Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

DUSTA DAN BENAR

Benar dan dusta yang kami maksud dalam pembahasan ini, bukanlah seperti yang dikenal oleh setiap orang selama ini, yakni dusta dan benar dalam berkata, sebab hal seperti itu sudah jelas dan anak kecil pun mengerti. Akan tetapi yang kami maksud benar dan dusta dalam judul ini adalah benar dan dusta dalam perbuatan, sebab wujud dan tidak wujud suatu perbuatan, sebenarnya hasil dari ucapan dusta atau benar.

Janganlah engkau berkata (memulai) kepada seseorang, sesungguhnya engkau adalah yang benar atau dusta, sebelum engkau mengetahui benar atau dustanya dalam praktik amalnya (umpamanya diamalkan atau tidak). Janganlah engkau menilai benar atau bohong terhadap suatu ucapan, sebelum engkau mengetahui pengaruh (praktik) ucapan itu. Sebab, ucapan itu akan menjadi besat atau kecil nilainya bergantung pada praktiknya, dan ucapan itu dinilai benar, jika dibuktikan oleh amalan.

Kebenaran (kejujuran) perbuatan itu merupakan’hasil kerja orangorang yang memiliki kemauan keras. Mereka itu tidak dapat dihalangi oleh siapa pn dalam merealisasikan apa yang mereka ucapkan.

Engkau sering melihat banyak orang termasuk mereka yang mempunyai kedudukan terpandang, karena mereka memegang jabatan tinggisering mengatakan sesuatu yang tidak mereka amalkan. Apabila engkau menuntut mereka supaya melaksanakan ucapan dan memenuhi janji-janji mereka, maka mereka selalu mencari-cari alasan. Mereka mengemukakan macam-macam bahasan yang sudah menjadi watak mereka, yakni usaha membela diri dan kemunafikan, dan mereka selalu mengulur-ulur waktu untuk memasarkan alasan-alasannya. Hal itu bisa terjadi, hanya karena kemauan yang ada dalam jiwa mereka itu sangat lemah dan karena tidak terlatihnya mereka berkata benar dan dibuktikan dengan pelaksanaan (amal).

Apabila orang (yang pernah mengemukakan ucapan atau janji) ketika dituntut pelaksanaannya itu menjawab tidak atau dapat memenuhi, maka tidak ada seorang pun yang mencemoohnya. Bahkan menolak tuntutan itu lebih baik daripada janji yang tidak ditepati. Lebih parah lagi adalah orang yang berkata atau berjanji akan melakukan sesuatu, kemudian dia mundur (menghilang) dan tidak menepati janjinya. Mengingkari janji itu sama sekali bukan kebiasaan orang-orang yang sempurna pekertinya, dan dusta atau bohong itu adalah kebiasaan dan perangai orang-orang yang hina dina.

Setiap orang, sebelum menjanjikan sesuati kepada orang lain, hendaknya dia berpikir secara mendalam. Apabila dia yakin bahwa dirinya mampu memenuhi apa yang akan dijanjikan, maka tidak ada larangan dia berjanji, tetapi jika sekiranya tidak mampu memenuhi, maka sebaiknya tidak berjanji. Adapun orang yang berjanji sebelum berpikir dan angan-angan, apa dia mampu menepati janjinya atau tidak, maka orang itu termasuk orang yang sangat bodoh.

Kebanyakan orang yang bodoh itu, sering terlempar oleh kebodohannya sendiri ke lembah kebinasaan, yang menimbulkan penyesalan untuk selama-lamanya.

Sesudah memahami uraian di atas, maka perhatikanlah masalah berikut ini.

Apabila engkau heran pada suatu permasalahan, maka heranlah terhadap suatu kelompok orang yang berkata dan berjanji, sedangkan mereka memastikan dalam hati, bahwa mereka tidak akan menetapi perkataardan janjinya. Sesuatu yang mendorong mereka berkata bohong dan berjanji palsu itu tidak lain adalah karena salah (rusak) pendidikan mereka. Barangsiapa yang membiasakan sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi watak dan tabiatnya yang sulit dihilangkan. Kebiasaan itu tetap melekat padanya hingga dia masuk ke liang kubur.

Apabila seseorang sudah terkenal tidak pernah menepati janji dan selalu bohong, maka orang-orang, bahkan kolega terdekatnya akan menjauhinya, mereka tidak lagi mau mempercayai jika dia berkata dan mereka tidak bergeming, jika dia berjanji, bahkan mereka menganggapnya seperti fatamorgana yang tampak di padang luas, yang dikira oleh orang yang haus sebagai air, tetapi setelah didekati ternyata tidak ada sesuatu pun.

Watak atau perangai yang buruk ini apabila telah berjangkit dalam jiwa suatu umat, maka hilanglah kepercayaan dari jiwa anak-anak mereka, sedangkan kehilangan kepercayaan adalah pertanda lenyapnya kehidupan.

Wahai, genersi muda, hindarilah kebiasaan berdusta, sebab dusta itu menyebabkan retak (cacat) mahkota kemuliaan dan hindarilah ingkar janji, sebab ingkar janji itu menyebabkan umat menjauhimu.

Apabila kalian mampu menepati janji, berjanjilah, apabila kalian bisa melakukan pekerjaan, berkatalah. Jika tidak mampu, janganlah berjanji dan jangan mengobral perkataan, agar engkau tidak dicap sebagai pembohong.

KESEDERHANAAN

Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan, maka carilah dalam sikap sederhana (moderat).

Kesederhanaan itu berlaku dalam berpikir, bermazhab, makan, minum, berpakaian, memberi dan dalam setiap urusan yang bersifat kongkret atau abstrak. Semua itu merupakan keutamaan.

Barangsiapa yang menetapi jalan tengah-tengah (moderat), maka dia pasti selamat. Dan kedua ujung sikap tengah-tengah itu tercela.

I’tidal atau moderat adalah sederhana (sikap tengah-tengah) dalam semua permasalahan.

Asy-Syaja’ah (keberanian) itu mulia, karena ia adalah tengah-tengah antara dua sikap negatif. Yakni tahawwur (berani tanpa perhitungan atau gegabah) dan jubun (penakut).

Al-Jud (kedermawanan) itu mulia, karena ia adalah tengah-tengah antara dua sikap yang tidak terpuji, yakni Israf (boros) dan Bakhil (kikir).

Demikianlah keadaan segala sesuatu. Kalian pasti menjumpai setiap sikap atau perbuatan terpuji pada kesederhanaan atau kemoderatan, yakni sikap tengah-tengah antara dua sikap tercela.

Kecerdasan, jika melampaui batas, bisa menyebabkan cacat dalam perbuatan, bisa mendorong pada hal-hal yang tidak patut dikerjakan oleh orang-orang yang berakal dewasa. Tetapi, apabila kecerdasan itu kurang, tentu menimbulkan kebodohan dan kegoblokan.

Ketakwaan, jika melewati batas, maka akan menimbulkan waswas (kekurangmantapan), yang sering menyebabkan meninggalkan ibadah dan mengikuti perbuatan orang-orang fasik yang durhaka.

Karena itu, syariat atau peraturan dari langit (Islam) melarang tindakan melewati batas dalam menjalankan ibadah dan memerintahkan bersikap tengah-tengah dalam hal ibadah. Tersebut dalam hadis Nabi saw.:

“Sesungguhnya orang yang terpisah (dari teman-teman seperjalanan) itu tidak lagi tahu jalan yang harus dilalui dan tidak ada kendaraan yang terasa nyaman.”

Ilmu pengetahuan, apabila semakin luas dalam diri manusia, maka ilmu yang luas justru menimbulkan kebodohan (orang semakin banyak ilmu, semakin merasa bodoh). Kadang-kadang orang yang melampaui batas dalam menguasai ilmu itu, akan semakin banyak tidak mengetahui keperluan-keperluan dirinya sendiri.

Menurut kaidah umum, bahwa segala sesuatu yang telah melampaui batas maksimal, pasti akan berbalik sepenuhnya. Kaidah berlaku umum, untuk binatang, tumbuh-tumbuhan, benda padat, dan hal-hal abstrak maupun yang kongkret, yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial ataupun pembangunan.

Orang yang berakal adalah orang yang mewajibkan dirinya bersikap moderat, sederhana atau tengah-tengah dalam semua permasalahan, baik masalah ekonomi, sosial maupun keagamaan. Sebab, mengambil sikap tengah-tengah atau moderat itu membuat selamat. Tidak ada sesuatu yang paling membahayakan umat, kecuali mengabaikan sikap tengah-tengah atau moderat.

Wahai, generasi muda, berpegang teguhlah dengan sikap moderat (sedang). Janganlah kalian membiarkan setan mendorongmu bersikap terlampau berlebihan (ekstrem) atau terlampau kurang (konservatif). Sebab, perkara yang paling baik adalah yang tengah-tengah, karena di dalamnya terdapat kemuliaan, dan kemuliaan itulah yang dicari oleh orang-orang yang menginginkan hidup mulia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker