PERCAYA DIRI
Tidak ada sesuatu yang lebih membahayakan kepada seseorang daripada kelengahannya terhadap urusan dirinya sendiri dengan mempercayakan sepenuhnya kepada orang lain untuk mengurusi persoalan-persoalannya itu. Ini apabila benar-benar jelas, bahwa orang yang dipercayanya itu selalu siap memenuhi panggilannya dengan secepat mungkin dan melaksanakan perintahnya, kapan saja dipanggil dan diperintah. Adapun apabila orang yang dipcrcayanya mengurusi persoalan itu masih diragukan kesctiaannya, maka mempercayakan urusan kepada orang tersebut merupakan salah satu bentuk kegilaan.
Dalam pepatah Arab disebutkan:
“Pamanmu itulah tempat kamu mengeluarkan perbekalanmu”.
Pepatah tersebut digunakan untuk orang menyerahkan segala urusan kepada orang lain. Asal usul pepatah tersebut ialah: Pada suatu hari ada seseorang hendak pergi bersama pamannya. Lalu dia berkata kepada keluarganya: Buatkanlah untukku makanan dan letakkanlah dalam kantong perbekalan (khurjun)ku, agar aku bisa mengambilnya sewaktu aku butuhkan. Keluarganya tidak ingin membuatkan makanan, karena pamannya yang mengajaknya pergi sudah siap makanan. Mereka hanya berkata ‘Ammuka khurjuka, maksudnya bersandariah saja kepada paman itu. Minta saja kepada paman, bila kamu hendak makan.
Orang yang menggantungkan segala urusannya kepada orang lain, pasti dia orang yang lemah kemauannya, tumpul akalnya dan goblok. Penyakit seperti ini apabila telah menjalar di kalangan suatu bangsa, maka keutuhan bangsa akan pudar, hukum dan tata tertib menjadi rusak, sehingga bangsa itu menjadi bangsa yang paling mundur dan terbelakang. Menggantungkan atau mempercayakan urusan secara penuh kepada orang lain adalah menyebabkan kehancuran, sebab sifat seperti itu menjadikan seseorang hina dan lemah serta membuatnya enggan berpikir tentang apa saja yang bisa mengantarkannya mencapai benteng pertahanan yang kuat.
Anak kecil itu tumbuh dan menggantungkan segala urusan pribadinya kepada ayah dan ibunya, sampai dia mencapai usia dewasa. Dia mulai merasakan kehidupan yang penuh rintangan dan kesulitan, sementara dia belum mengerti arti mandiri, karena memang dia belum terbiasa mandiri pada masa pertumbuhan usianya yang pertama. Setiap orang memiliki kebiasaan. Kalau orang itu mempunyai kebiasaan menggantungkan diri kepada orang lain, maka akan membuat bangsa semakin sengsara dan hina.
Oleh sebab itu, apabila seorang anak sudah mulai timbul pikirannya, maka kedua orangtuanya wajib membiasakan anaknya itu mandiri dalam semua urusannya, sehingga ketika dia menginjak usia remaja, akan menjadi orang yang berjiwa gemar mengabdi kepada bangsanya, seperti pengabdian orang-orang besar dan kuat. Manakala pemuda-pemuda yang biasa hidup mandiri itu semakin banyak jumlahnya, maka dari mereka inilah terbentuk bangsa yang baik dan layak menjadi pewaris bumi.
Kita sebenarnya sangat membutuhkan pemuda-pemuda yang terlatih berpikir bebas, mandiri atau percaya kepada dirinya sendiri. Kita ini tidak mungkin mengalami kemunduran seperti sekarang ini, kecuali setelah melemahnya dua sifat, yakni kebebasan berpikir dan kepercayaan pada diri sendiri di kalangan kita.
Bangsa barat itu tidak akan mengalami kemajuan dan tidak akan mencapai kemajuan dalam bidang peradaban, pandangan dan pemerintahan, kecuali setelah mereka mendidik para generasi muda mereka untuk bebas berpikir dan percaya pada diri sendiri.
Apa yang kami uraikan di atas, sama sekali bukan berarti anakanak harus dididik berpikir sendiri, berpikir seenaknya sendiri, tanpa meminta pertimbangan kepada orang ahli berpikir dan ahli agama. Akan tetapi maksud kami adalah mendidik anak supaya tidak mengabaikan berpikir dan bekerja sendiri dengan kepercayaan, bahwa orang lain sedang berpikir dan bekerja. Apabila dia menilai pemikiran atau gagasan orang lain itu lebih menjamin kesuksesan usahanya, maka dia mengikutinya dan berpegang dengannya. Apabila dia tidak melihat itu, maka dia terus berpikir dan berusaha, sehingga pekerjaannya wujud.
Wahai, generasi muda, biasakanlah diri kalian mandiri, percaya kepada diri sendiri dan berpikir secara bebas, sesuai dengan apa yang telah kami uraikan, tentu kalian akan menjadi orang-orang yang sukses.
Berhati-hatilah, jangan sekali-kali mengikuti pendapat atau pemikiran yang mendorong kalian ke jurang kegagalan dan jangan tunduk kepada orang yang belum pasti dapat membawa kalian ke jalan yang lurus.
Janganlah kalian mengikuti perintah orang yang menjamin keselamatan kalian dari perkara yang mengkhawatirkan, padahal dia dengan cara itu justru ingin menjerumuskan kalian ke dalam persoalan yang mengkhawatirkan itu. Tetapi turutilah perintah orang yang menakuti (memperingatkan) kalian terhadap akibat-akibat buruk dari tindakan kalian, agar kalian berhati-hati. Sebab, orang yang menakutnakuti kalian agar kalian selamat, itu sebenarnya orang yang lebih menyayangi diri kalian daripada orang yang menjamin selamat, tapi engkau justru selalu ketakutan dan dalam keadaan bahaya. Dalam pepatah Arab disebutkan:
“Turutilah perintah orang yang menyebabkan kamu menangis (demi keselamatan) dan janganlah mendengarkan perintah orang yang menyebabkan engkau tertawa (yang akhirnya menyesatkan)”.
Siapa saja yang menentang nasihat di atas, maka akan mengalami kerugian. Begitu pula orang yang tidak mau mengikuti nasihat orang tulus. Dalam pepatah Arab disebutkan:
“Barangsiapa yang menentang orang yang menasihati secara tulus, maka makan makanannya jatuh di depan serigala (maka bakal mendapatkan kerugian).
Nasihat itu adalah benar dan merupakan suatu kenyataan. Maka, janganlah kalian ragu, ikutilah apa yang telah disampaikan kepada kalian, pasti kalian akan diberkahi oleh Allah swt.
PENDIDIKAN
Anak-anak kita yang masih kecil sekarang ini kelak di masa mendatang akan menjadi pemimpin-pemimpin. Apabila mereka membiasakan diri dengan akhlak yang baik, yang dapat meninggikan derajat mereka dan berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk dirinya dan bermanfaat untuk negara, maka anak-anak itu berarti menjadi dasar yang kokoh bagi kebangkitan umat. Ini adalah perkara yang tidak dapat dipungkuri oleh siapa pun. Sebaliknya, apabila anakanak itu telah terbiasa dengan akhlak yang tidak terpuji dan enggan menuntut ilmu pengetahuan yang menjadi sebab utama bangsa-bangsa bisa hidup, maka mereka, anak-anak itu, akan menjadi bencana bagi umat dan menjadi pengacau negara yang mereka diami.
Wahai, generasi muda, dalam bab-bab terdahulu telah kami uraikan kepada kalian, sebagian yang perlu dalam hal-hal yang berkartan dengan akhlak yang baik dan sebagian akhlak yang jelek. Kami jelaskan pula kepada kalian akhlak yang wajib kalian lakukan dan akhlak jelek yang harus kalian jauhi. Sebagaimana orang sehat menjauhi orang yang berpenyakit kudis, setelah itu pilihlah akhlak yang kalian anggap bermanfaat. Kami percaya, bahwa kalian tidak akan memilih, kecuali apa yang telah kami tunjukkan kepada kalian untuk kalian pilih, sebab kalian telah mengerti dengan benar, bahwa kami adalah pemberi nasihat tepercaya bagi kalian.
Pendidikan adalah suatu persoalan, maka penting dan agung nilainya. Imam Al-Ghozali berkata: Bahwa anak adalah sebuah amanat Allah kepada kedua orangtuanya. Hati anak yang bersih dan suci itu bagaikan suatu permata mahal, yang bersih dari segala macam lukisan dan gambar. Apabila anak itu dibiasakan melakukan hal-hal yang baik dan selalu diberi tahu tentang segala sesuatu yang baik, maka anak itu akan tumbuh dengan baik, bahagia di dunia dan akhirat serta ayah-ibunya, guru dan pendidiknya, turut mendapatkan pahala kebaikan anak tersebut. Sebaliknya, apabila anak itu dibiasakan melakukan hal-hal yang jelek dan ditelantarkan, maka anak itu akan menjadi orang yang celaka, sengsara dan durhaka. Jika demikian, maka ayah-ibu dan orang yang mengasuhnya, ikut menanggung kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuat anak tersebut.
Pendidikan adalah usaha menanamkan akhlak terpuji dalam jiwa anak-anak. Akhlak yang sudah tertanam itu harus terus disirami dengan bimbingan dan nasihat, sehingga menjadi watak atau sifat yang melekat dalam jiwa. Sesudah itu buah tanaman akhlak itu akan tampak berupa amal perbuatan yang mulai dan baik serta gemar bekerja demi kebaikan negara.
Anak itu wajib diberi pendidikan tentang keberanian, maju, kedermawanan, kesabaran, ikhlas dalam beramal, mementingkan kemaslahatan umum di atas kepentingan pribadi, kemuliaan jiwa, harga diri, keberanian yang beradab, pemahaman agama yang bersih dari khurafat, peradaban yang bersih dari kerusakan, kebebasan berbicara dan bertindak yang baik dan cinta tanah air.
Kita berkewajiban juga memberi pendidikan kepada anak-anak tentang iradah, yakni kemauan yang keras, kejujuran, senang memberi bantuan dan pertolongan kepada orang-orang yang melarat dan tertindas, proyek-proyek yang bermanfaat dan melatihnya, biasa melakukan kewajiban dari sebagainya, yang berkaitan dengan akhlak yang mulia. Tentu saja kita berkewajiban menjauhkan anak-anak itu dari kebiasaan dan akhlak yang berlawanan dengan kebiasaan dan akhlak terpuji yang tersebut di atas.
Tetapi kenyataan keadaan di sekeliling kita sekarang ini, tidak seperti apa yang telah kami uraikan.
Anak-anak yang masih dalam gendongan pun sudah ditakut-takuti oleh ayah-ibunya dengan hantu, gendruwo dan wewe gombel, hanya sekadar supaya mereka tidak dibuat gerak oleh jeritan atau tangisan si anak. Padahal mereka tidak menyadari, bahwa jiwa anak kecil itu bagaikan bahan lilin yang lembek yang dapat diukir dengan bentuk apa saja, sesuai keinginan yang mengukir. Ia bagaikan kamera photographi yang mampu mencetak setiap gambar yang dijepret melalui lensanya.
Apabila anak itu tambah besar, maka lukisan dan gambar yang ditorehkan oleh ayah-ibunya dalam daya hayalnya itu akan terulang kembali kepadanya secara otomatis, sehingga anak tersebut -akan gampang menganggap macam-macam terhadap apa yang dilihatnya. Akhirnya, kehidupan anak tersebut -akibat kesalahan kitadiikuti dengan ketakutan, kelicikan dan bayangan-bayangan yang serba jelek.
Apabila anak kecil itu telah melewati masa kecilnya dan menginjak masa pertumbuhannya, mulai bisa berjalan, mulai tumbuh giginya. kemudian memasuki masa puber, sedang ayah dan ibunya baru mulai mendidiknya, maka bal itu seperti mendidik binatang yang bodoh, sebab tidak jarang mereka membentak-bentak, bahkan memukulnya. Apabila kalau mendengar ucapan-ucapan ayah dan ibunya yang dilontarkan kepadanya, berupa ucapan-ucapan kasar, kotor, bohong dan munafik. Tinggalkanlah dan jauhkanlah perangai perangai buruk seperti itu dari anak-anak. Selain itu, banyak sekali kehidupan anak-anak di sekolah itu tidak lebih baik daripada kehidupannya di rumah. Khususnya, jika guru dan pendidiknya terdiri dari orang-orang yang berwatak keras, kasar perangainya dan rusak ketulusan hatinya. Apabila anak-anak itu diserahkan sepenuhnya ke sekolah seperti itu, maka dia tentu menyia-nyiakan apa yang pesan dari segalanya.
Apabila ana anak-anak (tunas-tunas bangsa) itu tumbuh menjadi besar dan dewasa, maka kehidupan anak-anak di tengah bangsanya itu sebenarnya tidak ubahnya gambar yang diperbesar dari kehidupannya di lingkungan rumah dan sekolah. Adakalanya anak itu dapat menciptakan kebahagiaan bagi kehidupan bangsanya, jika dia mendapatkan pendidikan dan asuhan yang benar dan baik, baik di, lingkungan rumah maupun sekolah. Mungkin juga anak itu kelak akan menyengsarakan kehidupan umatnya, jika dia mendapatkan pendidikan dan asuhan yang salah dan keliru.
Oleh karena itu, seluruh umat atau bangsa haruslah memperhatikan pendidikan anak secara serius, agar nanti menjadi pembantu kalian dan berjuang bersama kalian mengentas kalian dari lembah kehinaan, kelemahan dan kebodohan.
Kalian wahai, generasi muda, biasakanlah diri kalian berlaku sesuai dengan akhlak yang baik dan majulah terus menuntut ilmu yang bermanfaat.
Sesungguhnya lapangan kerja berada di hadapan kalian, maka bersiap-siaplah kalian terjun ke dalamnya.
Sekarang, persiapan untuk berkhidmat kepada bangsa, dan di sana nanti -setelah berlaku masa kanak-kanakada kompetisi Kalian nanti hakal menyaksikan siapa yang bakal menang. Siapa saja sekarang ini yang sungguh-sungguh dalam persiapan, maka pasti akan berhasil di hari esok. Perbuatan apa pun yang dikerjakan pemuda pada usia sekarang ini, pasti dia mendapati hasilnya di hari-hari tuanya.
Wahai, tunas banpsa, jika kalian di tanya, apa yang kalian persiapkan sekarang ini untuk menyongsong hari esok? Pekerjaan apa yang kalian kerjakan sekarang, agar bangsamu bahagia di masa mendatang?
Berilah jawaban pertanyaan itu, aku telah mempersiapkan cita-cita yang luhur, ketangkasan, ilmu pengetahuan, akhlak yang mulia, keparahan, semangat dan rasa cinta pada tanah air.
Semoga Allah memberkati kalian, merealisasikan cita-cita kami pada kalian Sebab kalianlah negara akan makmur dan sebab kalian pula bangsa ini bisa menikmati kehidupan yang baik.









One Comment