut menghadapi berbagai macam fitnah naudzu billah. Oleh sebab itu, hendaknya orang-orang yang hadir banyak membacakan Al Qur’an, mengingatkannya dengan hadits hadits yang berisi pengharapan dan cerita orang-orang saleh saat mereka meninggal dunia.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setan terla’nat lebih dekat kepada seorang hamba menjelang kematiannya karena ia ingin menggodanya tetapi : “Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (Qs. An Nahl : 100)

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat ; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim : 27)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker