RAKYAT DAN PEMERINTAH
Urusan yang dihadapi itu sama dengan urusan yang dihadapi oleh perorangan. Orang yang menyandarkan dirinya kepada orang lain dalam segala urusan -untuk mencukupi apa saja yang menjadi kebutuhannya-, adalah orang yang telah jatuh, hina dan lemah. Begitu pula halnya, umat yang tidak bisa mengurus persoalan dengan sendirinya dan tidak mau berupaya dengan sungguh untuk memperoleh kejayaan. Umat yang demikian adalah umat yang mundur, terbelakangan, hina dan bukanlah umat yang bebas atau merdeka. Bahkan mereka adalah umat yang terbelenggu dengan nilai perbudakan.
Pemerintah itu menghendaki umat, agar mengendalikan urusan pemerintahannya. Ta tidak ingin menyimpang dari garis yang telah ditentukan umat sejengkal pun. Apabila ada umat yang berlindung kepada pemerintahan dan meminta bantuan kepadanya dalam segala persoalannya, maka umat itu berarti telah mengikat dirinya dengan tali-tali pemerintah dan mereka harus sejalan dengan pemerintah dalam kehidupan sosial atau intelektual, sesuai dengan kemauan kemauan pemerintah. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa pemerintah itu pastilah telah membentuk atau menunjuk orang-orang yang sckiranya cocok dan loyal serta dapat memenuhi kemauannya, tidak mau membentuk atau menunjuk orang-orang yang dapat mengurus hal-hal yang dibutuhkan umat.
Apabila tampak di lingkungan sekolah-sekolah pemerintah atau lembaga-lembaga pemerintahan, orang-orang yang bekerja untuk kepentingan umat -hal ini sangat jarang sekali-, maka mcreka itu adalah orang-orang yang banyak belajar hidup bermasyarakat dan bernegara dari lingkungan mereka, sama sekali tidak belajar dari guru-guru mereka atau dari buku-buku kurikulum yang ditetapkan dalam pendidikan mereka.
Apabila kita ingin menjadi umat yang baik dan maju, maka kita wajib berusaha memajukan umat melalui umat itu sendiri, tidak melalui pemerintah, dengan mencurahkan segala tenaga dan cita-cita, demi tercipta umat yang maju. Sebagimana keadaan umat-umat yang maju dewasa ini. Umat itu telah dapat mendirikan sckolah sekolah, lembagalembaga dan pabrik-pabrik tanpa meminta bantuan (uluran tangan) dari pemerintah mereka. Andaikata mereka meminta bantuan kepada pemerintah, tentu mereka menjadi mundur, seperti keadaan kita.
Umat atau bangsa mana pun yang menggantungkan diri kepada pemerintah untuk keberhasilan maksud-maksudnya, maka umat itu berarti telah masuk ke lingkaran (keluarga) pemerintah dan terikat dengan ikatan-ikatannya. Manakala umat itu terikat dan butuh kepada umat Jain, berarti umat itu bukanlah umat yang merdeka. Kalau memang demikian, maka dari mana mereka bisa maju? Bagaimana pula mereka bisa bangkit?
Pemerintah adalah bagian daripada umat dengan pekerjaan-pekerjaan khusus dan tertentu. Ia senantiasa meminta bantuan umat untuk mengukuhkan kekuatannya dan pasti mengandalkan umat dalam segala urusan. Sebab, yang sedikit pasti bergantung kepada yang banyak. Kita tidak pernah mendengar kelompok yang banyak atau besar bergantung kepada kelompok kecil, kecuali jika kelompok besar (umat) itu lemah, terbelakang dan pengecut.
Apabila umat ingin mempunyai pemerintahan yang baik dan maju, maka umat itu sendirilah yang harus lebih dulu memperbaiki diri dan berusaha mencari jalan menuju kemajuan dan kebahagiaan. Sehingga, apabila umat telah baik dan maju, maka pemerintah ikut baik dan maju, sebab bagian yang kecil mengikuti bagian besar. Selain itu, karena pemerintah harus merupakan gambar dan cermin umat. Oleh karena itu, apabila umat baik, maka pemerintah juga baik dan sebaliknya, bila rakyat tidak baik, maka pemerintah juga tidak baik. Andaikata kita memperkirakan ada sebuah pemerintahan baik dan rakyat atau umat rusak, maka pasti pemerintah itu tidak lama akan turut rusak. Apabila ada umat baik, sedangkan pemerintahannya rusak, maka tidak lama kemudian pemerintahan itu menjadi baik dan mengikuti perjalanan umat.
Ringkasannya, sesungguhnya pada dasarnya pemerintahan itu ikut atau tergantung pada keadaan umat dalam hal pandai dan bodohnya, kemajuan, kemunduran, kepandaian dan kebodohannya serta kebaikan dan kerusakannya. Oleh sebab itu, kita tidak boleh bergantung, kecuali pada diri kita sendiri, dan kita tidak boleh berangan-angan, kecuali dengan kesungguhan dan keseriusan yang telah kita curahkan, kalau memang kita ingin menjadi bangsa yang baik, agar kita mempunyai pemerintah yang baik.
Wahai, generasi muda, kepadamulah kami berharap, hendaknya kalian semua menjadikan tujuan kalian untuk berkhidmat kepada umat dengan sebenarnya. Berusaha keras mencapai keberhasilan dan kemajuan untuk umat, hingga kejayaan dan kemuliaan mereka yang telah bilang kembali lagi. Sesudah itu, terbentuklah pemerintahan yang maju, baik di bidang sosial, ilmu pengetahuan, ekonomi maupun pembangunan. Dengan upaya seperti itulah, engkau akan menjadi orang nasionalisme sejati.
Semoga Allah merealisasikan harapan-harapan kalian semua. Semoga kalian semua selalu dalam lindungan dan pertolongan Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar semua doa.
TERTIPU OLEH PERASAAN SENDIRI
Orang yang berjiwa lemah itu umumnya memandang dirinya tidak dengan pandangan orang lain terhadapnya. Orang yang berjiwa lemah selalu memandang dirinya sebagai orang-orang agung dan mulia Padahal mereka sama sekali tidak memiliki sebab-sebab yang menyebabkan mereka dianggap orang-orang mulia.
Mereka menganggap diri mereka sebagai orang-orang pandai, tetapi kebodohan tetap menyelimuti diri mereka, bagaikan awan tebal di hari yang selalu menyelubungi bumi dan menutup seluruh permukaan langit.
Mereka menganggap dirinya sebagai manusia. Tetapi sifat-sifat kebinatangan telah menguasai kendali jiwanya, mengendalikan hatinya, mendominasi wataknya, membiarkan nafsunya merusak akalnya dan mencabik-cabik ciri atau sifat kemanusiaannya. Mereka selalu kebingungan dalam kesesatan dan terus-menerus berada dalam kegelapan kefasikan dan kemaksiatan (kebatilan).
Semua itu, tiada lain karena mereka telah tertipu oleh perasaan dirinya sendiri (ghurur) dan karena kecintaan nafsunya pada kebatilan. Sifat ini merupakan perangai yang hina, yang dapat membinasakan sifat-sifat mulia yang ada dalam jiwa dan dapat menghapus harapan mendapatkan kebahagiaan serta menghilangkan sisa-sisa kemuliaan yang ada pada jiwa orang-orang yang berakal sehat.
Di antara sesuatu yang menyedihkan adalah adanya sekelompok pemuda -yang mereka itu sebenarnya merupakan tiang bangsa, sandaran kehidupan mereka dan penopang kemakmuran bangsa di masa depan-, bahkan telah kejangkitan sifat ghurur ini (tertipu oleh perasaan sendiri). Mereka telah membiasakan diri dengan kebiasaan ini (menurut hawa nafsu yang selalu menipunya) hingga menjadi tabiat mereka, yang sulit dihilangkan, sebab telah meresap pada jiwa mereka dan akar-akarnya menancap ke dalam hati mereka. Akibatnya, umat menjauhi mereka sebab perilakunya sendiri. Orang-orang yang dekat dengan mereka menghindarinya dan orang-orang yang mempunyai tali persahabatan dengan mereka berbalik membencinya.
Kadang-kadang salah seorang dari sekelompok pemuda yang terjangkit penyakit ghurur di atas baru mempelajari beberapa masalah kecil dari satu disiplin ilmu tertentu, yang belum sampai matang dan mendalam hingga benar-benar paham. Tetapi dia sudah memperlihatkan diri sebagai sosok cendekiawan di masanya dan sebagai pemikir di jamannya.
Kadang-kadang dia itu baru membaca sebagian kecil ilmu sastra, tetapi dia telah menempatkan diri sebagai tokoh sastrawan atau pujangga besar.
Kadang-kadang salah seorang dari pemuda yang terjangkiti penyakit ghurur itu menyusun suatu ucapan dalam puisi, atau menulis beberapa artikel yang dimuat beberapa koran, tetapi dalam susunan puisinya sama sekali tidak ada bobotnya dan di dalam tulisannya sama sekali tidak ada pesan yang menarik hati. Sebagian besar ungkapan yang dia sebut sebagai puisi atau karya ilmiah itu, penuh dengan kesalahan, baik dalam makna atau lafal, atau bahkan dalam makna dan lafalnya. Kendatipun demikian, dia mengaku tanpa rasa malusebagai penulis berbakat dan penyair terkenal di jamannya, yang tidak tertandingi.
Kadang-kadang sekelompok pemuda tersebut tampil di depan dalam rapat umum dan pertemuan-pertemuan khusus. Mereka berbicara dalam berbagai tema dan mengembara di setiap lembah. Satu saat engkau melihat mereka seolah-olah naik ke langit (sebagai astronot), di saat lain engkau melihatnya seolah menyelam ke dasar laut (sebagai pelaut). Kadang-kadang mereka berbicara tentang peristiwa sejarah bangsabangsa yang telah silam maupun yang sedang terjadi. Kemudian mereka beralih membicarakan ilmu sastra dan sejarahnya, lalu membahas masalah ilmu-ilmu agama dan segala macamnya. Kemudian beralih ke masalah falsafah dan segala macamnya. Mereka gegabah dan tanpa sadar dalam tindakannya tersebut. Mereka bagaikan unta yang rabun matanya dan berjalan di malam yang gelap. Semua itu mereka lakukan hanya agar dianggap oleh khalayak sebagai cendekiawan.
Engkau akan melihat lagi sekelompok orang yang egois, kaki mereka di air, sedangkan hidungnya di langit. Mereka itu adalah ampas orangorang yang bodoh. Mereka dengan congkak seperti para pembesar. Bersikap kasar seperti algojo. Duduk seperti duduk kisra dan berjalan seperti jalan kaisar. Padahal mereka, orang-orang yang egois itu, tidak ada apa-apanya dalam pendangan umat. Ibarat dalam suatu pertempuran, mereka itu bukan anggota pasukan dan bukan anggota pasukan infantri.
Apabila engkau bertanya kepada salah seorang dari sekelompok orang yang egois itu tentang faktor-faktor yang mendorong mereka dan sombong, maka pastilah dia menjawab: Ini adalah bagian dari AlIba’, keenggananku melakukan sesuatu yang dipandang rendah dan hina. Tetapi apa sebenarnya Al-Iba’, kalau mereka itu mengerti? Padahal Al-Iba’ yang sebenarnya adalah menyucikan diri dari segala bentuk kotoran yang bersarang di hati, membersihkan diri dari semua kotoran dan mendorong jiwa untuk mencapai kemuliaan, agar mau menolak kezaliman, tidak menekuni perbuatan yang kurang baik, tidak senang terhadap kehinaan dan tidak cenderung pada perbuatan yang tercela. Tetapi sebaliknya, dia mesti berpegang pada perbuatan-perbuatan yang baik dan mengikuti jalan menuju pada akhlak yang mulia.
Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan oleh sekelompok orang egois tersebut, bukanlah bagian dari Al-/ba’: Tetapi yang demikian itu menandakan, bahwa mereka itu berjiwa lemah, berwatak jelek, berakal tidak sempurna dan berpendidikan rendah. Mereka itu hanya berpegangan pada khayalan-khayalannya.
Wahai, generasi muda, saya memohon kepada Allah, agar menjaga kami semua dari sifat ghurur, tertipu oleh perasaan diri sendiri. Sebab, ghurur itu mendorong seseorang pada perbuatan-perbuatan tercela, seperti tersebut di atas dan memperindah perbuatan-perbuatan yang hina, hingga tampak baik olehmu, dan ghurur itu juga mendorongmu untuk melakukan kehinaan.
Ketahuilah keterbatasanmu dan berusahalah untuk meningkat lebih ke atas, dengan mencurahkan segala keseriusan dalam usaha mendapatkan kemuliaan. Allah pasti merahmati setiap orang yang benar-benar mengetahui batas kedudukan dan kemampuan, lalu berhenti (mengakui) keterbatasannya. :
Semoga Allah menuntunmu, menghilangkan tutup yang menutupi hatimu dan semoga Dia memberi petunjuk kepadamu pada jalan yang paling lurus.









One Comment