Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

MACAM-MACAM KEMERDEKAAN ATAU KEBEBASAN

Kemerdekaan atau kebebasan itu ada beberapa macam, antara lain: Kemerdekaan individu, berorganisasi, ekonomi dan politik. Suatu bangsa tidak mungkin berdiri kokoh, tanpa kemerdekaan atau kebebasan dalam empat bidang tersebut.

Kemerdekaan individu, disebut juga kebebasan pribadi, yang . merupakan persoalan yang sangat penting. Dengan adanya kemerdekaan individu ini, dapat tercipta kemerdekaan organisasi, sebab organisasi itu terdiri dari banyak individu. Karena itu, kemerdekaan organisasi tidak akan terwujud, kecuali dengan adanya kemerdekaan individuindividu dalam organisasi tersebut. Oleh sebab itu, umat atau bangsa yang ingin merdeka, harus berjuang keras mendidik tiap-tiap individu dengan pendidikan yang bersifat independen, agar terbentuk kelompok yang independen, merdeka terdiri dari individu-individu tersebut.

Kemerdekaan individu itu meliputi kebebasan berbicara, menulis, mencetak dan mengemukakan gagasan atau pendapat secara terbuka, tanpa ada pengawasan, kontrol atau tuntutan, dengan syarat semua itu tidak mengganggu atau menodai kebebasan orang lain.

Setiap orang bebas menganut ideologi yang dia kehendaki, baik ideologi keagamaan, ilmu pengetahuan, politik maupun sosial. Bebas pula menyebarluaskan semua itu, asal tidak menimbulkan perpecahan di kalangan rakyat dan membelanjakan atau mentasarufkan kekayaan berupa uang, tanah bangunan dan lainnya, dengan catatan perbuatan yang dia lakukan tidak menjurus pada pemborosan secara bodoh. Kalau dia sampai menjurus pada tindakan yang bodoh, maka dia harus dinyatakan sebaga Mahjur “alaihi, yakni dilarang membelanjakan hartanya.

Kesimpulan bahasan tentang kebebasan individu adalah, bahwa kebebasan individu itu suatu kebebasan yang tidak boleh benturan dengan kebebasan orang lain. Oleh sebab itu, setiap orang (individu) wajib menjaga kebebasan orang lain, sebagaimana dia menjaga kebebasan diri pribadinya.

Kemerdekaan berorganisasi, maksudnya adalah setiap golongan itu memiliki hak mengadakan pertemuan atau rapat di mana saja dan kapan saja, kecuali jika dipersenjatai, maka harus dilarang, sebab perbuatan golongan atau organisasi yang mengadakan rapat dengan membawa senjata tersebut, barangkali dapat menimbulkan tindakan-tindakan yang melanggar arti kebebasan yang sejati. Di samping itu, setiap golongan memiliki hak untuk mendirikan berbagai organisasi yang berbeda-beda visinya, baik organisasi yang bergerak di bidang keilmuan, kesustraan, keagamaan, perindustrian, sosial maupun politik, dengan syarat peraturan dan undang-undangnya sesuai dengan aturan dan undang-undang yang telah digariskan oleh Majelis Pemusyawaratan Rakyat.

Oleh sebab itu, orang-orang yang duduk di majelis tersebut harus terdiri dari orang-orang yang dikenal independen, berpengetahuan luas, jujur, baik pendapatnya, dan sehat akal dan pikirannya, agar mereka tidak menetapkan undang-undang yang membelenggu kebebasan atau kemerdekaan rakyat dan bertentangan dengan kepentingannya.

Kemerdekaan ekonomi. Kebebasan di bidang ekonomi merupakan kehidupan rakyat dalam bidang materi. Apabila rakyat tidak diberi kebebasan di bidang perdagangan, pertanian, pendirian pabrik dan eksplorasi tambang untuk memanfaatkan sumber-sumber ekonomi yang terkandung dalam bumi, maka kehidupan rakyat ini sama halnya dengan orang yang ditawan dan lehernya diikat dengan tali, sementara kedua ujung tali tersebut dipegang oleh dua orang yang kuat, berbadan kekar yang selalu menakut-nakutinya akan menarik dua ujung tali itu hingga mencekiknya dan kedua orang itu mengancamnya pula dengan kematian. Demikianlah orang tawanan tu, hanya bisa menanti kematiannya di setiap saat.

Sesungguhnya orang Eropa Itu bisa mengusai sumber kekayaan atau peekonomian, setelah mereka berhasil melepaskan belenggu-belenggu yang mengikat kebebasan dan kemerdekaan perekonomian, di samping kebebasan-kebebasan di bidang lain, Sekarang ini, perekonomian bangsa-bangsa timur berada di tangan mereka, bangsa Eropa. Apabila bangsa Eropa itu hendak membunuh bangsa timur, agaknya tidak sulit, mereka cukup menghentikan ekspor barang-barang mereka ke negaranegara timur dan menarik kembali uang atau modal-modal yang mereka infestasikan di negara-negara bangsa timur.

Sebenarnya, negara kita ini kaya, banyak kekayaan alamnya, hanya saja miskin sumber daya manusia atau tenaga-tenaga yang sanggup mengelola kekayaan tersebut, untuk memenuhi kebutuhan rakyat belum mencukupi.

Orang-orang asing itu berdatangan ke negeri kita, lalu membeli atau menyewa tanah-tanah kita untuk diambil hasilnya, mungkin juga mereka itu mendapatkan hak istimewa atau izin khusus mengelola (dari pihak pemerintah). Lalu mereka mengembangkan kawasan-kawasan tertentu di negara kita ini dan melakukan eksplorasi tambang-tambang yang terdapat dalam perut bumi, yang menghasilkan miliaran emas dan perak. Sementara kita masih tetap lalai, tidak peduli, bersenangsenang menuruti hawa nafsu dan masih saling bertengkar memutus tali persatuan.

Kemerdekaan berpolitik, maksudnya setiap bangsa bebas dengan sebebas-bebasnya menentukan segala persoalannya sendiri, tanpa ada Ikatan aau tekanan bangsa lain. Berarti, umat itulah yang berkata sepenuhnya menetapkan peraturan dan undang-undang yang sesuai dengannya, bebas membuat perjanjian apa saja dengan bangsa mana pun, menetapkan pajak atau cukai barang-barang dari negara-negara asing yang masuk dan bebas membuat perluasan dan peningkatan produksi sektor pertanian, perekonomian, perindustrian nasional dan lan-lannya, yang diperlukan sebagai bangsa yang berdaulat.

Kebebasan berpolitik ini tidak terlaksana secara sempurna, jika bangsa yang bersangkutan belum sepakat memantapkan tiga macam kemerdekaan atau kebebasan yang disebutkan sebelumnya (yakni kemerdekaan individu, organisasi dan ekonomi). Jika tidak demikian, maka perjalanan bangsa itu untuk menuju kemajuan, tentu lamban, sebab mengalami kepincangan, Sedangkan mana mungkin orang yang pincang itu bisa mengejar jalan orang yang kuat.

Apabila suatu bangsa ingin hidup, maka bangsa itu harus berusaha secara maksimal menanamkan empat macam kemerdekaan tersebut dalam jiwa seluruh warga bangsa yang bersangkutan. Sesungguhnya, bangsa yang kehilangan kemerdekaannya -yang merupakan penopang kehidupannya-, maka bangsa itu berarti semakin lebih dekat pada kehancuran daripada dekat pada kekekalannya.

Wahai, generasi muda, bekerjalah dengan semangat tinggi, pelajarilah segala pelajaran dan persoalan yang berkaitan dengan kemerdekaan yang benar. Waspadalah, jangan sampai mempunyai pemahaman terhadap kemerdekaan, sebagaimana pemahaman orangorang yang tidak, mengerti teori-teori kemerdekaan. Kemudiar, berusahalah menyosialisaskan arti kemerdekaan itu kepada bangsamu. Berjuanglah membebaskan negaramu dari belenggu tradisi-tradisi yang tidak baik dan moral yang bejat. Bekerjalah dengan gigih melepaskan segala bentuk perbudakan yang melilit bangsa, semoga kalian berhasil membebaskan bangsa dari belenggu perbudaan, sehingga dengan keberhasilan usaha kalian itu, bangsa menjadi merdeka dan mampu bertahan hidup mengikuti arus kemajuan bangsa-bangsa lain di dunia.

Ingat, setiap bangsa itu memiliki ajal, dan ajal setiap bangsa itu apabila bangsa itu telah kehilangan kemerdekaannya.

KEMAUAN

Saya belum pernah melihat seseorang yang meneguhkan kemauannya untuk mencapai sesuatu, melainkan sesuatu itu pasti tercapai. Tidak ada juga seseorang yang bersungguh-sungguh menggapai sesuatu, melainkan dia berhasil mencapainya.

Demikianlah kenyataannya, sebab arti kemauan itu sendiri adalah keinginan terhadap sesuatu, diikuti dengan usaha untuk mencapainya, mencurahkan segala kemampuan untuk merealisasikannya, mempersiapkan alat-alat atau Sarana yang dapat membantu mewujudkannya dan terus bekerja tanpa mengenal lelah. Tidak dapat diragukan, bahwa sesuatu yang diinginkan itu dapat terwujud, manakala cara-cara tersebut di atas dipenuhi semuanya oleh orang yang mempunyai keinginan.

Para ulama ahli tasawuf mengungkapkan arti kemauan di atas dengan bahasa mereka:

“Sesungguhnya Allah itu memiliki banyak hamba, yang jika mereka itu menghendaki sesuatu, maka Allah pun menghendakinya.”

Kalimat di atas secara sepintas, sepertinya para ulama ahli tasawuf menjadikan kemauan Allah swt. itu mengikuti kemauan hamba yang mempunyai keinginan. Tetapi para ulama tasawuf tidak mengartikan kalimat di atas, kecuali seperti yang kami uraikan sebelumnya. Sebab, perkara yang dihasilkan itu tergantung pada sebab-sebabnya. Allah swt. telah menetapkan, bahwa tercapainya hal-hal yang diinginkan itu tergantung pada kesungguhan kemauan.

Dalam hadis Nabi Muhammad saw. disebutkan:

“Semua perbuatan itu menurut niatnya. “

Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa barangsiapa yang benar tekadnya, baik niatnya, menghadap pada kemauannya dengan sepenuhnya dan terus maju mengupayakan apa yang dia inginkan dengan hati yang penuh kemauan, maka dia akan memperoleh apa yang dia cita-citakan, dan mendapatkan apa yang diinginkannya, karena keberhasilan perkara yang diinginkan itu bisa terwujud, jika ada sebab, dan sebab itu adalah berupa kemauan.

Kemauan adalah melatih jiwa, agar teguh dan maju melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dapat dikerjakan, sehingga menjadi watak yang melekat pada jiwa tersebut. Kemauan merupakan kebahagiaan yang tidak ada tandingannya bagi orang yang memiliki sifat itu. Dengan kemauan itu orang mau bekerja dan taraf hidupnya meningkat. Dengan kemauan itu pula dia mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan berbahaya dan akhlak-akhlak tercela, mampu mengendalikan atau pemimpin hawa nafsunya. Karena kemauan itu pula seseorang menjadi manusia sempurna. Manusia yang benar-benar sempurna ialah manusia yang tidak mau dihalang-halangi oleh siapa pun dalam usahanya mencapai cita-citaya dan tidak mau dihentikan oleh kesenangan hawa nafsunya, demi mencapai apa yang dikehendakinya.

Sesungguhnya para nabi, ahli filsafat dan tokoh-tokoh terkemuka, semuanya tidak mungkin dapat berhasif menyebarluaskan apa saja yang menjadi tujuannya, berupa paham-paham (ideologi-ideologi) dan beberapa ajaran serta tidak pula mereka itu bisa berhasil melaksanakan proyek-proyek yang mereka inginkan, sebagaimana yang telah tercatat dalam lembaran sejarah, kecuali dengan adanya kemauan. Keberhasilan mereka, semua itu hanya karena kemauan mereka yang gigih. Bagian terpenting dalam kemauan mereka, adalah keteguhan dan ketetapan hati untuk terus bekerja, sehingga berhasil, meskipun di tengah-tengah usaha itu mereka tertimpa musibah besar, yang mampu merobohkan gunung dan meremukkan besi.

Apa yang kita lihat tentang kegagalan kerja orang-orang bekerja itu, sebenarnya akibat dari tidak diperhatikannya pendidikan pembinaan kemauan dalam jiwa mereka. Mereka tidak bisa bertahan dan samar menekuni apa yang sedang mereka kerjakan, bahkan mereka cenderung mundur tatkala pertama kali menghadapi cobaan, padahal sabar yang sebenarnya adalah tabah ketika menghadapi awal musibah.

Kemauan itu menuntut kesabaran, tidak ragu-ragu dan menganggap remeh rintangan-rintangan yang menghalangi usaha-usaha yang bermanfaat. Hal seperti itulah yang menjadi sebab utama keberhasilan pekerjaan.

Apabila kemauan itu telah meresap dalam jiwa seseorang, maka akal pikirannya menjadi semakin bijak dan nafsu amarahnya jatuh (tidak berperan), sedangkan manusianya menjadi sempurna derajatnya. Karena kemauannya yang meresap pada jiwa itu benar-benar melekat dan membekas dalam jiwa yang mulia, sehingga jiwa tersebut menjadi baik, bersih dan bahagia.

Apabila di kalangan suatu bangsa terdapat banyak orang yang jiwanya telah didasari kemauan keras, maka bangsa tersebut melaju dengan cepat pembangunan dan kemajuannya dengan cukup mengagumkan. Sedangkan setiap bangsa yang sendi-sendi keagungannya rapuh dan pilar-pilar kemuliannya ambruk, semua itu disebabkan bangsa tersebut kurang memiliki orang-orang yang berkemauan keras.

Ingatlah, bahwa barangsiapa yang lemah kemauannya, maka orang itu pasti kerdil jiwanya dan rendah derajatnya. Mudah diombangambingkan hawa nafsunya dan dipermainkan oleh kemauan orangorang kecil, lebih-lebih orang besar, sehingga dia bagaikan bola yang ditendang ke sana-kemari, sesuai dengan kehendak orang yang mempermainkannya. Dia tidak ubahnya sebagai sasaran bidikan panah. Apabila dia didatangi oleh seseorang dengan menyodorkan suatu persoalan, dan orang itu mendesaknya agar mengakui kebaikan persoalan tersebut, maka dia pun menurut.

Akan tetapi, jika di kemudian hari didatangi orang lain dan mempengaruhinya agar mengakui ketidakbaikan persoalan tersebut, maka dia pun terpengaruh. Orang yang demikian ini adalah orang yang tidak memiliki pendirian dan mudah terombang-ambing oleh kemauankemauan orang lain serta dipermainkan oleh hawa nafsunya sendiri. Hal ini karena dalam jiwa orang itu tidak terdapat daya yang mampu menolak kebatilan dengan kebenaran dan tidak memiliki akal cerdas yang dapat membedakan antara perkara yang baik dan yang buruk. Orang seperti itu, jelas bukan termasuk manusia yang sempurna.

Suatu bangsa yang menginginkan hidup layak dan senang, maka mereka harus mengajari putra-putrinya menanamkan kemauan keras dalam jiwa mereka. Sebab, kemauan keras adalah kunci kebahagiaan (keberhasilan).

Wahai, generasi muda, kalian semua adalah tiang-tiang bangsa, pilar-pilar keagungan dan pemimpin-pemimpin bangsa di masa mendatang. Sebab itu, biasakanlah sejak sekarang menjadi orang yang berkemauan keras, jangan mempedulikan rintangan-rintangan yang menghalangimu dalam mencapai cita-cita. Berkemauan keras itu merupakan pangkal akhlak terpuji. Kemauan keras itu ibarat mata akhlak yang jeli dan merupakan hatinya yang dapat berpikir.

Berkonsentrasilah pada kemauan, maka apa yang kalian inginkan mudah tercapai. Ingatlah, kata-kata:

“Sesungguhnya Allah swt. memiliki hamba-hamba yang jika mereka mempunyai kemauan, maka Allah mengabulkannya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker