HASUD DAN DENGKI
Orang-orang yang berjiwa besar tidak mungkin memiliki sifat dengki atau iri hati (hasud), sebab hasud itu bagian dari jiwa yang kerdil, lemah kemauan dan watak yang jahat. Orang yang berjiwa besar, yang enggan berbuat jahat, ialah orang yang jarak antara diri orang itu dan akhlak atau tingkah laku jahat (hasud) ini sangat jauh.
Ada sebuah pepatah Arab:
“Orang yang hasud tidak bakal bisa berkuasa.”
Pepatah tersebut -andaikata engkau mengetahuiadalah sangat agung dan penting. Kalimat tersebut mengandung makna dan pengertian yang besar. Kalimat ini meskipun cukup singkat, tetapi besar maknanya dan agung kandungan isinya.
Orang yang hasud itu sempit akhlaknya, tidak lapang dadanya dan kacau pikirannya. Apabila melihat orang yang mendapat nikmat atau menyaksikan salah seorang mendapatkan kedudukan tinggi di kalangan masyarakat yang-hal itu sudah selayaknya, maka dia berharap nikmat yang diterima orang tersebut beralih kepada dirinya dan kedudukannya bisa pindah kepadanya, meskipun dia harus bersusah payah memperolehnya dari orang yang memiliki nikmat dan kedudukan tersebut.
Angan-angan sebagaimana pendapat mereka adalah modal orang yang bangkrut. Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kemauan, tidak memiliki harga diri dan tidak memiliki jiwa yang mulia dapat memperoleh kedudukan yang terhormat atau dapat mencapai nikmat orang-orang yang dihasudi. Dia dengan angan-angan yang hina Itu, tidak akan dapat mengambil alih suatu pemberian Allah kepada hamba-Nya dan dia tidak akan mampu merampas kedudukan orang lain dan menguasainya. Namun, orang yang hasud itu bakal tetap keadaannya, yaitu jarang mendapat nikmat, rendah kedudukannya, hina jiwanya dan rendah pangkatnya. Apa mungkin orang seperti itu dapat memegang kemuliaan atau masuk di gelanggang kemuliaan? Sungguh dia dengan sifat hasud itu tidak akan dapat menjadi penguasa, meskipun dia tetap iri hati selama hidupnya.
Adapun orang yang besar jiwanya, yaitu apabila dia melihat orang lain dipuji, karena memiliki suatu kebaikan atau melihat orang lain menduduki kedudukan yang banyak diminati, maka hatinya tidak bergerak sedikit pun untuk mendengki orang itu dan tidak berusaha menurunkan orang tersebut dari kedudukannya. Tetapi, dia (orang yang berjiwa besar) berusaha keras untuk dapat mencapai nikmat, seperti yang telah dicapai oleh orang tersebut dan berjuang agar bisa mendapatkan kedudukan seperti yang didapatkan oleh orang lain tersebut, bahkan kalau bisa melebihinya.
Kerendahan jiwa itu mendorong orang untuk mengharapkan lenyapnya kenikmatan dari orang lain, agar pindah kepada dirinya, sedangkan ketinggian jiwa mendorong orang untuk berusaha, agar mendapatkan kebaikan dan kenikmatan yang diidam-idamkan, sama sekali tidak disertai rasa ingin berbuat keburukan (kerugian) kepada orang lain, sementara dirinya mendapatkan kebaikan (keuntungan). Perbedaan dua sifat tersebut amat besar (sifat pertama disebut hasud, sedang sifat kedua disebut ghibthah).
Engkau telah menyetuhui apa yang kami uraikan, yakni tentang arti kata hikmah :
(orang yang dengki tidak mungkin bisa menjadi pemimpin). Karena aitat orang yang dengki atau hasud adalah lemah kemauan, berjiwa kerdil, penakut dan tidak memiliki keberanian untuk bekerja keras, seperti kerja orang orang terpandang. sudah sepantasnya orang yang bersifat seperti tersebut di atas tidak menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan (sifat yang harus dipenuhi seseorang yang menjadi pemimpin) dan sifat sifat tersebut di atas adalah sangat berlawanan.
Sungguh mengherankan, jika ada orang mengharapkan sesuatu yang tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesungguhan dan kerja keras, padahal dia pemalas, tidak mau berusaha dan menganggur. Orang itu sebenarnya mengharapkan sesuatu yang malah mendapatkan kerugian dan kerusakan (karena mempunyai harapan tanpa dibarengi usaha). Itulah sifat orang-orang yang dalam hatinya terdapat sifat hasud atau dengki. Oleh karena itu, hati-hatilah, wahai, generasi muda, jangan sampai kalian menjadi golongan orang-orang bodoh.
Kobaran api kedengkian orang yang hasud itu kadang-kadang sampai pada suatu batas yang mendorongnya untuk menyakiti atau mengganggu orang yang dihasudi, berusaha menyengsarakan orang yang dihasudi dan menggerakkan segala upaya untuk menimpakan berbagai kejahatan kepadanya. Orang yang hasud itu tega melakukan yang demikian terhadap orang yang dihasudi, hanya karena menuruti gejolak jiwanya yang hina dengan mengira, bahwa perbuatannya itu dapat memadamkan bara kedengkian tabiatnya yang hina dan tercela.
Apabila kedengkian itu sudah sampai pada batas ini, maka orang yang dengki (hasud) itu sudah berubah menjadi binatang buas atau binatang predator dan menjadi ular yang taringnya mengandung racun yang amat berbahaya. Namun, sering sekali bahaya kedengkian itu kembali pada dirinya sendiri, akhirnya diamati karena kemarahan serta kejengkelannya sendiri dan terbakar oleh apt kedengkiannya.
Perlu diingat, bahwa kedengkian (hasud) pada jaman dahulu merupakan penyakit yang paling berat, yang dapat meruntuhkan keagungan kita dan menghancurleburkan kemajuan dan peradaban kita. Menurut hemat saya, kedengkian pada saat sekarang ini merupakan penyakit atau wabah yang meluas di kalangan masyarakat kita.
Apabila engkau melihat seseorang melakukan sesuatu untuk kemaslahatan negara dan kebaikan umat, maka di sana pasti anda jumpai sejumlah orang yang menentang orang tersebut hanya semata-mata karena kedengkian, iri hati dan menentang kebenaran. Apabila kita tidak segera meninggalkan sifat tercela ini, maka jangan harap mendapatkan kebaikan dan tidak ada lagi jalan menuju kebahagiaan.
Wahai, generasi muda, jauhilah sifat dengki, iri hati atau hasud, sebab dengki itu bagian dari akhlak orang-orang hina dan termasuk sifat orang-orang yang bodoh. Apabila engkau melihat orang yang menegakkan kebenaran, maka dukunglah dan mudahkanlah jalannya. Apabila engkau melihat nikmat atau kesenangan yang dilimpahkan Allah kepada salah seseorang hamba-Nya, maka berusahalah engkau agar bisa meraih nikmat seperti itu, dengan hati bersih dan pemikiran yang jernih. Dengan izin Allah kalian akan dapat mencapainya.
Berhati-hatilah, jangan sampai kalian mau didorong oleh sifat dengki untuk memusuhi orang yang mendapat kenikmatan, sebab dengan kedengkian kalian tidak bakalan dapat memperoleh apa yang engkau inginkan daripadanya. Bahkan bisa jadi kalian terjerat oleh pukat kedengkian kalian sendiri.
Betapa baik dan adil keputusan Allah. Karena kedengkian itu begitu muncul, langsung menyiksa hati si pendengki itu sendiri, kemudian membunuhnya.
TOLONG-MENOLONG
Jadilah kalian orang yang mau membantu orang lain, pasti orang lain pun akan membantu kamu. Gemarlah berbuat baik kepada orang lain, sudah tentu orang lain juga gemar berbuat baik kepada kamu. Tolong-menolong adalah salah satu persoalan yang harus dilakukan oleh setiap orang secara timbal balik. Sedikit sekali rasanya, orang yang tidak menginginkan kamu mendapatkan kebahagiaan, dan sedikit pula orang yang tidak mau memberikan bantuan kepada kamu, jika mereka telah mengetahui, bahwa kamu merasa senang apabila melihat orang lain bahagia dan kalian cepat-cepat memberikan pertolongan kepada orang lain, kecuali orang yang bejat akhlaknya dan rendah pendidikannya. Orang-orang seperti ini, termasuk orang yang tidak tahu cara membalas budi kepada orang lain, yang telah berbuat kebaikan untuknya. Karenanya, masyarakat tidak akan sudi membantu atau menolong orang-orang seperti itu dan tidak akan memandangnya sebagai orang yang patut dihormati.
Seringkali golongan orang tersebut datang (orang-orang yang tidak tahu cara balas jasa dan budi baik orang lain) karena terdorong oleh kebejatan akhlaknya, hingga tega membalas kebaikan dengan kejahatan, menukarkan sesuatu yang hina miliknya dengan sesuatu yang baik milik orang lain. Barangsiapa yang melakukan perangai yang buruk seperti itu, maka dia termasuk orang yang harus selalu diwaspadai, termasuk dalam peringatan:
“Berhati-hatilah terhadap kejahatan orang-orang yang telah menerima kebaikan.”
Tingkat tolong-menolong yang paling rendah adalah memberikan pertolongan kepada orang lain, agar orang lain menolongmu, ketika engkau memerlukan bantuan. Sedangkan tingkat tolong-menolong yang tinggi dan terpuji adalah memberikan pertolongan kepada orang lain, tanpa mengharap balasan apa pun dari orang yang kalian tolong. Bahkan engkau memberikan pertolongan itu hanya engkau melihat, bahwa perbuatan tolong-menolong sebagai suatu perbuatan mulia dan menyebabkan kemuliaan jiwa serta berpengaruh baik kepada orang banyak, agar mereka mau meneladaninya, sehingga tolong-menolong itu menjadi budaya di kalangan masyarakat dalam suatu bangsa. Di balik membudayanya sikap tolong-menolong itu timbul persatuan, kerukunan, kesamaan visi dan persepsi.
Sesungguhnya sikap dan usahamu berbuat baik kepada orang lain, berarti engkau telah menanamkan (mengukir) rasa cinta dalam hati Orang itu, yang tidak bisa dihapus, kecuali jika engkau berbuat jahat kepadanya. Tetapi orang yang berhati mulia dan berakhlak baik, tidak mungkin akan melakukan perbuatan jahat sesudah dia berbuat baik.
Apabila engkau berbuat baik kepada seluruh umat, maka berarti engkau ibarat orang yang membangun sebuah monumen dan panggung (mimbar) kecintaan dalam setiap hari tiap-tiap anggota umat tersebut yang tidak mungkin terlupakan selama umat itu masih ada. Artinya kebaikan atau jasa baik kalian kepada masyarakat akan tetap dikenang mereka selama-lamanya, selama mereka masih hidup.
Setiap orang atau warga suatu umat itu pasti saling membuahkan di antara satu dengan lainnya. Apabila semua anggota umat (masyarakat) itu mau gotong royong (tolong-menolong), yang kuat menolong yang lemah, yang kaya mau meringankan beban penderitaan yang miskin, yang pandai mengajar yang bodoh, yang mengetahui jalan petunjuk memberi tahu yang sesat, dan mencintai orang lain, sebagaimana mencintai dirinya sendiri, maka di balik semua itu akan tercipta kebahagiaan yang merata, kebangkitan dari keterperosokannya, dan kesadaran dari kelengahan dan kemundurannya.
Tolong menolong itu tidak terbatas pada persoalan-persoalan materi atau kebendaan saja, tetapi tolong-menolong itu umum dan mencakup juga persoalan-persoalan moral, bahkan tolong-menolong dalam hal moral ini justru lebih penting.
Apabila engkau melihat orang sedang kebingungan menghadapi problemnya, maka tolonglah dia dengan memberikan gagasan atau pemikiranmu yang baik atau dengan cara menjelaskan tentang cara-cara penyelesaiannya.
Apabila engkau melihat orang yang sedang dirundung kesedihan, maka ringankanlah kesedihannya, dengan cara memberikan saran-saran yang dapat menghiburnya, mengutarakan ucapan-ucapan yang dapat menyebabkan ketenangan hatinya dan menyenangkan hatinya. sehinga penderitaan dan tekanan kesedihannya bisa hilang.
Jika engkau menjumpai orang yang menyimpang dari jalan kebenaran, berlaku hina, mengalami kebingungan dalam kesesatan, maka hendaklah engkau berupaya keras, untuk memberikan petunjuk kepadanya melalui kata-kata yang halus, nasihat yang baik dan ucapanucapan baik dan manis, sehingga apa yang engkau lakukan itu dapat mendorongnya insaf dan mendorongnya mau menempuh jalan yang lurus dan bisa sadar menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.
Cara-cara seperti itulah yang telah dilalui dan dijalankan oleh orang-orang saleh terdahulu. Mereka menempuh jalan gotong royong atau tolong-menolong, baik bersifat meteriil atau moril, sehingga mereka dapat mengungguli bangsa-bangsa lain.
Apa yang membuat kita sengsara dan bangsa-bangsa sebelum kita itu tidak Jain adalah terabaikannya sendi kehidupan bermasyarakat yang pokok, yakni tolong-menolong. Mereka (bangsa-bangsa) menukar budaya tolong-menolong ini dengan budaya yang bersumber dari hati yang keras, melebihi batu dan sikap atau kebiasaan-kebiasaan yang hina. Akibatnya, seseorang di antara kita ibarat kalajengking yang menyengat lainnya atau ibarat ular berbisa mematuk atau menggigit lainnya. Padahal kita tdak diperintahkan untuk melakukan perbuatan Seperti itu bukan untuk berbuat seperti itu kita ciptakan.
Wahai, generasi muda, kita tidak diciptakan, kecuali agar kita saling tolong-menolong memberantas kesengsaraan yang menimpa kita dan saling bahu-membahu, baik dalam keadaan senang atau sengsara dan bekerja sama.mengenyahkan penderitaan yang menimpa umat.
Sesungguhnya umat ini sangat membutuhkan pertolongan, maka ulurkanlah bantuan kepada mereka.
Bangsa itu bodoh, maka berilah mereka pertolongan dengan ilmu pengetahuan.
Bangsa itu bobrok, maka berilah mereka pertolongan dengan reformasi.
Bangsa itu miskin, maka berilah mereka bantuan dengan ‘kucuran dana keuangan, untuk dibuat mendirikan sekolah-sekolah, untuk menciptakan lapangan-lapangan kerja dan membangun pabrik-pabrik.
Apabila kalian melakukan semua itu, maka kalian termasuk putraputri bangsa yang baik dan digolongkan pemuka-pemuka yang mau bekerja. Oleh karena itu, bergotong royonglah (tolong-menolong) dalam semua bidang tersebut, sesungguhnya Allah swt,. menyukai orangorang yang tolong-menolong.









One Comment