Ulumul Quran

Terjemahan Kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul

Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ali Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas r.a. yang telah menceritakan bahwa ada beberapa orang dari kalangan orang-orang Ansar hendak membangun masjid. Maka berkatalah kepada mereka seseorang yang bernama Abu Amir: “Bangunlah masjid kalian dan kemudian persiapkanlah kekuatan dan senjata yang kalian mampui, karena sesungguhnya aku segera akan berangkat ke Kaisar Romawi. Aku akan mendatangkan pasukan Romawi, kemudian aku akan mengusir Muhammad beserta para sahabatnya dari Madinah”.

Ketika mereka telah selesai dari membangun masjidnya, lalu mereka datang kepada Nabi SAW. dan mengatakan kepada beliau: “Sesungguhnya kami baru saja selesai dari membangun masjid kami, maka kami senang sekali bila engkau mau melakukan salat di dalamnya”. Ketika itu juga Allah menurunkan firman-Nya: Janganlah kamu bersalat dalam masjid itu selamalamanya…” (Q.S. 9 At-Taubah, 108).

Al-Wahidi telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Sa’ad ibnu Abu Waggas yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik akan membangun masjidnya sendiri guna menyaingi Masjid Quba, lalu mereka menawarkan kepada Abu Amir supaya menjadi imam mereka bilamana telah datang (dari Kaisar). Tetapi ketika mereka telah selesai membangunnya, mereka mendatangi Rasulullah SAW. seraya meminta kepadanya: “Sesungguhnya kami telah membangun sebuah masjid, maka kami memohon supaya engkau mau salat di dalamnya”. Lalu turunlah firman-Nya: Janganlah kamu bersalat dalam masjid itu selama-lamanya …” (Q.S. 9 At-Taubah, 108).

Imam Turmuzi telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah r.a. yang telah menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan para jamaah Masjid Quba, yaitu firman-Nya: “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Q.S. 9 At-Taubah, 108). Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa para jamaah Masjid Quba itu selalu membersihkan diri dengan memakai air, lalu turunlah ayat ini berkenaan dengan sikap mereka itu.

Umar ibnu Syaibah di dalam kitab Akhbarul Madinah-nya telah mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Al-Walid ibnu Abu Sandar Al-Aslami, dari Yahya ibnu Sahl Al-Ansari, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan para jamaah Masjid Quba. Mereka biasa memakai air untuk bersuci dari buang air besar, lalu turunlah firman-Nya: “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri …” (Q.S. 9 AtTaubah, 108).

Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ata yang telah menceritakan bahwa kaum yang pertama kali melakukan wudu dengan air adalah jamaah Masjid Quba, maka turunlah firman-Nya sehubungan dengan sikap mereka ini, yaitu:”Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Q.S. 9 At-Taubah, 108).

Firman Allah SWT.:

“Sesungguhnya Allah telah membeli …” (9.5. 9 At-Taubah, 111).

Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Muhammad ibnu Ka’ab Al-Gurazi yang telah menceritakan bahwa Abdullah ibnu Rawwahah berkata kepada Rasulullah SAW.: “Kemukakanlah syarat untuk Tuhanmu dan untuk dirimu sendiri sesuka hatimu”, Lalu Rasulullah SAW. bersabda: “Aku mensyaratkan buat Tuhanku, hendaknya kalian menyembah-Nya dan tidak sekali-kali menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan aku mensyarat kan untuk diriku sendiri, hendaknya kalian membela diriku sebagaimana ka lian mempertahankan jiwa dan harta benda kalian sendiri” Mereka (para sahabat Ansar) bertanya: “Jika kami melakukan hal tersebut, apakah yang akan kami terima?” Rasulullah SAW. menjawab: “Surga”. Mereka berkata “Kalau demikian, berarti perniagaan (kami) sangat beruntung, kami berjanji tidak akan merusaknya dan tidak pula akan mengundurkan diri darinya”. Maka turunlah firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orangorang mukmin, diri dan harta mereka …” (Q.S. 9 At-Taubah, 111).

Firman Allah SWT.:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman …” (Q.S. 9 At-Taubah, 113).

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Sa’id ibnul Musayyab, dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa sewaktu Abu Talib sedang menghadapi kematiannya, masuklah Rasulullah SAW. menjenguknya. Pada saat itu di sisi Abu Talib telah ada Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abu Umayyah. Kemudian Rasulullah SAW. bersabda: “Wahai paman, katakanlah: Tiada Tuhan selain Allah (La Ilaha Illallah), kelak aku akan membelamu dengannya di hadapan Allah.”

Abu Jahal dan Abdullah ibnu Umayyah berkata: “Hai Abu Talib, apakah engkau tidak menyukai agamanya Abdul Muttalib?” Kedua orang tersebut masih terus berbicara kepada Abu Talib, sehingga pada akhirnya Abu Talib mengatakan kepada mereka bertiga, bahwa dia berada pada agamanya Abdul Muttalib”. Maka Rasulullah SAW. bersabda: “Aku sungguh akan tetap memohonkan ampun buatmu selagi aku tidak dilarang melakukannya buatmu”. Maka turunlah firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik”. (Q.S. 9 At-Taubah, 113).

Dan ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan Abu Talib pula yaitu: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi …” (Q.S. 28 Al-Gasas, 56). Makna lahiriah ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan di Mekah (padahal ayat ini termasuk Madaniyyah).

Imam Turmuzi telah mengetengahkan sebuah hadis dan dia menilainya sebagai hadis yang hasan (baik), Imam Hakim telah meriwayatkan pula hadis yang sama, kedua-duanya bersumber dari Ali r.a. Ali r.a. telah menceritakan, “Aku pernah mendengar seorang lelaki memohonkan ampun buat kedua Orang tuanya, sedangkan kedua orang tuanya adalah orang musyrik. Lalu aku berkata kepadanya: ‘Apakah engkau memintakan ampun buat kedua orang tuamu, sedangkan mereka berdua adalah orang musyrik?” Lalu lelaki itu menjawab: “Nabi Ibrahim telah memintakan ampun bagi ayah (paman)nya sendiri, sedangkan dia adalah orang musyrik.”

Ali r.a. melanjutkan kisahnya, “Kemudian aku ceritakan peristiwa itu kebada Rasulullah SAW. Maka pada saat itu juga turunlah firman-Nya: Tiadalah Sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik ..’ (Q.S. 9 At-Taubah, 113)”.

Imam Hakim dan Imam Baihagi di dalam Kitab Ad-Dalail-nya, serta orangorang lainnya telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Mas’ud r.a. yang telah menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW. keluar untuk pergi ke kuburan. Kemudian Rasulullah SAW. duduk di sebelah salah satu kuburan, lalu beliau bermunajat di kuburan itu cukup lama. Setelah itu Rasulullah SAW. menangis, maka aku pun menangis, karena terpengaruh oleh tangisan beliau.

Selanjutnya Rasulullah SAW. bersabda. “Sesungguhnya kuburan yang aku duduk di sisinya tadi adalah kuburan ibuku. Aku meminta izin kepada Allah supaya aku diberi izin untuk mendoakannya, tetapi Dia tidak mengizinkan”. Maka pada saat itu turunlah firman-Nya: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik …” (Q.S. 9 At-Taubah, 113).

Imam Ahmad dan Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis,

yang lafaznya berasal dari Imam Ahmad, dengan melalui hadisnya Buraidah. Buraidah menceritakan bahwa ketika saya sedang bersama Nabi SAW. dalam suatu perjalanan, tiba-tiba beliau SAW. berhenti di Asfan. Lalu Rasulullah SAW. melihat kuburan ibunya, untuk itu beliau berwudu terlebih dahulu, kemudian membacakan doa dan terus menangis. Setelah itu beliau SAW. bersabda: “Sesungguhnya aku telah meminta izin kepada Tuhanku supaya diperkenankan memintakan ampun buat ibuku, tetapi Dia melarangku”. Maka pada saat itu turunlah firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orangorang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik …” (Q.S. 9 At-Taubah, 113). Imam Tabrani dan Ibnu Murdawaih telah mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui Ibnu Abbas r.a. Disebutkan di dalam hadisnya bahwa hal tersebut terjadi sewaktu Rasulullah SAW. kembali dari medan Tabuk, kemudian beliau berangkat ke Mekah untuk tujuan umrah, lalu beliau berhenti di Asfan.

Al-Hafiz ibnu Hajar memberikan komentarnya, bahwa adakalanya penurunan ayat ini mempunyai banyak penyebab, yaitu peristiwa mengenai Abu Talib, peristiwa mengenai Siti Aminah (ibu Nabi SAW.), dan kisah mengenai Ali, serta orang-orang lainnya. Semuanya menunjukkan bermacam-macam sebab nuzulnya.

Firman Allah SWT.:

“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi …” (Q.S. 9 At-Taubah, 117).

Imam Bukhari dan lain-lainnya telah meriwayatkan sebuah hadis melalus Ka’ab ibnu Malik yang telah menceritakan, “Aku belum pernah ketinggalan dalam suatu peperangan pun, selalu bersama Nabi SAW., kecuali hanya dalam Perang Badar. Dan ketika Perang Tabuk diserukan, yaitu peperangan yang terakhir bagi Nabi SAW., kemudian orang-orang diserukan untuk berangkat ke medan perang, dan seterusnya. Di dalam hadis ini terdapat kata-kata: Kemudian Allah menurunkan firman-Nya yang berkenaan dengan penerimaan tobat kami, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin …” (Q.S. 9 At-Taubah, 117), sampai dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang’ (Q.S. 9 At-Taubah, 118). Dan diturunkan pula firman-Nya: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar” (Q.S. At-Taubah 119).

Firman Allah SWT.:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang)…” (Q.S. 9 At-Taubah, 122).

Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang telah menceritakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya berikut ini, yaitu: “Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih” (Q.S. At-Taubah, 39)

Tersebutlah pada saat itu ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang, mereka berada di daerah Badui (pedalaman) karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka orang-orang munafik memberikan komentarnya: “Sungguh masih ada orang-orang yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu”. Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)…” (Q.S. 9 At-Taubah, 122).

Ibnu Abu Hatim telah mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair yang menceritakan bahwa mengingat keinginan kaum mukmin yang sangat besar terhadap masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah SAW. mengirimkan Sariyyahnya, maka mereka semuanya berangkat. Dan mereka meninggalkan Nabi SAW. di Madinah bersama orang-orang yang lemah. Maka turunlah firman Allah SWT. yang paling atas tadi (yaitu surat At-Taubah, ayat 122).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker