ASBABUN NUZUL SURAT AR-RA’D
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Imam Tabrani dan lain-lainnya telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a., bahwasanya Arbad ibnu Qais dan Amir ibnu Tufail datang ke Madinah menemui Rasulullah SAW. Lalu Amir ibnu Tufail berkata: Hai Muhammad, hadiah apakah yang akan engkau berikan kepadaku jika aku masuk Islam?” Rasulullah SAW. menjawab: “Engkau akan mendapatkan Sebagaimana yang didapat oleh kaum muslim yang lain, dan engkau Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Atiyyah Al-Aufi yang telah menceritakan, bahwa orang-orang kafir Mekah berkata kepada Nabi SAW.: “Seandainya engkau dapat menyingkirkan bukit-bukit Mekah itu dari kami sehingga tanah menjadi lapang, maka kami akan bercocok tanam padanya. Seandainya engkau dapat membelah tanah, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman bagi kaumnya dengan memakai angin. Seandainya engkau dapat menghidupkan kembali bagi kami orang-orang yang telah mati, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Isa bagi kaumnya, (niscaya kami mau beriman kepadamu)”. Lalu Allah SWT. menurunkan firman-Nya: “Dan sekiranya ada suatu bacaan …” (Q.S. 13 Ar-Ra’d: 31).
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Mujahid yang telah menceritakan bahwasanya sewaktu ayat ini diturunkan, yaitu: “Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat), melainkan dengan izin Allah” (Q.S. 13 Ar-Ra’d: 38) orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi SAW.: “Hai Muhammad, kami lihat engkau ini sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, semuanya telah habis untuk menyelesaikan urusan engkau itu”. Lalu Allah SWT. menurunkan firman-Nya yang lain, yaitu: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan …” (Q.S. 13 Ar-Ra’d: 39).
ASBABUN NUZUL SURAT IBRAHIM
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ata Ibnu Yasar yang telah menceritakan bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang (kafir) yang terbunuh ketika Perang Badar, yaitu firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran …” (Q.S. 14 Ibrahim, 28)
ASBABUN NUZUL SURAT AL-HIJR
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Firman Allah SWT.:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui…” (Q.S. 15 Al-Hijr, 24).
Imam Turmuzi, Imam Nasai, Imam Hakim, dan lain-lainnya telah meriwaYatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa ada Seorang wanita salat di belakang Rasulullah SAW. Wanita itu sangat cantik. Dan tersebutlah bahwa sebagian dari kaum maju ke depan bergabung pada saf pertama, dimaksud supaya ia tidak dapat melihatnya. Akan tetapi, sebagian dari kaum yang lain mundur ke belakang supaya ia berada di saf yang paling belakang: jika ia rukuk, ia mengintip (wanita itu) melalui celah-celah ketiaknya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada kalian)”. (Q.S. 15 Al-Hijr, 24).
Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Daud ibnu Saleh, bahwasanya ia (Daud ibnu Saleh) bertanya kepada Sahl ibnu Hanifah Al-Ansari tentang firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada kalian, dan sesungguhnya Kami menge: tahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada kalian)”. (Q.S. 15 Al-Hjjr, 24).
Daud ibnu Saleh bertanya: “Apakah ayat ini diturunkan menyangkut masalah fisabilillah (berjuang di jalan Allah)?” Maka Sahl ibnu Hanifah AlAnsari menjawab: “Tidak, tetapi diturunkan berkenaan dengan saf-saf salat”.
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu …” (Q.S. 15 Al-Hijr, 45). As-Sa’labi telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Salman Al-Farisi, disebutkan bahwa tatkala Salman mendengar firman Allah SWT. diturunkan, yaitu: “Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka semuanya”. (Q.S. 15 Al-Hijr, 43), maka Salman melarikan diri selama tiga hari tiga malam karena ketakutan, dan ia lakukan itu dalam keadaan tidak sadar saking takutnya. Kemudian ia dihadapkan kepada Nabi SAW. Nabi SAW. menanyakan kepadanya tentang apa yang telah diperbuatnya itu, lalu Salman menjawab: “Wahai Rasulullah, ketika ayat ini diturunkan: “Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka semuanya’. (Q.S. 15 Al-Hijr, 43), demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa perkara yang hak, sungguh ayat tersebut membuat hatiku terputus”. Maka Allah menurunkan firman-Nya yang lain, yaitu: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)”. (Q.S. 15 Al-Hijr, 45).
Firman Allah SWT.:
“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka”. (Q.S. 15 Al-Hjjr, 47).
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ali ibnul Husain yang telah menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar, yaitu firman-Nya: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka”. (Q.S. 15 Al-Hijr, 47).
Lalu ada yang bertanya: “Dendam apakah itu?” Ali ibnul Husain menjawab: “Dendam Jahiliah. Sesungguhnya di antara Bani Tamim dan Bani Addi serta Bani Hasyim terdapat permusuhan sewaktu zaman Jahiliah. Ketika mereka masuk Islam, mereka menjadi orang-orang yang saling mencintai. Pada suatu hari Abu Bakar sakit reumatik, kemudian Ali segera menghangatkan tangannya, lalu ia usapkan ke pinggang Abu Bakar. Pada saat itu turunlah firman-Nya, yaitu ayat di atas tadi”.
Firman Allah SWT.:
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku …” (Q.S. 15 Al-Hijr, 49).
Imam Tabrani telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abdullah ibnuz Zubair yang telah menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW. bertemu dengan segolongan para sahabatnya, mereka sedang tertawa-tawa. Lalu Nabi SAW. bersabda menegur mereka: “Apakah kalian masih juga dapat tertawa, sedangkan surga dan neraka disebutkan di hadapan kalian?” Setelah itu turunlah firman-Nya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.S. 15 Al-Hjjr, 49-50).
Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan pula hadis yang sama melalui sanad yang lain, yaitu seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi SAW. Sahabat itu telah menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW. menengok kami (para sahabat) dari pintu yang biasa dimasuki oleh orang-orang Bani Syaibah. Maka Rasulullah SAW. bersabda: “Aku lihat kalian tertawatawa. Mengapa?” Setelah itu Nabi pergi, tetapi mundur kembali, lalu bersabda: “Sesungguhnya sewaktu aku pergi, dan sampai di Hijr, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril, lalu ia berkata: “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah telah berfirman kepadamu, mengapa engkau berputus asa terhadap hamba-hambaKu? Maka kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (Q.S. 15 Al-Hijr, 95).
Imam Bazzar dan Imam Tabrani telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Anas ibnu Malik r.a. yang telah menceritakan bahwa pada suatu hari Nabi SAW. lewat bertemu dengan segolongan orang-orang Mekah. Lalu mereka menunjuk-nunjukkan jari telunjuk mereka, diarahkan lurus ke tengkuk Nabi SAW. (dari belakangnya) seraya berkata: “Inilah orangnya yang mengakungaku menjadi seorang nabi dan ditemani Malaikat Jibril”. Maka Malaikat Jibril pun menunjukkan pula dengan jari telunjuknya ke arah mereka, dan pada saat itu juga badan mereka penuh dengan bisul, kemudian bisul itu mengeluarkan nanah yang berbau sangat busuk, sehingga tidak ada seorang pun Yang berani mendekat kepada mereka. Maka pada saat itu juga turunlah firman-Nya: “Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokkan kamu”. (Q.S. 15 Al-Hjjr, 95).
ASBABUN NUZUL SURAT AN-NAHL
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. Yang telah menceritakan bahwa ketika ayat ini turun, yaitu: “Telah pasti datangnya ketetapan Allah”. (Q.S. 16 An-Nahl, 1), kemudian para sahabat Nabi Saw. segera bangkit, namun turunlah pula firman-Nya yang lain, yaitu: “Maka janganlah kalian meminta agar disegerakan datangnya”. (Q.S. 16 AnNahl, 1). Pada saat itu juga para sahabat menjadi tenang kembali.
Abdullah ibnu Imam Ahmad di dalam kitabnya Zawaiduz Zuhd dan Ibnu Jarir serta Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Bakar ibnu Abu Hafs r.a. yang telah menceritakan bahwa ketika turun firman-Nya: “Telah pasti datangnya azab Allah”. (Q.S. 16 An-Nahl, 1), para sahabat segera bangkit, tetapi turun pula firman-Nya yang selanjutnya, yaitu: “Maka janganlah kalian minta agar disegerakan datangnya (azab itu)”. (Q.S. 16 An-Nahl, 1).
Firman Allah SWT.:
“Mereka bersumpah …” (Q.S. 16 An-Nahl, 38).
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abul ‘Aliyah yang telah menceritakan bahwa ada seorang laki-laki dari kalangan kaum musyrik berutang kepada seorang laki-laki dari kalangan kaum muslim. Kemudian lelaki muslim itu datang menagih kepadanya, dan di antara perkataan yang diucapkan oleh lelaki muslim itu ialah: “Aku sangat berharap sesudah mati, utang itu menjadi pahala sebesar demikian dan demikian.” Maka lelaki musyrik itu menjawabnya: “Sesungguhnya kamu ini menduga bahwa kamu akan dibangkitkan kembali sesudah mati”. Kemudian lelaki musyrik itu bersumpah dengan memakai nama Allah secara sungguh-sungguh, lalu ia melanjutkan perkataannya: “Allah tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati.” Maka turunlah ayat ini.
Firman Allah SWT.:
“Dan orang-orang yang berhijrah …” (Q.S. 16 An-Nahl, 41).
Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Daud Ibnu Abu Hindun yang telah menceritakan bahwa ayat ini, yaitu: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya”. (Q.S. 16 An-Nahl, 41), sampai dengan firman-Nya: “Dan hanya kepada Tuhan mereka sajalah mereka bertawakal”. (Q.S. 16 An-Nahl, 42), diturunkan berkenaan dengan Abu Jandal ibnu Suhail.
Firman Allah SWT.:
“Allah membuat perumpamaan …” (Q.S. 16 An-Nahl, 75).
Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan firman-Nya: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki.” (Q.S. 16 An-Nahl, 75). Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan kaum Quraisy dan hamba sahaya miliknya.
Dan sehubungan dengan firman-Nya: “Dua orang lelaki yang seorang bisu”. (Q.S. 16 An-Nahl, 76). Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Usman ibnu Affan dan seorang hamba sahaya miliknya yang membenci Islam, kemudian hamba sahaya itu menganjurkan Usman untuk tidak bersedekah dan berbuat amal kebajikan.
Firman Allah SWT.: “Mereka mengetahui nikmat Allah …” (Q.S. 16 An-Nahl, 83).
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Mujahid yang telah menceritakan bahwa ada seorang lelaki badui datang menghadap kepaja Nabi SAW. Lalu lelaki badui itu bertanya kepada Nabi SAW. Maka Nabi 5AW. membacakan kepadanya firman Allah SWT.: “Dan Allah menjadikan bagi kalian rumah-rumah kalian sebagai tempat tinggal”. (Q.S. 16 An-Nahl, 80), kemudian lelaki badui itu menjawab: “Ya”. Selanjutnya Nabi SAW. meneyuskan bacaannya: “Dan Dia menjadikan bagi kalian rumah-rumah (kemahkemah) dari kulit binatang ternak yang kalian merasa ringan (membawa)nya di waktu kalian berjalan dan waktu kalian bermukim”. (Q.S. 16 An-Nahl, 80). Lelaki badui itu menjawab: “Ya”. Kemudian Nabi SAW. membacakan kepadanya semua ayat tersebut, sedangkan laki-laki badui itu hanya menjawab “Ya”, hingga sampailah bacaan Nabi SAW. kepada firman-Nya:”Demmikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian agar kalian berserah diri kepadaNya”. (Q.S. 16 An-Nahl, 81). Tetapi setelah pembacaan ayat di atas, lelaki badui itu berpaling, pergi begitu saja dari Nabi SAW. Maka Allah SWT. menurunkan firman-Nya: “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. (Q.S. 16 An-Nahl, 83).
Firman Allah SWT.:
“Dan tepatilah …” (QA.S. 16 An-Nahl, 91). Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Buraidah yang telah menceritakan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan berbaiat kepada Nabi SAW.
Firman Allah SWT.:
“Dan janganlah kalian …” (Q.S. 16 An-Nahl, 92).
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Bakar ibnu Abu Hafs r.a. yang telah menceritakan bahwa ada seorang wanita yang dikenal dengan nama Sa’idah Al-Asadiyahj, ia adalah wanita yang gila, pekerjaan sehari-harinya hanyalah mengumpulkan rambut dan serat-serat. Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan sifat-sifatnya, yaitu: “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali hasil pintalannya …” (Q.S. 16 An-Nahl, 92).
Firman Allah SWT.:
“Dan sesungguhnya Kami mengetahui ..” (Q.S. 16 An-Nahl, 103).
Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang da’iif (lemah) melalui jalur Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah SAW. mengajarkan agama Islam kepada seorang pendeta Nasrani di Mekah yang dikenal dengan nama Bal’am. Balam berbahasa ‘Ajam. Dan orang-orang musyrik sering melihat Rasulullah SAW. mengunjunginya dan keluar darinya. Maka mereka mengatakan: “Sesungguhnya dia (Muhammad) belajar kepada Balam”. Maka Allah SWT. menurunkan firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad) (Q.S. 16 An-Nahi, 103)”.
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Husain dari Abdullah ibnu Muslim Al-Hadrami yang telah menceritakan bahwa kami mempunyai dua orang hamba sahaya, salah seorang di antaranya bernama Yasar, sedangkan yang lainnya bernama Jabbar, keduanya berasal dari Sagliyah (Sicilia sekarang, pent.). Keduanya selalu membaca kitab mereka dan mengajarkannya kepada orang lain. Dan Rasulullah SAW. sering lewat kepada keduanya, kemudian mendengarkan bacaan keduanya. Maka orang-orang musyrik mengatakan: “Sesungguhnya dia (Muhammad) belajar dari kedua orang itu”. Lalu Allah menurunkan firman-Nya.
Firman Allah SWT.:
“Kecuali orang yang dipaksa kafir …” (Q.S. 16 An-Nahl, 106).
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa ketika Nabi SAW. bermaksud hijrah ke Madinah, lalu orang-orang musyrik menangkap Bilal, Khabbab, dan Ammar ibnu Yasir. Maka Ammar mengucapkan kata-kata yang membuat kaum musyrik merasa takjub karenanya, Ammar sengaja melakukan hal itu untuk keselamatan dirinya, yaitu bertagiyyah. Ketika ia kembali kepada Rasulullah SAW., lalu ia menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Rasulullah SAW. bertanya kepadanya: “Bagaimanakah dengan hatimu sewaktu kamu mengucapkan kalimat tersebut? Apakah kamu merasa lega dengan apa yang kamu ucapkan itu?” Ammar menjawab: “Tidak”. Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)”. (Q.S. 16 An-Nahl, 106).
Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan pula sebuah hadis yang lain melalui Mujahid yang telah menceritakan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan sebagian penduduk Mekah yang telah beriman. Kemudian sebagian para sahabat menulis surat kepada mereka dari Madinah, yang isinya menganjurkan mereka untuk berhijrah. Lalu mereka keluar berangkat menuju ke Madinah. Akan tetapi,di tengah jalan mereka dikejar oleh orang-orang Quraisy, kemudian orang-orang Quraisy menyiksa mereka sehingga mereka mengucapkan kalimat kufur karena dipaksa. Maka ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan mereka itu.
Ibnu Sa’id di dalam kitabnya At-Tabagat telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Umar ibnul Hakam yang telah menceritakan bahwa Ammar ibnu Yasir mengalami Siksaan yang amat berat sehingga ia tidak menyadari apa yang dikatakan oleh mulutnya. Demikian pula Suhaib, ia juga mengalami Siksaan yang berat sehingga ia tidak sadar lagi apa yang dikatakan oleh lisannya. Fukaihah mengalami siksaan yang berat pula sehingga ia tidak sadar lagi apa yang dikatakan oleh mulutnya. Bilal, Amir ihnu Fuhairah, dan sego jongan kaum muslim mengalami siksaan yang berat dari kaum musyrik: maka berkenaan dengan merekalah ayat berikut ini diturunkan, yaitu firman Nya: “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan”. (Q.S. 16 An-Nahl, 110).
Firman Allah SWT.:
“Dan jika kalian memberikan balasan …” (Q.S. 16 An-Nahl, 126).
Imam Hakim, Imam Baihagi di dalam kitab Ad-Dala’il-nya, dan Imam Bazzar telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah SAW. berdiri di hadapan jenazah Hamzah ketika ia gugur sebagai syuhada, sedangkan keadaannya sangat menyedihkan sekali karena tercincang. Maka Rasulullah SAW. bersumpah kala itu melalui sabdanya: “Sungguh aku akan membalas perbuatan ini dengan tujuh puluh orang dari kalangan mereka sebagai penggantimu”. Maka pada saat itu juga turunlah Malaikat Jibril kepada Nabi SAW. yang pada waktu itu sedang berdiri, seraya membawa wahyu ayat-ayat terakhir surat An-Nahl, yaitu mulai dari firman-Nya: “Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian”. (Q.S. 16 An-Nahl, 126), sampai dengan akhir surat An-Nahl.
Kemudian Rasulullah SAW. berhenti dan menahan diri dari apa yang dikehendakinya itu.
Imam Turmuzi telah mengetengahkan sebuah hadis yang ia nilai sebagai hadis Hasan, demikian pula Imam Hakim dengan melalui jalur sanad Ubay ibnu Ka’ab r.a. yang telah menceritakan bahwa ketika Perang Uhud usai di antara orang-orang yang gugur dari kalangan sahabat Ansar berjumlah enam puluh empat orang, sedangkan mereka yang gugur dari kalangan sahabat Muhajirin berjumlah enam orang, satu orang di antaranya adalah Hamzah ibnu Abdul Mutalib (paman Nabi SAW.). Dan ternyata jenazah mereka semuanya dalam keadaan yang menyedihkan, yaitu tercincang-cincang. Maka sahabat Ansar berkata: “Seandainya kami dapat membunuh mereka di lain kesempatan, dalam peristiwa seperti ini, niscaya kami akan berlaku lebih kejam daripada mereka”.
Maka ketika pembukaan kota Mekah, Allah menurunkan firman-Nya: “Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah …” (Q.S. 16 An-Nahl, 126).
Menurut keterangan yang kuat, ayat di atas diturunkan selang beberapa nasa kemudian, yaitu hingga pembukaan kota Mekah. Tetapi menurut riwaYat hadis yang sebelum ini, ayat ini diturunkan sewaktu Perang Uhud. Kemudian Ibnu Hassar mengambil kesimpulan dari keseluruhannya itu, bahwa Hati ini pada mulanya diturunkan di Mekah, kemudian di Uhud, dan terakhir di Mekah lagi, dimaksud sebagai peringatan dari Allah buat hamba-hambanya.









One Comment