Firman Allah SWT.:
“Apakah setiap kamu ditimpa oleh musibah … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 165)
Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Umar bin Khattab, katanya: “Mereka dihukum di waktu perang Uhud disebabkan kesalahan mereka di waktu perang Badar, yaitu dengan menerima uang tebusan. Maka ada 70 orang di antara mereka yang gugur, dan para sahabat Nabi SAW. melarikan diri, hingga beliau sendiri patah gigi taringnya dan pecah ketopong besi di atas kepalanya, sehingga darah mengalir di atas wajahnya. Maka Allah menurunkan ayat: “Apakah setiap kamu ditimpa oleh musibah … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 165)
Firman Allah SWT.:
“Janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati … sampai akhir ayat. (Surat Ali Imran ayat 169)
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Hakim dari Ibnu Abbas, katanya: “Kata Rasulullah SAW.: “Tatkala saudara-saudaramu ditimpa malapetaka waktu perang Uhud, maka Allah menjadikan roh-roh mereka dalam rongga tubuh burung-burung hijau yang selalu mendatangi sungai-sungai surga dan memakan buah-buahannya serta berlindung dalam kandil-kandil emas di bawah naungan ‘arasy. Ketika terasa oleh mereka bagaimana nikmatnya makanan dan minuman serta indahnya tempat tinggal mereka, mereka berkata: Wahai malangnya nasib teman-teman kita, kenapa mereka tidak mengetahui balasan yang disediakan Allah bagi kita, agar mereka tidak merasa enggan untuk berjihad dan tidak mengabaikan peperangan.” Maka Allah pun berfir. man: “Akulah yang akan menyampaikan kepada mereka berita dari kamu itu,” lalu diturunkan-Nyalah ayat: “Dan janganlah kamu kira bahwa orang. orang yang gugur di jalan Allah itu mati … sampai akhir ayat dan ayat-ayat berikutnya.” Turmuzi meriwayatkan yang sama isinya dengan itu dari Jabir.
Firman Allah SWT.:
“Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan rasul-Nya setelah mereka mendapat luka … sampai akhir ayat.” (Ali Imran ayat 172)
Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Aufi dari Ibnu Abbas, katanya: “Sesungguhnya Allah telah memasukkan rasa kecut ke dalam hati Abu Sufyan di waktu perang Uhud yakni setelah ia menerima tamparan dari kamu, maka setelah ia kembali ke Mekah, Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya Abu Sufyan telah ditimpakan sesuatu dari kamu sehingga berair matanya, oleh karena itu ia kembali dan selain itu Allah memasukkan rasa takut ke dalam hatinya. Perang Uhud itu terjadi pada bulan Syawal, dan para pedagang biasanya datang ke Madinah pada bulan Zulkaidah, lalu tinggal di Badar AsSugra. Setelah perang Uhud itu mereka juga tidak lupa datang ke Badar. Keadaan kaum muslim yang baru saja ditimpa bencana, masih belum pulih dari kesedihannya. Nabi SAW. mengerahkan orang-orang untuk ikut pergi bersamanya. Lalu setan muncul dan menakut-nakuti mereka, katanya: “Musuh telah menghimpun pasukan untuk menghadapi kalian!” Karena itu orangorang merasa enggan untuk memenuhi panggilan Nabi SAW. Maka sabdanya: “Aku tetap akan berangkat, walau tak seorang pun yang mau ikut!” Tetapi sahabat-sahabat utama yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Zubair, Sa’ad, Talhah, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, Huzaifah bin Yaman dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah bersama serombongan orang yang berkekuatan 70 orang bergabung dengan beliau dan berangkat untuk mencari Abu Sufyan lalu mencarinya hingga di Safra. Maka Allah menurunkan ayat: “Yaitu orangorang yang menaati perintah Allah dan rasul-Nya setelah mereka mendapat luka … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 172)
Diketengahkan pula oleh Tabrani dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas, katanya: “Tatkala orang-orang musyrik kembali dari Uhud, teman-teman mereka mengatakan: “Muhammad tidak berhasil kamu bunuh, dan gadis-gadis cantik tidak pula kalian tawan. Alangkah sia-sianya perbuatan kalan! Kalau begitu kembalilah kalian … !” Ucapan ini sampai ke telinga Rasulullah SAW. maka dikerahkannyalah kaum muslim, yang mendapat sam: butan baik dari mereka. Mereka terus berjalan sampai di Hamra’ul Asad atau Bir Abi Utbah. Maka Allah pun menurunkan ayat: “Yaitu orang-orang yang menaati perintah Allah dan rasul-Nya … sampai akhir ayat”. (Ali Imran ayat 172). Sebelum itu Abu Sufyan telah mengatakan kepada Nabi SAW.: “Pertemuan kita berikutnya ialah di musim Badar, yakni tempat kamu membantai sahabat-sahabat kami!” Mengenai orang-orang yang pengecut, mereka segera kembali. Adapun orang-orang yang berani, mereka membawa alat-alat perang di samping barang-barang dagangan, lalu mendatangi pasar itu. Tetapi tidak seorang tentara musuh pun mereka temui, hingga kaum muslim pun berjualbelilah, hingga Allah menurunkan ayat: “Maka mereka kembali dengan membawa nikmat dan karunia yang besar dari Allah … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 174)
Diketengahkan oleh Ibnu Mardawaih dari Abu Rafi’ bahwa Nabi SAW. mengirim Ali bersama beberapa orang anak buahnya untuk mencari Abu Sufyan. Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang laki-laki suku Khuza’ah, lalu kata laki-laki itu: “Sesungguhnya orang-orang itu telah mengumpulkan pasukan untuk menghadapi kalian.” Maka jawab mereka: “Cukuplah bagi kami Allah, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung,” lalu diturunkanlah ayat ini mengenai mereka.
Firman Allah SWT.:
“Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya”. (Surat Ali Imran ayat 181)
Diketengahkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas katanya: “Abu Bakar masuk ke rumah seseorang bernama Madras. Didapatinya di sana telah berkumpul orang-orang Yahudi sedang menghadap pemimpin mereka bernama Fanhas. Kata Fanhas kepada Abu Bakar: “Demi Allah, wahai Abu Bakar! Sebenarnya kami ini tidak membutuhkan Allah, sebaliknya Dialah yang butuh kepada kami! Seandainya Dia kaya, tentulah Dia tidak perlu meminta pinjaman kepada kami sebagaimana diakui oleh sahabatmu itu!” Abu Bakar pun naik darah lalu menampar mukanya. Fanhas pergi menemui Nabi SAW. katanya: “Hai Muhammad, lihatlah ini apa yang telah dilakukan oleh sahabat Anda kepada saya!” Jawab Nabi SAW.: “Hai Abu Bakar, apa yang menyebabkanmu melakukan itu?” Jawabnya: “Wahai Rasulullah, ia telah mengeluarkan kata-kata berat, dikatakannya bahwa Allah butuh, sedangkan mereka kaya.” Fanhas menolak keterangan itu, tetapi Allah menurunkan ayat: Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya” … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 181)
Diketengahkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, katanya: “Orang-orang Yahudi datang kepada Nabi SAW. sewaktu Allah menurunkan: “Siapakah yang bersedia mempiutangi Allah suatu piutang yang baik?” Kata mereka: “Hai Muhammad, rupanya Tuhanmu jatuh miskin, sehingga ia meminta pinjaman kepada hamba-Nya!” Maka Allah pun menurunkan ayat: Sungguh Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya”. (Surat Ali Imran ayat 181)
Firman Allah SWT.:
“Kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik gangguan yang banyak.” (Surat Ali Imran ayat 186)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnul Munzir dengan ganad yang hasan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat itu turun mengenai sengketa yang terjadi di antara Abu Bakar dan Fanhas disebabkan ucapan Fanhas bahwa Allah miskin dan mereka kaya. Dalam pada itu Abdur Razag menyebutkan dari Ma’mar dari Zuhri dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, bahwa ayat ini di. turunkan mengenai Ka’ab bin Asyraf disebabkan syair celaannya terhadap Nabi SAW. dan sahabat-sahabatnya.
Firman Allah SWT.:
“Janganlah sekali-kali kamu kira, bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang mereka kerjakan … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 188)
Diriwayatkan oleh Syaikhan dan lain-lain dari jalur Humaid ibnu Abdurrahman bin Auf bahwa Marwan mengatakan kepada penjaga pintunya: “Hai Rafi’, pergilah kamu kepada Ibnu Abbas, lalu katakan: “Sekiranya setiap kita yang merasa gembira dengan apa yang dikerjakannya, dan yang ingin dipuji dengan apa yang tidak pernah dikerjakannya itu disiksa, tentulah semua kita ini akan disiksa!” Maka jawab Ibnu Abbas: “Apa yang kamu risaukan tentang hal itu? Ayat tersebut diturunkan hanyalah mengenai Ahli Kitab. Mereka ditanyai oleh Nabi SAW. tentang suatu hal, lalu mereka sembunyikan dan ceritakanlah soal lainnya. Kemudian mereka pergi dan mengira, bahwa mereka telah menjawab apa yang ditanyakan Nabi kepada mereka. Mereka gembira telah berhasil menyembunyikan keadaan sebenarnya dan minta dipuji atas demikian itu.”
Diketengahkan pula oleh Syaikhan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa beberapa orang lelaki dari golongan munafik, jika Rasulullah SAW. pergi berperang, mereka tak mau ikut, mereka tinggal di belakang, dan merasa gembira berada di belakang Rasulullah SAW. Jika Rasulullah kembali, maka mereka minta maaf dan mengajukan alasan-alasan dengan berani angkat sumpah. Mereka ingin mendapat pujian atas perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Maka turunlah ayat: “Janganlah sekali-kali kamu kira, bahwa orangorang yang gembira dengan apa yang mereka kerjakan … sampai akhir ayat”. (Surat Ali Imran ayat 188)
Dalam tafsirnya dari Zaid bin Aslam, dikeluarkan oleh Abdun bahwa Rafi’ bin Khudaij berada bersama Zaid bin Sabit dalam majelis Marwan. Tanya Marwan: “Hai Rafi, tentang apakah diturunkannya ayat ini: “Janganlah kamu kira, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang mereka kerjakan … sampai akhir ayat” (Surat Ali Imran ayat 188). Jawab Rafi: “Diturunkannya ialah mengenai beberapa orang munafik, jika Nabi SAW. keluar perang mereka menyatakan penyesalan, kata mereka: “Kami terhalang oleh beberapa kesibukan. Alangkah inginnya hati kami berada bersama anda!” Maka Allah pun menurunkan ayat ini mengenai ini. Tetapi Marwan seolah-olah menolak keterangan ini, hingga Rafi’ menjadi kesal, lalu tanyanya kepada Zaid bin Sabit: “Saya mohon atas nama Allah, apakah Anda mengetahui apa yang saya katakan itu?” Jawabnya: “Ya.” Kata Al-Hafiz Ibnu Hajar: “Dihimpun antara pendapat ini dengan pendapat Ibnu Abbas, bahwa mungkin saja ayat itu diturunkan tentang kedua golongan itu sekaligus.” Katanya lagi: “Sementara itu menurut Farra’), ayat ini turun mengenai ucapan orang Yahudi yang mengatakan: “Kami ini Ahli Kitab yang mula pertama, dan ahli salat serta taat!” Namun mereka tidak mengakui kenabian Muhammad SAW.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari beberapa jalur dari golongan tabi’in yang serupa dengan itu, serta dianggap kuat oleh Ibnu Jarir. Memang tak ada halangannya jika dikatakan bahwa ayat itu diturunkan pada semua hal itu.”
Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, menjadi pertanda bagi orang-orang yang berakal.” (Surat Ali Imran ayat 190)
Diketengahkan oleh Tabrani dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, katanya: “Orang-orang Quraisy datang menemui orang-orang Yahudi, tanya mereka: “Bukti-bukti apakah yang dibawa oleh Musa kepada tuan-tuan?” Jawab mereka: “Tongkatnya, dan tangannya yang putih bagi mata yang memandang.” Kemudian mereka datangi lagi orang-orang Nasrani, lalu tanyakan: “Apa mukijizat Isa?” Jawab mereka: “Menyembuhkan orang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit kusta bahkan menghidupkan orang yang telah mati.” Setelah itu mereka menjumpai Nabi SAW. kata mereka: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Safa ini dijadikannya sebagai sebuah bukit emas.” Maka Nabi pun memohon kepada Tuhannya, lalu diturunkan-Nyalah ayat: “Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi … sampai akhir ayat” (Surat Ali Imran ayat 190). Maka hendaklah mereka merenungkannya!
Firman Allah SWT.:
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka: ”Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau wanita … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 195)
Diketengahkan oleh Abdur Razaq, Sa’id ibnu Mansur, Turmuzi, Hakim dan Ibnu Abi Hatim dari Ummu Salamah bahwa ia berkata: “Wahai Rasulullah, Saya tidak pernah mendengar Allah menyebut-nyebut sesuatu pun tentang wanita berkenaan dengan hijrah. Maka Allah menurunkan ayat: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 195)
Firman Allah SWT.: “Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 199)
Diriwayatkan oleh Nasa-i dari Anas, katanya: “Tatkala datang berita wafatnya Najasyi, bersabdalah Rasulullah SAW.: “Salatkanlah dia!” Jawab mereka: “Wahai Rasulullah, apakah kita akan menyalatkan seorang budak Habsyi? Maka Allah menurunkan ayat: “Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 199) Ibnu Jarir meriwayatkan yang sama isinya dengan itu dari Jabir, sedang: kan dalam Al-Mustadrak dari Abdullah bin Zubair, katanya: “Diturunkan kepada Najasyi ayat: “Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab … sampai akhir ayat.” (Surat Ali Imran ayat 199)









One Comment