Ulumul Quran

Terjemahan Kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul

Firman Allah SWT.:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang diberi bagian Al Kitab ..” (Surat An-Nisa ayat 51)

Diketengahkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, katanya “Tatkala Ka’ab bin Asyraf datang ke Mekah, berkatalah orang-orang Quraisy kepadanya: “Tidakkah Anda lihat si kepala batu yang telah dikucilkan dari kaumnya itu, ia menyangka bahwa ia lebih baik dari kami, padahal kami petugas-petugas haji yang melayani makan minum jemaah serta keamanan mereka”. Jawab mereka: “Kamu lebih baik”. Maka turunlah mengenai mereka ayat: “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. (Surat Al-Kausar ayat 3) Dan diturunkan pula: “Tidakkah kamu perhatikan orang: orang yang diberi bagian Al-Kitab … sampai dengan “penolong”. (Surat AnNisa ayat 51-52)

Dan diketengahkan oleh Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas, katanya: “Di antara orang-orang yang mengambil prakarsa untuk menggerakkan persekutuan di antara orang-orang Quraisy dengan Gatan dan Bani Quraizah ialah Huyai bin Akhtab, Salam bin Abil Haqiq, Abu Rafi, Rabi’ bin Abil Hagig, Abu Imarah dan Hauzah bin Qais, kesemua mereka dari warga Bani Nadir. Tatkala mereka ini mengadakan kunjungan kepada orang-orang Quraisy, beberapa orang warga Mekah mengatakan: “Mereka itu adalah pendeta-pendeta Yahudi dan para ahli mengenai kitab-kitab suci yang pertama dulu. Baik tanyakan pada mereka, manakah yang lebih baik, apakah agama kamu ataukah agama Muhammad”. Lalu mereka tanyakan, dan jawabannya ialah: “Agamamu lebih baik dari agama mereka, dan kamu lebih banyak dapat petunjuk daripadanya dan dari pengikut-pengikutnya”. Maka Allah pun menurunkan: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang diberi Al-Kitab … sampai dengan “kerajaan besar”. (Surat An-Nisa ayat 51-54)

Diketengahkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Aufi dari Ibnu Abbas, katanya: “Kata Ahli Kitab: “Muhammad menduga bahwa apa yang telah diberikan kepadanya itu dianggapnya sederhana, padahal ia mempunyai sembilan orang istri dan tak ada minatnya selain daripada kawin. Nah, raja manakah yang lebih utama daripadanya?” Maka Allah pun menurunkan: “Apakah mereka merasa dengki kepada manusia … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 54)

Dan diketengahkan pula oleh Ibnu Sa’ad dari Umar Maula Afrah yang hampir sama dengan itu yaitu “lebih berkelapangan daripadanya”.

Firman Allah SWT.: .

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu supaya menyampaikan amanat “(Surat An-Nisa ayat 58)

Piketengahkan oleh Ibnu Mardawaih dari jalur Kalbi dari Abu Salih dari Ibnu Abbas, katanya: “Tatkala Rasulullah SAW. membebaskan kota Mekah, dipanggilnya Usman bin Talhah, lalu setelah datang, maka sabdanya: “Coba Jihat kunci Ka’bah”, lalu diambilkannya. Tatkala Usman mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kunci itu, tiba-tiba Abbas bangkit, seraya katanya: “Wahai Rasulullah, demi ibu bapakku yang menjadi tebusanmu, gabungkanlah —tugasini dengan pelayanan minuman jemaah”. Mendengar itu Usman pun menahan tangannya, maka sabda Rasulullah SAW.: “Berikanlah kunci itu, hai Usman”. Maka jawabnya: “Ini amanat dari Allah”. Maka Rasulullah pun bangkit:ah, lalu dibukanya Ka’bah dan kemudian keluar, lalu bertawaf sekeliling Baitullah. Kemudian Jibril pun menurunkan wahyu agar mengembalikan kunci, maka dipanggilnya Usman bin Talhah lalu diserahkannya kunci itu kepadanya, kemudian dibacakannya ayat: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu supaya kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak …., hingga ayat itu selesai. (Surat An-Nisa ayat 58)

Diketengahkan oleh Syu’bah dalam Tafsirnya dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, katanya: “Ayat ini diturunkan mengenai Usman bin Talhah, yang Rasulullah menerima kunci Ka’bah daripadanya. Dengan kunci itu beliau memasuki Baitullah pada hari pembebasan, kemudian keluar seraya membaca ayat ini. Dipanggilnya Usman lalu diserahkannya kunci itu kepadanya. Katanya pula: “Kata Umar bin Khattab: “Tatkala Rasulullah keluar dari Ka’bah sambil membaca ayat ini, dan demi ibu bapak yang menjadi tebusannya, tidak pernah saya dengar ia membacanya sebelum itu”. Kata saya: “Jika dilihat dari sini, ternyata surat tersebut turun dalam ruangan Ka’bah”.

Firman Allah SWT.:

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 59)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan lain-lain dari Ibnu Abbas, katanya: “Diturunkan ayat ini pada Abdullah bin Huzafah bin Qais, yakni ketika ia dikirim oleh Nabi SAW. dalam suatu ekspedisi. Berita itu diceritakannya secara ringkas. Dan kata Daud, ini berarti mengada-ada terhadap Ibnu Abbas, karena disebutkan bahwa Abdullah bin Huzafah tampil di hadapan tentaranya dalam keadaan marah, maka dinyalakannya api lalu disuruhnya mereka menceburkan diri ke dalam api itu. Sebagian mereka menolak, sedangkan sebagian lagi bermaksud hendak menceburkan dirinya. Katanya: “Sekiranya ayat itu turun Sebelum peristiwa, maka kenapa kepatuhan itu hanya khusus terhadap Abdullah bin Huzafah dan tidak kepada yang lain-lainnya? Dan jika itu turun Sesudahnya, maka yang dapat diucapkan pada mereka ialah: “Taat itu hanyas lah pada barang yang makruf” jadi tidak pantas dikatakan: “Kenapa kalian tis dak mau mematuhinya?”

Dalam pada itu Al-Hafiz Ibnu Hajar menjawab bahwa yang dimaksud di dalam kisahnya dengan: “Jika kamu berselisih pendapat dalam sesuatu hal” bahwa mereka memang berselisih dalam menghadapi perintah itu dengan ke. patuhan, atau menolaknya karena takut pada api. Maka wajarlah bila waktu itu diturunkan pedoman yang dapat memberi petunjuk bagi mereka apa yang harus diperbuat ketika berselisih pendapat itu, yaitu mengembalikannya ke. pada Allah dan Rasul.

Dan Ibnu Jarir mengetengahkan bahwa ayat tersebut diturunkan menge. nai kisah yang terjadi di antara Ammar bin Yasir dengan Khalid bin Walid yang ketika itu menjadi amir atau panglima tentara. Tanpa setahu Khalid, Ammar melindungi seorang laki-laki hingga kedua mereka pun bertengkar.

Firman Allah SWT.:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengaku diri mereka telah beriman kepada …”. (Surat An-Nisa ayat 60)

Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim, dan Tabrani dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas, katanya, “Abu Barzah Al-Aslami adalah seorang tukang tenung yang biasa mengadili perkara-perkara yang menjadi persengketaan di antara orang-orang Yahudi. Kebetulan ada pula beberapa orang kaum muslim yang minta agar persengketaan di antara mereka diadili pula olehnya. Maka Allah pun menurunkan: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengaku diri mereka telah beriman … sampai dengan “penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. (Surat An-Nisa ayat 60-62)

Dan diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Ikrimah atau Sa’id dari Ibnu Abbas, katanya: “Jallas bin Samit, Ma’tab bin Qusyair, Rafi bin Zaid, dan Bisyr mengaku beragama Islam. Maka beberapa warga mereka yang beragama Islam mengajak mereka untuk menemui Rasulullah SAW. untuk menyelesaikan sengketa yang terdapat di antara mereka. Tetapi mereka tidak bersedia, sebaliknya membawa pihak lawan kepada tukang: tukang tenung yang biasa menjadi hakim di masa jahiliyah. Maka Allah pun menurunkan mengenai mereka: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengaku … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa 60)

Dan diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari Sya’bi, katanya: “Terjadi suatu pertengkaran di antara seorang laki-laki Yahudi dengan seorang laki-laki mu nafik. Kata si Yahudi: “Ayolah kita bertahkim kepada ahli agamamu —atav katanya, kepada Nabimukarena ia yakin bahwa Nabi takkan mau menerima suap dalam memutuskan sesuatu. Tetapi persetujuan tidak tercapai, dan akhirnya mereka setuju untuk mendatangi seorang tukang tenung di Juhainah, maka turunlah ayat tersebut di atas.”

Firman Allah SWT.:

“Maka demi Tuhanmu, mereka …” (Surat An-Nisa ayat 65)

Diketengahkan oleh imam yang berenam dari Abdullah bin Zubair, kata nya: “Zubair berselisih dengan seorang laki-laki Ansar mengenai aliran air d sebidang tanah, maka sabda Nabi SAW.: “Airilah tanahmu hai Zubair, kemudian teruskanlah aliran itu ke tanah tetanggamu!” Kata orang Ansar: “Wahai Rasulullah, apakah karena ia saudara sepupumu”. Wajah Rasulullah pun berubah merah, lalu sabdanya: “Alirilah tanahmu, hai Zubair, kemudian tahanlah air sampai kembali ke dinding, dan setelah itu barulah kamu kirimkan pada tetanggamu”. Demikian Zubair mendapatkan haknya secara penuh, padahal pada mulanya Nabi telah mengusulkan pada Zubair cara yang lebih luwes. Kata Zubair: “Saya kira ayat-ayat ini: ‘Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim mengenai perkara yang mereka perselisihkan ‘, hanya diturunkan berkenaan dengan peristiwa itu!”

Dan diketengahkan oleh Tabrani dalam Al-Kabir dan oleh Humaidi dalam Musnadnya dari Ummu Salamah, katanya: “Zubair mengadukan seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. maka beliau menetapkan keputusan buat kemenangan Zubair. Maka kata laki-laki itu: “Ia dimenangkannya tidak lain hanyalah karena ia saudara sepupunya”. Maka turunlah ayat: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 65)

Dan diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Musayab mengenai firman-Nya: “Maka demi Tuhanmu … sampai akhir ayat”, (Surat An-Nisa ayat 65) bahwa ia diturunkan mengenai Zubair bin Awwam dan Hatib bin Abi Balta’ah yang bersengketa tentang air. Maka Nabi SAW. memutuskan agar yang tinggi dialiri lebih dulu, kemudian baru yang rendah.

Dan diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Abul Aswad, katanya: “Dua orang laki-laki yang bersengketa mengadu kepada Rasulullah SAW. lalu diadili oleh Rasulullah. Maka orang yang merasa dirinya dikalahkan, berkata: “Kembalikanlah kami kepada Umar bin Khattab”. Lalu mereka pun datanglah kepadanya, dan kata laki-laki yang seorang lagi: “Tadi Rasulullah SAW. telah memberikan putusan terhadap perkara ini, tetapi kawan ini meminta agar kami dikirim kepada Anda?” “Begitukah?” tanya Umar. “Benar” ujar orang itu. Maka kata Umar: “Tinggallah kalian di sini, menunggu saya kembali dan memberikan keputusan!”

Tidak lama antaranya Umar kembali dengan membawa pedangnya, lalu ditebasnya orang yang meminta kembali kepadanya itu. Maka Allah pun menurunkan: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman … sampai akhir ayat” (Surat An-Nisa ayat 65). Tetapi hadis ini garib —langkakarena dalam isnadnya ada Ibnu Luhai-ah. Tetapi ada pula saksi yang memperkuatnya yang dikeluarkan oleh Rahim dalam Tafsirnya dari jalur Atabah bin Damrah dari bapaknya.

Firman Allah SWT.:

“Dan sungguh, sekiranya Kami perintahkan pada mereka …”. (Surat AnNisa ayat 66)

Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari As-Suddi, katanya: Tatkala turun ayat “Dan sungguh, sekiranya Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari negerimu, maka mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka,” (Surat An-Nisa ayat 66) maka Sabit bin Qais bin Syammas dan seorang laki-laki Yahudi membangga-banggakan diri mereka. Kata si Yahudi: “Demi Allah, sungguh Allah telah memerintahkan kepada kami: ‘Bunuhlah diri kamu’ maka kami mengerjakannya”. Dan kata Sabit pula: “Sekiranya Allah memerintahkan kami supaya membunuh diri ka. mi, tentulah kami akan melakukannya”. Maka Allah pun menurunkan: “Dan sekiranya mereka melakukan apa yang dinasihatkan kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan —keimanan mereka—”, (Su. rat An-Nisa ayat 66)

Firman Allah SWT:

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah …”. (Surat An-Nisa ayat 69)

Diketengahkan oleh Tabrani dan Ibnu Mardawaih dengan sanad yang tak ada jeleknya dari Aisyah, katanya: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW. lalu katanya: “Wahai Rasulullah, Anda lebih saya cintai dari diri saya, dan lebih saya kasihi dari anak saya. Mungkin suatu saat saya sedang berada di rumah, lalu teringat kepada Anda, maka hati saya tak sabar hingga saya datang dan sempat melihat wajah Anda. Dan jika saya ingat akan kematian saya dan kematian Anda, saya pun maklum bahwa tempat Anda ditinggikan bersama para nabi, saya khawatir jika saya masuk surga, takkan sempat melihat Anda lagi”. Nabi SAW. tidak menjawab sedikit pun hingga turunlah Jibril membawa ayat ini: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan kepada Rasul … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 69)

Dan diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Masrug, katanya: “Kata para sahabat Nabi SAW.: “Wahai Rasulullah, tidak sepatutnya kami berpisah dengan Anda, karena sekiranya Anda wafat, maka Anda akan dinaikkan di atas kami hingga kami tidak sempat melihat Anda lagi. Maka Allah pun menurunkan: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 69)

Dan diketengahkan dari Ikrimah, katanya: “Seorang anak muda datang kepada Nabi SAW. lalu katanya: “Wahai Nabi Allah, di dunia ini sesekali kami dapat juga melihat Anda, tetapi di hari kiamat kami tak dapat melihat Anda lagi karena Anda berada dalam surga pada tingkat yang tinggi. Maka Allah pun menurunkan ayat ini. Lalu sabda Rasulullah SAW. kepadanya: “Kamu insya-Allah berada bersama saya di dalam surga”.

Ibnu Jarir mengetengahkan pula yang sama dengan itu dari hadis mursal Sa’id bin Jubair, Masrug, Rabi’, Qatadah dan As-Suddi.

Firman Allah SWT.:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka Tahanlah tanganmu …”. (Surat An-Nisa ayat 77).

Diketengahkan oleh Nasa-i dan Hakim dari Ibnu Abbas bahwa Abdurrahman bin Auf serta beberapa orang kawannya datang menemui Nabi SAW. lalu kata mereka: “Wahai Nabi Allah! Dahulu ketika masih musyrik kita ini orang orang yang kuat, tetapi setelah beriman, kita menjadi orang-orang yang lemah”. Jawab Nabi SAW.. “Saya disuruh untuk memaafkan kesalahan mereka, maka janganlah kalian perangi orang-orang itu!” Maka tatkala mereka disuruh pindah oleh Allah ke Madinah, mereka disuruh-Nya berperang, tetapi mereka tidak bersedia. Maka Allah pun menurunkan: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: Tahanlah tangannmu … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 77)

Firman Allah SWT.:

“Dan jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan …”. (Surat An-Nisa ayat 83)

Diriwayatkan oleh Muslim dari Umar bin Khattab, katanya: “Tatkala Nabi SAW. mengucilkan para istrinya, aku masuk ke dalam masjid, tiba-tiba kulihat orang-orang (para sahabat) melempar-lempar batu kerikil ke tanah seraya mengatakan Rasulullah telah menalak istri-istrinya, lalu aku berdiri tegak di pintu masjid dan kuserukan dengan sekuat suaraku bahwa Nabi tidak menalak istri-istrinya, kemudian turunlah ayat ini: “Dan jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan dan ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Padahal seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang ingin menyelidiki duduk perkaranya, akan dapat mengetahuinya dari mereka” (Surat An-Nisa ayat 83). Maka saya termasuk di antara orang-orang yang menyelidiki duduk perkaranya itu.

Firman Allah SWT.:

“Maka kenapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orangorang munafik …”. (Surat An-Nisa ayat 88)

Diriwayatkan oleh Syaikhan dan lain-lain dari Zaid bin Sabit bahwa Rasulullah SAW. berangkat menuju Uhud. Sebagian di antara orang-orang yang turut bersamanya tadi kembali pulang. Maka para sahabat Nabi SAW. terbagi atas dua golongan dalam menghadapi orang-orang yang kembali atau kaum munafik ini. Sebagian mengatakan: “Kita bunuh mereka itu”, sedangkan sebagian lagi mengatakan: “Tidak”. Karena itu Allah menurunkan: “Maka kenapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik?” (Surat An-Nisa ayat 88)

Diketengahkan oleh Sa’id bin Mansur dan Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Mw’az, katanya: “Rasulullah SAW. berpidato di hadapan orang banyak, sabdanya: “Siapa yang bersedia membantuku menghadapi orang-orang yang menyakitiku dan yang mengumpulkan di rumahnya orang-orang yang menyakitiku?” Maka kata Sa’ad bin Mw’az: “Jika dia dari warga Aus, kami bunuh dia, dan jika dia dari warga Khazraj, maka Anda dapat mengeluarkan perintah kepada kami dan kami akan menaatinya”. Mendengar itu maka berdirilah Sa’ad bin Ubadah, lalu katanya: “Betapa Anda akan menaati perintah Nabi SAW. hai Ibnu Mw’az, padahal Anda telah mengetahui bahwa orang yang dimaksud bukanlah dari warga Anda!” Lalu berdirilah pula Usaid bin Hudair, katanya: “Hai Ibnu Ubadah, kamu ini seorang munafik dan mengasihi orang-orang munafik”. Ketika itu tampillah pula Muhammad bin Maslamah, katanya: “Diam. lah tuan-tuan, sekalian! Bukankah di kalangan kita ini ada Rasulullah dan beliau berhak memerintahkan kita hingga perintahnya itu harus dilaksanakan?” Karena itu Allah pun menurunkan: “Maka kenapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik …. sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 88)

Dan diketengahkan oleh Ahmad dari Abdurrahman bin Auf bahwa suatu kaum dari bangsa Arab datang menemui Rasulullah SAW. di Madinah. Mereka pun masuk Islam, lalu ditimpa oleh wabah kota Madinah dan penyakit demamnya hingga mereka berbalik surut dan keluar meninggalkan kota. Sebagian sahabat menemui mereka, lalu menanyai mereka: “Kenapa kamu kembali?” Jawab mereka: “Kami ditimpa oleh wabah Madinah”. Kata mereka pula: “Tidakkah Rasulullah itu dapat menjadi contoh yang baik bagi kamu?” Kata sebagian sahabat lagi: “Mereka ini rupanya orang-orang munafik!” Kata lainnya: “Tidak, mereka bukan orang-orang munafik”. Maka Allah pun menurunkan: “Maka kenapa kamu menjadi dua golongan dalam menghadapi orangorang munafik …. sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 88) Dalam isnadnya terdapat pemalsuan dan bagian yang terputus.

Firman Allah SWT.:

“Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 90)

Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Hasan bahwa Suragah bin Malik Al-Mudlaji menceritakan kepada mereka. “Tatkala Nabi SAW. telah beroleh kemenangan terhadap lawan-lawannya di perang Badar dan perang Uhud, serta orang-orang sekeliling telah masuk Islam, saya dengar berita bahwa beliau hendak mengirim Khalid bin Walid kepada warga Saya suku Mudallaj. Maka saya datangi beliau, lalu kata saya: “Saya minta Anda memberikan suatu perlindungan secara sungguh-sungguh. Saya dengar kabar bahwa Anda hendak mengirim —pasukankepada kaum saya, sedangkan saya ingin agar Anda berdamai dengan mereka. Jika ternyata war: ga Anda masuk Islam, tentulah mereka pun akan masuk Islam. Tetapi jika ti dak, maka tidaklah baik apabila warga Anda itu menguasai mereka. Maka Rasulullah SAW. pun mengambil tangan Khalid bin Walid, katanya: “Pergilab bersamanya dan turutlah apa yang dikehendakinya”. Khalid pun mengikat perdamaian dengan mereka dengan syarat mereka tidak menolong musuh musuh Rasulullah SAW. dan apabila orang-orang Quraisy masuk Islam, maks mereka pun akan masuk pula bersama mereka. Dan Allah pun menurunkan: “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum yang di antaramu dengan kaum itu telah ada perjanjian damai”. (Surat An-Nisa aya! 90). Maka orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum itu akan terikat pula dalam perjanjian yang telah mereka perbuat.

Dan diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, katanya: “Diturunkan ayat: Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum yang di antaramu dengan kaum itu telah ada perjanjian damai” (Surat An-Nisa ayat 90) mengenai Hilal bin Uwaimir Al-Aslami dan Suragah bin Malik Al-Mudlaji juga mengenai Bani Juzaimah bin Amir bin Abdi Manaf”.

Dan diketengahkan pula dari Mujahid bahwa ayat itu diturunkan pula pada Hilal bin Uwaimir Al-Aslami, yang di antaranya dengan kaum muslim ada suatu perjanjian. Beberapa orang anak buahnya mendatanginya tetapi ia tidak mau memerangi kaum muslim dan sebaliknya tidak pula hendak memerangi kaumnya.

Firman Allah SWT.:

“Tidak sepatutnya seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain”. (Surat An-Nisa ayat 92)

Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah, katanya: “Haris bin Yazid dari Bani Amir bin Lu-ai bersama Abu Jahal menyiksa Iyasy bin Abi Rabiah. Kemudian Hari3 pergi berhijrah kepada Nabi SAW. Ia bertemu dengan Iyasy di Harrah kemudian Iyasy menghunus pedangnya karena menduga bahwa Haris masih kafir lalu datanglah Nabi SAW. menceritakan keadaan sebenarnya, maka turunlah ayat: “Tidak sepatutnya seorang mukmin membunuh seorang mukmin lainnya kecuali karena bersalah … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 92)

Dan dikeluarkannya pula yang sama dengan itu dari Mujahid dan AsSuddi.

Diketengahkan pula oleh Ibnu Ishaq, Abu Ya’la dan Haris bin Abi Usamah dan Abu Muslim Al-Kajji dari QGasim bin Muhammad yang serupa dengan itu, sementara Ibnu Abi Hatim mengeluarkannya pula dari jalur Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas.

Firman Allah SWT.:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja …”. (Surat An-Nisa ayat 93)

Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Ibnu Juraij dari Ikrimah bahwa seorang laki-laki Ansar membunuh saudara dari Magis bin Sababah. Maka Nabi SAW. pun memberinya diat yang diterimanya dengan baik. Tetapi kemudian Magis menerjang orang yang membunuh saudaranya itu, lalu dibunuhnya pula, Sabda Nabi SAW.. “Saya tak ingin menjamin keamanan dirinya, baik di Tanah Halal atau di Tanah Haram”, dan ternyata ia dibunuh di waktu pembebasan. Kata Ibnu Juraij: “Mengenainyalah turunnya ayat “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat

Firman Allah SWT.:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah …”, (Surat An-Nisa ayat 94)

Diriwayatkan oleh Bukhari, Turmuzi, Hakim dan lain-lain dari Ibnu Abbas, katanya: “Seorang laki-laki dari Bani Salim lewat di hadapan para sahabat Nabi SAW. sambil menghalau kambingnya. Ia memberi salam kepada mere. ka, tetapi jawab mereka: “Ia memberi salam itu tidak lain hanyalah untuk melindungkan dirinya kepada kita” Mereka pun mendatanginya lalu membu. nuhnya, dan membawa kambing-kambingnya kepada Nabi SAW. Maka turun. lah ayat “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 94)

Diketengahkan pula oleh Al-Bazzar dari jalur lain dari Ibnu Abbas, kata. nya: “Rasulullah SAW. mengirim suatu ekspedisi tentara yang di dalamnya terdapat Migdad. Ketika mereka sampai pada tempat yang dituju, mereka da. pati orang-orangnya telah cerai berai, dan hanya tinggal seorang laki-laki de. ngan harta yang banyak. Kata laki-laki itu, asyhadu alla ilaha ilallah. Teta. pi Migdad tetap membunuhnya, maka sabda Nabi SAW.: “Apa katamu nanti terhadap ucapan syahadatnya itu?” Dan dalam pada itu turunlah ayat tersebut.

Dan diketengahkan oleh Ahmad, Tabrani dan lain-lain dari Abdullah bin Abi Hudud Al-Aslami, katanya: “Kami dikirim oleh Rasulullah SAW. bersama satu rombongan kaum muslim di mana di dalamnya terdapat Abu Qatadah dan Mahlam bin Jusamah. Kebetulan lewatlah di hadapan kami Amir bin Adbat Al-Asyja’i lalu ia memberi salam kepada kami. Tetapi Mahlam menyerangnya lalu membunuhnya. Dan tatkala kami sampai di tempat Nabi SAW. lalu menceritakan peristiwa itu, turunlah pada kami ayat: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah … sampai akhir ayat”. (Surat An-Nisa ayat 94)

Juga Ibnu Jarir mengetengahkan yang sama dengan itu dari hadis Ibnu Umar.

Dan diriwayatkan oleh Sa’labi dari jalur Kalbi dari Abu Salih dari Ibnu Abbas bahwa nama orang yang terbunuh itu ialah Mirdas bin Nuhaik dari warga Fadak, dan bahwa nama si pembunuhnya itu ialah Usamah bin Zaid, sedangkan nama pemimpin ekspedisi itu Galib bin Fudalah Al-Laisi. Tatkala

kaumnya telah kalah, tinggallah Mirdas seorang diri, dan maksudnya hendak melindungkan kambingnya ke sebuah bukit. Maka sewaktu berjumpa dengan kaum muslim itu dibacanyalah Ia ilaha illallah Muhammadur Rasulullah dan Assalamu ‘alaikum. Tetapi Usamah bin Zaid membunuhnya, dan ketika mereka telah kembali turunlah ayat di atas.

Ibnu Jarir mengetengahkan pula yang serupa dengan itu dari jalur As Suddi, sedangkan Abdun dari jalur Qatadah.

Dan Ibnu Abi Hatim mengeluarkannya dari jalur Ibnu Luhai-ah dari Abu Zubair dari Jabir, katanya: “Ayat berikut ini “Dan janganlah kamu katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu …”. (Surat An-Nisa aya 94) diturunkan mengenai Mirdas, dan ia adalah seorang syahid yang baik”.

Dan diketengahkan oleh Ibnu Mandah dari Juz-in bin Hadrajan, katanya: “Saudara saya Migdad berangkat menemui Nabi SAW. sebagai seorang utusan dari Yaman. Kebetulan ia berjumpa dengan utusan Nabi SAW. Maka katanya: “Saya ini seorang mukmin”. Tetapi mereka tak mau menerimanya, hingga membunuhnya. Berita itu sampai ke telinga saya, maka pergilah saya menghadap Rasulullah SAW. maka turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman, jika kamu pergi berperang di jalan Allah, maka selidikilah lebih dulu

” (Surat An-Nisa ayat 94) Maka Nabi SAW. memberi saya diat dari saudara saya itu”.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker