Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Idhotun Nasyi’in

MELAKSANAKAN KEWAJIBAN

Andaikata semua orang mau melaksanakan kewajiban yang telah dibebankan kepada mereka, niscaya mereka itu seperti berada dalam , surga yang kekal, meskipun mereka sebenarnya masih di dunia.

Mula-mula setiap orang itu mengetahui dengan sebenarnya tentang apa saja yang menjadi tugas dan kewajiban, yang dibebankan kepadanya. Kemudian melaksanakannya dengan baik.

Mengetahui kewajiban adalah suatu persoalan yang besar, namun melaksanakan kewajiban adalah persoalan yang lebih besar dan lebih penting.

Apabila di sana (di tengah-tengah masyarakat) terdapat banyak orang yang tidak mengetahui apa yang menjadi kewajiban mereka, lebih banyak lagi adalah orang yang mengetahui tugas dan kewajibannya, tetapi mereka enggan melaksanakannya. Orang yang mengetahui sesuatu yang benar, kemudian menyeleweng dari kebenaran, adalah lebih jelek dan lebih tercela daripada orang yang menyimpang dari kebenaran, karena memang tidak mengerti, bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.

Saya merasa heran kepada sebagian orang yang menghendaki orang lain melaksanakan kewajibannya terhadap dirinya, tetapi dia sendiri tidak mau mempedulikan kewajibannya terhadap orang lain (haknya minta dipenuhi, sedangkan dia tidak mau memenuhi hak orang lain).

Timbulnya kelengahan dalam melaksanakan kewajiban itu ada dua macam penyebabnya: Yaitu mementingkan diri sendiri dan lemah kemauan.

Mementingkan diri sendiri (egois) mendorong seseorang pada perbuatan suka menghina atau melecehkan orang lain dan memonopoli segala kepentingan. Sebab sifat tgois ini dia tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap orang lain dan kewajiban-kewajiban terhadap masyarakat serta tidak mau bekerja demi kebaikan masyarakat, sebagaimana dia bekerja untuk kebaikan dan kepentingan dirinya sendiri.

Lemah kemauan itu merupakan penghalang yang menghalangi seseorang melakukan kewajiban yang telah dibenarkan kepadanya. Apabila secara tiba-tiba hatinya tergerak untuk melaksanakan kewajibannya, maka pendidikannya yang keliru, yang dia terima waktu kecil menghalangi niatnya, hendak melakukan kewajiban tersebut (akibatnya dia tidak melakukan kewajiban apa pun).

Melaksanakan kewajiban bisa mendatangkan manfaat secara umum dan merata. Manfaat itu tidak hanya kembali kepada diri orang yang bersangkutan, tetapi juga kembali kepada orang lain. Sebab, jika engkau melaksanakan apa yang telah menjadi kewajibanmu terhadap orang lain, maka orang itu pun akan berusaha semaksimalnya untuk mengimbangimu dengan melakukan seperti apa yang kamu kerjakan, dan dia akan memenuhi kewajibannya terhadap dirimu. Apabila kamu telah mengerjakan kewajiban-kewajiban terhadap umat, dan kamu menyerukan orang lain agar melakukan kewajibannya terhadap umat, maka umat itu niscaya menjadi baik dan bahagia. Kebahagiaan umat itu juga merupakan kebahagiaan setiap anggota umat itu sendiri, yang salah satunya adalah kamu sendiri.

Penuhilah kewajiban terhadap kedua orangtuamu. Niscaya kedua Orangtuamu itu pasti memenuhi kewajibannya sebagai orangtua kepadamu. Dengan demikian, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang kamu cita-citakan.

Kerjakanlah kewajibanmu terhadap guru-gurumu, dengan cara bersikap atau berakhlak yang baik, penuh perhatian pada pelajaran dan berusaha sekuat tenaga memenuhi kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan sekolahan, maka mereka akan lebih mencintaimu daripada mencintai anak-anaknya sendiri.

Laksanakanlah kewajiban terhadap teman-temanmu, dengan cara memberi bantuan atau pertolongan kepada mereka, di saat mereka dalam keadaan sengsara, menampakkan rasa senang, ketika mereka dalam keadaan senang, siap mati membela mereka, ketika mereka terancam bahaya maut, mau hidup asal mereka bisa hidup pula (tetap setia kawan), berusaha menyelamatkan mereka ketika tertimpa bahaya dan membantu mereka ketika mereka memerlukan bantuan. Apabila engkau dapat mengerjakan scmua itu, maka engkau bakal memiliki banyak penolong di saat engkau menghadai kesulitan dan keadaan bahaya tertimpa musibah.

Penuhilah kewajiban terhadap sanak keluargamu, dengan cara menampakkan kasih sayang kepada mereka yang fakir, dan memenuhi kebutuhan kebutuhan mereka. Jika hal ini engkau lakukan, maka mereka akan sanggup mempertaruhkan nyawanya demi membelamu dan mengorbankan segala yang mereka miliki, untuk mengangkat derajat dan kedudukanmu.

Kerjakanlah kewajibanmu terhadap anak-anakmu, dengan cara mendidik mereka dengan pendidikan yang baik, mengusahakan mereka supaya berakhlak mulia, yang bisa menjadikan mereka mencapai derajat Orang mulia, maka mereka (anak-anak) itu akan mengerjakan kewajibannya kepadamu, akan mengangkat derajatmu dan akan membantu dalam melayanimu, di saat engkau memasuki usia tua, yaitu pada saat engkau tidak mendapatkan orang yang mau membantumu, selain anak-anakmu yang berpendidikan itu, yang engkau dengan susah payah mereka pada waktu kecilnya.

Penuhilah kewajiban terhadap istrimu, dengan cara memperlakukannya sebagaimana perintah agama, yaitu dengan sikap penuh kasih, ceria dan ramah, memberi pendidikan akhlak dan mengajarinya tentang hal-hal yang menjadi kewajibannya. Jika melakukan hal itu, maka istrimu akan sangat patuh kepadamu, memenuhi segala yang menjadi kewajibannya kepadamu sebagai suami dam akan menjadi teman setiamu, baik dalam keadaan senang maupun susah.

Penuhilah kewajibanmu terhadap perdagangan, profesi dan semua pekerjaanmu, dengan cara tidak melakukan pemalsuan, penipuan, tidak menjual barang-barang yang rusak dan tidak menutup-nutupi barang cacat, maka engkau akan menyaksikan banyak orang condong dan senang kepadamu serta banyak orang senang berlangganan kepadamu. Semua itu hanya karena engkau tepercaya. Dapat dipercaya orang, itu merupakan perkara besar dan sangat penting, dan tidak mungkin ada kepercayaan, kecuali dengan memenuhi kewajiban.

Bagi pemerintah, wajib melaksanakan kewajibannya terhadap rakyatnya, dengan cara menghargai bahasa, sastra, adat istiadat, ciri khas, hak-hak mereka dalam bidang seni sastra dan hukum serta hak-hak lainnya. Apabila pemerintah melaksanakan kewajiban di atas, maka rakyat akan siap mendukungnya sepenuh hati dan aktif memenuhi tanggung jawab dan kewajiban mereka terhadap pemerintah.

Pelaksanaan kewajiban oleh masing-masing pihak (pihak pemerintah dan rakyat) secara timbal balik, itu adalah sebuah kebahagiaan dan kejayaan yang tiada bandingannya dalam kehidupan (bermasyarakat dan bernegara).

Wahai, generasi muda, kalian wajib melaksanakan apa yang telah menjadi kewajiban kalian semua, sebab memenuhi kewajiban itu merupakan roh setiap barang yang ada di dunia ini. Ia merupakan rahasia kemakmuran hidup sebagai sumber akhlak yang mulia.

Bersikaplah adil kepada orang lain, mereka pasti bersikap adil kepadamu.

Kerjakanlah kewajiban yang menjadi tanggung jawab kalian terhadap Orang lain, pasti orang lain pun akan melaksanakan kewajibannya kepadamu.

DAPAT DIPERCAYA

Andaikata sifat tsiqah (dapat dipercaya) tidak ada, maka orangorang ini selama hidupnya dalam keadaan penuh gelisah dan ketakutan. Apabila lenyap sifat tsiqah (dapat dipercaya), berarti pertanda hilang kehidupan yang bahagia.

Sifat tsiqah itu merupakan roh segala perbuatan dan sebagai keindahan (bunga) semua cita-cita.

Apabila tsiqah (kepercayaan) telah lenyap dari jiwa manusia: maka sikap manusia ini terhadap sesamanya semakin buas dan garang, satu sama lain enggan melihat, dan saling siap menyerang dan menerkam.

Tidak ada rasa percaya di antara satu sama lain, khususnya dalam. harta kekayaan, dan di antara mereka tidak bakal pernah terjadi keakuran dalam segala hal.

Perdagangan adalah merupakan pusat kegiatan perekonomian, yang dibangun atas dasar saling percaya di antara para pelaku perdagangan. Andaikata dalam dunia perdagangan ini tidak ada rasa saling percaya | di antara pelaku-pelakunya, maka akan terjadi resesi dan kemacetan kerja. Dari sinilah muncul kesengsaraan hidup dan semakin sempit harapan untuk bisa bertahan hidup. Hal tersebut memang egois, sebab, apa ada orang berakal sehat mau menyerahkan uang atau hartanya kepada orang yang tidak dapat dipercaya? Jika ada orang mau : menyerahkan hartanya kepada orang yang dikenal tidak dapat dipercaya, maka itu merupakan suatu bentuk kegilaan yang parah.

Sebagaimana halnya hilang sifat tsiqah (kepercayaan) dalam bidang materiil itu, menyebabkan berantakan dan kehancuran harta dan kehidupan, maka demikian pula halnya dalam bidang moral.

Apabila engkau bertemu dengan seseorang, tiba-tiba engkau mengerti, bahwa dia tidak dapat dipercaya, sebab orang tersebut telah menjualmu hanya dengan imbalan sepiring makanan atau lebih sedikit dari itu. Atau orang itu menggunjing (ngrasani)mu bersama orang yang dia kenal sering menggunjingmu atau orang itu jelas enggan mencegah kejelekan yang diarahkan kepadamu sewaktu engkau pergi. Bahkan dia takut, jika membelamu atau orang itu diam-diam berusaha keras ingin mencuri hartamu dengan suatu tipu daya atau orang itu mengorek rahasia-rahasiamu, kemudian membeberkannya kepada orang banyak, maka sudah pasti tidak sreg berteman dengannya dan engkau tentu tidak ingin melanggengkan tali persahabatan dengannya. Apabila engkau masih mengokohkan tali persahabatan dengan orang tersebut, berarti engkau orang yang tertipu, bodoh, penakut dan tidak memiliki (lemah) kemauan.

Orang yang melakukan penipuan dalam usahanya itu bisa melenyapkan kepercayaan orang banyak kepadanya, mereka tidak akan tertarik dengan dagangannya, tidak tertarik dengan hasil karyanya dan acuh tak acuh atau tidak mempedulikan pekerjaannya.

Orang yang penipu, pamer, munafik, pembohong, rakus, pengkhianat dan egois itu, semuanya perlu dihindari dan disingkirkan, sebab mereka tadak lagi memiliki sifat tsiqah (dapat dipercaya).

Penipu itu mengusahakan agar engkau menjadi tidak baik dan terjerumus pada kemelaratan, tanpa engkau sadari. Penipu itu selalu menampakkan kecintaan kepadamu dan mengharapkan kebaikan untukmu. Akan tetapi ketika engkau mengetahui tipu daya dan makarnya, maka segeralah menjauhinya, karena dia tidak lagi dapat dipercaya.

Orang yang pamer (riya) itu selalu memperlihatkan kepadamu kebalikan dari hal yang sebenarnya ada pada dirinya. Dia itu sebenarnya orang fasik dan hina, tetapi tampil di hadapanmu sebagai orang yang baik dan tinggi cita-citanya. Dia sebenarnya orang yang hina dan rendah cita-citanya, tetapi menampakkan diri kepadamu seolah-olah orang yang mulia dan mempunyai semangat kerja yang kuat. Dia itu penahan harta orang dengan jalan tidak benar, tetapi di hadapanmu bersikap seperti orang yang jujur, dapat memelihara setiap harta yang dititipkan kepadanya. Orang yang pamer senantiasa menampakkan diri kepadamu yang tidak semestinya. Apabila engkau telah mengetahui perangai dan kebiasaannya yang jelek itu, maka segeralah membuangnya, seperti engkau membuang biji kurma, karena engkau sudah tidak memiliki kepercayaan dengannya.

Orang munafik itu seperti orang yang pamer (riya), sama-sama menyembunyikan kebalikan sesuatu yang dia tampakkan, hanya saja akhlak orang munafik itu lebih rendah daripada akhlak orang yang riya. Karena, akibat kelakuan orang munafik itu tidak terbatas pada dirinya sendiri dan orang yang dimunafiki. Orang yang riya (pura-pura) itu hanya memperlihatkan kepadamu apa yang dia perlihatkan, agar engkau senang kepadanya dan supaya engkau percaya kepadanya. Tapi orang yang munafik itu berusaha menutupi ideologi keagamaannya, paham sosial dan aliran politiknya. Lalu dia memberi pernyataan kepada penganut-penganut mazhab dan aliran yang berbeda-beda itu, bahwa dirinya sama dengan mereka, begitu juga ideologinya, sama dengan ideologi mereka.

Kadang-kadang si munafik itu tidak menganut suatu ideologi salah satu kelompok aliran-aliran tersebut dan kadang-kadang dia cenderung pada suatu kelompok, padahal dia mengerti, bahwa pengikut kelompok itu sesat. Lalu dia memuji-muji pemimpintpemimpin dan anggota kelompok ini, dan tidak segan-segan menganggap para pengikut aliran tersebut sebagai orang-orang yang berkedudukan tinggi dan mulia. Dia melakukan yang demikian ini, semata-mata mencari keuntungan materi yang membuatnya berkantong tebal (hidup kaya). Tetapi ketika kemunafikan orang itu diketahui oleh orang banyak, maka akan segera dicampakkan oleh masyarakat, karena mereka sudah tidak percaya kepadanya.

Orang yang bohong, adakalanya karena takut pada perkara yang tidak disukai atau ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Bohong karena alasan apa saja itu menyebabkan lenyap kepercayaan masyarakat kepadanya, sebab ucapannya sendiri dan menyebabkan semua ucapannya diyakini masyarakat sebagai kebohongan, meskipun sebenarnya dia berkata benar.

Orang yang rakus itu selalu berusaha mendapatkan apa saja yang lebih dari yang semestinya menjadi haknya dan selalu berusaha secara serius mengambil hak orang lain untuk dimifiki sendiri. Jadi, orang yang rakus itu tidak bisa dipercaya, khususnya dalam masalah hak milik dan dia tidak bisa diserahi amanat, maka bagaimana mungkin masyarakat percaya kepadanya?

Adapun orang yang pengkhianat, sudah jclas tidak bisa dipercaya Ketiadaan sifat tsiah pada diri pengkhianat itu lebih pasti, dibandingkan ketiadaannya pada golongan lainnya, dan pengkhianat itu lebih dijauhi oleh masyarakat, sebab pengkhianat itu merupakan gabungan dari perbuatan penipuan, riya, kemunafikan, kebohongan dan kerakusan. Ini adalah pengkhianat kelas berat, dan itulah yang dimaksud dengan pengkhianatan, yang sebenarnya dalam bahasan-bahasan tentang khianat.

Setiap sifat tersebut adalah suatu pengkhianatan, sebab orang menipumu, pura-pura padamu, bermunafik kepadamu, membohongimu atau rakus mengambil hakmu, itu nyata-nyata mengkhianatimu dan menampakkan sikap yang tidak sebenarnya kepadamu.

Orang yang egois, yakni orang yang tidak mau memperhatikan selain kepentinan dirinya sendiri, itu sebenarnya tertipu oleh dirinya sendiri, sehingga dia terdorong untuk berbicara tentang dirinya dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Orang yang tertipu oleh dirinya sendiri itu sudah terkenal berlebihan dalam memuji dirinya sendiri dan menyimpang dari jalan yang benar. Jika dia berkata tentang dirinya, maka tidak bakal dipercaya dan semua ucapannya tidak mendapat perhatian.

Perlu diingat, bahwa poros kepercayaan itu ada pada tiap-tiap individu anggota umat. Apabila kadar kejujuran dan kemuliaan jiwa dalam umat itu besar, maka kepercayaan di antara mereka juga besar. Dan apabila kadar dua sifat mulia tersebut rendah, maka kepercayaan di antara mereka juga sangat rendah dan tatanan kerja pun menjadi rumit. Semua itu dapat mengusik ketenteraman dan kebahagiaan semua umat.

Kepercayaan secara timbal balik di antara anggota masyarakat, itu merupakan tali pengikat hubungan sosial, ekonomi dan politik. Sebagaimana saling percaya di antara orang itu amat diperlukan, maka saling percaya antargolongan lebih diperlukan. Lebih penting lagi adalah saling percaya antarsatu bangsa dengan bangsa lain dan saling percaya antarsatu negara dengan negara lain. Apabila kepercayaan tersebut pudar, maka tali hubungan tentu terputus dan akhirnya tatanan masyarakat menjadi berantakan.

Wahai, generasi muda, biasakanlah jujur (benar) dalam bertutur kata dan beramal. Paksakan dirimu memenuhi janji, kalian akan memperoleh kepercayaan dan jika engkau telah mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka kalian termasuk orang-orang yang bahagia. Hatihatilah, jangan sampai kalian meremehkan tsiqah atau kepercayaan, sebab dengan modal kepercayaan itulah kalian bisa hidup.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker