KEMEWAHAN (PEMBOROSAN)
Kemewahan, apabila telah mendapat jalan yang leluasa menuju jiwa umat, maka hanyalah akan merusak umat itu. Kemewahan itu dapat menjadikan hina terhadap kejayaannya, mencabik-cabik kekayaannya, menjatuhkan kemuliannya dan menghancurkan hasil pembangunan umat.
Orang-orang yang hidup mewah, biasanya akhlaknya bejat. Hal itu disebabkan mereka banyak memiliki hal-hal yang menunjang kemewahan dan tersedia sarana-sarana yang mendorong mereka berbuat kefasikan dan melanggar hukum-hukum Allah.
Kemewahan menjurus pada pemborosan dan pemborosan mengarah pada kebangkrutan. Orang-orang yang suka kemewahan, ialah orang-orang yang lemah akalnya, lemah tubuhnya, lemah cita-citanya dan terbelakang cara berpikirnya. Mereka tidak mengerti arti hidup, kecuali senang-senang menuruti kemauan nafsu binatangnya dan memburu kelezatan, seperti yang dirasakan binatang (misalnya makan, tidur dan berhubungan badan). Mereka enggan berusaha melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi umat dan enggan berpikir tentang kemajuan negara. Perkara yang baik mereka anggap mungkar. Kemungkaran mereka anggap sesuatu yang biasa dan kebaikan harus mereka kubur. Sedangkan kemaksiatan, mereka sebar luaskan.
Apabila engkau menyerukan mereka untuk meringankan penderitaan orang-orang yang terkena bencana, mengeringkan air mata orang miskin (karena menangis sebab kekurangan), dan mengorbankan harta untuk kelangsungan pendidikan orang-orang yang bodoh, maka tenggorokan mereka terasa seret, tidak dapat menelan ludah, memalingkan leher dan menggeleng-pelengkan kepala. Tetapi, apabila mereka dimintai sumbangan uang untuk pelaksanaan acara-acara yang tidak terpuji (dalam pandangan agama dan akal sehat), mereka pasti berlomba-lomba memenuhi ajakan dan seruan orang yang mengajaknya dengan cepat. Saking cepatnya, mereka itu ibarat anak panah yang melesat dari busur dan seperti putusan yang dikeluarkan, yang harus dilaksanakan.
Tidak ada kerusakan yang merajalela di tengah-tengah umat atau masyarakat, kecuali orang-orang yang suka berfoya-foya itulah sebagai sumbernya. Tidak ada bencana yang melanda umat, melainkan merckalah yang menjadi penyebab atau virusnya dan tidak ada pclanggaran terhadap hukum Allah yang terjadi di tengah umat, melainkan merckalah orang-orang yang suka kemewahan dan foyafoya scbagai dalang dan pelopornya.
Pada dasarnya, hati manusia itu cenderung menyukai kesenangan, hingga kesenangan itu menguasai hati manusia. Kesenangan (syahwat) tidak pernah membiarkan lubang menuju hati, melainkan segera memasukinya dan tidak pula membiarkan kesempatan luas, kecuali ia memenuhinya. Kesenangan itu selalu berusaha menundukkan hati manusia. Kegemaran menuruti hawa nafsu itu tidak lain, kecuali disebabkan kesukaan hidup mewah. Sebab, kesukaan hidup mewah itu selalu mendorong seseorang untuk bebas leluasa menikmati hal-hal yang dirasa enak dan meriuruti apa yang menjadi kesenangan hawa nafsunya serta memenuhi keinginan-keinginannya. Apabila suatu umat telah biasa menuruti hawa nafsunya dan sibuk dengan kesenangankesenangan, meremehkan kepentingan-kepentingan umat dan melupakan hal-hal yang menopang kehidupannya, maka tidak lama lagi umat itu rusak, dilanda oleh berbagai musibah yang tidak henti-hentinya menyelubungi mereka.
Perhatikanlah bangsa-bangsa yang telah silam, engkau pasti mengetahui, bahwa kegemaran hidup mewah yang mereka lakukan, itulah yang telah membinasakan mereka, sehingga dapat dijadikan pelajaran bagi generasi sesudahnya, agar tidak suka hidup mewah.
Perhatikanlah bangsa Romawi, Persi dan Arab, yang dulunya telah mencapai puncak kejayaan, telah jatuh disebabkan oleh kesukaan mereka pada kemewahan hidup dan runtuh disebabkan mereka selalu menuruti kemauan nafsunya. Memang, mungkin sekali sebab ini bercampur dengan sebab-sebab lain, yang mendorong pada kehancuran. Tetapi, sebab yang paling utama di balik sebab-sebab lain itu, tiada lain hanyalah kegemaran hidup mewah dan foya-foya.
Bandingkanlah sendiri umat terdahulu dengan ketiga bangsa tersebut, lalu selidikilah, pasti diketahui, bahwa penyakit gemar hidup mewah merupakan bibit dari segala penyakit yang membinasakan mereka.
Sekarang, bandingkanlah antara akhlak orang-orang pedalaman dengan akhlak orang-orang kota. Bandingkanlah tubuh penduduk desa dengan tubuh penduduk kota, lalu perhatikanlah kemuliaan jiwa, kesetiaan, keperwiraan, kemuliaan, keberanian dan berbagai tingkah laku mulia orang-orang pedalaman dengan sikap dan tingkah laku orang-orang perkotaan. Pasti perbedaannya sangat mencolok. Sesudah itu, apa yang menjadi sebab terjadi perbedaan itu, kegemaran hidup mewah sajalah yang menyebabkan terjadi kebobrokan akhlak dan kerapuhan jasad orang-orang perkotaan.
Dengan uraian di atas, bukannya kami menyerukan kalian agar hidup seperti orang-orang pedesaan atau pedalaman. Tetapi kami menyerukan, agar kita berakhlak seperti akhlak orang-orang pedalaman. Kami menyerukan dirinya sebagai manusia, agar menghindari adat istiadat atau tradisi yang tidak terpuji dan menjauhi tingkah laku yang bodoh dan meninggalkan kegemaran hidup mewah dan foya-foya. Kegemaran hidup mewah inilah yang menghilangkan perilaku yang mulia dan mewariskan perilaku yang hina. Hendaknya kita bersikap tengah-tengah (tidak terlalu royal dan tidak terlalu menghemat), agar tidak menjadi kikir.
Wahai, generasi muda, waspadalah kalian semua terhadap kesenangan dan kemewahan yang selalu menggoda hati kalian. Isyarat serigala yang siap menerkam tubuhmu. Janganlah berakhlak seperti akhlak orang-orang yang gemar hidup mewah dan foya-foya dan jangan pula bertingkah seperti tingkah laku orang-orang melampaui batas, agar kalian tidak tercatat sebagai golongan orang-orang yang telah jatuh. Dalam uraian tersebut mengandung beberapa pelajaran berharga buat kalian semua, apabila kalian semua mau memperhatikan.
AGAMA
“Pastilah keluhuran itu milik jiwa yang bersih;
yang jauh dari jiwa itu kata kotor dan dusta.
Jiwa yang berilmu dan bertameng:
dengan agama, agama itu menjadi penopang kemuliaannya.
Agama, jika tak ada agama, pasti tidaklah putus;
bungkul-bungkul dari tali alam ini.
(jika tak ada agama, tentu kegelapan umat ini menjadi awet).
Dan takkan keraslah, kebengkokan persoalan mereka:
tak dapatlah diluruskan kebengkokan mereka yang tangguh.
Dan pastilah mereka tetap tinggal di Najed yang gelap:
dan pastilah mereka tetap tinggal di Tihanah yang jauh dari petunjuk.”
Agama yang benar itu, bagaikan lampu yang menerangi umat berjalan menuju ke arah kemajuan. Sedangkan mengamalkan ajaranajaran agama adalah petunjuk jalan untuk seluruh umat manusia.
Agama adalah ciptaan Allah, maka betapa janggal bagi akal sehat, ika sekiranya Allah memerintahkan kepada sekalian hamba-Nya untuk melaksanakan sesuatu yang menyebabkan mereka lebih suka duduk berdiam diri, tidak berusaha melakukan amal baik, dan yang menghambat mereka mencapai kehidupan yang layak dan ridhai Allah swt.
Kemajuan yang baik dan benar adalah inti utama dalam jiwa agama yang besar. Kalaupun tidak dapat dikatakan bahwa keduanya itu identik, maka keduanya merupakan dua saudara sekandung, yaitu seayah dan seibu. Ayahnya adalah hak (kebenaran) dan ibunya adalah hakikat (kenyataan).
Tidak ada sesuatu pun yang dapat membahagiakan manusia, kecuali agama dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mencelakakan mereka, kecuali mengabaikan agama atau berpegangan dengan bagian luar (kulit) agama dan meninggalkan inti ajarannya.
Agama ibarat pedang bermata dua (dua sisinya sama-sama tajam). Apabila ada orang yang mengaku beragama, berusaha memperbaiki pengamalannya (mengamalkan dengan baik, menggunakannya sebagaimana mestinya), maka agama itu menjadi penolong dalam menghadapi segala kesulitan dan menjadi petunjuk jalan di kala dalam keadaan kebingungan (bagai orang yang tersesat di padang sahara) dan agama ibarat lentera yang bersinar dalam kegelapan. Apabila orang yang mengaku beragama itu salah (tidak baik) dalam menjalankan (ajaran)nya, maka alam membawa petaka (bahaya) bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Apa yang kita saksikan tentang kesengsaraan yang dialami sebagian besar orang-orang yang beragama itu, disebabkan hanya kebodohan mereka sendiri terhadap ajaran agama dan hanya karena mereka menjauh dari mutiara ajaran agamanya yang murni, bersih dari segala kotoran, bersih dari pemikiran-pemikiran yang disusupkan oleh orang-orang yang ingin merusak kemurniaan agama dan bebas dari perbuatan orang-orang yang tidak mengenal agama, kecuali namanya dan amalan-amalan luarnya saja bersih dari tujuan-tujuan orang-orang yang menjadikan agama sebagai suatu permainan, untuk memenuhi keinginan dan sebagai suatu permainan, untuk memenuhi keinginan dan sebagai alat (kendaraan) untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang hina.
Agama di jaman sekarang ini ibarat suatu momok atau hantu yang tidak bernyawa dan kandungan makna kalimat-kalimat ajarannya, disepelekan oleh banyak orang. Ia dimanfaatkan oleh orang-orang yang memakai baju agama sebagai alat untuk mempengaruhi pikiran-pikiran orang awam, agar mau mengangungkan mereka dan untuk mengisi kocek (koper) dengan uang dari mereka tersebut. Mereka yang memanfaatkan untuk tujuan tersebut, sama sekali bukan orang yang mengerti agama, tetapi yang mereka lakukan itu merupakan kebodohan yang parah, akhlak yang tidak terpuji, kepribadian yang hina, jauh dari perbuatan baik dan menyimpang jauh dari tujuan agama yang sebenarnya. Orang-orang yang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan tersebut, umumnya adalah orang-orang yang suka pada khayalan, penganut fanatik paham taklid dan budak-budak hawa nafsu.
Sesungguhnya, orang-orang awam tidak dapat disalahkan, apabila mereka meyakini sesuatu yang tidak ada sumbernya dalam agama. Yang patut dipersalahkan hanyalah orang-orang yang menamakan diri sebagai kelompok elit; Merekalah yang menanamkan pada jiwa orang-orang awam, sesuatu paham atau ajaran yang tidak sesuai dengan syaniat, mereka yang menyebarkan kepalsuan atau kebohongan yang mereka sebut sebagai kemajuan akal pikiran (ilmu) dan mereka yang terus memperluas jarak perselisihan (perpecahan) di kalangan putra (penduduk) negara yang telah bersatu.
Ancaman (kerusakan) agama itu timbul dari dua macam orang (macam orang yang pertama) ialah:
“Orang yang menduga, bahwa agama Allah itu mengharuskan menjauhi dunia;
dan dia mengira berpaling darinya itu sangat berguna.
Tapi, andaikata dia didatangkan seribu dirham;
segeralah melepas takwanya dan menceraikan kewarakannya.
Ia bukanlah orang yang zuhud sejati dan menjauhi harta dunia:
tetapi kesungguhan (usaha) dianggapnya menghancurkan tulang.
Sehingga ia takut berusaha (bekerja) yang bisa membuat kakinya berdarah:
ia hanya istirahat yang dianggapnya perlu dilakukan.
Bukanlah dinamakan zuhud di dunia seseorang:
yang berpakaian kain kasar dan suka pakaian tambalan.
Sesungguhnya orang zuhud sejati hanyalah orang:
yang bisa menahan diri (dari hidup bersenang-senang) dan enggan menjadi orang hina dina.”
Macam orang kedua yang menjadi ancaman kerusakan agama ialah orang yang menganjurkan kebatilan dengan kedok agama, mengafirkan orang lain, menganggap bid’ah dan fasik terhadap orang lain, agar orang-orang menilainya, bahwa dia merupakan orang yang agamis, padahal dia sebenarnya adalah orang yang jauh dari agama, laksana jauhnya langit dan bumi.
Waspadalah, hai, pemuda yang baik, terhadap dua macam orang tersebut, karena mereka itu adalah ancaman yang membahayakan pada agama.
Agama adalah suatu cahaya, sedangkan perbuatan dua macam orang tersebut merupakan kegelapan. Agama adalah hak kebenaran, sedangkan tindakan dua macam orang tersebut adalah batil. Agama adalah mengajarkan kemajuan atau pembangunan, sedangkan apa yang diserukan oleh dua macam orang tersebut mengakibatkan kehancuran.
“Janganlah engkau menduga, bahwa agama sebagai sesuatu yang didiktekan kemauan nafsu:
Agama Allah tidaklah mengandung bid’ah-bid’ah seperti itu.
Agama adalah cahaya terang yang berkilau;
Seluruh alam menjadi terang, tatkala agama memancarkan cahaya.
Budi yang luhur itu memancar dari agama yang mengenyahkan kegelapan hingga terbitlah terang.”
Wahai, pemuda, berperang teguhlah terhadap agama kalian semua. Janganlah engkau biarkan orang-orang berbuat sesuatu atas nama agama, padaal agama tidak mengajarkan sesuatu itu, agar engkau semua mencapai dua kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat.









One Comment