ASBABUN NUZUL SURAT ALI IMRAN
(Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang) Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Rabi’ bahwa orang-orang Nasrani datang kepada Nabi SAW. lalu membantahnya tentang Nabi Isa. Maka Allah SWT. menurunkan “Alif lam mim, Allahu Ia ilaha illa huwal hayyul Qoyyum … sampai delapan puluh ayat lebih”.
Kata Ibnu Ishaq: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl bin Abi Umamah, ia berkata: Ketika datang warga Najran kepada Rasulullah SAW., mereka menanyakan kepada beliau tentang Isa bin Maryam, maka di. turunkan mengenai mereka awal surat Ali Imran hingga ayat kedelapan puluh. Hadis ini diketengahkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitab Ad-Dalail. nya.
Firman Allah SWT.:
“Katakanlah kepada orang-orang kafir, kalian pasti dikalahkan”. (Ali Imran: 12)
Abu Daud di dalam kitab Sunan-nya dan Imam Baihagi di dalam kitab Ad-Dala’il-nya, keduanya telah mengetengahkan hadis berikut melalui jalur Ibnu Ishaq dari Muhammad ibnu Abu Muhammad dari Sa’id atau Ikrimah dan dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW. memperoleh kemenangan dalam perang Badar, lalu beliau kembali ke Madinah, kemudian beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di pasar Bani Qainuga’. Selanjutnya beliau bersabda kepada mereka, “Hai golongan orang-orang Yahudi, masuk Islamlah kalian, sebelum kalian mendapat kekalahan seperti apa yang telah ditimpakan Allah atas kaum Quraisy (sewaktu perang Badar. Orang-orang Yahudi menjawab, “Hai Muhammad janganlah engkau memperdaya dirimu sendiri hanya karena engkau telah memerangi segolongan orangorang Quraisy, mereka adalah orang-orang kampungan yang tidak pandai berperang! Demi Allah, jika berhadapan dengan kami, bartilah kamu ketahui bahwa kami ini orang-orang ahli perang. Maka Allah pun menurunkan: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir bahwa kamu pasti akan dikalahkan … sampai dengan firman-Nya “bagi orang-orang yang mempunyai pandangan batin”. (Surat Ali Imran ayat 12-13)
Diketengahkan oleh Ibnul Munzir dari Ikrimah bahwa seorang Yahudi bernama Fanhas mengatakan sehabis perang Badar: “Janganlah si Muhammad itu membanggakan dirinya karena ia dapat membunuh dan mengalahkan orang-orang Quraisy! Orang-orang Quraisy itu tidak pandai berperang?” Maka turunlah ayat ini.
Firman Allah SWT.:
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah diberi bagian berupa Al-Kitab … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 23)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnul Munzir dan Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya: “Rasulullah SAW. masuk ke rumah Madras menemui segolongan orang-orang Yahudi. Maka diserunya mereka kepada Allah, lalu kata Na’im bin ‘Amr dan Haris bin Zaid kepada Nabi SAW.: “Menganut agama apakah Anda, hai Muhammad?” Jawabnya: “Menganut millah Ibrahim dan agamanya”. Kata mereka pula: “Sesungguhnya Ibrahim itu beragama Yahudi”. Sabda Nabi SAW. pula: “Kalau begitu marilah kita pegang Taurat! Ialah yang-akan menjadi hakim di antara kami dan tuan-tuan!” Kedua mereka itu menolak, maka Allah pun menurunkan: “Tidakkah kamu perhatikan orangorang yang diberi bagian berupa Al-Kitab … sampai dengan firman-Nya SWT.: “Mereka ada-adakan”. (Surat Ali Imran ayat 23-24)
Firman Allah SWT.:
“Katakanlah: Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 26)
Dikeluarkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Qatadah, katanya: “Orang-orang mengatakan kepada kami bahwa Rasulullah SAW. memohon kepada Tuhannya agar menjadikan kerajaan Romawi dan Persi ke dalam kekuasaan umatnya. Maka Allah pun menurunkan: Katakanlah: “Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 26)
Firman Allah SWT.:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 28)
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya: “Hajjaj bin Amr yakni sekutu dari Ka’ab bin Asyraf, Ibnul Abil Haqiq dan Qais bin Zaid telah mengadakan hubungan akrab dengan beberapa orang Ansar untuk menggoyahkan mereka dari agama mereka. Maka kata Rifa’ah Ibnul Munzir, Abdullah bin Jubair dan Sa’ad bin Hasmah kepada orang-orang Ansar itu: “Jauhilah orang-orang Yahudi itu dan hindarilah hubungan erat dengan mereka, agar kamu tidak tergeser dari agamamu!” Pada mulanya mereka tidak mengindahkan nasihat itu, maka Allah pun menurunkan terhadap mereka: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orangorang kafir sampai dengan firman-Nya SWT.: “dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Surat Ali Imran ayat 28-29)
Firman Allah SWT.:
“Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah“. (Surat Ali Imran ayat 31)
Diketengahkan oleh Ibnul Munzir dari Hasan, katanya, “Berkata beberapa golongan di masa Nabi kita: ‘ “Demi Allah, wahai Muhammad. Sungguh kami amat mencintai Tuhan kita?” ” Maka Allah pun menurunkan: Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 31)
Firman Allah SWT.:
“Demikianlah Kami membacakannya kepadamu … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 58)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Hasan, katanya: “Dua orang pendeta Nasrani dari Najran datang menemui Rasulullah SAW. lalu tanya salah seorang di antara mereka: “Siapakah bapak Isa?” Rasulullah SAW. tidak segera menjawab sebelum memohon petunjuk kepada Tuhannya, maka diturunkan kepadanya: “Demikianlah Kami membacakannya kepadamu, sebagian dari bukti-bukti —kerasulannyadan membacakan — Al-Qur’an yang penuh hikmah … sampai dengan “di antara orang yang ragu-ragu”. (Surat Ali Imran ayat 58-60)
Dan diketengahkan dari jalur Aufi dari Ibnu Abbas, katanya: “Serombongan orang-orang Najran, termasuk para pemimpin dan pengiringnya, mereka datang menemui Nabi SAW. lalu tanya mereka: “Bagaimana kamu ini, kenapa kamu sebut-sebut pula sahabat kami?” Jawab Nabi: “Siapa dia?” Ujar mereka: “Isa! Kamu katakan dia hamba Allah!” “Benar”, jawab Nabi pula. Tanya mereka: “Pernahkah kamu melihat orang seperti Isa, atau mendengar berita seperti yang dialaminya?” Setelah itu mereka keluar meninggalkan Nabi SAW. Maka datanglah Jibril, katanya kepadanya: Katakanlah kepada mereka jika mereka datang kepadamu: “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah, adalah seperti Adam … sampai dengan firman-Nya: “Janganlah kamu termasuk di antara orang yang ragu-ragu!” (Surat Ali Imran ayat 59-60)
Diketengahkan pula oleh Baihagi dalam Ad-Dala’il dari jalur Salamah bin Abdi Yasyu’ dari bapaknya seterusnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW. menulis surat kepada warga Najran, yakni sebelum diturunkan kepadanya surat Tasin: “Atas nama Tuhan dari Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub, dari Muhammad yang nabi … sampai akhir hadis”. Di dalamnya disebutkan: “Maka orangorang Najran itu mengutus kepada Nabi, Syurahbil bin Wada’ah Al-Hamdani, Abdullah bin Syurahbil Al-Asbahi dan Jabbar Al-Harsi. Perutusan ini berangkatlah mendatangi Nabi SAW. sehingga mereka pun saling bertanya dan menjawab. Demikianlah soal jawab ini terus berlangsung sampai mereka menanyakan: “Bagaimana pendapat Anda tentang Isa?” Jawab Nabi SAW:: “Sampai hari ini tak ada satu pun pendapat saya mengenai dirinya. Tinggallah tuan-tuan di sini dulu sampai saya dapat menerangkannya!” Ternyata esok paginya Allah telah menurunkan ayat ini: “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah … sampai dengan firman-Nya … seraya kita memohon agar laknat Allah itu ditimpakan-Nya kepada orang-orang yang dusta”. (Surat Ali Imran ayat 59-61)
Diketengahkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab At-Tabagat dari Azrag bin Qais, katanya: “Telah datang kepada Nabi SAW. uskup negeri Najran bersama bawahannya, kepada mereka ditawarkannya agama Islam, kata mereka ”Sebelum Anda, kami telah Islam”. Jawab Nabi SAW.: “Bohong! Ada tiga perkara yang menghalangi tuan-tuan masuk Islam, yakni ucapan tuan-tuar bahwa Allah mempunyai anak, memakan daging babi dan sujud kepada pa: tung.” Tanya mereka: “Siapakah bapak dari Isa?” Rasulullah tidak tahu apa yang akan dijawabkannya, sampai Allah menurunkan: “Sesungguhnya perum: pamaan Isa di sisi Allah … sampai dengan firman-Nya: “dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatangguh lagi Mahabijaksana.” (Surat Ali Imran ayat 59-62)
Nabi mengajak mereka untuk saling kutuk-mengutuk, tetapi mereka menolak dan setuju akan membayar upeti, lalu mereka kembali”.
Firman Allah SWT.:
“Wahai Ahli Kitab, kenapa kamu berbantah-bantahan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 65)
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanadnya yang berulang kali kepada Ibnu Abbas, katanya: “Pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang Nasrani dari Najran berkumpul di hadapan Rasulullah SAW. dan berdebat di hadapannya. Kata pendeta-pendeta: “Ibrahim itu tidak lain adalah orang Yahudi”, berkata orang-orang Nasrani, bahwa Ibrahim itu tidak lain adalah orang Nasrani. Maka Allah menurunkan ayat: “Wahai Ahli Kitab, kenapa kamu berbantah-bantahan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 65) Riwayat ini dikeluarkan oleh Baihagi dalam Ad-Dala’il.
Firman Allah SWT.:
“Segolongan dari Ahli Kitab berkata: “Berimanlah kamu … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 72)
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas, katanya: “Berkata Abdullah Ibnus Saif, Adi Ibnu Zaid dan Hars bin Auf, dan dari seorang kepada yang lain: “Marilah kita beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad dan para sahabatnya di pagi hari, dan kita ingkar kembali di sore hari, hingga mengacaukan agama mereka, moga-moga mereka memperkuat pula apa yang kita perbuat lalu keluar dari agama mereka. Maka Allah pun menurunkan pada mereka: “Wahai Ahli Kitab, kenapa kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil … sampai dengan firman-Nya: “dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. (Surat Ali Imran ayat 71-73)
Diketengahkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dari As-Suddi dari Abu Malik katanya: “Rahib-rahib Yahudi mengatakan kepada orang-orang yang menganut agama lain: “Janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mau mengikuti agamamu!” Maka Allah pun menurunkan: “Sesungguhnya petunjuk itu ialah petunjuk Allah”. (Surat Ali Imran ayat: 73)
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 77)
Diriwayatkan oleh Syaikhan dan lain-lain bahwa Asy’as berkata: “Antara saya dengan seorang lelaki Yahudi ada sengketa mengenai sebidang tanah. Dia menyangkalnya, lalu saya kemukakan kepada Nabi SAW., maka tanyanya: “Apakah kamu mempunyai keterangan?” Jawab saya: “Tidak”. Lalu titahnya kepada orang Yahudi itu: “Bersumpahlah!” Kata saya: “Wahai Rasulullah, jika dia bersumpah habislah harta saya”. Maka Allah pun menurunkan: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit …. sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 77)
Diketengahkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Abi Aufa bahwa seorang laki-laki menjajakan barangnya di pasar, lalu ia bersumpah atas nama Allah bahwa ia telah menghabiskan uangnya untuk memodali barang itu untuk me. mancing keinginan seorang laki-laki Islam, padahal uang itu tidaklah seba. nyak yang dikatakannya. Maka turunlah ayat ini: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang se. dikit … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 77)
Kata Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Syarah Bukhari: “Tak ada pertentangan di antara kedua hadis, bahkan kemungkinan turunnya ayat itu karena dua sebab sekaligus. Sementara itu Ibnu Jarir mengeluarkan pula dari Ikrimah bahwa ayat tersebut turun mengenai Huyay bin Akhtab dan Ka’ab bin Asyraf dan lain-lain dari golongan Yahudi yang menyembunyikan apa yang diturun. kan Allah dalam Taurat lalu mereka ubah dan mereka bersumpah bahwa itu dari sisi Allah. Kata Al-Hafiz bin Hajar: “Ayat itu memang mengandung beberapa kemungkinan, tetapi yang menjadi pegangan, ialah pendapat-pendapat yang mempunyai dasar hadis sahih”.
Firman Allah SWT.:
“Tidak selayaknya bagi manusia … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 79)
Diketengahkan oleh Ibnu Ishaq dan Baihagi dari Ibnu Abbas, katanya: “Ketika pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang Nasrani warga Najran berkumpul di hadapan Rasulullah SAW. dan mereka diserunya untuk masuk Islam berkatalah Abu Rafi’ Al-Qurazi: “Hai Muhammad, inginkah Anda kami sembah sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa?” Jawabnya: “Saya berlindung kepada Allah”. Maka Allah pun menurunkan: “Tidak selayaknya bagi manusia … sampai dengan firman-Nya: “sewaktu kamu sudah menganut agama Islam”. (Surat Ali Imran ayat 79-80)
Diketengahkan pula oleh Abdur Razaq dalam Tafsirnya dari Hasan, katanya: “Saya mendapat berita bahwa seorang laki-laki berkata: “Hai Rasulullah, kami memberi salam kepada Anda adalah seperti salamnya sebagian kami kepada yang lain. Tidakkah kami akan bersujud kepada Anda?” Jawab Nabi: “Tidak, tetapi muliakanlah nabimu dan ketahuilah mana-mana yang hak bagi masing-masing, dan sesungguhnya tidaklah sepatutnya kita bersujud kepada selain Allah” Maka Allah pun menurunkan: “Tidak selayaknya bagi manusia … Sampai dengan firman-Nya: “sewaktu kamu menganut agama Islam”. (Surat Ali Imran ayat 79-80)
Firman Allah SWT.:
“Betapa Allah akan menunjuki suatu kaum …. sampai dengan beberapa ayat”. (Surat Ali Imran ayat 86)
Diriwayatkan oleh Nasai, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas, katanya: “Ada seorang laki-laki Ansar masuk Islam, lalu ia menyesal. Lalu menghubungi kaumnya, agar mereka mengirim utusan kepada Nabi SAW. untuk menanyakan apakah ada kesempatan baginya buat bertobat. Maka turunlah ayat: “Betapa Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir … sampai dengan firman-Nya: “maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Maka dikirimnya kaumnya kepada Nabi SAW. dan dinyatakannya dirinya masuk Islam kembali.
Diketengahkan oleh Musaddad dalam Musnadnya dan oleh Abdur Razzag dari Mujahid, katanya: “Haris bin Suwaid datang kepada Nabi SAW. lalu masuk Islam. Kemudian ia kembali kafir dan pergi kepada kaumnya. Maka Allah pun menurunkan padanya ayat Al-Qur’an: “Betapa Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir … sampai dengan firman-Nya: “maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surat Ali Imran ayat 8689)
Ayat ini dibawa oleh salah seorang warganya yang membacakannya kepadanya. Kata Hari : “Demi Allah, setahu saya kamu adalah seorang yang benar, tetapi Rasulullah lebih benar daripadamu, dan Allah lebih benar lagi di antara yang tiga”. Maka ia pun kembalilah masuk Islam dan tercapailah olehnya keislaman yang baik.
Firman Allah SWT.:
“Barangsiapa yang kafir, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari seluruh alam”. (Surat Ali Imran ayat 97)
Diketengahkan oleh Sa’id bin Mansur dari Ikrimah, katanya: “Tatkala diturunkan ayat: “Barangsiapa yang mencari agama selain dari Islam … sampai akhir ayat” (Surat Ali Imran ayat 85), orang-orang Yahudi berkata: “Kalau begitu kami ini beragama Islam”. Kata Nabi SAW. kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan naik haji itu atas kaum muslimin”. Jawab mereka: “Tidak pernah diwajibkan atas kami”, dan mereka tidak mau menunaikannya, maka Allah menurunkan ayat: “Dan barangsiapa yang kafir, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari seluruh alam”. (Surat Ali Imran ayat 97)
Firman Allah SWT.:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 100)
Diketengahkan oleh Faryabi dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, katanya: “Di masa jahiliyah, di antara suku-suku Aus dan Khazraj terdapat persengketaan. Sementara mereka sedang duduk-duduk, teringatlah mereka akan peristiwa yang mereka alami, hingga mereka pun jadi marah lalu sebagian bangkit mengejar lainnya dengan senjata. Maka turunlah ayat: “Kenapa kamu menjadi kafir … sampai akhir ayat”, serta dua buah ayat berikutnya. (Surat Ali Imran ayat 101-103)
Diketengahkan oleh Ibnu Ishaq dan Abu Syaikh dari Zaid ibnul Aslam katanya: “Seorang Yahudi bernama Syas Ibnul Qais lewat di depan beberapa Orang Aus dan Khazraj yang sedang bercakap-cakap. Syas pun amat berang melihat kerukunan dan kedamaian mereka setelah permusuhan dan saling persengketaan dulu. Maka disuruhnyalah seorang pemuda Yahudi yang bersamanya untuk duduk menyelinap di antara Aus dan Kazraj itu serta mengingatkan mereka akan perang Ba’as. Pemuda itu pun melakukan tugasnya dengan baik hingga mereka terhadap lawan, bahkan dua orang laki-laki yaitu Aus bin Qaizi dari suku Aus dan Jabbar bin Shakhr dari Khazraj melompat bersahut-sahutan kata yang menyebabkan tambah bangkitnya kemarahan kedua belah pihak dan bersiap sedia untuk bertempur. Peristiwa itu pun sampailah ke telinga Rasulullah SAW. hingga beliau datang dan memberi mereka nasihat dan mendamaikan perselisihan mereka, yang mereka terima dengan taat dan patuh. Maka Allah pun menurunkan kepada Aus dan Jabbar dan orang-orang yang beserta mereka: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab ….. sampai akhir ayat” (Surat Ali Imran ayat 100). Sedangkan kepada Syas bin Qais diturunkan: “Hai Ahli Kitab, kenapa kamu menghalangi … sampai akhir ayat” (Surat Ali Imran ayat 99)
Firman Allah SWT.:
“Mereka itu tidaklah sama … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 113)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, Tabrani dan Ibnu Mandah dalam kitabnya As-Sahabah dari Ibnu Abbas, katanya: “Tatkala Abdullah bin Salam masuk Islam bersama Sa’labah bin Sa’yah, Usaid bin Sa’yah dan As’ad bin Abdun serta orang-orang Yahudi lainnya yang masuk Islam bersama mereka, mereka itu benar-benar beriman dan membenarkan serta mengajak orangorang masuk Islam. Tetapi pendeta-pendeta Yahudi dan warga-warga yang kafir di antara mereka, tidak senang dan mengatakan: “Tidaklah beriman kepada Muhammad dan bersedia mengikutinya kecuali orang-orang jelek di antara kita. Sekiranya mereka orang-orang baik, tentulah mereka takkan meninggalkan agama nenek moyang mereka dan berpindah ke agama lain. Mengenai hal ini Allah menurunkan: “Mereka itu tidak sama. Di antara Ahli Kitab … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 113)
Diketengahkan oleh Ahmad dan lain-lain dari Ibnu Mas’ud, katanya: “Rasulullah SAW. menangguhkan salat Isya, kemudian beliau pergi ke mesjid, dan orang-orang sedang menunggu salat. Maka sabdanya: “Tiada seorang pun dari penganut semua agama yang mengingat Allah di saat seperti sekarang ini selain daripada kalian”. Lalu turunlah ayat ini: “Mereka itu tidak sama, di antara Ahli-ahli Kitab ada golongan yang bersifat lurus … sampai dengan firman-Nya: “dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa”. (Surat Ali Imran ayat 113-115)
Firman Allah SWT.:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil sebagai teman kepercayaan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 118)
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas, katanya: “Beberapa orang laki-laki Islam masih juga berhubungan dengan laki-laki Yahudi disebabkan mereka bertetangga dan terikat dalam perjanjian jahiliyah. Maka Allah pun menurunkan ayat yang melarang mereka mengambil orang-orang Yahudi itu sebagai teman akrab karena dikhawatirkan timbulnya fitnah atas mereka: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil sebagai teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 118)
Firman Allah SWT.:
“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 121)
Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la dari Miswar bin Makhramah, katanya: “Saya katakan kepada Abdurrahman bin Auf: “Ceritakanlah kepada saya kisah tuan-tuan di waktu perang Uhud”, maka jawabnya: “Bacalah setelah ayat ke 120 dari surat Ali Imran, maka di sana akan Anda dapati kisah kami: “Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari keluargamu, buat menempatkan kaum mukmin pada beberapa tempat untuk berperang … sampai dengan firman-Nya: “Ingatlah ketika dua golongan darimu bermaksud hendak mundur karena takut” (Surat Ali Imran ayat 121-122). Lalu katanya mengenai orang-orang yang meminta diberi keamanan kepada orang-orang musyrik, sampai kepada firman-Nya SWT.: “Sesungguhnya dulu kamu mengharapkan mati syahid sebelum menghadapinya. Nah, sekarang kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya” (Surat Ali Imran ayat 143). Katanya, ayat ini ialah menyatakan keinginan orang-orang beriman hendak menemui musuh … sampai dengan firman-Nya SWT.: “Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik ke belakang?” (Surat Ali Imran ayat 144). Katanya pula: “Ini teriakan setan di waktu perang Uhud: “Muhammad telah tewas terbunuh … sampai dengan firman-Nya SWT.: “Allah menurunkan kepada kamu keamanan berupa kantuk” (Surat Ali Imran ayat 154) Katanya, “Allah menimpakan atas mereka rasa kantuk hingga tertidur”.
Diketengahkan oleh Syaikhan dari Jabir Ibnu Abdullah, katanya: “Terhadap kamilah diturunkan ayat: “Ketika dua golongan di antara kamu hendak mundur karena takut” (Surat Ali Imran ayat 122), yakni golongan Bani Salamah dan Bani Harisah.
Dan diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sya’bi juga oleh Ibnu Abu Syaibah dalam kitab Al-Musannaf bahwa kaum muslim mendapat berita di hari perang Badar bahwa Karaz bin Jabir Al-Muharibi memberi bantuan kepada orang-orang musyrik hingga kaum muslim menjadi susah karenanya. Maka Allah SWT. menurunkan ayat: “Tidakkah cukup bagi kamu jika Tuhanmu menolong kamu … sampai dengan firman-Nya: “yang bertanda” (Surat Ali Imran ayat 124-125). Lalu kekalahan orang-orang musyrik itu sampai ke telinga Karaz, hingga ia tidak jadi membantu kaum musyrik, demikian pula kaum muslim tidak pula jadi dibantu dengan lima ribu orang malaikat.
Firman Allah SWT.:
“Tak ada urusanmu mengenai soal itu sedikit pun juga”. (Surat Ali Imran ayat 128)
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Anas bahwa salah satu gigi Nabi SAW. rontok di waktu perang Uhud, dan terdapat luka di wajahnya, sehingga darah pun mengalir ke bawah. Maka tanyanya: “Bagaimana suatu kaum akan berbahagia jika mereka berani melukai Nabi mereka, padahal ia menyeru mereka kepada Tuhan mereka?” Maka Allah SWT. pun menurunkan ayat: “Tak ada urusanmu mengenai hal ini sedikit pun juga … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 128)
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dari Ibnu Umar, katanya: “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Ya Allah, kutukilah si Anu! Kutukilah Haris bin Hisyam! Ya Allah, kutukilah Suhail ibnu Amr! Ya Allah kutukilah Safwan ibnu Umayyah!” Maka turunlah ayat: “Tak ada urusanmu mengenai hal itu … sampai akhir ayat”, (Surat Ali Imran ayat 128). Sehingga semua mereka itu pun diterima tobatnya oleh Allah.
Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah yang serupa dengan itu. Kata Al-Hafiz Ibnu Hajar, cara menghimpun di antara kedua hadis bahwa Nabi SAW. memohon kepada Allah mengenai kedua hal tersebut di dalam salatnya setelah terjadinya peristiwa di waktu perang Uhud. Maka turunlah ayat ini mengenai kedua hal tersebut sekaligus, yakni tentang peristiwa yang dialaminya dan tentang doa yang diucapkannya terhadap mereka”. Kata AlHafiz pula: “Tetapi menghimpun ini sulit dilakukan terhadap peristiwa yang tersebut dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW. pernah berdoa di waktu salat Subuh, “Ya Allah, kutukilah suku-suku Ra’al, Zakwan dan Usaiyah”, sampai Allah menurunkan: “Tak ada urusanmu mengenai hal itu sedikit pun juga!” (Surat Ali Imran ayat 128)
Dikatakan sulit, karena ayat ini turun mengenai peristiwa Uhud, sedangkan kisah Ra’al dan Zakwan terjadi sesudahnya. Tetapi kemudian tampak oleh saya alasan terjadinya berita demikian itu, dan bahwa di sana terdapat “jarak”. Perkataannya “sampai Allah menurunkan”, terputus dari riwayat Zuhri pada orang yang menyampaikannya dalam riwayat Muslim. Penyampaian tidak sah pada riwayat yang saya katakan itu”. Katanya lagi: “Mungkin dapat dikatakan bahwa kisah mereka terjadi di belakang itu, lalu turunnya ayat terkebelakang sedikit dari sebab nuzul, kemudian barulah ia turun mengenai semua itu. Hanya mengenai sebab nuzul ini ada lagi riwayat yang dikeluarkan oleh Bukhari, dalam Tarikhnya dan oleh Ibnu Ishaq dari Salim Ibnu Abdullah bin Umar katanya: “Seorang laki-laki Quraisy datang kepada Nabi SAW. lalu katanya: “Bukankah Anda melarang orang memaki?” Lalu ia berpaling dan memutar pundaknya kepada Nabi SAW. serta membukakan badan bagian bawahnya. Maka Rasulullah mengutuk dan mendoakan kecelakaan baginya, sehingga Allah pun menurunkan: “tak ada urusanmu mengenai hal itu sedikit pun juga … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 128). Ke mudian orang itu masuk Islam dan keislamannya ternyata baik, tetapi hadis ini mursal lagi garib atau langka.
Firman Allah SWT.:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 130)
Diketengahkan oleh Faryabi dari Mujahid, katanya: “Mereka biasa berjual beli hingga waktu tertentu. Jika waktu itu telah sampai, mereka tambah harganya dan perpanjang waktunya. Maka turunlah ayat “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda”. (Surat Ali Imran ayat 130) ,
Diketengahkan pula dari Ata’ katanya: “Suku Sagif biasa berutang kepada Bani Nadir di masa jahiliyah, maka jika telah jatuh temponya, mereka katakan: “Kami beri tambahan, asal saja kamu perpanjang waktu pembayarannya”. Maka turunlah ayat: “Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda”. (Surat Ali Imran ayat 130)
Firman Allah SWT.:
“… dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya sebagai syuhada”. (Surat Ali Imran ayat 140)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ikrimah, katanya: “Tatkala berita —peranglambat sampai ke telinga kaum wanita, mereka pun pergi keluar untuk mencari-carinya. Kebetulan ada dua orang yang datang dengan mengendarai unta, maka tanya salah seorang di antara wanita itu: “Apakah yang dilakukan oleh Rasulullah?” Kedua laki-laki itu pun berceritalah, sampai wanita itu mengatakan: “Saya tidak peduli, apakah Allah akan menjadikan sebagian di antara hamba-hamba-Nya sebagai syuhada. Dan Qur’an pun turun mengenai apa yang dikatakan wanita itu: “Dan supaya sebagian kamu diJadikan-Nya sebagai syuhada” (Surat Ali Imran ayat 140)
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya dulu kamu telah mengharapkan mati syahid sebelum kamu menghadapinya … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 143)
Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Aufi dari Ibnu Abbas bahwa beberapa orang sahabat laki-laki pernah berkata: “Kenapa kita tidak gugur sebagaimana sahabat-sahabat kita di waktu perang Badar”, atau “Kapan kita dapat menemui kembali suatu hari sebagaimana harinya perang Badar, di mana kita dapat bertempur melawan orang-orang musyrik dan berhasil merebut kemenangan dan mendapatkan kebahagiaan, atau kita cari mati syahid, atau dua kalimat syahadat, surga atau kehidupan abadi yang penuh rezeki. Maka Allah pun membukakan kesempatan itu bagi mereka, yakni di medan perang Uhud, tetapi mereka tak dapat bertahan agak lama kecuali beberapa orang yang dikehendaki Allah di antara mereka. Maka Allah pun menurunkan ayat: “Sesungguhnya dulu kamu telah mengharapkan mati syahid”. (Surat Ali Imran ayat 143)
Firman Allah SWT.:
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul”. (Surat Ali Imran ayat 144)
Diketengahkan oleh Ibnul Munzir dari Umar, katanya: “Kami terpisah cerai berai dari Rasulullah SAW. di hari perang Uhud, lalu saya naik ke sebuah bukit. Maka saya dengar orang Yahudi mengatakan: “Muhammad sudah terbu. nuh!” Maka kata saya: “Tidak seorang pun saya dengar mengatakan bahwa Muhammad telah terbunuh, kecuali saya tebas batang lehernya!” Kemudian saya berkeliling melihat-lihat kiranya tampak Rasulullah SAW. dan orang: orang telah pulang. Maka turunlah ayat: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 144)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Rabi’ katanya: “Tatkala perang Uhud mereka ditimpa malapetaka yang menyebabkan mereka luka-luka, sehingga saling menanyakan tentang Nabi SAW.: ada orang yang mengatakan: “Nabi telah terbunuh”. Lalu dijawab oleh beberapa orang lain: “Sekiranya ia seorang nabi, maka dia tidak akan terbunuh”. Seru yang lain pula: “Perangilah apa yang diperangi nabimu, sampai kamu beroleh kemenangan atau kamu pergi menyusulnya”. Maka Allah pun menurunkan ayat: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul … sampai akhir ayat”, (Surat Ali Imran ayat 144)
Diketengahkan oleh Baihagi dalam Ad-Dala’il dari Abu Najih bahwa seorang laki-laki Muhajirin lewat pada seorang laki-laki Ansar yang sedang bergelimang darah, maka tanyanya: “Tahukah Anda bahwa Muhammad telah terbunuh?” Jawabnya: “Sekiranya Muhammad terbunuh, beliau telah menyampaikan risalahnya. Maka berperanglah pula kamu untuk agamamu!” Maka turunlah ayat tersebut.
Diketengahkan oleh Ibnu Rahawaih dalam Musnadnya dari Zuhri bahwa setanlah yang meneriakkan di waktu perang Uhud bahwa Muhammad telah terbunuh. Kata Ka’ab Ibnu Malik: “Sayalah yang mula-mula mengenali Rasulullah SAW., saya lihat kedua matanya dari balik topi besi, jalu saya serukan dengan sekeras-keras suara saya: “Inilah Rasulullah SAW. masih hidup!” Maka Allah pun menurunkan: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 144)
Firman Allah SWT.:
“Kemudian Allah menurunkan atasmu setelah berdukacita itu keamanan berupa kantuk … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 154)
Diketengahkan oleh Ibnu Rahawaih dari Zubair, katanya: “Kamu lihat saya di saat perang Uhud, yakni ketika kami merasa amat takut dan Allah mengirim kantuk kepada kami, maka tidak seorang pun di antara kami kecuali dagunya terletak di atas dadanya. Demi Allah, sungguh saya dengar ucapan Mu’tab bin Qusair seolah-olah dalam mimpi: “Sekiranya kita ada wewenang dalam urusan ini sedikit saja, tentulah kita tidak akan terbunuh di sini!” Maka katakatanya itu dihafal oleh saya”. Maka Allah menurunkan mengenai peristiwa ini: “Kemudian Allah menurunkan atasmu setelah berdukacita itu keamanan berupa kantuk … sampai dengan firman-Nya: “Dan Allah Maha Mengetahui isi hati”. (Surat Ali Imran ayat 154)
Firman Allah SWT.:
“Tidaklah mungkin seorang nabi akan berkhianat dalam urusan harta rampasan”. (Surat Ali Imran ayat 161)
Diketengahkan oleh Abu Daud dan juga oleh Turmuzi yang menganggapnya sebagai hadis Hasan dari Ibnu Abbas, katanya: “Ayat ini diturunkan mengenai selembar permadani merah yang hilang di waktu perang Badar. Kata sebagian orang: “Mungkin yang mengambilnya Rasulullah SAW.” Maka Allah menurunkan ayat: “Tidaklah mungkin bagi seorang nabi berkhianat terhadap urusan harta rampasan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 161)
Diketengahkan oleh Tabrani dalam kitab Al-Kabir dengan sanad yang orang-orangnya dapat dipercaya dari Ibnu Abbas, katanya: “Nabi SAW. mengirim sepasukan tentara, lalu mengembalikan panji-panjinya. Kemudian dikirimnya pula, lalu mengembalikannya. Kemudian dikirimnya lagi, lalu mengembalikan panji-panjinya disertai kepala rusa yang terbuat dari emas tetapi disertai kecurangan. Maka turunlah ayat: “Tidaklah mungkin bagi seorang nabi berkhianat terhadap urusan harta rampasan”. (Surat Ali Imran ayat . 161)









One Comment