Firman Allah SWT.:
“Dan tak ada orang yang benci kepada agama Ibrahim itu … sampai akhir ayat” (Surat Al-Baqarah ayat 130)
Berkata Ibnu ‘Uyainah: “Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam menyeru kedua keponakannya Salamah dan Muhajir agar masuk Islam, katanya kepada mereka: “Kalian telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah berfirman dalam Taurat: “Sesungguhnya Aku akan membangkitkan dari anak cucu Ismail seorang nabi yang bernama Muhammad. Maka barangsiapa yang beriman kepadanya, berarti ia telah beroleh petunjuk dan berada dalam kebenaran, sebaliknya yang tidak beriman, maka ia akan menjadi seorang yang terkutuk!” Maka Salamah pun masuk Islam, sebaliknya Muhajir menolak, maka turunlah ayat mengenai dirinya.
Firman Allah SWT.:
“Dan mereka berkata “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani”, (Surat Al-Baqarah ayat 135)
Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Sa’id atau oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya: “Berkata Ibnu Surya kepada Nabi SAW.: “Tidak ada petunjuk, melainkan yang kami anut, maka itulah kami hai Muhammad, niscaya Anda akan beroleh petunjuk pula! Dan orang-orang Nasrani mengatakan seperti itu pula, maka Allah pun menurunkan: “Dan mereka berkata: “Jadilah kamu sebagai penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu beroleh petunjuk!” (Surat Al-Baqarah ayat 135)
Firman Allah SWT.:
“Orang-orang yang bodoh atau kurang akalnya di antara manusia akan mengatakan … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 142)
Berkata Ibnu Ishaq: “Diceritakan kepada saya oleh Ismail bin Abi Khalid dari Abu Ishaq dari Barra, katanya: “Rasulullah SAW. biasa melakukan salat ke arah Baitul Maqdis dan sering melihat ke langit menunggu perintah Allah. Maka Allah pun menurunkan “Sungguh, Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke arah kiblat yang kamu-sukai. Maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram!” (Surat Al-Baqarah ayat 144). Beberapa orang kaum muslim berkata: “Kita ingin sekiranya dapat mengetahui bagaimana nasibnya sahabat-sahabat kita yang meninggal sebelum kiblat dipindahkan, begitu pula nasib salat kita ke arah Baitul Maqdis. Maka Allah pun menurunkan: “Dan tidaklah Allah akan menyia-nyiakan imanmu” (Surat Al-Baqarah ayat 143). Dan orang-orang bodoh atau kurang akalnya di antara manusia berkata: “Apakah yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat mereka semula?” Maka Allah pun menurunkan: “Orang-orang yang bodoh atau kurang akalnya di antara manusia akan mengatakan … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 142)
Banyak dijumpai jalur-jalur seperti itu. Dan dalam kedua sahih diterima dari Barra’ bahwa sebelum kiblat dialihkan, beberapa orang laki-laki telah meninggal dan terbunuh, dan kami tidak tahu apa yang seharusnya diucapkan kepada mereka. Maka Allah pun menurunkan “Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan imanmu”. (Surat Al-Baqarah ayat 143)
Dan diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari jalur As-Suddi dengan isnadisnadnya katanya: “Tatkala kiblat Nabi SAW. dipalingkan ke Ka’bah setelah tadinya ke Baitul Maqdis, orang-orang musyrik warga Mekah berkata: “Agama Muhammad telah membingungkan, hingga sekarang ia berkiblat ke arahmu dan menyadari bahwa langkahmu lebih beroleh petunjuk daripada langkahnya, bahkan ia telah hampir masuk ke dalam agamamu”. Maka Allah pun menurunkan “Agar tak ada alasan bagi manusia untuk menyalahkanmu … Sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 150)
Firman Allah SWT.:
“Dan janganlah kamu katakan terhadap orang yang terbunuh … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 154)
Diketengahkan oleh Ibnu Mandah dalam kitab As-Sahabahnya dari jalur AsSuddis Sagir dari Kalbi, dari Abu Salih dari Ibnu Abbas, katanya: “Tamim bin Hammam gugur di Badar, dan mengenai dirinya serta lain-lainnyalah turun ayat “Dan janganlah kamu katakan terhadap orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati …….. sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 154)
Kata Abu Na’im: “Mereka sepakat bahwa ia adalah Umair bin Hammam dan bahwa As-Suddi telah melakukan kesalahan dalam menyebutkannya”.
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya Safa dan Marwah … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 158) Diketengahkan oleh Syaikhan, dan lain-lain dari Urwah dari Aisyah, katanya kepada Aisyah: “Bagaimana pendapat Anda tentang firman Allah “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian dari syiar-syiar Allah”. Maka ba. rang siapa yang beribadah Haji ke Baitullah atau berumrah, maka tak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa’i di antara keduanya”. (Surat Al-Baqarah ayat 158)
Saya lihat tak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bersa’i di antara keduanya”. Jawab Aisyah: “Buruk sekali apa yang kamu katakan itu, wahai ke ponakanku! Sekiranya ayat itu menurut apa yang kamu takwilkan, tentulah dia akan berbunyi: ‘Maka tidak ada dosa baginya untuk tidak melakukan di antara keduanya” (Surat Al-Baqarah ayat 158). Tetapi sebenarnya ia diturunkan terhadap orang-orang Ansar. Sebelum masuk Islam mereka mengadakan upacara-upacara ke berhala Manat dan sesudah masuk Islam sebagian warganya merasa keberatan untuk sa’i di antara Safa dan Marwah. Lalu mereka tanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW., kata mereka: “Wahai Rasulullah, kami merasa keberatan untuk sa’i di antara Safa dan Marwah di masa jahiliyah”. Maka Allah pun menurunkan: “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian di antara syiar-syiar Allah … sampai dengan firman-Nya “maka tak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa’i di antara keduanya”. (Surat Al-Baqarah ayat 158).
Diketengahkan oleh Bukhari dari Asim bin Sulaiman katanya: “Saya tanyakan kepada Anas tentang Safa dan Marwah”. Jawabnya: “Selama ini kami menganggapnya sebagai urusan jahiliyah, dan setelah Islam datang kami m nahan diri untuk membicarakannya. Maka Allah pun menurunkan “Sesungguhnya Safa dan Marwah termasuk dalam syiar-syiar Allah”. (Surat Al-Baqarah ayat 158)
Diketengahkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas, katanya: “Di masa jahilivah. setan-setan gentayangan sepanjang malam di antara Safa dan Marwah, dan di antara keduanya itu terdapat berhala-berhala mereka. Maka tatkala Islam datang, kaum muslim pun mengatakan: “Wahai Rasulullah, kami tak hendak sa’i lagi di antara Safa dan Marwah. Cukuplah kami melakukannya di masa jahiliyah”. Maka Allah pun menurunkan ayat ini”.
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan … sampai akhir ayat” (Surat Al-Baqarah ayat 159)
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalur Sa’id atau Ikri mah dari Ibnu Abbas, katanya: “Mu’az bin Jabal, Sa’ad bin Mwaz dan Kharijah bin Zaid menanyakan kepada beberapa orang pendeta Yahudi ten tang sebagian isi Taurat. Mereka merahasiakannya dan tak hendak membu kakannya. Maka Allah pun menurunkan tentang mereka. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk yang telah Kami turunkan … sampai akhir ayat” (Surat Al-Baqarah ayat 159)
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 164)
Diketengahkan oleh Sa’id bin Mansur dalam Sunan-nya dan Faryabi dalam Tafsir-nya, serta Baihagi dalam “Syu’abul Iman” dari Abu Duha, katanya: Tatkala turun ayat “Tuhanmu ialah Tuhan Yang Satu, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. (Surat Al-Baqarah ayat 163) orang-orang yang musyrik pun merasa heran dan mengatakan: “Tuhan Yang Satu?” Sekiranya ia benar, cobalah datangkan sebuah tanda atau buktinya kepada kami!” Maka Allah pun menurunkan “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi … sampai dengan firman-Nya bagi kaum yang mengerti” (Surat Al-Baqarah ayat 164). Kata saya: “Hadis ini mw’addal, tetapi ada hadis lain yang menjadi saksinya, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Syeikh dalam Kitab Al-Azamah yang diterima dari Ata’, katanya: “Kepada Nabi SAW. di Madinah turun ayat “Tuhanmu ialah Tuhan yang satu, tiada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Surat AlBaqarah ayat 163). Maka orang-orang kafir Quraisy di Mekah pun berkata: “Mana mungkin manusia yang begitu banyak diatur hanya oleh satu Tuhan.” Lalu Allah pun menurunkan: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi … sampai dengan firman-Nya bagi kaum yang mengerti”. (Surat AlBaqarah ayat 164)
Dan diketengahkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari jalur yang baik dan bersambung —mausul dari Ibnu Abbas katanya: “Orang-orang Quraisy mengatakan kepada Nabi SAW.: “Mohonkanlah kepada Allah agar Bukit Safa dijadikannya bagi kami sebuah bukit emas hingga menjadi kekuatan bagi kami untuk menghadapi musuh-musuh kami. Maka Allah pun mewahyukan kepadanya: “Baiklah, Aku akan memberikannya kepada mereka, tetapi sekiranya mereka kafir lagi sesudah itu, maka Aku akan menyiksa mereka dengan suatu siksaan yang belum pernah Kutimpakan kepada seorang pun di antara penghuni alam!” Jawab Nabi: “Wahai Tuhanku, biarkanlah daku menghadapi kaumku, dan daku akan menyeru mereka dari hari ke hari”. Maka Allah pun menurunkan ayat ini “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dengan siang” (Surat Al-Baqarah ayat 164). Betapa pula mereka akan meminta bukit emas kepadamu lagi, padahal mereka telah menyaksikan bukti-bukti yang lebih besar!”
Firman Allah SWT.:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 170)
Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW. menyeru orang-orang Yahudi masuk Islam dan menarik minat serta perhatian mereka bahkan memperingatkan mereka akan siksa Allah dan murka-Nya. Maka jawab Rafi’ bin Huraimalah dan Malik bin Auf: “Tidak, hai Muhammad, tetapi kami akan mengikuti apa yang kami dapati dari nenek-moyang kami. Mereka itu lebih tahu dan lebih baik dari kami!” Maka Allah pun menurunkan tentang hal itu “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah, ayat 170)
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan … sampai akhir ayat”, (Surat Al-Baqarah ayat 174)
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah mengenai firman-Nya “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah dari Kitab” dan juga ayat yang terdapat dalam surat Ali Imran: “Sesungguhnya orang-orang yang menjual janji Allah”, bahwa kedua ayat itu seluruhnya ditujukan kepada orang-orang Yahudi.
Dan diketengahkan oleh Sa’labi dari jalur Kalbi dari Abu Salih dari Ibnu Abbas, katanya: “Ayat ini turun mengenai pemuka-pemuka dan ulama-ulama Yahudi. Mereka biasa mendapat hadiah dan pemberian dari orang-orang bawahan mereka, dan berharap kiranya Nabi yang akan dibangkitkan itu dari kalangan mereka. Maka tatkala Muhammad SAW. dibangkitkan bukan dari kalangan mereka, mereka pun khawatir kehilangan rezeki dan kedudukan. Lalu mereka palsukan sifat-sifat Muhammad SAW. dan setelah mereka ubah, mereka perlihatkan kepada para pengikutnya, sambil mereka katakan: “Inilah dia sifat nabi yang akan muncul di akhir zaman, yang sekali-kali tidak cocok dengan sifat nabi ini”. Maka Allah pun menurunkan: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah dari Kitab … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 174)
Firman Allah SWT.:
“Tidaklah kebajikan itu … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 177)
Berkata Abdur Razzaq: “Diberikan kepada kami oleh Ma’mar dari Qatadah, katanya: “Orang-orang Yahudi salat dengan menghadap ke arah barat, sementara orang-orang Nasrani ke timur. Maka turunlah: “Tidaklah kebajikan itu dengan menghadapkan mukamu … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 177)
Diketengahkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari Abul Aliyah seperti itu juga oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir dari Qatadah, katanya: “Disebutkan kepada kami bahwa seorang laki-laki menanyakan kepada Nabi SAW. tentang kebajikan. Maka Allah pun menurunkan ayat ini: “Tidaklah kebajikan itu dengan menghadapkan mukamu ..”. Kemudian dipanggilah laki-laki tadi lalu dibacakannya kepadanya. Dan sebelum ditetapkan kewajiban-kewajiban, bila seseorang telah mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah wa-anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh”, lalu orang itu mati dalam keyakian seperti itu, maka ada harapan dan besar kemungkinan akan beroleh kebaikan. Maka Allah pun menurunkan “Tidaklah kebajikan itu dengan menghadapkan mukamu ke arah timur maupun barat” (Surat Al-Baqarah ayat 177). Selama ini orang-orang Yahudi menghadap ke arah barat, sementara orang-orang Nasrani ke arah timur.
Firman Allah SWT.:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu gisas … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 178)
Diketengahkan oleh Ibnu Hatim dari Sa’id bin Jubair, katanya: “Ada dua anak suku Arab yang telah berperang antara sesama mereka di masa jahiliyah, tidak lama sebelum datangnya agama Islam. Di kalangan mereka banyak yang mati dan yang menderita luka, hingga mereka juga membunuh hamba sahaya dan golongan wanita. Akibatnya sampai mereka masuk Islam, masih ada lagi yang belum mereka tuntutkan bela atau ambil gisasnya. Salah satu suku tadi membangga-banggakan kelebihannya terhadap yang lain, baik dalam banyaknya warga maupun harta. Mereka bersumpah takkan rela sampai warga musuh yang merdeka dibunuh sebagai tebusan bagi budak mereka yang terbunuh, begitupun warga musuh yang laki-laki, dibunuh sebagai gisas bagi warga mereka yang perempuan. Maka turunlah ayat: “Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita”. (Surat Al-Baqarah ayat 178)
Firman Allah SWT.:
“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya wajib atas mereka … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 184)
Diketengahkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Tabagat-nya, dari Mujahid, katanya: “Ayat ini diturunkan mengenai majikan dari Qais bin Sa-ib (yang sudah sangat lanjut usianya) “Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin” (Surat Al-Baqarah ayat 184). Lalu ia berbuka dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari Ramadan yang tidak dipuasainya.
Firman Allah SWT.:
“Dan sekiranya hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Daku … Sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 186)
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, Abu Syeikh dan lain-lain dari beberapa jalur yakni dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abduh As-Sajistani, dari Salt bin Hakim bin Mw’awiyah bin Haidah, dari bapaknya, dari kakeknya, katanya: “Seorang Arab dusun datang kepada Nabi SAW. lalu tanyanya: “Apakah Tuhan kita itu dekat hingga kami harus berbiSik-bisik kepada-Nya ataukah jauh hingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi hanya diam, maka Allah pun menurunkan “Dan sekiranya hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Daku, maka sesungguhnya Daku Mahadekat … Sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 186)
Diketengahkan oleh Abdur Razag dari Hasan, katanya: “Sahabat-sahal at Rasulullah SAW. menanyakan kepada Nabi SAW.: “Di mana Tuhan kita?” Maka Allah pun menurunkan: “Dan sekiranya hamba-hamba-Ku … sampa akhir ayat” (Surat Al-Baqarah ayat 186). Hadis ini mursal hanya ia mem. punyai jalur-jalur lain. Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Ali, katanya “Sabda Rasulullah SAW.: “Janganlah kamu merasa bosan untuk berdoa, kare na Allah menurunkan kepadaku “Memohonlah kepada-Ku, niscaya Kukabul kan doamu!” (Gafir ayat 60). Maka seseorang laki-laki bertanya: “Wahai Ra sulullah, apakah Tuhan kita mendengar doa kita? Atau bagaimanakah itu’ ‘ Maka Allah pun menurunkan “Dan sekiranya hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Daku … sampai akhir ayat”. (Surat Al-Baqarah ayat 186
Dan diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari Ata bin Abi Rabah bahwa ketika ayat itu turun: dan Tuhanmu berfirman: “Mohonlah kepada-Ku, niscaya Kukabulkan permohonanmu”, ada yang mengatakan: “Kita tidak tahu kapan saatnya kita memohon itu”, maka turunlah: “Dan sekiranya hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Daku … sampai dengan firman-Nya agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Surat Al-Baqarah ayat 186)









One Comment