Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

KEPEMIMPINAN

Hukum Allah (Sunatullah) telah menetapkan, bahwa dalam setiap bentuk makhluk yang diciptakan Allah, pasti ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Ada yang mengatur dan ada yang diatur. Hal itu agar pemikiran-pemikiran tidak tumpang tindih dan keinginan-keinginan tidak bersimpang siur, yang mengakibatkan keretakan kerukunan, putus tali kasih sayang, pudar persatuan dan perselisihan.

Setiap golongan yang tidak memiliki pemimpin yang bisa mereka jadikan tempat mengadukan kesulitan-kesulitan mereka itu, sama halnya mereka sedang naik kuda (kendaraan) liar yang nakal, pada malam hari yang gelap gulita (dalam keadaan panik dan bingung mengatasi kesulitan yang dihadapi).

Apabila roh berfungsi sebagai ketegakan (kehidupan) rasa, maka para pemimpin setiap bangsa adalah roh persatuan mereka dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Apabila para pemimpin itu rusak, maka rusaklah umat atau bangsa itu, dan jika mereka baik, maka umat atau bangsa itu menjadi baik juga. Karena, umat akan berdiri tegak, kokoh dan sejahtera, manakala pemimpin-pemimpin umat itu menggerakkannya. Jika mereka (umat) sedang loyo, lalu mereka meluruskannya ketika bengkok, menarik tangannya ketika mereka (umat) jatuh dan membimbingnya ketika sedang sesat.

Pemimpin itu belum bisa dianggap sebagai pemimpin yang sejati, kecuali dia telah memenuhi syarat-syarat kepemimpinan, yakni berpikiran cerdas, berwawasan luas, baik pendapatnya, bisa mengendalikan diri. perkasa, bersih atau tulus hatinya, baik perilakunya, dermawan, banyak memberikan bantuan keuangan demi kesejahteraan umat dan giat menyebarkan ilmu pengetahuan ke seluruh pelosok tempat tinggal umat. Barangsiapa yang jejak perjalanannya seperti itu dan sanggup memikul tanggung jawab berat sebagaimana tersebut, maka dia baru bisa disebut sebagai ”tokoh dan pemimpin sejati”. Jika ada orang yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut untuk menjadi pemimpin, maka orang itu termasuk perampas yang bodoh, tetapi mengaku pintar ingin menjadi pemimpin, karena gila pangkat semata.

Banyak sekali orang yang akalnya berebut menjadi pimpinan, padahal mereka tidak memenuhi syarat-syarat menjadi pemimpin sedikit pun. Mereka itu tidak sadar, bahwa pemimpin bangsa itu sebenarnya adalah juru bicara yang menyuarakah hati nurani rakyat, pemikir mereka, tempat pengaduan rakyat ketika mereka menghadapi kesulitan dan pelindung mereka ketika dalam keadaan bahaya, tempat meminta pertolongan saat dilanda krisis dan sebagai tempat sandaran rakyat di waktu mereka menghadapi.persoalan besar.

Setiap umat memiliki periode-periode yang dalam periode itu mereka tidak dipimpin, kecuali oleh pemimpin-pemimpin yang tulus, pemimpinpemimpin yang baik dan reformis. Kemudian, masa berubah dan periode kepemimpinan itu turut berubah, dan keadaan berbaik. Umat itu pun akhirnya dipimpin oleh orang-orang fasik, rendah budi pekertinya, tidak ambil pusing dengan kebodohan dan kemaksiatan, lacur, bodoh dan menjadi pengikut-pengikut setan.

Ingatlah, bahwa jaman itu berputar, umat atau bangsa (timur) telah bangun dari tidurnya dan telah bangkit. Sadar dari kelalaiannya, mereka tidak rela terus-menerus menjadi tawanan orang yang berusaha menghancurkan dan memperbudaknya. Mereka tidak mau mengakui pemimpin, kecuali yang berjiwa reformis dan baik, yang rela mati demi kehidupan umat, senang atau susah payah demi kemampuan umat dan sanggup hidup sengsara demi kebahagiaan umat.

Majulah, wahai, generasi muda, untuk menuntut ilmu secara sempurna, berpegang teguhlah dengan akhlak mulia dan rajinlah beramal saleh dengan bimbingan akal yang sehat, agar engkau kelak menjadi pemimpin bangsamu dan kepala dalam keluargamu.

Waspadalah terhadap bisikan hatimu untuk berambisi memegang jabatan pemimpin atau rayuan yang merayumu dengan keenakan memegang jabatan kepemimpinan. Sedangkan engkau belum layak mendudukinya, engkau justru akan menjerumuskan umatmu ke jurang kesengsaraan dan engkau sendiri menjadi hina dina.

Suatu bangsa takkan hidup baik tanpa pemimpin;

dan tidak ada guna pemimpin, jika orang-orang bodoh tampil menjadi pemimpin.

Rumah takkan bisa terjadi tegaj tanpa pilar:

dan tiada arti pilar yang berdiri tanpa dasar.

Jika lengkap dasar dan pilar-pilar:

maka suatu saat rakyat itu sampai pada apa yang diharap.

ORANG-ORANG YANG AMBISI MENJADI PEMIMPIN

Apabila ada suatu bangsa yang tidak memiliki pemimpin yang bisa memberi arahan kepada mereka, maka bangsa itu ibarat kafilah berjalan di padang sahara yang penuh bukit-bukit, yang hampir sama, jalan-jalannya sangat menakutkan, sangat luas hingga tidak terlihat batas-batasnya dan seolah-olah warna tanahnya seperti warna langit. Nah, kalau dalam suatu bangsa terdapat orang-orang yang berambisi menjadi pimpinan, bahkan jumlah orang seperti ini terus berkembang, maka bangsa itu lebih semrawut, lebih banyak kekacauannya dan lebih besar bahaya dan kerusakannya.

Kecintaan terhadap jabatan kepemimpinan (ambisi menjadi pemimpin) adalah merupakan penyakit bangsa timur yang amat berbahaya, sedangkan berebut atau bersaing menjadi pemimpin adalah merupakan penyakit orang timur yang kronis. Begitu juga setiap ada pemumpin yang tampil, pasti timbul kecemburuan terhadapnya di hati bangsanya dan rasa dendam pada jiwa mereka semakin membara. Lalu, mereka melakukan adu domba, menjelek-jelekkan pemimpin tadi, mencurahkan segala kekuatan yang mereka miliki untuk menjatuhkannya, menyatakan terang-terangan menentang (menjadi oposisi) dan menghujatnya secara terang-terangan.

Apabila pemimpin tersebut pemimpin yang sejati, maka dia tidak mempedulikan serangan-serangan itu dan tidak menghiraukannya. Tetapi, dia malah semakin teguh melanjutkan apa yang dia rencanakan, berupa menciptakan kemakmuran untuk rakyatnya, tanpa mempedulikan hambatan-hambatan, pergolakan dan kesulitan-kesulitan serta tidak mau mengumpulkan massa untuk unjuk kekuatannya. Sebaliknya, apabila pemimpin tersebut guncang saat pertama kali mendapat tantangan, maka dia adalah orang yang lemah keinauan dan jiwanya. Semestinya, orang seperti ini tidak mau dijadikan pemimpin bangsanya.

Belum pernah saya melihat seseorang yang hatinya tidak menginginkan untuk menjadi pemimpin. Padahal orang yang benarbenar ahli untuk memegang jabatan kepemimpinan itu sangat sedikit sekali. Jabatan kepemimpinan itu bukanlah seperti barang yang bisa dibeli dan bukan seperti baju, yang jika dipakai oleh seseorang, lantas orang itu sudah dapat, maka dianggap sebagai pemimpin.

Sesungguhnya, pemimpin itu roh umat atau bangsa, apakah ada suatu bangsa yang rela jika yang menjadi pimpinannya adalah orang yang tidak mereka kenal, yang ayahnya tidak diketahui asal usulnya, orang yang sesat jalannya, putra orang yang rusak tingkah lakunya, orang yang bodoh, keturunan orang yang tolol, orang yang fasik atau anak dari orang yang suka berbuat maksiat?

Setiap bangsa yang dipimpin oleh orang yang tidak jelas pendiriannya, pemerintahannya dikendalikan oleh orang-orang yang bodoh dan pemuka-pemuka atau tokoh-tokoh mereka terdiri dari orang-orang yang rendah dan berakhlak tercela, maka bangsa itu positif bobrok, kacau dan akhirnya hancur.

Pemimpin yang sejati itu, bukanlah orang yang suka bagi-bagi uang dan merangkul tokoh-tokoh, yang tujuannya hanya agar orang-orang menyukai dan mendukung kepemimpinannya. Namun, pemimpin yang sebenarnya ialah orang yang kepemimpinannya itu dapat mencerminkan budi pekertinya yang luhur. Kepemimpinan yang demikian itu tidak bakal terwujud, kecuali dalam diri orang yang telah dikenal sifat-sifat kemuliannya, tidak berlaku negatif, murni gagasannya, teguh hatinya, tinggi cita-citanya, bersih janjinya (tanpa menginginkan timbal balik), cerdas pikirannya, kuat fisiknya, ramah, bersih kepribadiannya, jelas moralnya, bersih nasabnya dari cacat moral, tanggap terhadap tuntutan rakyat, dan bekerja keras demi kepentingan dan kemajuan mereka. Barangsiapa yang memiliki sifat dan kepribadian seperti yang diuraikan di atas, maka dia pasti memimpin dan memerintah orang banyak, semua ucapan dan petuahnya pasti didengar dan ditaati oleh rakyat, memiliki wibawa dan kedudukan yang tinggi di kalangan mereka.

Sungguh saya heran dan benar-benar mengherankan saya-, sekelompok orang yang tidak pernah berjuang, apalagi berperang membela negara, berusaha mati-matian mempengaruhi rakyat, agar mereka mau mengangkatnya sebagai pimpinan. Kelompok orang seperti ini adalah lebih hina daripada sesuatu yang paling hina. Mereka sama sekali tidak memiliki jasa atau keistimewaan yang dapat mengantarkannya pada kedudukan kepemimpinan yang mereka upayakan. Orang-orang seperti ini biasanya suka menggunjing dan memprovokasi rakyat, agar melakukan dan merongrong pemimpinpemimpin umat yang sebenarnya sudak baik dan mencemarkan nama baik pemimpin-pemimpin itu, sehingga terjadi krisis kepercayaan, yang akhirnya terjadi kefakuman. Situasi seperti itu oleh golongan tersebut dimanfaatkan sebagai jalan mencapai apa yang mereka maksud, yaitu mengambil alih kekuasaan dan kepemimpinan, sehingga mereka bisa menjadi pemimpin. Padahal mereka tidak menyadari, bahwa apa yang mereka lakukan itu sebenarnya membuka cacat dan kejahatan mereka sendiri, yang pada akhirnya rakyat menjauhi mereka, tidak memperhatikannya, bahkan membenci dan marah kepada mereka.

Di sana ada lagi sekelompok orang lain, yang jika mengalami kegagalan dalam usahanya (memenuhi ambisinya) merebut kekuasaan (dari pemimpin yang sebenarnya sudah baik), yang mereka inginkan, maka mereka mulai bangkit memprovokasi umat dengan atas nama agama, padahal kelompok ini sebenarnya paling ingkar dengan agama. Mereka gampang mengatakan orang lain sebagai kafir, ateis, sesat dan fasik.

Untuk memenuhi keinginan yang sesat itu, mereka menggunakan cara-cara yang hina dan keji, menghasud umat atau rakyat, agar tidak mendukung pemimpin yang sedang berkuasa (yang sebenarnya sudah baik) dan sudah menjalankan tugasnya. Mereka mempengaruhi rakyat, agar berpaling dari pemimpin yang ada itu dan mereka menyerahkan persoalannya kepadanya (yakni kepada golongan yang memperalat agama untuk mencapai ambisinya). Umumnya, yang membenarkan propaganda golongan ini adalah rakyat awam yang primitif dan yang dangkal pengetahuan agamanya. Namun, sebagian besar rakyat tidak mau memperhatikan, tidak mau mempedulikan seruan-seruan mereka yang penuh kebohongan dan kepalsuan yang menyesatkan.

Wahai, generasi muda, aku mohonkan engkau perlindungan kepada Allah, janganlah kalian merebut jabatan kepemimpinan dengan caracara yang terkutuk, sebagaimana disebutkan di atas. Sebab, cara seperti itu menyebabkan hubunganmu sebagai pemimpin dengan rakyat terputus, rakyat menjauhimu dan engkau sendiri akan jauh dari sifat mulia (menjadi tidak terhormat).

Jangan sekali-kali kalian memiliki sifat senang (ambisi) menjadi pemimpin, kecuali jika jabatan itu datang sendiri atau rakyat memaksa harus menduduki jabatan pemimpin, karena mereka memang melihatmu sebagai orang yang mau bekerja dengan baik, bersih dan baik akhlak serta mulia kepriadiannya.

Waspadailah, apabila di antara kalian sudah ada seorang pemimpin yang cakap dan memiliki bakat memimpin, sementara hati kalian sudah mantap, maka jangan sekali-kali kalian hasud kepadanya, yang akibatnya kalian terdorong untuk berupaya menjatuhkan dan berusaha mempengaruhi orang-orang agar berpaling daripadanya. Tetapi, berusahalah kalian membantu dan mendukung terhadap apa yang dilakukan pemimpin yang cakap itu dan mendukung programprogramnya. Jadilah kalian sebagai tangan-tangan yang membantunya dan pendukung-pendukung setianya. Apabila kalian melakukan hal itu, maka kalian termasuk orang-orang yang berbuat baik demi kepentingan umat atau bangsamu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker